
Yazza berdiri melihat kedalam, “Boleh aku masuk?”
“Tidak!” tegas Vee seketika.
Dia sudah menduga, Vee sudah pasti akan sangat marah dan menolak kehadirannya.
Yazza menatap sayu seolah tengah memelas.
“Di luar dingin sekali. Aku juga lapar. Rasanya sudah mau pingsan sekarang!”
“Hya! Bapak tidak perlu ke sini hanya untuk makan. Bukankah ada banyak pembantu di rumah bapak?”
“Tapi aku mau sarapan masakanmu!” berusaha menerobos masuk.”
Menghadang pintu dengan lengannya, “Biar saya yang ke rumah anda!” tegas Vee.
Yve melongokkan kepala melirik mamanya.
“Kenapa mama terlihat begitu tidak menyukai orang ini?”
Berganti melirik ke arah Yazza.
Hanya kepalanya saja yang terlihat jelas dari sudut pandang Yazza.
“Bukankah paman ini adalah pria yang semalam besama mama?”
"Apakah dia mesin ekskavator?" Yve menyipitkan mata.
Yazza menunduk melihat Yve yang terlihat malu-malu mengintip di balik punggung mamanya.
Tersenyum ramah “Boleh saya ikut sarapan di sini?" tanyanya kepada anak itu.
Yve mengangguk meski tahu mamanya tidak mengijinkan.
“Yve!” sentak Vee kesal.
Yazza tersenyum memaksa masuk menyingkirkan lengan Vee.
“Pak!” semakin gelisah.
Yve mendahului, berlari kecil ke pantry.
Dengan antusias dia menarik kursi untuk Yazza.
“Terima kasih!” Yazza duduk.
Yve juga langsung duduk di sebelahnya.
Vee mendengus kesal menutup pintu.
“Kamu pintar sekali. Siapa namamu?”
Tersenyum riang, “Yve Lesyanna.”
“Yve. Jangan bicara apapun padanya!” tegas Vee.
Yve langsung menunduk muram.
“Namamu mirip mamamu.”
Yve tersenyum kembali mendongak menatap Yazza, “Y nya dari…”
“Yve! Cepat makan sarapanmu dan pergi ke sekolah!” potong Vee dengan cepat.
Vee melirik tajam Yazza lalu membuang muka.
Yazza menyipitkan mata.
Ia melihat Yve yang tampak ketakutan menuruti perintah mamanya.
Yve tidak berani lagi melihat ke arah Yazza.
Vee menaruh secangkir kopi di depan Yazza.
“Rotinya dengan selai apa?” tanya Vee ketus.
“Kacang.”
Serentak, secara bersamaan Vee dan Yve menatap Yazza.
Mengejutkan!
Itu adalah selai kesukaan Yve.
Yazza melirik kebingungan, “Kenapa? Ada yang salah?”
Vee tidak menjawab dan langsung membuatkan.
"Kenapa sangat mirip dengan putrinya!" Vee merasa semakin gelisah dan tidak tenang.
Yve kembali menunduk, melanjutkan makan.
“Eh, itu selai kacang juga?” tanya Yazza melihat roti yang Yve makan.
Yve hanya mengangguk dan tetap makan.
“Sudah saya bilang berulang kali. Jangan ikut campur dengan urusan anak saya!” tegas Vee.
“Aku hanya berbasa-basi sedikit dengannya!” mencibir memegang gagang cangkir kopi.
__ADS_1
“Lebih baik diam dan tidak usah banyak bicara!” tegas Vee geram.
Yve melirik mamanya lalu mencuri pandang melihat Yazza secara bergantian bergantian.
Sepertinya memang ada yang aneh.
“Siapa paman ini?”
Berbeda dari pandangan mamanya, Yve justru merasa Yazza sangat baik dan terlihat tidak jahat.
“Bahkan mama melarang untuk berbicara pada paman ini. Padahal aku ingin bicara banyak padanya.” Menatap Yazza yang tengah menyeruput kopi dari cangkir yang dia pegang.
***
Setelah mengantar Yve ke sekolah.
Yazza dan Vee langsung menuju kantor.
“Pak Yazza jangan pernah datang ke rumah saya lagi. Terutama menemui putri saya.”
