RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PEMIMPIN BONEKA


__ADS_3


Tisya yang paling tidak terima dengan keputusan akan pergantian pemimpin Strom dengan pemimpin baru.


Terlebih orang itu adalah Gerry.


Dengan geram dia mengepalkan tangan, menatap pak Rudi memprotes.


"Apa itu tidak salah? Strom adalah milik keluarga kami … dari kakek sampai ayah kami, mereka berjuang membesarkan Strom dengan sepenuh hati. Kenapa kami tiba-tiba harus menyerahkan kepada orang lain?" tentang Tisya.


Pak Rudi tersenyum, "Tenang dulu … aku belum menyelesaikan semua pembicaraanku!"


Tasya memejamkan mata berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Wanita itu menarik nafas panjang, lalu menghempaskan sembari membuka mata.


"Gerry masih belum cukup familiar dengan bisnis di ini, apa anda yakin?" Tanya Tasya tenang.


Tersenyum, "Pemimpin yang sebenarnya adalah putra pertama anda! Mungkin tidak banyak yang tahu, Gerry sebenarnya adalah ayah biologis anak itu, tapi kami tahu! Selama Gerry masih hidup, dia akan menjadi pemimpin sementara sampai anak anda benar-benar siap untuk memimpin. Apa masih kurang adil bagi keluarga kalian?"


Deg!


Tasya tercengang langsung menarik tangannya dari pahaa Gerry.


Kali ini tangannya mengepal dengan tatapan memprotes.


Bukan karena pak Rudi yang sudah mengetahui aib keluarganya. Akan tetapi, karena pak Rudi sudah memutuskan akan melibatkan Caesar dalam bisnis ini. Hal yang selalu ingin dia hindari.


Sejauh ini Tasya sudah berusaha menarik diri dari Strom dan melimpahkan segala tanggung jawab kepada Mr. X dan adiknya agar dia bisa membawa keluarga kecilnya menjauhi bisnis gelap.


Tanpa dia sangka, usahanya ternyata sia-sia. Bahkan Paradise sudah memutuskan untuk menjadikan Caesar sebagai pemimpin saat usianya saja masih di bawah umur.


“Anda terlihat keberatan?” sindir pak Rudi setengah tersenyum.


Wanita itu tidak berani menjawab, dia kembali menghempaskan nafas lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Perlahan dia mencoba mengendurkan kepalan tangan dan berusaha bersikap setenang mungkin.


"Bukankah anda lebih memilih memberi tahu adik ipar kesayangan anda ketimbang suami anda?" ujar pak Rudi masih tersenyum tipis, "Anda tenang saja, Strom masih menjadi milik kalian! Hanya saja kami butuh boneka untuk tetap menjalankan bisnis.”


Pak Rudi kembali menatap Gerry.


“Well … orang di hadapan saya ini adalah pilihan yang paling tepat! Dia memimpin G Corporation dan juga masih memiliki hubungan darah dengan pewaris asli."


Tisya membuang muka tampak masih tidak bisa menerima.


"Orang-orang juga tidak akan menaruh banyak curiga … karena memang Gerry adalah adik ipar anda!"


"Apakah hanya itu jalan satu-satunya?" Tasya masih berusaha bersikap tenang.


"Aku sudah mengatakannya di awal!" pak Rudi menegaskan.


"Lalu, apa tugas baru untuk Strom?" tanya Tasya lagi.


"Kelompok eksekusi dan pembersihan TKP!"


"Hah?" Tisya kembali terkejut mengerutkan kening menatap pak Rudi.


Udara serasa sesak bagi Tasya. Ia hanya bisa memejamkan mata, menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Yaa … saya sih tidak memaksa! Kalian mau bertahan atau tidak … itu keputusan kalian. Yang jelas kami sudah menawarkan kesempatan ini," pak Rudi tidak lagi menatap ke arah mereka.


...***...


Kembali ke hari pertemuan.



Hirza tersenyum sinis, kali ini dia mendongak untuk melihat ekspresi Yazza.


"Pemimpin Strom yang baru sudah ditetapkan," ujarnya sengaja member tekanan.


Menatap tajam ke arah Hirza, "Bagaimana bisa Gerry mencapai posisi itu!"


"Tidak kah anda merasa tertekan sekarang?” dengan sengaja, Hirza malah mengolok-olok. “Bukankah setelah Gerry menguasai Strom, akan semakin sulit bagi anda untuk terus naik tanpa gangguan dari G Corporation?"


Yazza semakin geram mengepalkan tangan, "Sebenarnya apa yang sudah anda rencanakan?"


Pak Ardi menyikut pelan lengan tuannya.


Dia takut jika sampai Yazza lepas kendali dan justru menyinggung Hirza.


"Bukankah anda sudah menyaksikan pertemuan ini? Kalau begitu saya anggap anda sudah menjadi bagian dari kami!" Hirza menaruh daging di piring kecil, “Selamat datang!”


"Pak Hirza,” sahut pak Ardi, “Kami hanya pebisnis biasa … takutnya kami tidak bisa memenuhi tugas-tugas yang nantinya harus kami kerjakan!"


Tentu saja pak Ardi harus berusaha membantu Yazza keluar dari pembicaraan ini.


Sesuai keinginan kek Gio, Yazza sebaiknya tidak terlibat dalam urusan bisnis seperti itu.


