RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PENCULIK YANG TERCULIK (Part 1)


__ADS_3


Kantor Polisi.


Vee menyilangkan tangan di perut dengan angkuh.


Sapu tangan yang membalut tangannya, penuh dengan bercak darah.


Tiga pria tadi tampak babak belur diikat bersamaan.


Salah satunya terlihat teler, terkena bius.


“Nona ampun nona … kami tidak akan berbuat jahat lagi!” pria yang memakai cat rambut merah tampak ompong dengan bibir dower penuh darah.


Tiga gigi depannya rontok dalam perkelahian.


Matanya bengep, pelipisnya pun berdarah.


Telapak tangannya dibalut slayer yang warnanya sudah tertutup oleh pekatnya warna darah.


“Sungguh kami hanya disuruh! Jika bukan karena uang, kami juga tidak akan seperti ini!” pria bertato tampak sangat lemas.


Ikat pinggang Vee masih melingkar di lehernya.


Kepala pria itu bocor dengan muka bengep yang hampir sama.


Hanya yang teler terkena bius yang tidak mengalami luka babak belur.


Tapi sampai saat ini, dia masih susah dibangunkan.


“Kami sudah menyuruh petugas untuk menjemput wanita itu!” polwan berdiri bertolak pinggang menatap ketiganya.


“Bu … tolong … masukan kami ke penjara saja! Kami takut sekali melihat nona ini!” si rambut merah menunjuk Vee dengan isyarat kepala, merengek menangis.


“Cih!” Vee mencibir membuang muka.


...***...



Sebelumnya, di dalam mobil Van.


Pria di sebelah Vee siap membekap handuk dengan bius.


Vee tersenyum sinis, menangkis dengan tangan kanan.


Detik berikutnya, dia menyikut ulu hati pria di sebelahnya dengan siku kiri.


“Uhuuk!” pria itu terbatuk menjatuhkan handuk.


Pria bertato menoleh, “Hya! Dia memberontak … cepat bantu dia!” berkata kepada teman yang duduk di depan.


Pria dengan rambut merah menoleh.


Belum sempat dia mengatakan sepatah katapun, Vee langsung melayangkan bogem keras tepat di rahang bawahnya.


Dia yang belum sepenuhnya menyadari situasi yang saat ini terjadi harus kembali terpental ke tempat duduk semula sembari meringis kesakitan.


“Aaa … aduh … ahh!” memegang wajah dengan sudut bibir berdarah.


Tangan kiri Vee mengambil handuk kecil di bawah kursi.


Dengan sigap, dia membekapkan ke hidung pria yang duduk di sebelahnya.


Pria itu melawan menahan lengan Vee.


Berusaha menahan nafas, meski handuk dengan bisu sudah di wajahnya.


“Kuat juga wanita ini!” dengus pria berambut merah.


Vee tidak mau kalah, dia mendorong lebih kuat.


“Hya … bantu dia!” si pengemudi mulai panik.


Sekuat pria itu menahan, perlahan-lahan dia mulai lemas terkulai oleh bius yang dia persiapkan sendiri.


“Masak kalah sama wanita!” ejek pria bertatao sesekali menoleh karena masih harus fokus melihat jalanan.


Pria di sebelah Vee sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Vee tersenyum sinis, “Kurasa kalian salah target,” melingkarkan ikat pinggang ke leher pria bertato, memasukan ujungnya ke dalam gesper lalu di tarik sampai mentok ke kepala kursi jok mobil.


“Hya …,” pria itu tercekik, “bantu aku … arghhh ….”


Laju mobil mulai oleng.


“Sialan!” pria berambut merah mengambil pisau langsung di arahkan ke Vee.


Wanita itu berhasil menangkis dengan lengan kiri, sementara tangan kanan menarik ujung ikat pinggang makin ke belakang.


Pria bertato meronta melepas setir berusaha manarik gesper.


Ciiiiiittt….


Suara decit ban mobil bergesekan dengan aspal jalanan.


Bruuukkkk!


Pria berambut merah terhuyung menjatuhkan pisau.


Tubuhnya menghantam dashboard depan ketika mobil menabrak pembatas jalan.


Vee sembunyi menunduk di belakang jok pengemudi saat guncangan terjadi.


Masih memegang gesper.


“Sialaan!” umpatnya lagi.


Kali ini pria berambut merah berusaha bangkit mengambil pistol.


Sementara temannya yang tercekik, berusaha meraih tongkat baseball tetapi tangannya tidak sampai.


Sebelum pria berambut merah berhasil meraih pistol, Vee langsung mengambil pisau yang terjatuh tidak jauh dari kakinya.


Dengan sebelah tangan, dia melemparkan ke depan.


“Aaaaaa!” pekik si rambut merah meringis kesakitan.


Pisau itu tepat menancap ke telapak tangan kanan si pria.


