RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TESTPACK


__ADS_3


Siapa gadis ini?


Rasanya aku sudah pernah bertemu dengannya.


Yazza menyipitkan mata mencoba mengingat.


Mengetahui jika Yazza tengah memperhatikannya, Vee segera membuang muka. Terus berjalan, mengabaikannya.


...***...



Daniel yang tadinya bersantai di warung kopi pinggir jalan cukup terkejut melihat gadis yang dia temui sebelumnya.


Daniel segera membayar.


Berdiri merapikan diri menghampirinya.


“Hi!”



Daniel yang tiba-tiba muncul membuat Vee cukup terkejut hingga nyaris terjatuh mundur.



“Maaf!” Daniel menarik lengan Vee untuk membantunya menyeimbangkan tubuh.


Vee menyipitkan mata, “Kamu?”


“Wah, masih mengingatku?”


Melihat kemeja Daniel, “Anda bekerja disini?”


“Jangan terlalu formal,” tersenyum gemas.


Vee hanya nyengir sekali.


Melihat surat lamaran kerja di tangan Vee, “Mau melamar disini?"


“Ya.”


“Wah, kita akan satu kantor. Good luck!”


“Belum tentu juga diterima,” Vee berjalan kembali.


“Ku antar ke HRD!”


“Tidak usah!” cuek menuju pos satpam.


Daniel mengikuti.


...***...



“Tuan Yazza? Anda masih di sana? Apa terjadi sesuatu?” tanya pak Ardi karena tuannya tiba-tiba menjadi terdiam.


Yazza mematikan panggilan, dia masih melihat ke arah Vee.


Dia sungguh merasa pernah melihatnya. Tapi dia lupa, dan itu membuatnya frustasi sendiri dengan pikirannya.


Vee merasa risih karena Daniel terus mengekor.


Daniel dengan cengengesan tanpa peduli tetap mengawal Vee.


Ponselnya berdering.


“Hallo!”


“Gimana udah sampai? Tidak nyasar 'kan?” tanya Yunna.


“Tentu saja tidak!”


“Terus bagaimana?”


“Kata pak satpam tadi, langsung disuruh menyerahkan lamaran dan sekaligus interview ke HRD.”


“Good luck ya!”


“Eh ..., bentar!” melirik Daniel.


Daniel tersenyum dan Vee langsung kembali membuang muka.


“Tadi aku melihat bos mu yang waktu itu,” mengecilkan suaranya.


“Benarkah?”


“Dia tampak marah sekali karena mobilnya mogok!”


“Dia memang pemarah seperti itu aslinya.”


Pintu terbuka, seorang wanita berkacamata tersenyum, “Mau interview.”


“Iya,” Vee mengangguk.


“Silahkan masuk!”


Vee tersenyum mengangguk, “Eh ..., udah dulu ya!”


“Good luck!” Yunna menyemangati.


Vee mematikan panggilan dan langsung masuk.


Lagi-lagi Daniel tersenyum, seolah memberi semangat dengan gerakan tangan.


Pria aneh!


Batin Vee.



“Bertemu lagi dan akan menjadi sekantor? Jangan-jangan memang jodohku!” Daniel bergumam cengengesan, memutar badan, melangkah pergi.


 


...***...



Semua orang menunduk hormat saat Yazza datang ke kantor.


Yunna tampak tersipu menunduk tersenyum malu-malu.


Yazza melihatnya sekilas.


Dia salah satu karyawan disini?


Batinnya.


Dengan acuh Yazza kembali berjalan.


Siangnya Yunna dipanggil ke ruang Yazza.


Yunna merasa sangat senang sekaligus nervous.


Dia merapikan diri, berdandan lagi dan memakai minyak wangi sebelum menuju ruangan Yazza.

__ADS_1


Yazza terlihat kaku dan tanpa ekspresi saat gadis itu memasuki ruangannya.


“Permisi pak!” Yunna merona.


“Langsung saja. Semua yang terjadi waktu itu, anggap saja tidak pernah terjadi. Dan jika kamu merasa dirugikan, katakan berapa yang kamu minta untuk melupakan semuanya?”


Deg!


Yunna tidak menyangka, akan menjadi seperti ini respon Yazza.


Salah tingkah, “Saya minta maaf pak!”


“Saya sangat mabuk dan tidak sadarkan diri. Jadi saya juga tidak ingat dengan apa yang terjadi. Hanya saja, jika sampai kejadian itu tersebar di seluruh kantor. Aku tidak akan tinggal diam!” menyodorkan cek kosong, “Isi saja sesukamu untuk menutup mulut.”


Yunna hanya terdiam menunduk gemetaran.


Menatap Yunna tajam, “Kamu tinggal sendiri di apartment blok C bukan?”


Deg!


Lagi-lagi Yunna tercengang.


Bahkan Yazza sudah mencaritahu alamatnya?


Ia merasa telah salah karena sengaja masuk ke lubang buaya.


Terlebih saat ini ada Vee yang tinggal di tempatnya.


Yunna khawatir akan keselamatan sahabatnya.


