
Setelah dari pemakaman, Vee dan kek Mail kembali berjalan di sekitar dermaga.
“Aku sudah meminta anakku untuk membersihkan rumahmu. Kamu akan menginap di sana kan?”
Menggeleng, “Pasti akan banyak kenangan yang membuatku selalu teringat kepada Yunna. Aku belum cukup kuat untuk menghadapi kenangan itu!”
“Lalu kamu akan langsung kembali ke kota?”
Tersenyum, “Aku ingin mengenang rasanya menginap di tengah lautan.”
Menyipitkan mata, “Kamu akan berlayar?”
“Emb, sebenarnya aku sudah menyewa kapal pinisi,” ucap Vee ragu-ragu.
“Hah? Lalu dengan siapa saja nanti? Apa perlu paman panggil anak-anak untuk mengawal?”
Vee tersenyum, “Aku mau sendiri saja. Menenangkan diri dan bersantai di tengah laut!”
“Kamu yakin?”
Mengangguk, “Titip mobil ya paman.”
Menghela nafas, “Kamu sudah lama tidak melaut, paman khawatir!”
“Mbak Vee!” panggil seseorang berpakaian nahkoda.
Vee menyipitkan mata, tersenyum mendengus.
Darimana dia dapat ide untuk mengenakan seragam seperti itu?
Aktingnya totalitas sekali!
Cibir Vee bergumam dalam hati begitu melihat Daniel lengkap dengan seragam Nahkoda.
“Siapa Vee?” tanya kek Mail.
“Mbak, kapalnya sudah siap di sana!” melihat kek Mail, “Saya yang akan mengoperasikan kapal pak!”
“Ah, oke-oke!” mengangguk-angguk, “Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu disini?”
Vee tidak tahan menahan senyum, melihat Daniel yang tiba-tiba jadi kebingungan.
“A ... emb ... itu ... saya ... saya baru di sini pak!” tersenyum meringis, “Pindahan dari kota lain!”
“Ah, saya mengerti. Kalau begitu jaga baik-baik anak ini! Kalau sampai terjadi apa-apa, akan ku pastikan kamu tidak akan bisa melihat dunia ini lagi!”
Daniel menelan ludah mendengarnya.
“Paman! Jangan menakuti pekerja baru! Nanti kesannya dermaga ini begitu menyeramkan!” Vee mengelus bahu kek Mail.
“Pantas saja Vee juga sekasar itu! Lingkungannya juga seperti ini,” gumam Daniel lirih.
“Ngomong apa kamu?” tegas kek Mail bertolak pinggang.
“Ah tidak! Saya pasti akan menjaga mbak Vee dengan sangat baik! Karena itu memang tugas saya!”
__ADS_1
Vee kembali menahan senyum menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
“Vee cari Nahkoda yang berpengalaman saja! Dia sepertinya tidak meyakinkan!” desis kek Mail kepada Vee.
“Sudahlah paman! Tidak apa-apa.”
Melihat Daniel, “Dia terlihat terlalu sembrono loh!”
“Masa sih?” Vee cekikikan.
Daniel mengernyit salah tingkah.
“Emb … aku mau lihat-lihat kapalnya dulu ya paman! Paman mau ikut?” tanya Vee.
Menggeleng, “Tidak deh! Paman lapar, kita makan saja dulu aja gimana?”
Melihat Daniel, berisyarat mata.
Daniel sepertinya mengijinkan.
“Emb, ya sudah deh,” melihat Daniel, “Yuk mas ikut sekalian!”
“Ah tidak! Saya kembali ke kapal dulu saja. Emb, ada bawaan yang mau di masukan ke kapal? Biar saya bantu,” ucap Daniel sesopan mungkin.
Vee mengambil kunci mobil, “Ambil koperku di bagasi mobil putih di depan sana,” menunjuk ke suatu tempat.
Tersenyum menerima kunci, “Baik mbak! Kalau begitu saya ke sana dulu!” pamit Daniel.
Vee kembali tersenyum melihat Daniel berjalan menjauh.
“Kamu yakin percaya pada orang itu?”
Terkekeh, “Hahaha … nah ini … ini nih yang aku suka!”
Vee menarik paman Mail berjalan menuju rumah makan dekat dermaga.
...***...
Kediaman keluarga Gionio.
Tamu yang di maksud Yazza ternyata adalah Mr. Bald.
Kek Gio sebenarnya paling malas untuk menemuinya.
Dengan cuek, beliau masih santai merapikan bonsai saat Mr. Bald berlutut di belakangnya.
