
Yazza menepuk-nepuk pipi Vee.
“Sudah sampai. Bangun lah!”
Vee yang setengah sadar, mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Begitu tahu dia menyandar di bahu Yazza dan Yazza menyentuh wajahnya, Vee langsung mendorong lengan Yazza menegakkan duduknya.
Dia melihat ke sekeliling.
Lingkungan gedung apartemennya.
“Jangan pernah menyentuhku seperti itu lagi!” Mengusap-usap wajahnya.
“Lagi-lagi tidak mau berterimakasih dan malah marah-marah. Sepanjang perjalanan kamu menyandar di bahuku. Nyaman bukan!”
“Cihh!” Vee kesal, membuka pintu dan turun. "Lagian kenapa harus ganti mobil!"
Yazza hanya tersenyum, mengikuti.
“Kenapa ikut turun?”
Menghempaskan nafas, “Mengantarmu sampai depan pintu!”
“Tidak perlu!”
Yazza mengangkat bahu acuh dan berbalik mendahului.
“Hya! Pak!” Vee mengejar.
Pak Ardi hanya mengangkat bahu. Menguap dan sedikit memundurkan bangku mobil bersantai sejenak menunggu sampai tuannya kembali.
***
Seseorang menahan lengan pria berseragam SMA yang hendak keluar dari dalam mobil.
“Bukankah aku selalu mengajarimu untuk tenang?”
“Apakah mas akan terus berdiam seperti ini? Mas lihat tidak? Mereka semakin dekat!”
“Aku sudah mengatur semuanya. Jadi tetap tenang dan ikuti saja arusnya.”
Pria berseragam itu hanya bisa menghela nafas panjang, tidak bisa membantah perkataan pria dewasa di sampingnya.
“Dengar, orang-orang seperti kita tidak bisa bertindak semaunya. Salah sedikit saja, akan sangat fatal akibatnya.”
Menundukkan kepala, “Maafkan aku mas.”
“Kamu tahu sendiri kan? Apa yang akan mas Rudi lakukan jika dia sampai tahu kalau kita seperti ini?”
Mengangguk merasa bersalah.
“Jika kamu masih menghormatiku, maka jangan bertindak sembarangan lagi.”
“Aku hanya khawatir saja tentangmu mas.”
Tersenyum tenang, “Takdir memang tidak bisa dirubah. Tapi nasib masih bisa kita permainkan.”
***
Yazza memasuk lift, di ikuti Vee dengan wajah kesal.
Dia melihat Yazza menekan tombol lantai apartemenya.
“Bagiaman anda tahu?” protes Vee.
“Seseorang berkata padaku, jika aku ingin tahu sesuatu tentangnya, aku harus mencari tahu sendiri. Dan lagipula, ini gedungku!”
Vee menatap tajam kesal.
Dia sangat ingat, itu adalah kata-katanya tempo hari.
“Sebenarnya apa maksud anda berkata seperti itu?”
“Aku juga ingin tahu.” Balas Yazza santai.
Vee menyipitkan mata geram, “Saya tidak pernah berbicara ataupun mengenal anda sebelumnya.”
__ADS_1
“Nah, itu yang tidak aku mengerti. Lalu kenapa kamu selalu hadir dalam kepalaku? Kita tidak pernah mengenal sebelumnya, dan kenapa selalu menatapku seolah aku pernah melakukan kesalahan besar kepadamu?”
"Apa dia benar-benar bermuka tebal seperti ini? Jika dia ingat apa yang pernah dia lakukan pada Yunna dan Yve, apa dia masih akan berani berkata seperti itu?"
Vee menghela nafas panjang membuang muka kesal.
Pintu lift terbuka.
Vee mendahului keluar.
Yazza terus saja mengikuti.
“Sudah di depan pintu. Sekarang bapak boleh pergi!” usir Vee.
“Aku haus. Boleh minta air?”
Vee memikirkan tentang Yve.
Dia tidak mau jika Yazza melihat putrinya.
Pintu dibuka dari dalam.
Yve yang tadinya tersenyum hendak menyapa mamanya langsung berdiri mematung.
Senyumnya pun memudar.
Di belakangnya Daniel tampak terkejut terdiam melihat Yazza ikut bersama Vee.
Yve terdiam melihat Yazza.
Tidak biasanya Yve bersikap seperti itu.
Yazza melihat Yve sebentar lalu melihat ke arah Daniel dengan tatapan aneh.
Melihat Yve yang termenung melihat Yazza, Vee langsung menggendong putrinya dan membawa masuk.
“Vee!” Daniel hendak menyusul.
Mendorong Daniel keluar dan segera menutup pintu dari dalam.
“Hya Vee! Barangku masih di dalam!”
Yve yang tidak mengerti apa-apa terlihat datar, “Dia tadi siapa Ma?” tanya Yve polos.
