
Berli terlihat cukup ragu berjalan mondar-mandir di depan gerbang utama kediaman Gionio.
Tingkahnya itu tentu memancing kecurigaan Satpam.
Salah satu Satpam berjalan menghampiri.
Masih banyak sekali karangan bunga yang berjejer sampai di luar jalan.
“Maaf ada yang bisa saya bantu?” Tanya si Satpam.
“Emb … apa Vee ada?”
“Ah … kebetulan nyonya Vee sedang keluar.”
Berli menyipitkan mata, “Keluar? Ke mana?”
Sebuah mobil yang hendak berbelok terdengar menyembunyikan klakson.
Berli dan Satpam langsung menepi.
“Leo!” desis Berli salah tingkah.
Sejak dia kembali ke rumah Gerry, dia tidak pernah lagi berani untuk mengirim pesan atau berkomunikasi dengan Leo. Terlebih kabar tentang pernikahan Leo yang ternyata sudah di rencanakan, membuat Berli semakin tidak berani berhubungan lagi dengan pria itu.
Satpam lain bergegas membuka gerbang.
Dengan kacamata hitamnya, Leo menoleh melihat ke arah Berli sembari menurunkan kaca jendela.
Begitu tahu itu adalah Leo, Satpam bergegas mendekat, “Pak Leo!” sapanya menyambut.
“Apakah nyonya Gionio sudah pergi?” tanyanya datar.
“Yeah, belum lama beliau keluar bersama pak Ardi dan pak Karno juga!”
Melihat Berli yang tampak memperhatikan, “Ah … baiklah! Saya langsung pergi saja kalau begitu!”
“Tidak jadi masuk?”
Menggeleng, “Takutnya saya terlambat datang ke tempat pertemuan!”
Tempat pertemuan?
Batin Berli menyipitkan mata.
Mungkinkah Leo mau bertemu Vee?
“Leo!” panggil Berli.
Ketika wanita itu hendak maju untuk bertanya, Leo langsung menaikkan kembali kaca jendela mobilnya. Membuat wanita itu kembali mundur muram salah tingkah.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Leo kembali memundurkan mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Gionio.
Berli menunduk sedih kali ini. Seperti ada bagian puzzle yang hilang dari dalam hatinya.
Kenapa dia sedingin itu lagi?
Apa dia sudah benar-benar tidak mau berbicara padaku?
Dan kenapa dia ingin bertemu dengan Vee diluar? Mau ke mana mereka sebenarnya?
Gumam Berli bertanya-tanya dalam hati.
Icha mendengus tersenyum sengit di bangku belakang.
Leo hanya melirik dingin melihat melalui spion atas.
Wanita itu duduk santai bersandar sembari menyilangkan tangan di perut.
“Apa kamu tidak berani bicara pada wanita itu karena ada aku di sini?” tanya Icha mencibir.
__ADS_1
“Kurasa kita tidak perlu membahas persoalan pribadi di sini! Fokus saja dengan apa yang akan terjadi nanti dalam pertemuan!”
“Cih … jika aku tidak ada … bisa saja kamu membawa wanita itu lagi kan?”
“Aku tidak perlu menanggapi hal tidak penting seperti yang kamu ucapkan itu!” sahut Leo datar.
“Tidak penting?” ulang Icha dengan nada mencibir, “Yeah … mulut bisa saja berkata lain … tapi dari sorot matamu saja aku sudah tahu! Aku sudah berkali-kali memperingatkan kepadamu … jangan bermain hati!”
Leo mencengkeram kemudi setir tanpa bisa berkata-kata.
Jauh dalam lubuk hatinya, tentu dia merasa bersalah karena sikap kasarnya tadi bisa saja membuat Berli membenci dan kecewa padanya.
...***...
Sesampainya di rumah, bi Imah sudah menyiapkan makanan yang Vee pesan sebelumnya.
Langit sudah hampir gelap dan terakhir Yazza makan adalah pagi tadi.
Yazza duduk di atas ranjang dengan kaki yang tertutup selimut.
Padangan matanya menatap ke arah layar Tv, tapi pikirannya entah melayang ke mana.
Vee masuk membawakan makanan dan minum untuknya.
Wanita itu duduk di ujung ranjang, tepat di samping suaminya.
“Makan dulu ya?” ucap Vee dengan senyum lembut.
Yazza menoleh, tapi tidak menjawab sepatah katapun.
“Aku tahu kamu sangat sedih. Tapi jangan menyiksa diri seperti ini!”
“Aku tidak lapar!” jawab Yazza datar.
Vee mendengus membuang muka, “Ckkk!”
Kepala Yazza kembali menghadap lurus ke depan. Ke layar Tv tentunya.
Mendengar kalimat Vee, membuat Yazza mengerutkan kening dengan alis yang bertautan, “Apa yang kamu bicarakan?” mendengus memejamkan mata, “Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!”
“Kalau begitu makanlah sesuatu! Aku sudah sangat lapar!” tegas Vee memanyunkan bibir.
“Hya … apa hubungannya? Jika kamu lapar, makan saja!” Yazza mulai kesal.
“Bukankah suami istri harus melewati suka duka bersama? Jika kamu saja masih tidak mau makan, bagaimana bisa aku makan sendirian?”
