RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PENUMPANG GELAP


__ADS_3


Vee membukakan pintu agar Hirza masuk terlebih dahulu.


“Silahkan,” sok ramah mempersilahkan.


Yazza menatap Vee protes.


Hirza tersnyum ke arah Yazza, berjelan mendekat menenteng keranjang buah.



“Selamat sore pak Yazza,” sapa Hirza.


Yazza tersenyum basa-basi, duduk di atas ranjang rawat.


“Ah … pak Hirza … kenapa repot-repot!”


Vee menerima keranjang buah dan langsung di tempatkan di atas meja.


“Hanya kebetulan tujuan kami sama, dan tidak sopan jika saya tidak menyapa anda!” Hirza duduk di kursi lipat dekat Yazza.


“Justru saya yang seharusnya menemui anda dan berterima kasih atas bantuan hari ini!”


Terdengar sekali mereka sedang saling basa-basi.


“Heh … senior buaya … cuma ada air putih di sini!” Vee berdiri di belakang Hirza, menyiapkan botol air mineral di meja.


“Sayang, yang sopan kepada pak Hirza!” Yazza menegur Vee.


Vee mendengus mencibir.


Sayang?


Gumamnya dalam hati.


Kurasa otaknya memang mengalami masalah setelah terluka!


Hirza hendak mengepalkan tangan, sebisa mungkin dia mencoba menenangan diri.


Apa dia sengaja menunjukan kemesraan?


Batin Hirza.


Yazza mengamati ekspresi Hirza dengan sangat hati-hati.


“Ah … tidak apa-apa … itu memang panggilan akrab kami sejak dulu!” Hirza tersenyum ramah.


“Tapi itu terdengar sedikit kurang sopan. Dia calon istri saya, itu artinya … dia akan menjadi wajah kedua saya!”


Tersenyum, “Santai saja … lagipula tidak ada siapapun selain kita di sini!” Hirza menyandarkan punggung duduk santai.


“Eh iya … di mana pak Ardi?” Vee melihat ke sekeliling.


“Ada hal mendesak yang harus di selesaikan di kantor. Jadi dia kembali ke sana … aku mencoba menelepon kamu sedari tadi karena aku sendirian … padahal aku butuh bantuan untuk mengambilkan makanan dan pergi ke toilet.”


Sepertinya Yazza bermaksud menyindir.


Vee menendang pelan kaki kursi yang Hirza duduki.


Sedikit menoleh ke Vee, menyipitkan mata.


Tampaknya Vee tengah mengisyaratkan sesuatu melalui tatapannya.


Tersenyum, “Ah maaf … kami terlalu asik mengobrol sampai lupa waktu … sudah lama sekali kita tidak berjumpa sejak saya lulus wisuda!”


Yazza tampak membalas tersenyum meski terlihat tidak tulus, “Tidak apa-apa … lagipula, sepertinya kalian memang bersahabat dekat sampai ada panggilan akrab segala.”


Vee mencibirkan bibir.


Sepertinya Yazza memang sedang menyindir sedari tadi.


“Tidak ada yang berani berteman dengan Vee … dia gemar sekali memukuli orang,” cibir Hirza.


“Hya!” Vee kembali menendang kaki kursi yang di duduki Hirza.

__ADS_1


Tapi kali ini lebih keras.


Decitan kaki kursi menggesek lantai terdengar sangat jelas sekali.


Yazza terkekeh, “Hahaha … bahkan baru kemarin dia sehabis memukuli orang sampai harus di introgasi di kantor polisi!”


Menatap Vee membelalakan mata, “Oh ya?”


“Hya … mereka preman … orang jahat memang pantas dipukul!” Vee menyilangkan tangan di depan perut.


“Wah … sepertinya itu memang menjadi hari sial mereka! Hahaha,” terkekeh kembali melihat ke arah Yazza, “lalu kenapa pak Yazza menjadi seperti ini? Jangan bilang, dihajar juga oleh dia?” melirik Vee memicingkan mata.


Menjewer telinga Hirza, “Hya … kenapa menuduh terus sih!”


“Hei …,” mencoba melepaskan tangan Vee.


“Vee!” tegur Yazza setengah menyentak.


Melihat Vee begitu ringan tangan terhadap Hirza membuat Yazza merasa was-was.


Tentu dia khawatir karena Hirza bukanlah orang biasa.


Vee melepaskan mencibir.


“Pak Yazza sebaiknya berpikir ulang untuk menikahinya deh! Sebelum ada laporan KDRT istri terhadap suami,” cibir Hirza sengaja mengolok-olok.


Yazza tersenyum, “Vee tidak pernah main tangan kepada saya kok … mungkin karena dia terlalu sayang sampai tidak berani kasar!”


Mendengar kalimat itu membuat Vee menyeringit mendengus kembali menyilangkan tangan.


Hirza kembali tersenyum, “Bagus deh … akhirnya dia bisa menemukan pria yang dia suka!”


Yazza tersenyum masih mengawasi gerak-gerik Hirza yang mungkin saja akan menunjukan kecurigaan.


“Aku pikir … dia dulu itu hanya menyukai wanita” lanjut Hirza.


“Hya!” protes Vee setengah melotot.


