
Daniel menelungkup kan badannya ke atas kemudi setir.
Dia sangat frustasi sekali.
“Hya … pak Daniel! Kenapa patah semangat sih!” tegur Vee kesal.
“Kita harus siap menghadapi tuntutan! Jika masih belum mendapat kabar apa-apa … satu jam lagi tamat sudah kita semua!” masih menyembunyikan wajahnya.
“Hya!” Vee memukul punggung Daniel.
Daniel tidak menggubris.
Membuat Vee semakin pusing memegang kepalanya.
Mobil mereka berhenti di pinggir jalan yang lumayan sepi.
Handphone Vee berdering.
Daniel langsung mendongakkan kepala, “Siapa?”
Melihat ke layar handphone, “Pak Didik!”
“Cepat jawab!” Daniel antusias bersiap mendengarkan.
“Hallo pak?” Vee menyapa begitu panggilan tersambung.
“Vee … mobil pengirimannya sudah ditemukan!”
“Sungguh di mana?”
“Sebuah gedung tua yang terbengkalai.”
“Share lokasi deh pak!” Vee menatap Daniel dengan senyum kelegaan.
“Aku sudah menyuruh orang kantor datang bersama supir dan petugas pengiriman barang pengganti untuk mereka!”
Vee menyipitkan mata, “Pengganti?”
“Terjadi sesuatu … takutnya, mereka tidak bisa melanjutkan melakukan pengiriman!”
“Tunggu! Gedung tua … apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Vee penasaran.
Pak Didik menghela nafas panjang, melihat ke arah Yazza yang duduk diam tanpa ekspresi.
“Sudahlah, kamu akan tahu sendiri nanti. Lebih baik sekarang kamu segera mengurus dan menyelesaikan semuanya sebelum batas waktu yang di tentukan!”
“Oke pak! Share location deh biar kami langsung mengecek ke sana!”
Yazza mengangguk, member isyarat kepada pak Didik untuk mengijinkan Vee mendatangi lokasi.
“Ok baiklah … tunggu … aku matikan dulu panggilannya!” pak Didik sedikit canggung dan sungkan melihat ke arah Yazza lagi.
“Baik pak!” Vee menurunkan handphone begitu panggilan ditutup.
“Sesuatu yang buruk sedang terjadi?” tanya Daniel.
Vee hanya mengangguk.
Pesan masuk, “Eh … ini tidak jauh! Pak Daniel, segera ke lokasi ini deh!”
Mengangguk, “Ayo!” kembali menyalakan mobilnya.
...***...
Raya melihat Berliana yang sedari tadi kesal melihat ke layar handphone.
Keduanya tiduran sambil menonton Tv.
“Kenapa sih beb?” tanya Raya lembut.
__ADS_1
“Gerry nggak membalas pesanku deh! Telepon juga nggak di angkat!” melempar ponselnya ke tengah ranjang.
“Kan harus lembur!” Raya berusaha membuatnya tenang, “Expo bulan depan, penjualan kita harus lebih bagus dari tempat Yazza. Gerry sedang bekerja keras merancang event dan penawaran terbaik untuk menarik pembeli!”
Manyun mencibir, “Dia tidak macam-macam di kantor ‘kan?”
Tersenyum, “Aman!”
Berli tersenyum lega, “Untung ada kamu yang selalu mengawasi … kalau ada wanita yang mencoba menggoda Gerry, bilang padaku! Akan kuberi pelajaran!”
“Tentu beb!” Raya membuang muka, tersenyum sinis ketika Berliana tidak melihat ke arahnya.
Mengambil handphonenya lagi, “Ini juga … kenapa mereka belum melapor!”
Menyipitkan mata, “Siapa?”
Tersenyum salah tingkah, “Ah tidak!” membuang muka kembali menatap ke layar Tv.
Raya masih tetap menyipitkan mata dengan kening mengerut menatap Berli.
Sepertinya Berli tengah menyembunyikan sesuatu.
...***...
Gerry menaruh kembali handphonenya ke atas meja.
“Kenap tidak diangkat?” Tasya memiringkan tubuhnya mendekat ke dekapan Gerry.
Menjadikan lengan Gerry sebagai bantalan.
Jemarinya menari manja menyusuri wajah Gerry yang tidur telentang di atas ranjangnya.
“Jika tiba-tiba dia meminta panggilan video … bukankah akan merepotkan?”
“Mr. X melapor! Berli menyewa orang-orang untuk melakukan sesuatu!”
Tersenyum sengit, “Dia mencoba mengadu domba Nirwana dengan White Purple!”
“Apa maksudnya?” Gerry mulai tidak tenang.
“Ada seorang wanita yang tidak dia sukai di White Purple. Dan dia mencoba menyulut api, memanfaatkan kekuasaan Nirwana.”
Mengepalkan tangan geram, “Isi kepala wanita itu hanya ada uang dan gila hormat!”