“Tuan, sudah sangat lama sekali! Ijinkan saya ngobrol dengan anda!” Mr. Bald memohon.
“Sudah aku bilang … aku tidak mau lagi berurusan dengan ‘bayangan’! Dan jangan libatkan Yazza ke dalamnya!” tegas kek Gio masih tidak mau menoleh.
“Saya sudah mematuhi perintah anda, dan saya sudah mengurus Shadow dengan sangat baik. Tapi untuk lepas tangan dengan apapun yang berkaitan dengan keluarga anda, saya tidak bisa melakukan itu. Saya akan tetap membalas budi dan selalu mengabdikan diri untuk melindungi anak cucu keturunan Gionio!”
“Hidupku jadi damai dan tenang setelah menjauh dari ‘bayangan’ … jadi, jangan mendekati aku lagi!”
Ceklek!
__ADS_1
Suara gunting bonsai terdengar lebih keras. Sepertinya kek Gio sengaja melakukannya untuk menggertak Mr. Bald.
Beberapa helai daun berjatuhan di atas rumput hijau.
Mr. Bald makin menunduk tidak berani menatap kek Gio meski hanya punggungnya.
“Satu lagi! Jangan panggil aku seolah aku ini adalah atasanmu! Aku bukan tuanmu! Kamu-lah tuan yang memimpin ‘bayangan’!”
“Saya tidak berani tuan! Bagaimanapun juga, anda tetalah ‘tuan besar’ kami!”
Menghempaskan nafas panjang, “Aku sudah melepaskan semuanya! Kenapa kamu masih saja mengusik keluargaku!” kembali fokus merapikan bonsai.
“Saya hanya berusaha melindungi!” bantah Mr. Bald masih tidak mendongak sedikitpun.
“Lihat! Yazza jadi manja karena kalian!”
“Kami tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti tuan Yazza! Lagipula, kami masih menepati janji untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada tuan Yazza! Selama ini, dia mengira jika kami di bayar untuk jasa yang sudah kami berikan! Tapi kebenarannya, secara diam-diam saya mengembalikan uang yang tuan Yazza berikan kepada kami melalui pak Ardi,” Mr. Bald mengambil jeda untuk menarik nafas panjang. “Kami semua hanya ingin yang terbaik untuk keselamatan tuan Yazza!”
Kek Gio tampak diam acuh tidak memperdulikan.
“Jika bukan melalui Shadow … tuan Yazza mungkin saja mengalami masalah yang lebih berat. Kami sungguh tidak bisa lepas tangan begitu saja dalam hal ini!” lanjut Mr. Bald.
“Pergilah! Aku tidak mau jika Yazza tahu tentang hubungan kita di masa lalu!” kek Gio masih bertahan untuk tidak menatap lawan bicaranya.
“Tuan!” Mr. Bald meninggikan nada.
Kali ini dia memberanikan diri mendongak menatap punggung kek Gio.
“Saya sudah mengumpulkan bukti tentang tragedi kapal karam yang menimpa keluarga anda puluhan tahun lalu!””
Deg!
Kek Gio tidak menoleh, tapi dia menghentikan geraknya.
Luka lama yang tidak pernah mengering, serasa terkena air garam yang menambah perih.
Beliau hanya bisa berdiam mematung mendengar kalimat Mr. Bald.
Melihat tuannya memberikan respon pasif, tentu membuatnya yakin jika kek Gio ingin mendengar kelanjutannya.
“Kapal itu memang terbalik karena ombak. Tapi alasan kenapa ada air yang menggenang dari bawah, itu memang sebuah kesengajaan! Awalnya mereka berencana menenggelamkan kapal dengan membuat lubang. Tanpa disangka, alam mendukung rencana para pelaku dan justru membuat mereka ikut tewas dalam tragedi itu,” Mr. Bald menjelaskan dengan cukup percaya diri.
“Yeah … ini memang sebuah bencana dan tragedi buatan! Tapi justru karena gelombang tinggi dari alam itulah yang bisa menyelamatkan tuan Yazza!”
“Jika saja para eksekutor itu tidak ikut tewas dalam gelombang pertama, mungkin mereka tidak akan membiarkan satupun dari keluarga ini tetap hidup dan mendarat dengan selamat!” pungkas Mr. Bald mengakhiri.
Gunting yang di pegang kek Gio jatuh ke tanah.
Kakinya serasa lumpuh secara tiba-tiba.
Dia terhuyung lemas, gontai nyaris terjatuh.
“Tuan!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...