RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MOTIF KECURANGAN


__ADS_3

Tiga petugas pengiriman terikat dengan mulut diplester.



Mereka menggeliat di dalam kepala truck tronton, menatap mengiba memohon pertolongan.


Daniel segera naik untuk membuka pintu pengemudi.


Mobil kantor White Purple baru sampai di lokasi.


Lima orang turun, tiga diantaranya langsung berlari untuk segera membantu Daniel.


“Ibu Vee, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya salah seorang.


“Kami juga baru sampai …,” Vee panik menyorot dengan handphone ke depan, “kalian bawa penerangan?”


“Ya, saya akan ambil dulu!” menuju ke mobil kantor.


“Pak Didik menelepon, beliau tidak memberitahu detailnya, hanya saja kami disuruh datang kesini membawa sopir pengganti!”


Vee mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.


“Kami akan mengurus mereka …,” melihat jam, “kalian segera antar barang ini ke Nirwana. Sebentar lagi batas waktu kita akan habis!” Vee melihat ke arah ketiga petugas pengiriman yang sudah diturunkan.


“Baik bu Vee!”


“Bawa mereka ke tempat kering di dalam gedung itu!” Vee menepuk bahu salah seorang, “Singkirkan mobil pak Daniel dan mobil kalian agar tronton bisa keluar. Pesanan tetap harus segera di antar!”


“Baik bu!”


Daniel melepaskan ikatan dan plaster di mulut supir.


“Pak Daniel! Tolong kami pak … kami takut sekali,” supir tronton itu sepertinya benar-benar ketakutan.


“Vee periksa dulu barangnya! Cari tahu apa ada yang hilang!” Daniel mengelus-elus punggung si supir.


Dua orang kantor menenangkan kedua korban lainnya.


Membawa mereka masuk ke dalam area gedung tua.


“Astaga iya … sampai lupa,” Vee hendak melangkah.


“Bu Vee!” panggil supir, “Tidak perlu memeriksa … saya menjamin barang kita semuanya dalam keadaan aman dan baik-baik saja!”


“Hah?” Vee mengernyit menyipitkan mata.


“Kalian dirampok atau bagaimana sih?” tanya Daniel sama tidak mengertinya.


Menggeleng, “Orang-orang itu menghadang kami … menodong dengan senjata, mengikat kami … lalu membawa kami ke sini! Setelah itu mereka pergi begitu saja.”


Vee dan Daniel saling bertukar pandang.


Sepertinya ini bukan kasus biasa.


Apa motif orang-orang itu!


Sepertinya jika perampokan juga mustahil … mengingat tidak ada barang yang hilang!

__ADS_1


Batin Vee bertanya-tanya dalam hati.


“Em … yang jelas sekarang segera antar barang ini ke Nirwana. Jika ada barang yang tidak memuaskan … kita akan menggantinya!” Daniel menegaskan.


“Kalau begitu, kami bertiga berangkat dulu,” pamit supir pengganti.


“ Maaf merepotkan,” supir sebelumnya merasa bersalah.


“Jangan dipikirkan … kalian tenangkan diri dulu … saya ambilkan minum … istirahat dulu saja di sana!” Vee melihat Daniel.


“Vee benar, setelah kalian agak sedikit tenang, baru ceritakan kepada kami … apa yang sebenarnya sudah kalian alami!” Daniel mengangguk-anggukkan kepala.


“Pak Daniel, sebaiknya bawa dulu pak supir ini ke sana!” Vee menunjuk ke arah dua teman supir yang sudah berada di tengah gedung terbengkalai.


“Ah … maaf,” Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Mari pak!”


Supir itu mengangguk.


Daniel membimbingnya berjalan mendekati gedung. Sementara Vee, dia berjalan menuju mobil Daniel untuk mengambil air mineral.


...***...



Yve sudah terlelap.


Meski suasana masih sangat canggung, pak Didik mencoba sebiasa mungkin duduk bersebelahan dengan Yazza.


“White Purple memang tidak pernah memiliki musuh … kejadian hari ini … secara tidak langsung disebabkan oleh saya,” Yazza menarik nafas panjang. “Saya minta maaf!” menghempaskan dalam satu hembusan nafas.


Pak Didik menoleh, “Pak Yazza tidak perlu menyalahkan diri seperti ini.”


Pak Didik terdiam menunduk.


