
Yazza masih berdiri sembari memeluk Vee untuk menenangkannya.
Apa aku membiarkannya meminta maaf semudah ini?
Sungguh bukan seperti yang aku bayangkan sebelumnya!
Padahal aku sudah bersiap untuk berdebat semalaman dengannya!
Gumam Yazza dalam hati.
“Marahi dan caci maki saja aku! Aku hanya ingin menangis sekencang-kencangnya!” ucap Vee kelu di sela deru tangis yang kian keras saat dalam pelukan Yazza.
Kepedihan yang tadinya tertahan, ikut keluar bersama dengan tumpukan perasaan-perasaan yang menyakitkan.
Nyatanya … hati kecil memang sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Sakit sekali!” Vee menumpahkan semuanya di dadaa Yazza.
Tunggu!
Apa dia sedang patah hati?
Aku yakin dia sedang menangis saat aku masuk tadi!
Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Lalu kenapa aku malah tidak jadi marah?
Yazza tidak kuasa melihat Vee menangis pilu seperti saat ini.
Dengan penuh kelembutan, pria itu mengelus punggung Vee.
...***...
Dania pura-pura menyibukkan diri di dapur saat bi Imah datang dengan menenteng ember.
“Eh …. Dania kapan datang?”
“Baru saja bi!” melihat sekeliling, “Kok sepi, pada ke mana?”
Menaruh ember, “Tuan besar sama non Yve pergi makan malam di luar. Mbak Rosi sama pak Udin pergi belanja.” Melihat keatas, “Tuan Yazza juga baru pulang sepertinya.”
“Ah, pantas sepi sekali!” Dania melihat ke atas, “Emb, tadi sepertinya kayak ada suara keributan!”
“Shhh! Jangan ikut campur urusan para tuan di sini! Lagipula para tuan di sini memang pemarah dan suka berteriak, jadi wajar aja sih!” bi Imah setengah tersenyum.
“Padahal masih belum resmi menikah. Sudah bertengkar saja!”
“Shhh! Jangan di bahas lagi! Eh … katanya kamu tadi pergi ke kampus ya?” terkekeh, “Hahaha … hebat ya, kuliah sambil nyari duit sendiri!”
Dania tersenyum, “Iya tadi harus mengambil tugas untuk menyelesaikan semester. Saya juga ingin lulus dengan cepat jadi harus seimbang diantara keduanya!”
“Hebat kamu! Ya sudah makan dulu sana. Tadi bibi sudah masak, panasin sendiri ya!” kembali mengangkat ember berjalan menuju kamar mandi.
Dania tersenyum mengangguk.
Begitu bi Imah tidak terlihat, Dania kembali menoleh ke atas.
“Kenapa sudah tidak ribut lagi? Kan seru kalau berantem, apalagi kalau sampai hubungan keduanya retak. Dengan begitu aku ada kesempatan untuk mendekati pak Yazza!” Dania bergumam lirih mencibirkan bibir.
“Cihh! Berani-beraninya ada yang menyakiti pak Yazza!”
__ADS_1
“Dasar wanita murahan yang tidak tahu diri! Dia berselingkuh di belakang pak Yazza … sungguh tidak pantas menjadi pendamping pak Yazza! Padahal jika aku yang jadi pendamping pak Yazza, aku pasti hanya akan berfokus untuk membuat dia selalu bahagia,” tersenyum sipu sembari menyelipkan helai rambut ke belakang telinga.
...***...
Xean melihat Hans yang sudah berpakaian rapi dengan jaket kulit hitamnya.
“Heh! Mau main ke luar ya?” tanya Xean polos.
“Bocil berisik deh! Belajar sana!” Hans menyisir rambut di depan cermin.
“Hya! Ikut!” tegas Xean.
“Mas bro! Xean nih mau ikut aku main keluar!” teriak Hans sengaja mengeraskan suara.
“Hya! Jangan ngadu ke papa dong!”
“Heh … aku pergi sama kak Ozzy! Naik motornya … mana bisa kamu ikut!” Hans bertolak pinggang mencibirkan bibir.
“Xean, jangan ganggu mas Hans!” Hirza muncul membawa majalah.
Piyama tidur yang dia kenakan menjuntai ke lantai.
Dengan santai Hirza duduk di sofa ruang keluarga sembari membaca majalahnya.
Manyun mencibir menatap tajam ke arah Hans, “Haiz … pakai teriak sih! Jadi keluar kan dia!”
Menjitak pelan kepala Xean, “Hya … dia itu papamu!”
Manyun mengelus kepalanya.
“Hans, jangan pulang terlalu malam!” ucap Hirza datar.
