
Mobil yang Yazza tumpangi masih melaju di jalanan.
Sesekali pak Ardi melirik spion atas untuk melihat tuannya.
Pria itu masih saja terlihat kesal dengan wajah masam yang tergambar jelas dari raut yang ia tunjukkan.
“Tuan … apakah anda masih kepikiran tentang perkataan mereka tadi?” tanya pak Ardi hendak memastikan.
“Apakah menurut pak Ardi mereka mengetahui sesuatu tentang kasus itu?” tanya Yazza balik bertanya.
“Well … jika Paradise atau khususnya pak Hirza tahu tentang kasus itu … bukankah sudah tidak mengejutkan? Pemuda yang selalu mengikutinya itu adalah pembobol data paling handal!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan jika itu memang terjadi?” Yazza menatap panik.
“Tuan seharusnya tahu … itulah alasan kenapa Paradise tidak pernah terkalahkan! Mereka memegang rahasia paling besar dari orang-orang di bawahnya. Tapi mereka tidak akan sembarangan membocorkan rahasia itu. Mereka akan menggunakannya di saat paling terdesak. Misalkan untuk menggertak ketika bawahannya memberontak atau ketika orang-orang tidak lagi menaruh rasa hormat kepada mereka!”
“Menggertak?” ulang Yazza sembari memikirkan perkataan pak Ardi, “Bukankah aku selalu menunjukkan sikap tidak hormatku kepadanya?”
Mendengar kalimat yang di ucapkan oleh tuannya, pak Ardi jadi ikut berpikir, “Apa mungkin pak Hirza sedang mencoba memperingatkan anda untuk bersikap lebih baik kepadanya?”
“Jika memang seperti itu … artinya dia memang sudah tahu tentang kasus 8 tahun yang lalu!”
“Toh kalaupun mereka tahu … mereka juga tidak akan sembarangan membocorkan sebuah rahasia besar. Karena rahasia yang masih mereka pegang, jauh lebih berguna daripada harus mengungkapkannya! Selain itu, rahasia besar juga bisa di jadikan senjata yang mungkin tidak ada counter nya,” pak Ardi tampak diam sejenak,”Tapi … tentang pak Daniel … rasanya mustahil jika dia juga tahu!”
“Nah … itu juga yang aku pikirkan sejak tadi!”
Seketika ingatan Yazza kembali pada saat mereka di ruang pertemuan.
“Tatapan matanya jelas sekali … seolah dia sedang mengintimidasi ku dengan kalimat-kalimatnya itu!”
“Tapi darimana dia bisa tahu?” pak Ardi mengernyitkan dahi tampak berpikir.
“Apakah Vee benar-benar memberitahukan padanya?”
Mengingat pengakuan yang sempat Daniel katakan, membuat Yazza kembali memikirkannya berulang-ulang.
“Tidak tuan! Itu tidak mungkin!” sahut pak Ardi cepat.
“Kenapa pak Ardi terdengar sangat yakin sekali? Bukankah mereka dekat sebelumnya … bisa jadi memang Vee yang sudah menceritakan hal itu!”
“Nyonya tidak mungkin sembarangan membocorkan rahasia besar itu kepada orang lain! Kalau sampai terjadi sesuatu pada tuan … bukankah nona Yve akan sedih? Nyonya selalu menjaga perasaan putri anda … itu sebabnya saya yakin jika nyonya Vee tidak akan melakukan hal sebodoh itu!”
Terlebih pak Ardi tahu dengan betul, tentang apa yang saat ini Vee perjuangkan untuk Yazza meski harus bermain kucing-kucingan di belakangnya.
Yazza tampak terdiam memikirkan pernyataan yang pak Ardi lontarkan.
__ADS_1
Dalam hati kecilnya, dia juga yakin jika Vee bukanlah orang yang akan menceritakan segala sesuatunya kepada publik. Terlebih kasus itu juga menyangkut tentang identitas asli Yve.
Vee selalu mewanti-wanti supaya Yve tidak pernah tahu jika dia bukanlah ibu kandungnya!
Kalau sampai rahasia itu bocor, bukankah akan rugi juga baginya?
Pak Ardi benar, istriku tidak akan sembarangan membocorkan sebuah rahasia kepada orang lain!
Bahkan dia sendiri masih menyimpan banyak sekali rahasia di belakangku!
Yazza kembali memilih diam dan hanya bergumam dalam hati dengan pemikiran-pemikirannya sendiri.
...***...