“Itu karena sepanjang hidupnya … dia selalu menempel pada seorang wanita,” sengaja memancing pembicaraan yang mengarah ke Yunna.


Seketika wajah Vee berubah menjadi muram kembali.


Hirza sok polos seolah merasa bersalah, “Ah maaf … aku tidak bermaksud,” menyentuh lengan Vee.


Sentuhan itu tentu saja membuat Yazza kesal.


Ingin memprotespun dia tidak berani untuk menegur.


Vee menyingkirkan tanga Hirza, “Hya … kalau sudah selesai basa-basinya … pergilah!”


“Vee!” tegur Yazza lagi.


“Cih … sepertinya saya sudah diusir,” cibir Hirza.


“Emb … jangan dengarkan dia pak! Dia memang seperti itu,” Yazza tersenyum berusaha mencairkan suasana.


Balas tersenyum, “Saya juga sangat mengenalnya kok … jangan khawatir!”


Handphone Vee berdering.


Segera Vee melihat ke layar.



Tersenyum, “Aaa … putriku tersayang!”


Vee bergegas berlari kecil menuju pintu.


Tepat saat Vee hendak membuka pintu ….


Pintu justru terbuka dari luar.


Leo membukakan pintu untuk dua orang yang datang bersamanya.


Vee sempat melihat dan menyapa mereka.

__ADS_1


“Ah … maaf … permisi,” ucap Vee sopan lalu melenggang melewati.


Mr. Bald, Leo dan Icha melihat menyipitkan mata.


Vee menduga itu tamu Yazza, tapi dia tidak peduli.


Prioritasnya sekarang adalah menjawab panggilan video dari Yve.


“Sepertinya hendak mengangkat telepon!” Leo mempersilahkan Mr. Bald yang masih melihati ke arah Vee.


Hirza dan Yazza sama-sama menoleh ke arah pintu.


Melihat siapa yang datang, Hirza langsung berdiri.


“Sepertinya pak Yazza memiliki tamu … kalau begitu, saya sebaiknya kembali ke ruangan kerja saya!”


“Ah … terima kasih pak Hirza! Sekali lagi maaf karena merepotkan,” ucap Yazza sungkan.


Tersenyum, “Saya masih di sini … jika butuh sesuatu, bilang saja pada Vee untuk menghubungi saya!”


Yazza hanya tersenyum mengangguk.


Mr. Bald cukup terkejut saat melihat Hirza.


Keduanya saling melempar senyum memberi hormat, meski tanpa kata-kata.


Hirza langsung melewati ketiga orang itu berjalan keluar dengan santai.


“Bukankah itu pemilik rumah sakit ini?” Mr. Bald mendekat bertanya lirih.


Icha menaruh karangan bunga di meja dekat ranjang rawat.



“Ya,” jawab Yazza masih melihat ke arah pintu.


Duduk di tempat Hirza tadi duduk.


“Wah … sepertinya anda cukup mengenal beliau dengan baik?” meski terdengar memuji, Mr. Bald justru terlihat khawatir.


“Bukan saya … tepatnya calon istri saya!”


Menyipitkan mata menatap Yazza, “Shhh … siapa sebenarnya istri anda ini? Kenapa dia menyimpan banyak sekali kejutan!”


Tersenyum, “Bahkan saya sendiri juga terkejut!”


Melihat ke arah pintu, “Bagaimanapun juga … meski orang itu jarang sekali menunjukan bakat dalam ‘berbisnis’ … Paradise tetap menjadi nomor satu,” Mr. Bald tampak sedikit gelisah.


“Dia memang tidak pernah menunjukan diri … bahkan kita semua juga tidak tahu, dia itu puppet atau justru puppet masternya!” Yazza menerawang memandang jauh ke depan.


“Memang lebih baik tidak terlalu dekat dengan beliau,” melihat ke arah Leo. “Saya mendengar cerita tentang anda dari Leo. Saya jadi cukup penasaran dan tidak sabar sekali ingin datang ke sini!”


Tersenyum menatap Mr.Bald “Anda tidak perlu repot-repot datang ke sini untuk menjenguk saya. Anda pasti sangat sibuk sebenarnya.”


Tersenyum tapi wajahnya muram, “Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang sejak kemarin!”


Yazza menyipitkan mata.


“Seharusnya saya datang sejak malam kemarin, tapi saya masih sangat penasaran dan tidak menyangka jika ‘bayangan mata’ gagal dalam hal ini!”


“Tunggu … ‘bayangan mata’ … apa yang ingin anda lihat?” tanya Yazza semakin penasaran.


Mr. Bald melihat ke arah Leo.


Leo langsung berisyarat meminta ijin untuk berbicara.


Yazza menatap Leo mengernyitkan dahi.


Dengan anggukan kepala tipis, dia memberi ijin agar Leo segera memberitahu.


“Waktu itu ketika saya masih berada di kantor polisi, tidak sengaja saya melihat dan mendengar percakapan introgasi para polisi terhadap beberapa siswa yang tertangkap … mereka mengakui jika memang hanya ada dua sekolah yang melakukan tawuran … tapi mereka mengatakan dengan cukup yakin jika ada penumpang gelap yang memperburuk situasi hingga menjadi kacau dan semakin tidak terkendali!”


“Wait … what? Penumpang gelap?


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2