RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
LOVEBIRD


__ADS_3


“Ma, Daniel Riyuzan itu lem tikus kan?” tanya Yve.


Gelagapan Vee mencari sebuah alibi.


Pasti dompet itu terjatuh semalam.


“Emb … itu … emb … mungkin tertinggal saat dia datang siang kemarin!” dalih Vee salah tingkah.


Mencibir lalu melemparkan kasar ke meja.


“Ceroboh sekali!” lanjut memakai kaos kaki.


Vee menghempaskan nafas lega karena Yve tidak banyak bertanya lagi.


Daniel memang sudah pulang subuh tadi.


Tentu agar tidak ketahuan siapapun jika dia menginap.


Mengingat Daniel, membuat Vee kembali tersenyum-senyum sendiri.


...***...


Seperti pagi sebelum-sebelumnya.


Keluarga Daniel berkumpul di meja makan.



Bu Risma melihat Daniel terlihat sangat mengantuk.


“Mbak Irma, buatin kopi dong!” ucap Daniel sembari menguap.


Asisten rumah tangga keluarga Riyuzan yang bernama Irma itu mengangguk dengan penuh rasa hormat.


“Darimana saja? Kata satpam kamu baru pulang subuh tadi ya?” tanya pak Fauzan.


“Ketiduran di rumah teman! Hoamz …,” kembali menguap.


“Tidak biasanya!” bu Risma mengambilkan sarapan.


“Dia teman lama Daniel yang sama-sama sekolah di luar negeri dulu! Baru datang kembali ke sini karena ingin bertemu keluarganya.”


“Ah, teman kuliah?”


“Iya!” jawab Daniel singkat.


“Daniel … papa sudah berencana untuk retired. Kamu sudah siap mengambil alih semua pekerjaan papa di kantor?”


“Lagipula memang sudah sepantasnya Daniel mengambil tanggung jawab ini … papa jangan khawatir, Daniel akan membuat White Purple semakin berjaya!” tersenyum bangga.


Bu Risma tersenyum, “Mama senang melihat kamu sudah terlihat sedikit dewasa sekarang!”


“Kan memang sudah dewasa sejak lama!” cibir Daniel.


“Umurnya iya … tingkahnya kadang yang masih kolotan,” bu Risma balas mencibir.


“Emb … ngomong-ngomong … aku sedang memikirkan tentang membeli sebuah apartemen,” cukup ragu Daniel mengucapkannya.


Menyipitkan mata, “Untuk apa? Jangan bilang mau tinggal sendiri lagi … mama tidak setuju!” sahut bu Risma cepat.


“Kan Daniel juga mau mandiri Ma!”


“Nggak!” debat mamanya.


Daniel menghela nafas panjang, “Bagaimana kalau begini, sesekali Daniel akan menginap sendiri dan akan lebih sering pulang ke rumah?”


“Lagian kenapa sih? Apa bedanya coba?” bu Risma mendengus kesal.


“Terkadang Daniel ingin menikmati kesendirian,” menunduk memasang wajah masam.


“Ya sudahlah Ma! Lagipula dia masih akan sering pulang kan?” pak Fauzan angkat bicara.


“Papa ini apa-apaan sih! Kan dulu dia sudah pernah lama tinggal sendiri! Dia satu-satunya putra kita Pa! Rumah ini akan jadi sepi kalau tidak ada dia,” memanyunkan bibir.

__ADS_1


“Kadang-kadang saja kok ma tinggal di sana. Cuma ketika lagi pengen sendiri aja!” Daniel meyakinkan.


“Biarkan saja Ma!”


Menghela nafas panjang, “Beneran hanya sesekali?”


Daniel tersenyum mengangguk.


“Ok deh … tapi kalau sampai berhari-hari tidak pulang ke rumah … mama tidak mau tahu … pokonya kamu harus menjual lagi apartemen yang akan kamu beli itu!”


Tersenyum, “Iya mamaku sayang. Terimakasih atas ijinnya!”


“Cih, menjilat,” bu Risma cengengesan sembari memotong roti dengan pisau.


Pak Fauzan ikut tersenyum melihatnya.


...***...


“Selamat pagi sekertaris Vee!” pak Didik cengengesan masuk ke ruang kerja Daniel.



Mengernyit, “Cih … hya … kenapa pak Didik membocorkan rahasiaku?”


Menaruh bingkisan tas kecil di meja.


“Ini adalah parfum limited edition yang sangat mahal. Aku yakin kamu pasti suka,” kemabli cengengesan.


“Hya! Mencoba menyogok?” cibir Vee tersenyum, “Aku tidak akan menerimanya!” tapi mengambil bingkisan itu dan menaruh di laci.


Pak Didik terkekeh, “Hahaha … dasar tidak tahu malu!”


“Hya … pak Didik yang tidak tahu malu,” balas Vee tersenyum mencibir.


“Jadi bagaimana? Apa pak Daniel langsung mendatangimu?”


“Ya … dan seperti biasa … aku langsung mengusirnya,” jawab Vee sok polos tanpa melihat ke arah pak Didik.


Nyengir memicingkan mata, “Tapi kenapa pak Fauzan menelepon bertanya tentang Daniel yang tidak pulang semalam?”


“Hya! Apa yang pak Didik pikirkan!” sentak Vee.


“Hya! Aku mengusirnya! Mungkin dia patah hati dan tidur di jalanan!” bantah Vee.


Daniel membuka pintu.