“Wanita gila!” pria bertato semakin kesulitan bernafas.


Melirik meronta berusaha melepaskan diri.


Pria itu memanfaatkan kesempatan untuk meraih tongkat baseball.


Gerakan Vee lebih cepat.


Sebelum pria itu melawan, dia mendorong keras kepala pria bertato ke arah jendela samping hingga kacanya retak.


“Aaaaaa … kepalaku bocor … aduh!” dia memegangi kepala.


“Mau melawan … haaah!” kembali menarik gesper lalu memukuli wajah pria itu berkali-kali.


“Aaa … am … ampun! Arghhh!” melindungi wajah yang sudah babak belur dengan kedua lengan.


Vee mengambil tongkat baseball yang di jatuhkan di dekat kursi pengemudi.



Begitu dia memegang tongkat, dia langsung menoleh tersenyum licik menatap pria berambut merah.


Dengan binar ketakutan, pria berambut merah tampak meringis mencoba memohon ampun.


“Nona … apa yang akan nona lakukan!” berusaha menarik pisau yang menancap di telapak tangan.


Karena pisau itu menancap sampai ke dashboard, membuat pria tadi kesulitan bergerak.


“Sial … sakit sekali!” meringis tidak berhasil mencabut pisau.


Hanya dengan sebelah tangan, Vee memukul keras ke lengan pria berambut merah.


“Arghhhh … tidaaaakk … lenganku remuk!” dia makin mengeram kesakitan.


Handphone Vee berdering.


Dia menoleh ke belakang, tasnya jatuh di dekat tubuh pria yang sudah tersungkur di bawah.


Beberapa barang berserakan, termasuk handphone miliknya.

__ADS_1



Yazza?


Kenapa orang ini menelepon di waktu yang tidak tepat!


Mengganggu saja!


Melihat Vee lengah, kedua pria di depan saling berisyarat mata untuk melakukan perlawanan.


Pria bertato menarik lengan kanan Vee.


“Hahaha! Kena kau!” terkekeh geram penuh amarah.


Menoleh dengan lirikan tajam, “Jangan menyentuhku!” tegas Vee.


Pria berambut merah juga menahan lengan kiri Vee, dengan tangan yang tidak tertancap pisau.


“Hya … aku sudah memperingati!” Vee santai menjatuhkan tongkat.


Kedua pria itu terkekeh menang sekarang.


“Hahaha! Lumayan juga dia!” ucap pria berambut merah.


“Akan ku pastikan dia juga merasakan rasa sakit yang dia berikan ini!” dengus pria bertato sinis.


“Yeah, seratus kali lipat dari ini!” sahut pria berambut merah.


Vee mendengus tersenyum sengit, melompat lincah ke depan.


Dengan siku kanan, Vee menyodok keras ke wajah pria bertato yang dia punggungi.


“Arrgghhh ….”


Pria itu mengerang kesakitan, menutup wajah.


Begitu dia lengah, Vee kembali menarik tangan kanannya untuk kembali meraih ikat pinggang.


Tangan kiri yang masih ditahan, dia putar.


Balik memegang lengan pria berambut merah yang langsung diplintir memutar lagi hingga terdengar suara tulang bergemeretakkan dari lengan pria itu.


Kreeteeekkk!


“Arrrggghhh!” kali ini teriakannya terdengar begitu menyakitkan.


Vee kembali melilit leher pria bertato dengan ikat pinggang.


Pria itu berusaha membalas dengan mencengkram kuat leher wanita di depannya.


Vee menarik lebih kuat ujung ikat pinggang, lalu menggulungnya di telapak tangan.


Dia kembali membalikan badan, mendorong pria bertato dengan punggung untuk membatasi geraknya.


Melihat Vee yang kembali menatap nanar, pria berambut merah mencoba mundur ketakutan.


Sayangnya, sebelah tangannya masih harus tertahan di dashboard.


“Tidak nona … saya tidak melawan lagi!” pada dasarnya, kedua tangan pria itu sudah di lumpuhkan.


Tapi Vee tidak memperdulikan permohonan itu, dengan penuh amarah dia melayangkan bogem ke wajah pria berambut merah.


Tidak hanya sekali dua kali, melainkan berkali-kali.


“Arghhh! Ampun … nona … hentikan!” pria berambut merah merengek kesakitan, mencoba menyembunyikan muka dengan susah payah.


Setiap Vee mengayunkan tangan, secara otomatis dia menarik gesper dan membuat pria bertato semakin tercekik.


Yeah … sekali dayung, dua pulau terlampaui.


“Arkkkkk … rkkkk! Am … pun! To … long am … pun!” berusaha melepaskan gesper yang menyumbat saluran pernapasannya.


Vee menoleh sedikit ke belakang.


Pria bertato tampak menciut ketakutan.


“Katakan … siapa orang di balik kalian?”


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2