RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BAYANGAN MATA


__ADS_3


Hans menghentikan langkah kembali membalikan badan menatap kakaknya.


“Mas juga mau ikut?”


Hirza menggelengkan kepala, “Jangan langsung ke sana!”


Pemuda itu tamak menyipitkan mata, “Kenapa memangnya mas?”


“Jika Xean tidak di sana dan kamu terlihat oleh para bawahan Mr. Bald yang mungkin saja bisa menyamar menjadi pengunjung … mereka pasti akan mencurigai mu! Periksa saja dulu di ruang CCTV!”


Menjentikkan jari, “Ah benar!”


“Aku belum bisa datang menemui mereka untuk saat ini! Karena kasus ini menjadi berita heboh dan mereka berada di rumah sakit kita … mas Rudi pasti akan datang. Aku harus berpura-pura menunggunya memberikan perintah kepadaku terlebih dahulu!”


Hans mengangguk-anggukkan kepala membenarkan, “Itu masuk akal! Terlebih proyek baru Paradise akan melibatkan Teratai Putih dan Sky Light. Sudah pasti mas Rudi akan datang!”


Hirza memasukan tangannya ke saku jas, mengambil sesuatu dari sana.


Dengan senyum mencibir dia melihat pita merah di telapak tangannya.


Hans kembali menyipitkan mata, “Eh iya … kenapa mas bro memintaku untuk tidak mengenakan itu semalam? Bukankah Strom meminta kita untuk mengenakannya sebagai tanda?”


“Jangan bodoh! Bukankah bayangan selalu ada di mana-mana?” cibir Hirza, “Selama di tempat itu masih ada cahaya, jangan pikir kita bisa menghindari mata mereka!”


“Maksudnya?” tanya Hans mengernyitkan dahi dengan alis yang bertautan.


“Tidak akan ada yang luput dari Bayangan Mata! Bahkan mereka saja menangkap basah dirimu bukan?” Hirza tersenyum sinis, “Itulah kenapa nama Shadow mudah melambung tinggi sejak pertama mereka muncul dan bergabung dengan Paradise!”


“Lalu apakah mungkin mereka akan menemukan bukti jika Strom yang melakukan ini?” tanya Hans.


“Mungkin mereka akan menemukan petunjuk … tapi petunjuk ini tidak akan cukup kuat untuk dijadikan bukti!” menatap adiknya, “Bukankah Strom memang bagus dalam menjalankan tugas pertamanya ini?” tersenyum bangga pada dirinya sendiri, “Aku tidak akan mungkin salah menilai bakat!”


Hirza kembali melihat pita merah ditangannya.


Dengan senyum dingin dia menjatuhkan pita ke tempat sampah.


...***...


Mr. Bald tampak mengangguk-anggukkan kepala sembari menghisap cerutunya.


“Kerja bagus!” pujinya untuk hasil temuan team Bayangan Mata.


“Meski ini tidak kuat untuk di bawa ke jalur hokum … paling tidak kita memang sudah tahu … siapa sebenarnya dalang di balik teror itu!” lanjut Mr. Bald sembari berdiri dari tempat duduknya.



“Icha … siapkan bingkisan! Kita akan menjenguk nyonya Gionio sekarang,” pungkas Mr. Bald dengan senyum tipis.


“Baik Mr.!” Icha mengangguk hormat, membuka jalan agar tuannya bisa lewat.


Mr. Bald menatap lurus ke depan masih dengan cerutu di mulutnya.


Jika tuan Gio masih saja mengabaikan teror ini, Strom mungkin akan semakin besar kepala!


Aku harus memikirkan cara bagaimana supaya membuat tuan Gio setuju jika Shadow kembali di pegang pewaris aslinya!


...***...


Hans tampak salah tingkah dan tidak enak hati saat datang ke ruang rawat Vee.



Dari bukti rekaman CCTV, dia memang melihat Xean menuju ruang rawat Vee.


Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu langsung menuju ke tempat di mana Xean berada.


“Maaf semuanya … saya jadi mengganggu waktu kalian. Saya cuma mau mencari Xean,” menatap Xean setengah melotot, “Heh sini!” memanggil Xean dengan gerakan tangan.


Xean manyun, “Ckkk … haiz! Kenapa ketahuan sih!”

__ADS_1


Vee tersenyum, “Nggak apa-apa Hans, biarin aja Xean main di sini!”


“Nanti malah ganggu mbak Vee,” menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ya enggak dong!” sahut Vee tersenyum ramah.


Pandangan matanya teralih ketika pintu terbuka.


Semua orang menatap ke arah sana.


Hans membalikan badan menoleh santai.


Mr. Bald dan Icha datang membawakan parcel buah dan buket bunga.


Leo dan Yazza langsung berdiri menyambut.


“Mr. Bald!” Leo memberikan hormat dengan membungkukkan badan.


“Kenapa tidak memberitahu jika akan datang?” Yazza tampak celingukan, “Kami jadi tidak punya sambutan!”


“Hahaha … pak Yazza tidak perlu sungkan seperti itu,” Mr. Bald menoleh melihat ke arah Hans.


Pria botak itu langsung tersenyum memberikan salam hormat.


Hans balas tersenyum membungkukkan badan.


Kek Gio memukul pelan kaki Yazza yang masih berdiri untuk memberi isyarat agar suasana canggung ini tidak terlihat terlalu mencolok.


“Emb, Mr. Bald, Icha! Silahkan duduk,” Yazza mempersilahkan.


Leo mundur ke belakang, berdiri di samping Berli supaya tuannya bisa duduk.


Icha tampak memicingkan mata menatap Leo yang tidak mau mendengarkan nasihatnya.


“Emb … mbak Vee, bagaimana jika aku mengajak Xean dan Yve main di taman bawah saja?” Hans merasa tidak nyaman berada di sana berlama-lama.


“He'umb! Aku mau,” Yve langsung berdiri antuasias.


“Boleh … tapi jangan nakal ya! Nanti mas Hans kerepotan,” Vee mengijinkan.


“Tentu! Mama jangan khawatir, Yve tidak akan merepotkan mas Hans!”


“Mbak Dania, temani mereka ya,” Vee menatap Dania.


“Baik buk! “ Dania tersenyum seramah mungkin.


Xean langsung menggandeng Yve, “Ayo dik Yve!”


Gadis itu balas tersenyum mengangguk.


Sekali lagi Hans tersenyum kepada semua orang, menunduk hormat sebelum akhirnya keluar dari ruangan.


Meski Hans sudah pergi, tampaknya kecanggungan masih saja berlanjut.


Semua orang masih terdiam.


Masalahnya adalah, Vee dan Berli berada di antara mereka. Dua orang luar yang tidak seharusnya tahu tentang masalah yang akan di sampaikan Mr. Bald.


“Emb … Mr. Bald dan Icha kenapa harus repot-repot,” Vee salting dengan ekspresi semua orang yang ada di sana.


Icha tersenyum mendekat, menaruh parcel buah dan buket bunga di meja dekat ranjang rawat Vee.


“Bagaimana keadaanmu?” duduk di kursi kecil samping ranjang.


Vee tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kok!”


Terkekeh pelan, “Hahaha … aku tahu kamu sangat tangguh!”


“Emb … sepertinya tidak nyaman ngobrol di sini! Bagaimana kalau kita ke kopi shop di depan saja?” Yazza menatap Mr. Bald.


Icha menoleh menata para pria yang berada di ruangan tersebut.

__ADS_1


“Kalian pergi saja, aku akan di sini bersama nyonya Gionio,” tersenyum sinis melirik Berli, “takutnya ada orang jahat yang akan mencelakainya lagi!”


Melihat sikap yang Icha tunjukan membuat Leo merasa tidak enak hati melihat kea rah Berli.