“Aku tidak pernah mengiyakan atau menyetujui aturanmu ini. Justru semakin dilarang, aku semakin ingin tahu alasannya!"
Menatap nanar ke arah Yazza, tangannya kembali mengepal dengan rahang mengeras.
“Lihat saja, setiap kali membahas ini. Pasti kamu akan seperti itu. Bukankah ini semakin mencurigakan?”
Vee membuang muka mencoba menenangkan diri.
Dia memang tidak boleh terlihat terlalu mencolok.
***
Pak Didik membawa laporan ke ruangan Daniel.
Daniel terlihat muram tidak memperhatikan kehadirannya.
“Memikirkan Vee?” tanya pak Didik santai.
Salah tingkah, “Kenapa pak Didik tiba-tiba di sini?”
“Cihh, aku sudah mengetuk pintu berkali-kali.” Duduk di hadapan Daniel, “Jadi, kamu takut bersaing sekarang?”
Menghela nafas panjang, “Menurut pak Didik, mungkin tidak jika mereka sudah saling mengenal sebelumnya?”
Mengangkat bahu, “Jika tidak mengenal, bagaimana bisa Vee sangat tidak menyukainya. Memang tidak kutanyakan alasannya, tapi terlihat dengan jelas dia sangat membenci pak Yazza.”
“Yve bilang, mamanya hanya membenci satu orang dalam hidupnya.” Daniel semakin muram menunduk sedih.
Pak Didik menyipitkan mata, “Siapa?”
“Papanya Yve!”
“Aku juga mencoba untuk tidak mempercayainya. Semoga hanya asumsiku saja.”
“Jika memang seperti itu. Bukankah mereka sedang memainkan drama saat ini?”
“Vee terpaksa mengikuti perintah pak Yazza demi perusahaan kita. Bukankah justru pak Yazza yang jelas-jelas mencari-cari kesalahan untuk menyalahkan Vee?”
Menghela nafas panjang, “Sulit dipercaya!”
“Jika memang seperti itu kenyataannya. Apa yang akan terjadi?” Daniel merasa tipis harapannya untuk mendapatkan Vee.
“Vee sangat membencinya. Kurasa jika memang pak Yazza adalah papanya Yve. Vee akan sulit memaafkannya. Meski aku sendiri tidak tahu kisahnya. Lihat saja dari cara Vee memandang pak Yazza yang penuh dendam dan kebencian itu!”
“Lalu kenapa pak Yazza masih juga belum menikah sampai saat ini!” Daniel menghempaskan nafas frustasi.
“Ahhh! Aku tidak bisa tenang selama Vee masih di sana!” mengobrak-abrik rambutnya sendiri.
***
Sembari menggerutu, Vee membantu menyiapkan ruang meeting yang akan diadakan siang nanti.
Ruang meeting di Teratai Putih terasa sangat dingin, senyap dan jauh lebih sunyi.
Lebih mengerikan dibandingkan dengan tempat pemakaman.
"Cih! Kurasa ini adalah aura kemarahan Yazza yang sudah mendarah daging di tempat ini!" cibir Vee cengingisan.
Jendela full kaca memperlihatkan gedung-gedung dan hamparan langit biru di luar sana.
Pak Ardi menghampiri Yazza yang sedang mempelajari materi yang akan dia bawaan nanti di dalam meeting.
Hanya mereka berdua di ruang kerja Yazza.
“Tuan kenapa tiba-tiba meminta liburan ke Bali?”
“Madam Lia memberitahu, dia bilang mama Yve sangat menyukai lautan.”
“Tapi anda tidak bisa melihat lautan!”
Tersenyum, “Entahlah. Aku juga tidak mengerti!”
“Apakah nona Vee akan setuju dengan cara ini?”
“Aku menggunakan alasan hendak mengunjungi kakekku.” Tersenyum melihat layar ponsel dengan foto Vee.
Tersenyum, “Kalau begitu tuan tenang saja. Saya akan mengatur segalanya.”
__ADS_1
Teringat sesuatu, “Saya sungguh tidak mengerti, kenapa Vee begitu sensitive terhadap putrinya.”
“Maksud tuan?” pak Ardi mengernyitkan dahi.