Ruang kerja Hirza.
Daniel masih celingukan melihat seisi ruangan yang tampak sangat lapang dan luas.
Beberapa perabotan hingga meja kursi, semuanya dominan warna hitam. Sangat kontras dengan cat yang berwarna putih terang.
Dinding kaca membentang luas, memperlihatkan pemandangan indah taman Paradise.
Hirza tersenyum, duduk menyandar santai di atas kursi putarnya, “Pak Daniel sangat berbakat dalam design interior. Bagaimana dengan ruangan saya menurut anda?” basa-basi Hirza untuk mencairkan suasana.
“Menakjubkan! Terkesan nyaman dan bebas,” puji Daniel.
Pemuda itu tersenyum ramah saat Daniel menoleh menatapnya.
“Ahh … adik bapak memang sangat berbakat!”
“Sayangnya dia sering bolos sekolah hanya untuk ikut acara meeting penting bersamaku!”
“Heh? Jadi benar adik bapak ini masih sekolah?”
“Yaps … kelas tiga saat ini!” sahut Hans tersenyum cengengesan.
“Woah … menakjubkan sekali! Masih pelajar SMA, tapi sudah bisa menghandle banyak hal!”
“Saya dengar pak Daniel juga sama seperti adik saya! Sudah membantu ayah anda sejak masih bersekolah!”
“Ahh … itu tidak benar!” sangkal Daniel tersenyum sipu. “Bahkan setelah lulus dari perguruan tinggi … saya masih jadi anak magang dan naik jabatan dalam waktu dan proses yang sangat lama meski di dalam perusahaan ayah saya sendiri!”
“Sungguh?” Hirza menatap takjub, “Wah … itu artinya anda adalah orang yang sangat mandiri dan pekerja keras!”
“Pak Hirza terlalu memuji saya,” lagi-lagi Daniel menunduk tersenyum tersipu.
__ADS_1
“Hahaha … itu bukan pujian … tapi sebuah kenyataan!” Hirza terkekeh pelan. “Oh iya … dari tadi saya perhatikan … sepertinya pak Daniel ingin menyampaikan Sesuatu kepada saya! Kalau boleh tahu … apa yang membuat pak Daniel merasa resah sepanjang acara pertemuan?”
“Emb … saya … saya tidak tahu harus memulai dari mana!”
“Kalau boleh saya menebak … apakah berkaitan dengan kematian tidak wajar sahabatku dan juga sahabat baik Vee?”
Tanpa kata-kata Daniel menatap antusias Hirza. Dengan kata lain, pria itu membenarkan meski tidak menjawab menggunakan suara.
Hirza tersenyum sengit, “Sebenarnya saya sudah tahu siapa pelakunya … tapi sayang … saya tidak ada bukti yang kuat!”
“Anda juga sudah tahu?” tanya Daniel balik bertanya untuk memastikan.
“Eh … tunggu … dari pertanyaan pak Daniel … apakah pak Daniel mengetahuinya juga?”
Daniel kembali diam, dia mengepalkan tangan dengan bibir terkunci rapat.
Ada keraguan dan ketakutan ketika dia harus mengatakan yang sebenarnya. Terlebih dia baru mengenal pria yang saat ini duduk di hadapannya.
“Pak Daniel di bawah tekanan atau di bawah ancaman?” Hirza bertanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.
“Aa … emb … se … sebenarnya tidak keduanya!”
“Lalu … kenapa anda takut untuk mengatakannya jika anda memang mengetahui sesuatu?”
“Ka … karena saya juga hanya tahu ceritanya, tapi … tapi saya bersedia berusaha mencari tahu dan menggali bukti-bukti itu jika pak Hirza menghendaki!”
“Tunggu … saya tidak mengerti … apa alasan anda begitu ingin mengungkap kasus teman saya … bukankah pak Daniel tidak mengenalnya?”
Deg!
Tidak mungkin Daniel berkata jujur jika dia ingin menyingkirkan Yazza dari kehidupan Vee secara gamblang.
Apa yang harus aku katakan!
Aku tidak punya alasan yang masuk akal!
Haiz … kenapa aku tidak berpikir sampai sejauh ini!
“Saya dengar … dulu pak Daniel begitu dekat dengan Vee … apakah anda cemburu karena pak Yazza tiba-tiba datang dan mengambil Vee dari hidup anda?”
Deg!
Lagi-lagi Daniel harus di buat pucat dengan pertanyaan yang Hirza lontarkan.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...