Pria itu menoleh menatap tajam hendak memprotes, tapi begitu melihat mata Vee, suara Yazza tercekat dan dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Pada akhirnya, dia hanya bisa menghempaskan nafas panjang dan kembali membuang muka.
“Baiklah! Jika kamu masih mau egois seperti itu … aku juga bisa melakukannya! Selama kamu tidak makan, aku jika tidak akan makan apapun!”
“Hya … kenapa kamu semakin membebani pikiranku?” desah Yazza datar.
“Kamu pikir dengan kamu seperti ini, kamu tidak sedang membebani pikiranku? Nah … kita sudah impas kan sekarang?”
Pria itu kembali memejamkan mata, menarik nafas panjang dan menghempaskan perlahan.
Vee menunduk, melihat baki makanan di pangkuannya lalu dengan wajah memelas, matanya sedikit melirik ke arah Yazza tanpa menolehkan kepala.
“Astaga … malang sekali nasib janin dalam kandunganku! Baru juga berusia beberapa minggu … dan ibu hamil ini sudah harus mengalami kelaparan!” gumamnya degan nada pilu seolah tersia-siakan.
Yazza langsung menoleh mendengus mencibir, “Hya … baiklah aku makan!” protes Yazza sembari menarik baki di tangan Vee.
Vee menyembunyikan senyum tipisnya dengan gerakan jari yang di tutup ke depan bibirnya.
Yazza mengambil sendok, melirik ke arah Vee sembari mencibirkan bibir.
Wanita itu langsung memegang perutnya, “Eh, nak … akhirnya kita bisa makan juga setelah ini!”
__ADS_1
“Dasar wanita aneh!” dengus Yazza menahan senyum melihat tingkah Vee kali ini.
Begitu melihat sudut bibir Yazza sedikit terangkat ke atas, tentu itu sudah bisa membuat Vee ikut tersenyum lega.
“Kamu boleh saja bersedih … tapi tetaplah ingat dengan orang-orang yang masih di sekitarmu! Jangan egois dan menghukum diri sendiri seperti ini,” memegang kaki Yazza yang terbungkus selimut, “Kamu tidak sendirian … masih ada kita!”
Pria itu menatap Vee dengan senyuman tipis, “Sepertinya … keputusanku untuk memaksamu menikah denganku memang tidak salah!”
“Cih! Aku yang jadi korban di sini … kenapa malah kamu yang terlihat menyesal?” dengus Vee tersenyum menggoda.
“Hya … bedakan mana sebuah kebanggaan dan mana sebuah penyesalan!” cibir Yazza sembari memasukan sesuap nasi ke mulutnya sendiri.
“Yeah … aku juga merasa … sepertinya aku ini cukup menarik! Banyak hal yang bisa di banggakan dari dalam diriku!” ucap Vee pongah membanggakan dirinya sendiri.
“Hya! Tidak takut kepalamu akan meledak jika terus membesar seperti itu?”
“Cih!” Vee mendengus tersenyum melihat makanan Yazza, “Mau aku suapi?”
“Aku sudah mulai terbiasa dengan sikap sok manis seperti ini! Ujung-ujungnya pasti ada sebuah permintaan,” cibir Yazza memicingkan mata.
Vee menggigit bibir bawahnya sendiri sambil mengangkat bahu, “Tidak kok! Hanya iseng saja menawarkan!”
“Cih! Mustahil!” dengus pria itu masih memicingkan mata melirik istrinya.
Vee kembali mengangkat bahu.
Dia berdiri dan berjalan menuju jendela.
Dengan kedua tangan yang menyilang di perut, Vee menghempaskan nafas panjang memunggungi Yazza.
Pandangannya kosong melihat ke arah bonsai di balkon luar kamarnya.
Aku memang tidak tahu dengan jelas … orang seperti apa kalian ini!
Tapi yang aku tahu … selama aku masih punya akal sehat, aku tidak akan membiarkan Yazza menjadi seorang penjahat untuk selamanya!
Wanita itu menoleh sedikit ke arah suaminya.
Aku percaya, orang akan bisa berubah.
Aku sudah berjanji kepada mbak Rosi untuk membuatnya tetap aman.
Yeah … jangan sampai ada korban lagi!
Cukup Yunna saja yang berhak meninggalkan luka.
Karena aku sudah memutuskan untuk terjun, maka tidak ada jalan keluar lagi untuk kembali ke permukaan.
Yang hanya bisa aku lakukan sekarang adalah, bertahan hidup dan menyelamatkan keluarga kecilku!
Yazza menatap ke arah Vee masih sambil melanjutkan makan.
Wanita itu tampak tersenyum kepadanya.
Bukannya kelegaan yang dia dapatkan.
Begitu melihat senyum dari bibir Vee, justru membuat Yazza menjadi semakin cemas.
Senyuman istrinya itu tidak terlihat seperti senyuman biasanya.
Begitu misterius.
Yazza mengernyit, menautkan alis dengan kening berkerut bertanya-tanya dalam kemelut pemikirannya sendiri.
Kenapa tiba-tiba dia terlihat seperti lukisan Monalisa?
Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku?
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...