Hirza tersenyum menatap santai, "Hanya dengan kembali memegang Shadow, kalian akan bisa bertahan. Saya tidak memaksa … anggap saja hanya sekedar saran dan niat baik untuk membantu kalian terbebas dari ancaman yang kelak akan kalian hadapi!”


Kembali memegang?


Batin Yazza menyipitkan mata dengan sedikit memiringkan kepala menatap ke arah kolega bisnisnya.


Hirza justru melayangkan senyuman penuh makna sembari mengulurkan piring yang sudah berisi daging panggang ke hadapan Yazza


“Kami selalu memberikan daging dengan kualitas terbaik untuk rekan bisnis yang kami sayangi!”


Rasanya terdengar seperti ada makna lain yang tersirat dari kalimat Hirza yang membuat Yazza jadi terdiam tanpa kata-kata, menatap tajam ke arah lawan bicaranya.


"Kita sudah menjadi keluarga sejak kontrak proyek ditandatangani. Mana mungkin saya menjerumuskan kolega saya ke tempat yang salah," tersenyum tenang balas menatap Yazza mendalam.


Hans yang duduk di samping kakaknya ikut tersenyum tipis, menertawakan Yazza yang nampak mulai terpojok.


"Saya bisa membantu jika kalian berkenan! Mr. Bald orang yang cerdas, dia pasti akan menerima jika pak Yazza menjadi pemimpinnya," lanjut Hirza berucap datar.


"Pak Hirza … hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa diputuskan begitu saja. Kami mungkin butuh waktu untuk menjawabnya," pak Ardi masih berusaha mencari cara untuk menolak dengan sopan.


"Tentu saja!” sahut Hirza, “Bukankah saya juga sudah bilang … saya tidak memaksa!"


...***...


Yazza mengendurkan dasinya setelah masuk ke dalam mobil.



"Sudah aku duga, pasti selalu ada sesuatu yang tidak baik setiap kali dekat dengannya!" gerutu Yazza kesal meninju angin dengan sebelah tangan.

__ADS_1


"Sepertinya, mereka memang berencana untuk membuat anda masuk ke dalam bisnis ini," tebak pak Ardi.


"Orang ini benar-benar berbahaya. Tidak tahu lagi apa yang dia rencanakan selanjutnya!"


"Tuan … anda jangan salah mengambil keputusan! Kita harus segera bertemu dengan Mr. Bald dan tuan besar untuk membahas masalah ini!"


Menyipitkan mata, "Kenapa harus melibatkan kakek juga? Dia sudah renta, tidak seharusnya dia masih harus memikirkan hal-hal yang berat!"


"Karena hanya kakek anda yang berhak memutuskan!" Pak Ardi mengucapkan dengan penuh keyakinan.


Yazza semakin tidak mengerti, "Sebenarnya, apa yang sudah kalian sembunyikan? Bahkan Hirza juga berbicara hal-hal yang tidak bisa aku pahami! Sementara dia … dia sepertinya sangat memahami segalanya tentang diriku!"


"Saya tidak berhak membicarakan hal ini dengan anda! Tuan besar yang berwenang. Dan karena situasi kali ini sudah kelewat parah … saya rasa tuan besar akan menceritakan kepada anda!"


Mendengus mencibir pada dirinya sendiri, "Kenapa tiba-tiba aku merasa sudah diperdaya sejak lama?"


"Tuan … kami semua hanya melakukan sesuatu yang tidak membahayakan keselamatan anda! Apapun yang sudah tuan besar putuskan, sudah pasti itu adalah pilihan terbaik untuk anda. Jadi anda jangan merasa tertipu atau menyalakan kakek jika beliau tidak pernah membicarakan tentang hal ini kepada anda!"


Menatap lurus ke depan, "Kalau begitu atur acara pertemuan ini secepatnya! Yang terpenting … jangan sampai melibatkan Vee dalam urusan ini!"


"Baik tuan!"


...***...


Vee sudah menyiapkan banyak sekali jenis hidangan di meja.



Begitu Yazza pulang, wanita itu langsung menariknya menuju meja makan.


"Shhh! Ngapain sih," protesnya.


"Sini deh, jangan banyak bicara!" Vee terus menarik lengan Yazza.


"Aku mau mandi dan bersih-bersih diri dahulu," menghela nafas pasrah.


Menunjuk ke meja makan, "Lihat … aku sudah mencoba berbagai resep hari ini. Kamu nilai deh!"


Yazza hendak berbalik, "Nggak! Aku takut sakit perut lagi!"


"Hya … kali ini aku jamin semua makanan di sini tidak akan membuat sakit perut!"


"Boleh aku mandi dahulu? Gerah banget ini, banyak kuman juga dari luar!"


Manyun, "Ya sudah deh! Buruan turun lagi tapi! Kalau mencoba menghindar, aku pasti akan menyeret dan memaksa mu untuk turun!"


Tersenyum mendengus, "Cih … memang paling suka main kasar," ejek Yazza menggoda.


"Yazza!" Kek Gio datang dengan terburu-buru.


Pria renta itu menatap Yazza penuh tanda tanya.


Yazza ikut menatap kek Gio mendalam dengan tatapan penuh makna.


Dengan isyarat mata, pria itu memberitahukan kepada kakeknya untuk tidak berbicara di depan Vee.


Vee menyipitkan mata melihat keduanya.


"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Vee menatap keduanya bergantian.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2