RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
DILEMA


__ADS_3


Bayangan buram berputar di atas kepala.


Gelap dan hanya pantulan cahaya temaram yang Vee lihat saat pertama dia membuka mata.


Yazza meringkuk duduk di kursi dekat ranjang rawatnya.


“Awww!” sakit dan perih Vee rasakan di bahu lengan kananya.


Mendengar rintihan istrinya, Yazza langsung terkesiap duduk membuka mata.


“Sudah bangun?” tanya Yazza menggenggam erat tangan Vee.


“Hmph!” masih linglung, “Gelap sekali!”


Melihat sekeliling, “Ah! Sebentar,” Yazza melepas tangan Vee, berdiri untuk menyalakan lampu.


Ruangan menjadi terang benderang.


Dania dan Yve sepertinya ikut terbangun begitu mendengar suara.


Meski terllihat masih samar, Vee bisa tahu kalau Yve juga ada di ruangan itu.


“Ini di mana?” tanyanya polos.


Mendengar suara ibunya, Yve langsung membuka mata sepenuhnya.


“Mama!” dengan sigap, anak gadis itu duduk bergegas beranjak turun.


Dania tampak tidak suka melihat Vee sudah sadar.


Panjang umur juga wanita ini!


Lagian, peneror itu bodoh sekali sih!


Melepaskan tembakan kok meleset!


Harusnya tepat kena kepala atau jantung!


Kan harusnya dia bisa mati saat itu juga!


Gerutu Dania dalam hati sembari merapikan rambut.


“Yve! Sayang,” Vee memegang kepala anak itu dengan tangan kiri, “Eh … apa ini? Infuse?”


“Bukan … itu borgol! Selamat ya … kamu menjadi tersangka karena membuunuh seseorang!” dengus Yazza menyilangkan tangan di perut.


“Hah?” Vee terkejut.


Yve menatap papanya memprotes lalu menggenggam tangan mamanya.



“Papa hanya menggoda mama saja,” tersenyum menaruh telapak tangan Vee ke pipinya.

__ADS_1


“Shhh! Kepalaku masih pusing … kenapa aku merasa tidak jelas seperti ini?” gumam Vee.


Yazza tersenyum mencibir, “Jadi bagaimana rasanya terbaring di sana?”


Mengernyit mencibir, “Aku mau pulang saja!”


“Hya! Tidak semudah itu! Aku harus balas dendam sekarang … ingat … dulu kamu pernah membuatku harus menginap di sini sampai beberapa hari!”


“Yazza serius deh!” Vee mencibir kesal.


Yazza tersenyum mengelus kepala Vee, “Dengar … kamu habis dioperasi … tidak boleh sembarangan pulang. Menurut saja dan istirahat dulu untuk beberapa waktu di sini! Aku juga tidak akan kemana-mana kok!”


Dania semakin kesal melihat kemesraan yang Yazza tujukan kepada Vee.


Yve tersenyum lega, “Yve juga akan selalu menemani mama!”


Vee tersenyum haru menatap putrinya, “Terima kasih sayang! Tapi tidak baik bagi anak kecil jika harus berlama-lama di sini! Yve kan tidak sakit … kalau malah jadi sakit karena terlalu lama di sini bagaimana?”


Menciumi tangan Vee, “Yve takut sekali melihat mama seperti tadi! Pokoknya Yve tidak mau jauh dari mama!”


Vee tersenyum, mencoba membuat Yve agar tidak terlalu khawatir, “Maafkan mama ya sayang!”


“Mama hebat dan keren! Tapi mama jangan terluka lagi! Pokoknya Yve takut sekali,” cibir Yve dengan bibir manyun cemberut.


“Uuuuhhhh, sayangnya mama! Mama benar-benar minta maaf karena sudah membuat Yve khawatir!”


Anak itu menganggukkan kepala tersenyum manis kembali menaruh tangan Vee ke pipinya.


Melihat senyum mereka, membuat Yazza merasakan sebuah kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata di dalam hatinya.


Lagi-lagi dia dibuat tidak mengerti dengan yang dia rasakan.


Meski Yazza masih memandangnya seperti aib yang harus disingkirkan, tapi senyum anak itu selalu berhasil membuatnya merasa tenang.


...***...



Pagi-pagi sekali kek Gio datang bersama pak Karno.


Semalaman beliau tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan keadaan Vee.


“Vee! Sudah bangun, bagaimana keadaanmu?” tanya kek Gio begitu masuk ke dalam ruang rawat.