“Oke! Siap mas bro!” melihat jam, “Kalau begitu aku berangkat dulu!”
“Curang! Aku nggak boleh pergi! Giliran mas Hans boleh!” cibir Xean kesal sembari berjalan menuju lantai dua kamarnya.
Hirza hanya menghela nafas pura-pura tidak mendengarkan celotehan putra semata wayangnya.
...***...
Berada satu mobil dengan Yazza membuat Vee gusar.
Ini pertama kalinya dia merasa canggung saat berdekatan dengan Yazza.
“Kenapa sih?” lirik Yazza melihat Vee yang banyak gerak.
“Emb … kenapa tidak jadi marah-marah?” tanya Vee tidak berani melihat ke arah Yazza.
“Cihhh!” cibir Yazza membuang muka.
“Kenapa tidak langsung mengusirku saja?” tanya Vee sesekali melirik ke arah Yazza.
“Jangan pikir dengan kamu berselingkuh, bisa membuatku mengusirmu semudah itu! Paling tidak aku harus balas dendam dan membuatmu menderita terlebih dahulu!”
“Hya!” protes Vee menatap Yazza kesal.
“Jurus tangisan mengiba mu itu keren sekali!” sindir Yazza.
“Hya itu bukan jurus! Shhhh …,” membuang muka menahan diri, “lupakan!”
“Lalu apa? Sebuah trick? Akting? Atau hanya karena kamu terpojokkan dan takut kalau aku akan mengabaikan putri angkat mu lagi?”
__ADS_1
“Tidak ketiganya!” jawab Vee ketus. “Anggap saja aku sedang menjaga perasaanmu!”
“Cuih! Kedengaran sangat dibuat-buat!”
Handphone Vee berbunyi.
Daniel mencoba melakukan panggilan.
Vee langsung menonaktifkan handphonenya.
Melirik, “Kenapa tidak diangkat? Takut karena sudah ketahuan sekarang?”
“Aku akan mengganti nomor telepon, mengundurkan diri dari White Purple dan hanya patuh pada perintah mu!”
Tersenyum mencemooh, “Kamu berkata seperti itu bisa saja hanya untuk menenangkan aku karena kamu sudah terlanjur ketangkap basah!”
“Hya! Aku benar-benar akan menepati perjanjian kita mulai saat ini!”
Menyipitkan mata, “Semudah itu melepaskan semua ego mu?”
“Ya … tidak lama lagi aku akan menjadi istrimu. Bukankah aku harus menjaga nama baikmu?”
Menghempaskan nafas panjang, “Benar-benar butuh waktu untuk bisa memahami lautan!”
“Aku sadar aku salah … aku hanya tidak mau tersesat terlalu jauh! Paus mati di tengah laut, lama-kelamaan akan terseret arus ombak dan bangkainya terdampar di pantai. Orang-orang pasti akan berkerumun ke arah sumber bau. Aku tidak mau jika Yve ikut mencium baunya!”
“Jadi, sudah sejak kapan itu berlangsung?”
Menunduk, “Sehari sebelum kamu keluar dari rumah sakit!”
Menoleh sebentar lalu kembali melihat ke jalanan.
Mengejutkan!
Dia berkata jujur!
Gumam Yazza dalam hati.
Tentu saja dia sudah tahu dari rekaman CCTV.
Dengan satu tarikan nafas panjang, Yazza kembali berusaha menahan diri, “Lalu … sudah berapa kali tidur dengannya?” cengkraman di setir kemudi terlihat semakin kuat.
Vee hanya terdiam tidak menjawab.
“Kamu pergi ke pesisir kemarin, apakah bersamanya?”
“Yah, maafkan aku!” jawab Vee lirih, menunduk sedih.
Mengingat kebersamaannya dengan Daniel, membuat sakit di hatinya kembali menyeruak.
Bahkan Daniel tertawa dan seolah tidak merasa bersalah sedikitpun karena telah membohongiku.
Sekarang aku mengerti, kenapa selama bersamaku dia tidak pernah mengaktifkan handphonenya!
Dia takut ketahuan jika Tisya menghubunginya!
Sekali lagi Yazza menghela nafas panjang, “Kamu sungguh akan menepati janji untuk tidak menemuinya lagi?”
Vee mengangguk, “Ya! Aku tidak akan pernah menemuinya lagi! Sekalipun dalam angan ku!” air mata Vee menetes, tapi kalimat yang dia ucapkan lebih terdengar seperti kemarahan.
Yazza menyipitkan mata menoleh ke arah Vee yang tengah mengepalkan tangan dengan rahang yang mengeras.
Dia terlihat seperti orang yang habis dikecewakan?
Apa Daniel sudah melukai hatinya?
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...