“Kenyataan ini tidak akan bisa terus-menerus disembunyikan!”


“Saya hanya masih tidak menyangka, anda adalah ayah Yve.”


Tersenyum, “Vee begitu membenci saya … hingga dia tidak pernah mau mengakui tentang saya!”


“Ya … dia memang pernah bilang jika dia sangat tidak menyukai anda!”


“Itu sebabnya aku memanfaatkan kesalahannya agar bisa memperbaiki semuanya!”


Pak Didik semakin menurunkan bahunya.


“Anda mengkhawatirkan tentang pak Daniel?” tanya Yazza santai.


Mendengar pertanyaan itu, seketika pak Didik langsung menoleh menatap Yazza.


“Saya akan menikahi Vee dalam waktu dekat.”


Menghela nafas panjang, “Saya sungguh tidak tahu harus berkata apa!”


“Apa pak Daniel sangat menyukai Vee?”


“Baginya … hanya ada tiga perempuan di dunia ini. Mamanya, Vee dan Yve!”


Tersenyum tipis, “Saya tahu … anda sudah bersama pak Daniel sejak lama … tentu anda juga begitu memahami dan begitu menjaga perasaannya … tapi, kami sudah mempunyai seorang putri. Saya hanya ingin membayar semua kesalahan dengan memulai semua dari awal lagi!”

__ADS_1


“Saya sadar diri … saya bukan siapa-siapa! Saya juga tidak bisa memaksa seseorang untuk menghentikan cintanya. Saya hanya memikirkan … apa yang akan Daniel lakukan begitu mendengar kenyataan ini?” pak Didik tidak berani menatap Yazza.


“Yang pasti, saya tidak akan pernah melepaskan Vee lagi untuk kali ini!”


...***...


Daniel meminta dua staff kantor lainnya segera membawa ketiga petugas ke rumah sakit.


Meski sempat menolak karena tidak ada luka serius yang mereka alami, tetap saja Daniel khawatir dengan trauma yang masih membekas.


“Haruskah kita melapor polisi?” Vee menoleh menatap Daniel yang sedang menyetir.


Keduanya dalam perjalanan pulang.



“Pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi. Bukankah motif pelakunya begitu tidak jelas?” kali ini Daniel sepertinya sangat serius.


“Ya … jika memang begal atau perampok … kenapa tidak ada barang berharga yang hilang? Mereka hanya diikat dan di bawa ke tempat sepi lalu ditinggalkan begitu saja!” menatap kosong ke depan.


Tentu saja Vee memikirkan sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang.


Ada yang mengganjal di pikiran.


Daniel menyipitkan mata mengingat sesuatu, “Tadi ketika aku membuka pintu mobil … jendelanya terbuka! Dan sepertinya juga tidak ada niat penghilangan nyawa …,” menghela nafas panjang, “takutnya … ini hanya trik seseorang untuk menjatuhkan White Purple! Tapi siapa dan kenapa?”


Vee semakin terdiam membuang muka melihat ke samping.


Apa mungkin Yazza yang melakukannya?


Dia pasti sengaja mencari masalah lagi!


Tadi dia menyinggung tentang kedekatan dengan keluarga pak Daniel.


Dan dia sepertinya tidak menyukai hal itu.


Apa dia memang sengaja menunjukan kekuatan agar aku tidak berbuat sesuatu yang membuatnya marah?


Dasar pria gila itu!


Daniel menghela nafas panjang, fokus menatap ke jalanan.


“Tidak mungkin juga ‘kan … jika Nirwana memang sengaja mau mencari masalah?” Daniel terlihat begitu frustasi.


“Nirwana perusahaan besar … mana mungkin mereka melakukan trik kotor seperti itu!” Vee menjawab datar tanpa menoleh.


“Sepertinya memang ada yang ingin mengadu domba … bukankah jika melapor polisi hanya membuang waktu dan tenaga kita saja?” Daniel sedikit ragu, “Jadi bagaimana baiknya?”


Vee menghela nafas panjang tidak bisa menjawab.


“Kita juga tidak punya cukup bukti … para penjahat itu memakai penutup wajah!” lanjut Daniel pasrah.


“Pak Daniel ….” Vee mengepalkan tangan geram, masih tidak menoleh sedikitpun untuk menatap lawan bicaranya.


“Biar saya sendiri saja yang menyelidiki masalah ini!”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2