RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KAMBING HITAM


__ADS_3


Begitu membaca pesan dari pak Didik, Vee langsung salah tingkah memasukan lagi handphonenya.


Daniel menungguku? 


Gumam Vee dalam hati dengan degup jantung yang mulai tidak beraturan.


Apa yang harus aku lakukan?


Daniel pasti sudah tahu kehebohan tentang aku dan Yazza.


Mengernyitkan dahi.


Tapi kenapa pak Didik yang mengirim pesan?


Kenapa Daniel tidak langsung menghubungiku?


Dia bahkan tahu aku ada di acara lelang.


Sementara aku tidak memberitahukan kepada orang-orang di White Purple.


Ada apa ini?


Apa maksud Daniel sebenarnya?


Vee gelisah dengan pemikirannya sendiri.


Hirza menyipitkan mata melihat perubahan sikap Vee.



Kenapa dia tiba-tiba jadi panik?


Gumam Hirza dalam hati.


Vee salah tingkah menoleh ke arah pak Ardi.


Bagaimana dia bisa menemui Daniel jika pak Ardi masih bersamanya.


Tidak mungkin dia asal pergi begitu saja.


Jika pak Ardi melapor Vee bertemu Daniel di luar jam kerja, tentu saja Yazza akan marah.


Bisa jadi, Yazza membatalkan perjanjian yang sudah di sepakati sebelumnya. untuk tetap mebiarkan Vee berada di White Purple.


“Kamu kenapa?” tanya Hirza.


Vee menatap Hirza menyipitkan mata.


Kurasa aku punya ide!


Gumamnya dalam hati.


Hirza menautkan alis menatap Vee penuh tanda tanya.


“Emb … karena kamu sudah membantu … bagaiamana jika aku mentraktirmu kopi!” menggandeng lengan Hirza.



Pak Ardi menatap tegang tampak tidak setuju.


“Nyonya …-”


“Emb … pak Ardi duluan saja! Yazza sendirian di sana … kasihan dia! Saya akan segera kembali kok,” sela Vee.


“Tapi nyonya …-”


“Ah … tidak apa-apa,” kembali menyela, “kami juga baru bertemu lagi setelah sekian lama … mau ngobrol-ngobrol dulu sedikit,” membujuk.


Pak Ardi menghempaskan nafas panjang, “Baiklah kalau begitu.”


Menatap sungkan ke arah Hirza.


Pak Ardi tidak berani melarang secara terang-terangan di hadapan pria itu.

__ADS_1


Hirza tersenyum, “Pak Ardi bisa bilang ke pak Yazza, tidak perlu salah paham … kami hanya berteman! Saya tidak mungkin menyukai wanita kasar seperti ini,” sengaja mengolok-olok Vee.


“Hya!” Vee memukul lengan Hirza.


“Aww … lihat ini! Kasar sekali bukan?” Hirza mencibir mengelus lengannya.


Pak Ardi tersenyum sedikit cemas, “Kalau begitu saya langsung pergi saja dulu!”


Vee dan Hirza mengangguk.


...***...


Vee begitu gusar dan gelisah tidak tenang di dalam mobil.


Beberapa kali dia menoleh ke belakang, memastikan pak Ardi mengikuti atau tidak.


“Kenapa tingkah mu aneh sekali sih sedari tadi?” tanya Hirza.


“Emm ...,“ pura-pura melihat ke dalam tasnya, “sepertinya aku meninggalkan barang di sana. Aku harus kembali ke gedung itu. Maaf senior buaya, mungkin kita ngobrolnya lain waktu saja ya!”


Melirik sinis, “Hya … jangan kira aku ini bisa ditipu semudah itu! Katakan … kamu sengaja mau menghindari pak Ardi bukan?”


Terdiam membelalakkan mata menatap Hirza.


Tersenyum tipis, “Kenapa … merasa terciduk?” godanya.


Menghempaskan nafas panjang, “Baiklah … iya … aku mengaku!” mencibir membuang muka.


“Sedari tadi, calon suami kamu memantau melalui earphone yang kamu sembunyikan di balik rambut. Benar ‘kan?”


“Hya … bagaimana kamu tahu?” Vee semakin terkejut.


“Dulu kita menjadi sahabat cukup lama … aku hafal sekali dengan trik-trik murahan yang seperti ini!”


“Ckkk … licik sekali!” manyun melihat lurus ke depan.


“Hya … kamu yang licik!” cibir Hirza setengah tersenyum.


Menghempaskan nafas melalui hidung, “Aku hanya ingin sedikit bebas,” muram.


“Oh … jadi kamu merasa di kekang? Hmph … pantas dulu sempat kabur dari pak Yazza,” goda Hirza cengengesan.