Vee menyipitkan mata, “Mesin ekskavator jahat. Jangan pernah menemuinya lagi!” mengelus kepala Yve lalu membawa ke dalam.
Vee melihat madam Lia.
“Dia madam Lia Ma! Yang menjaga Yve.”
Vee tersenyum, “Terima kasih telah menjaga Yve seharian ini. Anda sudah boleh pulang.”
“Ma, ini sudah sangat larut. Kata mama, tidak baik jika seorang wanita dalam perjalanan ketika larut malam.” Yve memainkan rambut Vee.
Vee menghela nafas.
Meski dia trauma dengan cerita baby sitter suruhan Yazza.
Kali ini saja, dia akan membiarkan suruhan Yazza menginap satu malam di sini.
“Madam boleh menginap. Tapi kami hanya punya dua kamar.”
“Saya akan tidur bersama nona Yve.”
Yve mengangguk.
Vee akhirnya menyetujui.
***
Daniel canggung menyapa Yazza.
“Selamat malam pak Yazza!”
“Sepertinya anda punya banyak sekali waktu luang.” Yazza merasa tidak rela melihat Daniel keluar masuk rumah Vee.
“Ah, kebetulan saya dekat dengan Yve. Dan begitu tahu Vee akan pulang malam, saya berniat menemaninya. Eh, ternyata bapak sudah menyuruh seseorang.” Tersenyum canggung.
“Sudah larut, tidak baik berada di tempat wanita yang tidak menikah.” Ucap Yazza datar.
Melihat sekeliling, “Pak Yazza juga! Em, maksud saya, bagaimana jika kita turun bersama-sama?”
__ADS_1
Yazza mengangguk, mempersilahkan Daniel mendahului.
Yazza sempat melihat kearah pintu apartemen Vee sebelum pergi menyusul Daniel yang tampak semakin insecure dengan pria ini.
Keduanya terlihat canggung satu sama lain.
Dalam perjalanan pulang. Yazza melihat gambar yang dia ambil tadi saat di wisata alam bersama Vee.
Yazza tersenyum gemas, memasang foto saat Vee seperti memeluknya sebagai gambar layar ponselnya.
***
Madam Lia mendapat pesan di handphonenya.
Dia melihat Vee yang sedang membuatkan sarapan untuk Yve.
“Nyonya Vee, sepertinya saya harus pergi sekarang. Taksi online sudah menunggu dibawah.” menyembunyikan handphonenya.
“Ah, tidak sarapan dulu?” Vee ramah.
Menggeleng, “Tidan nyonya. Terimaksih.”
“Yve tolong antar sampai depan pintu!” pinta mamanya.
Yve mengangguk berlari kecil ke arah pintu.
Madam Lia tersenyum menunduk hormat sebelum menyusul Yve.
Seorang pria berdiri di depan pintu begitu.
Yve terdiam menatapnya tanpa sepatah katapun.
Madam Lia tersenyum menunduk hormat pada Yazza dan langsung melewatinya tanpa kata-kata.
Wanita itu terus berjalan menuju lift dan Yve masih berdiri diam disana.
Tentu saja semua ini sudah direncanakan.
Yang sebenarnya terjadi adalah, Yazza sengaja mengirim pesan agar madam Lia membuat seolah pintu terbuka tanpa dia harus menyembunyikan bel.
Vee pasti akan marah dan mengusirnya jika Yazza datang sepagi ini.
Sungguh keberuntungan yang bagus karena bukan Vee yang mengantar madam Lia sampai ke pintu.
Yazza tersenyum, duduk jongkok untuk mengimbangi Yve.
“Sayang, kenapa masih di sana?” teriak Vee dari pantry.
Yazza mengelus wajah Yve.
Seperti ada yang berbeda saat Yve merasakan sentuhan dan tatapan hangat dari pria yang kini tepat berada di hadapannya.
Gadis kecil itu mengangkat sebelah tangan, menyentuh punggung telapak tangan Yazza yang berada di pipinya.
“Kenapa aku merasa sangat dekat sekali dengan anak ini.”
Aliran listrik merayapi tulang belakang Yazza. Degup jantungnya menjadi semakin tidak menentu.
Ini memang masih pagi. Tapi dingin yang dia rasakan bukanlah dingin karena faktor alam.
“Apa ada yang salah denganku? Apa aku sakit?”
Vee menyipitkan mata karena Yve tidak menjawab.
Sementara itu, putrinya masih berdiam tidak beranjak sedikitpun.
“Sayang!” Vee melongok dan melihat ada sosok tangan pria menyentuh putrinya.
Segera Vee berlari mendekat.
Ia sangat terkejut melihat Yazza di sana.
Vee menarik Yve, menyembunyikan di belakang tubuhnya.
“Kenapa anda datang kesini!” sentak Vee dengan tatapan nanar.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...