RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
HANS & TAWURAN (Part 2)


__ADS_3


Hirza menyadari kehadiran Hans.


Dia kembali duduk tegak seolah tegar.


Meskipun tidak suka jika Vee dekat dengan pria lain.


Tapi, dia tidak bisa berbuat banyak.


“Sejak kapan kamu di sana?” tanya Hirza.


“Yazza sudah banyak membuat penderitaan dalam hidup nona Vee!” Hans mendengus kesal membuang muka.


Menyipitkan mata, “Kenapa kamu bertingkah seperti itu lagi?”


“Apakah mas akan terus menutup mata pada kedekatan mereka?” hardik Hans.


Hirza menghempaskan nafas panjang.


Meski dia mencoba membuat rongga dadanya sedikit lebih lega, namun penat dan sesak masih saja menguasai.


“Kenyataan bahwa Yazza selalu mencari Vee selama ini memang benar adanya! Bahkan sampai sejauh apapun kita membantu menyembunyikan Vee … mereka sering dipertemukan dengan ketidaksengajaan. Kurasa Tuhan memang sudah menuliskan takdir untuk keduanya!”


“Aku lelah menanyakan hal ini mas! Tapi apakah mas sungguh tidak akan melakukan apapun terhadap Yazza?” justru Hans yang kesal pada Yazza.


Menggeleng, “Tidak untuk saat ini. Yazza masih bisa dimanfaatkan … lagipula kita memegang kartu AS nya! Jika ingin menjatuhkan Yazza, itu akan menjadi sesuatu yang mudah!”


Menghela nafas panjang, “Huh … ini tidak adil!” membuang muka.


Menatap adik angkatnya, “Hya … pergilah ke sekolah!”


Mendengus, “Sebenarnya ada hal mendesak yang sangat penting sekarang!”


Hirza menyipitkan mata, “Apa?”


“Wanita yang kemarin kembali menyewa elite Strom. Kali ini targetnya langsung untuk melenyapkan nona Vee!”


“Apa!” berdiri terkejut.


“Aku akan memancing keributan dengan sekolah lain …,” melihat ke arah majalah, “mas, ijinkan aku menjadi pengacau kali ini … jika tawuran yang akan aku buat memakan korban dan menjadi tidak terkendali, mungkin kehebohannya bisa sekaligus menutup berita tentang nona Vee!”


Hirza mengerutkan kening tampak berpikir.


“Mas, percayalah! Hanya dengan adanya tawuran, jalanan akan lebih mudah untuk di kendalikan,” Hans meyakinkan.


“Baiklah … tapi jangan menggunakan tanganmu secara langsung!”


“Aku akan main bersih, memanfaatkan kekacauan itu untuk memblokir jalan dan membawa kelompokku untuk membantu menyelamatkan nona Vee.”


“Ingat untuk berhati-hati!”


“Aku sudah memeriksa jalur yang akan Strom gunakan, lokasi tawuran tidak jauh dari sana! Kali ini kami tidak perlu menyamar … jika pada akhirnya harus menghajar para elite Strom, kami tidak akan ketahuan!”


“Kalau begitu, pastikan kamu menghafal di mana saja lokasi CCTV. Jangan sampai terekam dengan jelas, dan jangan ceroboh menggunakan tanganmu sendiri secara langsung!” Hirza memperingati.


“Aku akan mengikuti nona Vee, meskipun dia jago bertarung … dia hanya seorang diri! Jika situasinya sudah tidak bisa di kendalikan, barulah kami akan turun tangan!”


“Mungkin akan ada banyak wartawan yang mengincarnya … tugasmu tidak mudah!” Hirza menatap khawatir.


Tersenyum pongah,“Mas tidak perlu resah! Aku tidak akan mengecewakan!”


...***...


Seperti yang direncanakan.


Hans dan empat temannya terus mengikuti kemana Vee pergi.


Mereka cukup lama mengawasi Vee di kantor Teratai Putih.


“Eh … mobil Van itu mencurigakan nggak sih?” Ozzy menunjuk ke belakang.

__ADS_1



Memperhatikan, “Ah … itu target kita!” Hans yakin setelah memastikannya.


“Eh kita sudah menutup plat mobil ini kan?” tanya teman yang lainnya.


“Aman! Anak-anak dari sekolah kita juga sudah di atur! Mereka terpancing emosi dan setuju melakukan tawuran, pihak sekolah lain juga langsung tersulut amarah!” terang Ozzy duduk santai memainkan tongkat baseball.


“Suruh team A dan team B untuk memblokir jalan!” Hans menatap Ozzy.


“Semua sudah beres sesuai rencana … jangan khawatir!”


“Heh … itu ada botol! Kamu habis mabuk-mabukan sendirian ya?” tanya salah seorang kepada Hans.


Menyipitkan mata, “Botol apa?” Hans bingung.


“Itu aku yang bawa! Katanya kan aksesoris tawuran?” Ozzy terkekeh lepas.


“Hahaha!”