“Aku yang harusnya marah dan memberinya pelajaran! Dia mengusik Nirwana secara tidak langsung!” kembali membelai wajah Gerry, “Tapi jangan khawatir … karena dia membayar jasa, aku akan professional!”
Menghela nafas panjang, “Lalu bagaimana?”
“Aku tidak tahu … tugas sudah selesai! Berhasil atau tidak, tergantung keberuntungan!” nada lembutnya begitu menenangkan.
“Kamu tidak lelah mengurus semuanya sendirian?” Gerry menggeleng tipis, “Bahkan kakakku yang polos itu tidak tahu sisi lain dirimu!”
“Tisya akan segera datang kembali ke rumah ini … dia akan banyak membantu!”
Tersenyum sinis, “Dia tidak kembali karena mendengar gosip tentang Yazza bukan?”
“Aku tidak tahu, dia tidak mudah ditebak! Kita lihat saja, kejutan apa yang akan terjadi setelah kehadirannya!”
Menghela nafas panjang, “Caesar sudah semakin besar. Kita tidak boleh terus menerus seperti ini!”
“Lalu haruskah aku bilang jika kamu adalah ayahnya yang sebenarnya?”
Gerry membelalakkan mata memprotes menatap Tasya, “Sampai kapan kamu mau menghukum aku seperti ini? Bahkan di ranjang ini juga … kamu memadu kasih dengan kakakku … tidakkah merasa bersalah sedikitpun?”
Tersenyum, “Apa aku pernah marah pada wanita-wanita yang kamu kencani? Bahkan saat kamu menyimpan bekas Yazza di rumahmu, apa aku ada berkomentar tentang hal itu?”
Membuang muka, “Aku masih tidak tahu … jenis wanita seperti apa dirimu ini!”
“Mungkin suatu hari nanti, kamu akan tahu … alasan kenapa aku sampai menjadi seperti ini!” Tasya bangkit duduk di atas tubuh Gerry.
Pria itu hanya diam menatap wajah wanita yang tampak sedang menggodanya.
__ADS_1
Senyum manis dilayangkan, jemari Tasya membelai wajah Gerry lalu menunduk semakin dekat, “Jangan khawatir, kamu tetap yang paling terfavorit!” mengecup bibir Gerry.
Gerry mendengus memejamkan mata tanpa bisa melawan.
...***...
Gedung tua.
Bangunan tua yang sudah dipenuhi semak belukar dan ilalang teronggok di hamparan yang cukup luas.
Gedung bertingkat ini tampaknya memang tidak diselesaikan dan hanya ditinggalkan begitu kerangkanya sudah berdiri kokoh.
Lokasinya memang tidak jauh dari jalan utama.
Tapi di sana termasuk daerah yang lumayan sepi.
Tidak banyak kendaraan yang melewati jalan tersebut.
Untuk mencapai gedung tua ini, harus masuk ke dalam area gedung dengan jarak yang lumayan.
Ditambah lagi, pagar dan tembok pembatas tinggi menutupi jarak pandang ke dalam area.
“Kamu yakin ini lokasinya?” Daniel mengernyit melihat sekitar.
Dari sorot lampu mobil, Vee bisa melihat jejak roda di tanah, “Bukankah jejak itu terlihat masih baru?” menunjuk ke depan.
“Ah benar!” Daniel langsung turun dari mobil, “Tunggu sebentar, biar aku buka gerbangnya!”
Vee mengangguk.
Dia sungguh tidak mengerti, kenapa mobil pengiriman White Purple bisa sampai ada di sini.
Kreeek!
Ngiiiikk!
Suara gerbang berkarat yang jarang di akses.
Begitu gerbang dibuka, Daniel kembali masuk kedalam mobil.
“Sepertinya memang harus memakai mobil untuk mendekat ke bangunan tua di dalamnya!” Daniel mencibir, “Cih … sayang sekali lahan seluas ini terbengkalai … akan aku beli dan aku bangun pabrik di sini!”
“Shhh … pak Daniel masih saja memikirkan bisnis! Saya takut banget nih … bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada mereka!”
Menghela nafas panjang, “Maaf … aku juga sangat khawatir!”
“Semoga petugas pengiriman dan supirnya baik-baik saja!” Vee semakin was-was.
Mobil kembali melaju.
Tronton besar White Purple memang berada di dekat gedung tua tersebut.
Sangat gelap, hanya penerangan dari mobil Daniel yang memperjelas semuanya.
Vee dan Daniel segera turun untuk mendekat.
“Emphhh! Mmphhh!”
Suara geraman yang syarat penuh akan kepanikan.
Vee mengarahkan cahaya flash handphone ke arah kepala tronton.
“Astaga!” Vee dan Daniel terkejut bukan main.
“Apa-apaan ini!” Daniel geram.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1