Wanita itu tidak berkomentar, dia hanya diam menundukkan kepala.


Icha tersenyum manis menatap Vee yang juga terlihat tidak enak hati kepada Berli, “Kita berteman bukan?”


Rasanya jadi serba salah. Mau membela Berli, Vee takut menyinggung Icha. Jika pun harus membela, Vee juga kebingungan harus berkata apa.


Sepertinya dia lebih memilih diam dalam kecanggungan.


Mr. Bald menatap kek Gio untuk memastikan pendapat beliau.


Kek Gio mengangguk-anggukkan kepala, “Ide bagus, kita bisa lebih leluasa ngobrol di kopi shop! Jenuh juga lama-lama mencium bau obat di sini!”


“Hya … kakek tua! Aku sudah menyuruhmu untuk pulang sejak tadi! Kenapa malah mengeluh di depan tamu sih? Haiz … bikin malu saja!” gerutu Vee.


“Kalian lihat sendiri? Mendapatkan cucu menantu yang begitu bawel seperti itu entah sebuah kesialan atau keberuntungan,” cibir kek Gio menggoda sembari tersenyum tipis.


“Hya!” sentak Vee mencibir kesal.


Mr. Bald tersenyum, “Tentu saja sebuah keberuntungan! Bukankah tuan Yazza sangat kaku? Dengan kehadiran nyonya Vee, hari-hari tuan besar akan lebih berwarna!”


“Dengar itu kakek tua!” cibir Vee tersenyum bangga diri.


“Kenapa aku dibawa-bawa!” protes Yazza.


Terkekeh sambil berdiri, “Sudahlah! Kita pergi sekarang saja. Mumpung ada Icha yang bisa menjaga anak ikan itu!”


Vee tersenyum menoleh ke arah Yazza, “Bawa satu cup cappuccino untukku nanti!”


“Nggak!” jawab Yazza cepat.


“Hya!” Vee kesal.


“Kamu sadar diri sedikit bisa tidak? Kamu habis operasi dan masih harus meminum obat … bagaimana bisa sesantai itu meminta kopi? Dasar,” cibir Yazza membuang muka.


“Cihh, apa hubungannya!” gerutu Vee lirih.


Icha mengelus lengan Vee, “Sebaiknya menurut saja!”


“Memangnya ada hal yang tidak aku turuti untuknya!” kembali bergumam menggerutu lirih.


Yazza tersenyum tipis, tanpa kata-kata dia berjalan mendahului menuju pintu.


Yang lain mengikuti, termasuk Ardi dan pak Karno.


Leo menatap Berli sebelum pergi.


Ada rasa bersalah saat dia harus meninggalkan Berli satu ruangan dengan Icha.


Dia yang membawa Berli ke sini dan dia merasa bertanggung jawab terhadap wanita itu.


Meski seperti tidak di anggap oleh semua orang, mental yang Berli tunjukkan saat ini memang layak di acungi jempol.


Dia tetap berusaha tersenyum ramah di antara orang-orang yang memicingkan mata menatapnya sinis.


“Nyonya Gionio pasti merasa bosan karena sendirian di sini,” Icha kembali tersenyum.


Vee melihat Berli yang berdiri salah tingkah di belakang Icha, “Ahh … tidak juga kok! Sudah sejak pagi Berli menemaniku … dia juga banyak membantu!”


Menoleh ke belakang dengan gerakan santai, “Ahh … kebetulan sekali mumung dia ada di sini!”


Baik Vee maupun Berli, keduanya tampak mengernyitkan dahi mendengar ucapan Icha.


“Semalam aku melihat kamu dekat dengan Leo kan?” tanya Icha datar, “Aku hanya ingin bilang … jangan terlalu dekat dengan Leo! Calon istrinya bisa salah paham nanti!”


Deg!


“Calon istri?” ulang Berli lirih menurunkan kedua bahu lengannya.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2