Dia tidak mau melibatkan Vee dalam masalah.


Rumor yang beredar di luar sana, Yazza adalah pria yang benar-benar berdarah dingin.


Dia akan menyingkirkan orang yang tidak dia sukai dengan cara melenyapkannya dengan cara halus.


Menyewa pembunuh bayaran atau bahkan menghancurkan hidup orang itu secara perlahan-lahan dengan cara yang tidak akan pernah terlupakan.


Dia bisa menciptakan penderitaan hidup dalam bayang gelap yang menyakitkan, jika ada yang menentangnya.


Dan Yunna telah tersesat di dalamnya.


Seharian penuh, Yunna kepikiran dan tidak bisa berkonsentrasi.


Dia memikirkan bagaimana caranya membuat Vee tinggal di tempat lain untuk sementara ini.


Jika Vee tahu dia sedang diancam. Vee pasti tidak akan tinggal diam dan pasti akan membuat masalah dengan Yazza.


Yunna memutuskan untuk tidak menceritakan pada sahabatnya tentang ancaman ini.


Dia lebih baik diam dan menuruti perkataan Yazza untuk tidak membuka mulut tentang kejadian malam itu.


Setidaknya dia tidak perlu kehilangan pekerjaan dan Vee tidak berada dalam bahaya.


...***...



“Kamu kenapa?” tanya Vee saat melihat Yunna banyak melamun malam itu.


Tersenyum, “Hanya memikirkan pekerjaan kantor!”


“Kalau terlalu sulit, biar ku bantu.”


“Cih! Urus saja dirimu sendiri,” tersenyum tipis.


“Jadi bagaimana hari ini?”


“Hanya interview, katanya mereka akan mengirim pesan jika aku diterima.”


“Tidak akan mungkin mereka menolak aset sebagus ini!"


“Ehh ..., sombong sekali!” cibir Yunna.


“Oh ya ..., kamu ingat pria yang waktu itu di terminal?”


“Yang mana?”


“Itu, yang kamu menyuruhku masuk mobilnya.”


“Ah, pria tampan itu?”


Vee mencibir, “Dia bekerja di kantor itu juga!”


Yunna terkekeh seketika, “Hahaha! Apa aku bilang ..., yeay! Awal pertemuan kisah drama dunia nyata 'kan?”


“Cih! Hanya kebetulan," sangkal Vee.


“Justru dari kebetulan itulah kisah akan dimulai.”


“Dia menyebalkan tau. 'Freak'!”


“Tunggu!” Yunna menegakkan duduknya. “Pria yang kamu sebut 'freak' itu ..., selama yang kutahu ..., biasanya dia adalah pria-pria yang bersikap baik dan mencoba mendekatimu? Jangan-jangan ...?” Yunna menatap Vee menggoda.


Mengernyit, “Dia seperti penguntit yang mengikuti ku dari luar sampai dalam.”


“Unch, iri sekali! Hari pertama interview sudah dapat gebetan!”


“Kepalamu!” umpat Vee kesal.


“Heh, kamu itu normal nggak sih? Jadi serem ... cih!” cibir Yunna.


“Kamu pikir jika aku tidak normal, aku akan menyukaimu? Jangan mimpi!” Vee mencibir.


Yunna balas mencibir.


Mereka saling lirik dan terkekeh bersama.


 


...***...


Vee diterima di perusahaan White Purple.


Hari pertama dia bekerja, ia merasa sangat gugup.


Daniel menghadang Vee dan memberikan seikat bunga untuk Vee.



“Selamat karena sudah diterima magang!”


Vee justru merasa malu dengan tingkah Daniel, “Shhh ..., jangan dekat-dekat!” kembali berjalan.


“Eh, setidaknya terima hadiah dariku!” Daniel mengejar.


“Memalukan sekali!” Vee merebutnya dan langsung meletakkannya di loker Satpam.


“Cie ...!” goda para satpam yang berjaga.


“Pak Soleh, tandai ya! Dia milikku!” Daniel cengingisan bercanda dengan Satpam.


“Weh, langsung ditandai saja, baru juga training sudah dikawal!” melihat Vee, “Neng, bunganya bapak simpan di sini, nanti ambil pas pulang!”


Pak Soleh Satpam kantor terkekeh pelan.


Vee hanya mencibir, lanjut berjalan menuju pintu utama.


“Eh ..., tunggu!” Daniel kembali mengejar.

__ADS_1


...***...



Vee cemberut kesal duduk di atas bangkunya.


Daniel yang berada di sebelahnya terus melihat Vee dengan senyuman menopang dagu.



Terlihat kekanakan dan membuat tidak nyaman.


Pak Didik memukul kepala Daniel dengan file tipis, “Mengganggu anak magang,” tegurnya pelan.


Vee mencibir menertawakan.


Pria paruh baya itu tersenyum melihat Vee, “Selamat datang di team kami. Saya manager team ini. Perkenalkan dirimu.”