Tiga teman yang lain ikut tertawa.


“Haiz … sekarang itu jamannya pakai petasan. Tidak jaman lagi menggunakan botol!” cibir Hans.


“Cih … nanti juga berguna!” Ozzy mencibir membuang muka. “Lagipula aku memang dari generasi lama!”


Hans mencibir menertawakan melirik Ozzy, “Cih … mengulang masa SMA lagi pasti membuatmu merasa jadi muda kan?”


Dengan tinju pelan Ozzy memukul lengan Hans di sebelahnya.


Dia terkekeh pelan kembali melihat ke belakang.


“Eh … itu target kita sudah mendekati korban!”


“Ah benar, standby!” Hans menyuruh temannya bersiap menyalakan mobil.


Mobil Van meninggalkan area kantor Yazza.


Jalanan memang sepi karena rekayasa yang mereka atur.


“Eh kenapa itu mobilnya oling?” Ozzy menunjuk depan.


“Sepertinya nona Vee melakukan perlawanan! Pelankan laju mobil kita,” Hans melihat sekeliling, “Berhenti di belakang pohon pinggir jalan itu!”


“Di dekat bangunan rumah itu?” tanya yang mengemudi.


“Ya, lokasi itu aman dari jangkauan CCTV!”


Tidak lama mobil Van menabrak pembatas jalan.


Hans dan teman-temannya bergegas turun.


“Apa yang terjadi? Kita harus segar ke sana!” Ozzy langsung maju membawa balok kayu.


Hans menahan, “Tidakkah kalian mendengar yang berteriak adalah seorang pria?”


“Maksudnya … nona itu yang justru menghajar para preman?”


“Nona Vee bukan orang sembarangan. Dia sangat tangguh, kurasa justru para preman itu yang mendapatkan pelajaran,” Hans tersenyum melihat ke arah Van.


“Jadi kita tidak perlu maju untuk membantu?”


“Kita move ke lokasi team B … ikut memblokir jalan!”


Vee turun dari mobil untuk memaksa dua preman masuk melalui belakang.


“Hans … lihat! Nona itu memang sangat menggumkan!” Ozzy tersenyum takjub.


“Sudah kubilang … dia bukan wanita sembarang! Kalau begitu kita pergi dari sini! Masalah nona itu sudah dibereskan oleh dirinya sendirinya! Setidaknya kita tahu … dia sudah aman!”


Hans dan yang lain menuju lokasi team penjaga jalan.

__ADS_1


Mereka bersantai di sana sambil bercanda ria.


Jalanan sangat lapang, hanya satu dua mobil yang kadang melintas.



Tanpa sengaja, Hans melihat mobil Yazza melaju di hadapannya.


Dia terperangah terkejut mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.


“Masuk mobil! Ikuti mobil itu!” Hans tampak tergesa menyuruh teman-temannya.


Tanpa pikir panjang ke empat temannya tadi langsung menurut.


Mereka mengikuti Yazza sampai area kemacetan.


“Hya … kenapa kita malah ikut terjebak macet di sini!” gerutu Ozzy.


Hans terus melihat ke arah mobil Yazza dengan tatapan penuh amarah.


“Hei … kamu kenapa terlihat teruk sekali sih?” cibir Ozzy.


“Aku sedang memikirkan cara supaya bisa merusak atau paling tidak memecahkan kaca mobil yang kita ikuti tadi … sayang sekali ini bukan area yang tepat!” Hans mendengus frustasi.


“Lihat … seseorang turun dari mobil!”


“Bingo! Itu dia!” Hans meraih botol melemparkan ke salah satu temannya.


“Hya apa ini?” menangkap botol.


“Cepat lari dan menyusup ke sekolah musuh. Pria itu target kita!” Hans mengambil botol lainnya dan langsung turun dari mobil.



“Kamu yakin?” ikut turun.


“Hans jangan gegabah!” Ozzy berusaha melarang.


“Shhh! Diam saja di sana! Aku tahu apa yang harus aku lakukan!”


“Hans! Kamu bisa dalam masalah!” tegas Ozzy.


Hans tidak peduli, dia membanting pintu mobil lalu melihat ke arah temannya.


“Cepat lari sebelum dia sampai duluan ke lokasi tawuran di depan sana!” tegas Hans.


Tanpa pikir panjang, Hans langsung mengendap mengikuti Yazza.



Begitu melihat Yazza lengah di tengah area tawuran, Hans langsung mengisyaratkan pada temannya untuk melempar botol.


Yazza memang mampu menangkis botol dari arah depan, tapi dia tidak bisa menghindari botol yang Hans lemparkan dari arah belakang.


Hans tersenyum puas sebelum akhirnya kembali menyelinap di antara keributan anak-anak lain.


...***...


Kembali ke sekolah Yve.



Vee menyipitkan mata melihat mobil yang ditunjuk Xean.


Hans terkejut saat melihat Vee menatap ke arahnya.


Tatapan itu seakan tembus tepat menatap matanya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2