Ia menyipitkan mata, melihat pak Didik dan Vee sudah di dalam ruangan.


Pak Didik dan Vee terdiam melihat ke arah pintu masuk.


“Kenapa langsung terdiam? Menggosipkan tentang aku ya?” menutup pintu kembali.


“Cih!” cibir Vee kembali menatap layar laptop, “Tanyakan saja padanya. Aku mengusirnya dan dia memang langsung pergi semalam!”


Salah tingkah, “Emb … apa?”


Daniel kebingungan, tidak paham dengan arah pembicaraan mereka.


“Pak presdir menelepon pak Didik, katanya kamu tidak pulang semalam! Memangnya ke mana setelah aku usir?” mengkerlingkan mata tanpa sepengetahuan pak Didik.


Melihat isyarat Vee, baru dia sadar.


“Ahh … benar! Haiz … pak Didik sedang mengerjai ya? Katanya dia menyukaiku, nyatanya sampai di sana aku diusir!”


“Hya apa-apaan ini? Kenapa malah menyalahkan aku?” menoleh menatap Vee, “Hya kenapa tidak jujur saja padanya!”


Vee hanya mencibir tersenyum tanpa menjawab apapun.


“Hya, kembalikan bingkisan tadi!” pak Didik bertolak pinggang.


“Eh …. bingkisan apa?” Daniel kembali kebingungan.


“Pak Daniel … tolong itu bawahan anda tadi memberiku bingkisan parfum mahal. Dia mencoba menyogok orang kantor!” Vee cengengesan.


“Hya!” pak Didik meninggikan nada, tapi bibirnya tertarik ke atas.

__ADS_1


Daniel bertolak pinggang, “Harus dihukum! Naik jabatan!”


“Naik jabatan kepalamu! Tidak lihat aku sudah semakin tua, malah mau ditambah beban pekerjaan! Tidak mau!” protes pak Didik.


Menggeleng berdecak, “Ckkk … ckkk … ckkk! Cuma di White Purple orang menolak saat hendak di naikan jabatan!”


Pak Didik dan Vee mendengus tersenyum.


“Sudahlah! Aku mau kembali ke ruangan,” pak Didik menunjuk Vee dan Daniel bergantian, “Ingat ya … jangan kalian pikir aku tidak tahu apa-apa … aku tidak semudah itu ditipu! Jangan menaikan jabatan dan jangan menambah pekerjaanku lagi … kalau tidak … akan kucari bukti untuk mengungkap skandal ini,” ancam pak Didik.


“Hya!” sentak Daniel, “Dasar orang tua!”


Memukul kepala Daniel, “Bilang sekali lagi!”


Daniel langsung menciut, “Tidak! Maaf,” menundukkan kepala.


Tersenyum, “Cih … dasar … lovebird!” berjalan menuju pintu.


Vee hanya tersenyum memperhatikan.


Begitu pak Didik keluar ruangan, Daniel langsung mendekat ke sebelah Vee.


“Hya, kenapa kamu hanya diam saja?” desis Daniel bertanya pada Vee yang terlihat biasa saja.


Pintu kembali di buka, kepala pak Didik melongok, dengan seringai ‘emot evil’.😈


Daniel kembali berdiri tegak, “Hya … apa-apaan sih!”


Pak Didik membuat gerakan dua jari yang diarahkan ke matanya lalu ke arah Vee dan Daniel.


Sembari tersenyum meringis, dia kembali menutup pintu dari luar.


“Orang tua aneh itu!” gerutu Daniel.


“Itu hasil dari cara kepemimpinan pak Daniel!” cibir Vee mendengus tersenyum.


“Apa dia sudah benar-benar pergi sekarang?” celingukan melihat ke pintu.


Vee memutar kursi kehadapan Daniel.


“Pak Didik sudah menganggap kamu seperti putranya sendiri, dia begitu menyayangimu dan tidak akan mungkin menjatuhkan nama baikmu! Jadi jangan khawatir tentangnya,” tersenyum menenangkan.


Jongkok di hadapan Vee sambil memegang kedua tangannya.


“Aku tahu itu!” tersenyum, “Tapi sungguh … bukan aku yang membocorkan ini padanya!”


“Dia sangat mengenalimu … bahkan lebih dari siapapun!” tersenyum membalas menggenggam tangan Daniel.


“Bahkan aku sempat berpikir jika dia memang ayah kandungku yang sebenarnya!”


Memukul kepala Daniel, “Sembarangan! Bagaimanapun juga … kamu sudah bekerja bersama beliau sejak lama. Jelas saja jika ikatan kedekatan seperti itu terjalin!”


Manja menaruh kepala di pangkuan Vee, “Memang hanya pak Didik orang yang aku percaya selama ini!”



“Cih … jangan seperti ini di kantor!” berusaha mendorong kepala Daniel.


Mendongak, menatap penuh harap.


“Cium,” rengek Daniel manja.


“Hya … aku tidak mau merusak lipstik!”


Manyun, “Sedikit saja … untuk penyemangat!”


Tersenyum mencemooh, “Cih … masih saja tidak pernah berubah!”


Menggoyang-goyangkan tubuh seperti anak kecil, “Ciuuuummm!”


Vee tersenyum merengkuh wajah Daniel, menunduk mengecup dengan gemas.


Daniel tersenyum senang.


Vee menarik kepalanya lagi, balas tersenyum menatap Daniel yang tengah menatapnya.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2