Vee tersenyum berdiri. Semua yang di ruangan itu melihat ke arah Vee, “Perkenalkan saya Vee Lesyanna. Kerap dipanggil Vee. Mohon bimbingan dan kerja samanya!”


“Vee, sudah punya pacar?” tanya salah seorang pria.


Daniel langsung berdiri, “Apa kau? Berani hah!” tantang Daniel.


Pak Didik kembali memukul kepala Daniel dengan file tipis yang digulung.


“Aww!” Daniel mengelus kepalanya dan kembali duduk.


Semua orang terkekeh menertawakan.


“Pak! Kami lihat ..., Daniel sudah mengawalnya sedari pagi. Curang sekali bukan? Mencuri start!” celetuk yang lain dengan nada bercanda.


“Haiz, meski dia kolotan dan resenya sangat menyebalkan, tapi dia yang terbaik di team. Kita masih butuh dia!” ejek yang lain menggoda.


Daniel hanya cengengesan, “Heh, selama ada Daniel. Team kita akan menjadi nomor satu!” ucapnya pongah.


“Cih ...!”


“Huu ...!"


Yang lain menyorakinya.


Tapi yang dikatannya memang benar.


Daniel memang berkontribusi banyak di teamnya ini.


Karena dia suka bercanda dan jahil, yang lainpun terbiasa bercanda seperti itu dengannya.


Sesulit apapun pekerjaan yang di berikan kepada mereka, selama ada Daniel, semua terasa begitu menyenangkan.


Dia sudah seperti mood booster.


“Ingat, jangan menggodanya!” Daniel menunjuk Vee.


Vee jadi tersipu dan semakin malu saat semua menyoraki keduanya. Vee menendang kursi Daniel hingga Daniel nyaris jatuh.


Daniel hanya tersenyum dan kembali menopang dagu, melihat Vee.


“Sudah, jangan bertanya yang tidak penting lagi. Ingat, team kita tidak boleh saling menjatuhkan. Semua harus bekerja sama dengan baik dan bekerja dengan semaksimal mungkin. Mengerti!” tegas pak Didik bersemangat.


“Mengerti!” jawab semua orang kompak.


“Oke Vee, selamat datang sekali lagi. Dan jika butuh bantuan dan ada hal yang masih belum dimengerti, tanyakan saja kepada Daniel. Dia yang terbaik!”


Vee tersenyum palsu. Dalam hatinya, malas sekali berurusan dengan pria 'freak' di sebelahnya ini.


“Ke kantin bareng?” tanya Daniel begitu jam istirahat.


Vee tidak menggubris dan langsung berdiri mendahului Daniel.


“Jadi, malam itu di terminal kamu baru pindah ke kota ini?” Daniel nerocos, “Malam itu aku meminjam mobil temanku untuk menjemput seseorang.”


Meski pada kenyataannya, dia disuruh mamanya menjemput pembantu baru yang baru datang dari kampung.


“Apa tidak ada kegiatan lain?” tanya Vee acuh.


“Nanti pulangnya aku antar ya?”


“Kekasihku akan salah paham!” Vee berusaha membuat Daniel menyerah dengan kebohongan.


“Eh, itu tidak mungkin! Dengan tingkat ke judesan ini, sepertinya kamu belum punya pacar!”


Vee berhenti lalu menatapnya kesal.


Daniel nyengir lalu mengangkat dua jarinya, “Peace!”


“Jangan menggangguku!”


“Oke!” Daniel menutup mulutnya tapi tidak menyerah untuk terus mengekor kemanapun Vee pergi.


...***...


Tiga bulan berlalu, dan Vee sudah menjadi karyawan tetap sekarang.


Dia cukup cekatan dan mudah memahami tugas-tugasnya.


Bisa dibilang, bintang baru di perusahaan.


Daniel semakin kagum dan bangga padanya.


Meski Vee masih sangat acuh dan selalu menghindarinya, Daniel tidak pernah menyerah terus berusaha mendekati Vee.


Yunna terlihat sangat pucat dan merasa sangat tidak enak badan.


Vee khawatir melihatnya.


Yunna begitu keras kepala dan tidak mau di ajak ke rumah sakit.


Bolak-balik Yunna ke kamar mandi.


“Kita ke Dokter ya?” bujuk Vee sambil merapikan tempat tidur.


Yunna masih mual-mual muntah di kamar mandi.


Vee terdiam mematung melihat sesuatu di bawah bantal Yunna.



Dia terkejut melihat alat tes kehamilan yang menunjukan dua garis merah.


Segera Vee menghampiri Yunna ke kamar mandi.


“Apa ini Yun! Kenapa tidak pernah memberitahuku!” sergah Vee.


Yunna menunduk sedih sambil meraup wajahnya dengan air.


   


“Katakan Yun. Pria mana yang membuatmu sampai hamil seperti ini!” geram Vee.


Ini akan sangat gawat jika Vee tidak bisa meredam amarahnya.


Yazza bukan tandingannya!


Hal yang paling Yunna takutkan, Vee akan terlibat dalam bahaya karena masalahnya kali ini.


"Siapa orangnya Yun!" desak Vee.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2