“Itu berita dari tabloid!” Hirza membela diri.


“Haiz … menyebalkan sekali!” menyilangkan tangan membuang muka.


“Jika masih ingin bebas … kenapa malah kembali bersama pak Yazza lagi? Bahkan merencanakan pernikahan resmi!”


“Memangnya kenapa? Menikah itu kan … impian semua wanita!”


“Lalu kenapa tadi bilang jika kamu ingin bebas?” Hirza menoleh, “Aku bisa membantu jika kamu benar-benar ingin bebas dari dia!”


“Hya … bukan begitu! Aku bilang hanya sedikit kebebasan!”


“Ah … jadi kamu tidak keberatan dengan pernikahan kalian?”


Menyipitkan mata salah tingkah.


Setengah tersenyum, “Apa aku benar lagi?”


“Hya … jangan sembarangan bicara! Pernikahan ini sudah menjadi kesepakatan kami berdua … jadi kenapa aku keberatan?” berusaha menutupi kebenaran.


Tidak mungkin jika Vee harus mengatakan yang sebenarnya.


Mengangguk-anggukkan kepala, “Baiklah … kesepakatan berdua ya?”


Mengangguk masih salah tingkah, “Tentu saja! Lagipula putri kami sudah semakin besar … tidak baik jika terus bertahan dengan ego masing-masing!”


Tersenyum, “Selama itu sudah menjadi keputusan terbaik dalam hidup kamu … jalani saja!”


Vee tersenyum, “Terutama demi kebaikan putri kami berdua,” melihat lurus ke depan.


Hirza mencengkram lebih erat setir kemudi.


Senyumnya seketika sirna.

__ADS_1


Cih!


Putri kami dia bilang?


Kenapa terdengar sangat memuakkan!


Gumam Hirza dalam hati.


Vee tersenyum meringis kembali menatap Hirza.


“Bisa kita kembali ke arah gedung tadi?”


Berbelok memutar di jalan raya.



Vee tersenyum berterima kasih karena Hirza langsung menuruti.


“Katakan … kali ini apa lagi tujuannya?”


Menunduk gelisah.


Hirza melirik menyipitkan mata.


“Aku harus menemui seseorang yang sangat penting,” gumam Vee lirih.


“Cih! Jadi memanfaatkan aku untuk mencari alasan supaya bisa lepas dari pengawasan calon suamimu?” menoleh ke arah Vee, “Hya … apa yang kamu sembunyikan dari pak Yazza … kamu tidak sedang ingin menemui selingkuhan bukan?”


“Ckkk … berisik sekali! Banyak tanya deh … bukan selingkuhan! Dia bos di kantor White Purple!”


“Lalu kenapa harus diam-diam seperti ini?” protes Hirza.


“Sebenarnya Yazza berada di rumah sakit … aku mengambil cuti! Jika dia tahu aku tetap sibuk mengurusi urusan pekerjaan, Yazza pasti marah!”


Pandai sekali Vee membuat alasan.


“Cih … dengan menjadikan aku kambing hitam? Pak Yazza pasti akan menyalahkan aku jika dia tahu yang sebenarnya!”


“Haiz … jika kamu diam saja dan tutup mulut, tidak akan ada yang tahu!” cibir Vee.


“Tetap saja, aku hanya jadi kambing hitamnya!” sinis membuang muka menatap ke depan.


“Hya … sahabat terbaikku … bantu aku kali ini saja!” bujuk Vee merayu memohon.


“Cih … lagian juga bukan urusanku jika kamu berselingkuh!”


“Hya … sudah aku bilang! Aku tidak selingkuh!” protes Vee kesal.


Tersenyum mencibir, “Cih … aku harus mengantar kemana?”


“Café … tidak jauh dari gedung tadi!”


Tersenyum, “Ingat … kamu masih berhutang mentraktir kopi!”


“Cih! Baiklah … lain kali pasti akan ku traktir!” Vee mencibirkan bibir nyinyir.


“Terima kasih untuk hari ini!” sindir Hirza.


Vee justru malah mencibir membuang muka, “Siapa juga yang mau berterima kasih?”


Hirza mendengus tersenyum fokus menyetir di jalanan kota.


Seperti yang Vee pinta, Hirza menurunkan wanita itu di depan sebuah café.


Begitu turun Vee langsung berlari kecil terburu-buru ke arah dalam.


Urusan pekerjaan dengan bosnya?


Dia pikir aku sudah tertipu dengan bualan itu?


Mana mungkin jika urusan pekerjaan harus sampai bertemu diam-diam di café!


Hirza bergumam dalam hati, tersenyum sinis menatap Vee dari dalam mobil.


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2