“Berkali-kali dia menegaskan agar aku tidak mendekati putrinya. Apa aku pernah melakukan kesalahan pada mereka? Sesuatu yang tidak kusadari misalnya?”
Menyipitkan mata, “Bahkan anda tidak pernah berbicara padanya sebelumnya.”
“Pagi ini saya berbincang sedikit dengan putrinya. Gadis itu seperti ingin menceritakan sesuatu, tapi mamanya langsung membuatnya bungkam dan melarang berbicara padaku.”
“Memang terdengar cukup aneh.” Pak Ardi ikut memikirkan.
“Ini adalah alasan utama, kenapa aku memikirkan tentang liburan bersama.” Menutup file.
Dari raut wajah pak Ardi, nampaknya pria paruh baya ini sama sekali tidak memahami maksud tuannya.
“Dengan ini, mungkin saja aku bisa mencuri waktu untuk menggali informasi melalui putrinya!”
“Bukankah itu akan sangat sulit?” pak Ardi memberi jeda beberapa detik, “Mengingat nona Vee selalu protektif terhadap putrinya.”
“Aku merasa, kita sudah semakin dekat dengan jawabannya.” Menghela nafas, “Terutama, setiap kali aku menatap putrinya.”
***
Esoknya, semua seperti tampak normal biasa-biasa saja.
Yazza tidak mengganggu Vee seperti sebelum-sebelumnya.
Begitu melihat Vee mengantar putrinya ke sekolah lalu pergi dengan taksi online, Yazza yang sudah bersembunyi sedari tadi langsung memasuki sekolah Yve.
Wali kelas Yve menyipitkan mata melihat Yazza, “Anda siapa? Dan kenapa meminta ijin untuk membawa Yve liburan?"
“Nama saya Yazza.” Hendak mengeluarkan kartu nama.
“Ah, pak Yazza!” bu Tania langsung menyambar.
Yazza mengernyitkan dahi.
Bu Tania tahu, ayah Yve bernama Yazza.
Dia pikir, setelah dia berbicara pada Vee beberapa waktu lalu, Vee sudah membuka hati untuk memaafkan ayah Yve.
Dan sekarang Yazza datang untuk meminta ijin mengajak Yve liburan, tentu saja langsung disambut hangat wali kelas Yve.
Tapi, ini justru membuat Yazza kebingungan.
“Saya akan segera panggilkan Yve kemari!” berdiri antusias.
Yazza melihat kepergian wali kelas Yve yang seperti tanpa ragu.
"Bukankah seharusnya dia curiga karena aku orang asing?"
Yazza menghela nafas panjang tidak memahami pola pikir guru di sekolah ini.
"Entahlah!"
***
Yve terkejut melihat Yazza.
Dia diam dan hanya melihati pria yang kini ada di hadapannya.
“Sayang tebak. Apa yang terjadi?” bu Tania tersenyum senang melihat wajah Yve.
“Apa?” tanya Yve polos.
“Kalian akan pergi liburan!”
“Liburan?” Yve sangat senang. Dia menatap Yazza, “Apakah mama juga ikut?”
Yazza mengangguk tersenyum, “Tentu saja!”
Bersorak gembira, “Yeay!”
Bu Tania berdiri tersenyum menatap Yazza, “Saya senang akhirnya pak Yazza dan ibu Vee mau menurunkan ego dan memikirkan tentang Yve.”
”Yazza?” Yve menyipitkan mata melihat ke arah Yazza.
“Hah?” Yazza juga menyipitkan mata, tapi berbeda dari Yve.
Dia cukup heran dan tidak memahami perkataan ibu guru ini.
“Yve pasti senang karena bisa berkumpul degan papa dan mamanya!”
Seperti ada pukulan keras yang menghantam dadaa Yazza.
“Papa?” ulangnya dalam hati.
Dia menatap bu Tania tanpa kata-kata.
Yve mendengar kalimat tersebut langsung terdiam seribu bahasa mendongak melihat Yazza dan ibu gurunya secara bergantian.
Bu Tania diam menyipitkan mata, “Apa ada yang salah?”
Yve menggeleng, pandangannya bergeser melihat Yazza yang sepertinya juga sangat terkejut dengan pernyataan wali kelasnya.
"Papa Yazza?"
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...