“Hya … kakek sudah tua! Kenapa repot-repot ke sini sih!” goda Vee cengingisan.


Begitu melihat Vee sudah bisa bercanda, tentu membuatnya merasa sedikit lega.


“Repot kepalamu! Haiz … dasar tidak tahu diri! Jelas-jelas membuat ulah sampai kita semua jadi khawatir! Dan sekarang kakek lihat … kamu malah masih bisa tertawa seperti itu?”


“Cuih!” Vee mencibir membuang muka, “Siapa suruh mengkhawatirkan aku!” meski nadanya ketus, tapi sudut bibirnya tampak tertarik ke atas.


“Jika sedang tidak sakit … sudah kupukul kepalamu,” ancam kek Gio yang juga ikut cengengesan gemas.


Vee mengernyit mencibir kembali menatap kek Gio, “Haiz … masih saja galak!”

__ADS_1


Kakek tua itu terkekeh pelan sembari melihat sekeliling, “Loh, Yve mana?”


“Kakek tidak berpapasan dengan mereka? Tadi aku meminta pak Ardi untuk mengantar Dania dan Yve pulang dulu! Biar mereka ganti baju, mandi dan makan di rumah.”


“Pasti mereka lewat jalur lain!” melihat Yazza, “Leo belum datang?”


Menggeleng, “Katanya sih masih di jalan!” mencibir, “Cuih … dia bilang harus menjemput seseorang terlebih dahulu!” melirik Vee datar, “Perasaanku tidak enak!”


“Tunggu! Leo? Kenapa dia mau ke sini?” tanya Vee polos.


Yazza menghela nafas panjang, “Ada seseorang yang tewas di pesta pernikahan kita! Kamu terluka dan ada teror bom … tidak mungkin jika polisi tidak akan datang.”


Vee mengangkat tangan, melihat jemarinya, “Cincin itu mana?”


“Sudah aku simpan!” tegas Yazza, “Jika nanti polisi bertanya kenapa ada luka di wajah dan leher pria itu … jawab saja jika kamu refleks menggunakan aksesoris kepala sebagai senjata membela diri.”


Membelalakkan mata tampak panik, “Tapi aku tidak membunuhnya!”


Vee kembali mengingat, dengan sangat jelas dia melihat pria itu menembakan peluru tepat di kepalanya sendiri.


Semua kejadian itu kembali terekam secara gamblang di dalam ingatan, membuat bergidik ngeri saja.


“Para penyidik hanya akan bertanya untuk menggali keterangan … jangan panik dan jangan takut! Mereka tidak akan menyalahkan kita,” kali ini Yazza berusaha membuat Vee agar terlihat tenang.


Vee mencibirkan bibir melirik suaminya, “Ini pasti ulah seseorang yang begitu membencimu! Haiz … harusnya aku sudah paham resikonya menikah dengan orang yang berhubungan dengan para gangster!”


“Hush!” kek Gio menegur.


Vee menutup bibirnya dengan tangan kiri, “Ups! Kelepasan,” desis Vee sembari membuang muka.


Kek Gio menatap Yazza yang tengah menghela nafas panjang.


Yazza kembali kepikiran tentang penawaran yang Hirza berikan kepadanya.


Meski terror ini belum jelas kebenarannya, tapi yang Vee katakan tidak salah sepenuhnya.


Bahkan Gerry sudah memperingati jika dia akan memberikan kejutan di acara itu.


Seperti yang sudah dia ketahui, Strom saat ini di pimpin oleh Gerry, dan tugas utama Strom adalah kelompok eksekusi. Tidak menutup kemungkinan jika Gerry memiliki power yang lebih unggul.


Untuk mendapatkan keadilan dari kelompok tertinggi, Yazza harus masuk ke dalam suatu kelompok agar sepadan dengan musuhnya.


Jika harus maju mengikuti saran Hirza, dia akan menghadapi sarang singa.


Tapi jika memilih mundur, dia akan terjatuh ke jurang curam.


Entah ada kaitannya atau tidak, sepertinya Yazza memang sudah tidak punya pilihan lain lagi.


Jika mundur … rasanya kemungkinan untuk selamat sangatlah kecil!


Meskipun harus menghadapi para singa, paling tidak kita masih ada kesempatan untuk hidup dengan cara mengunakan topeng yang sama!


Yazza memejamkan mata penuh kebimbangan dalam hatinya.


Aku harus bagaimana sekarang?

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2