
Vee mengirim pesan ke Dania untuk memberitahukan padanya jika dia dan Yve akan menginap di rumah Yazza.
Ia meminta agar pengasuh baru Yve itu menjaga Berli.
Malam sudah sangat larut, sengaja Vee tidak tidur untuk memastikan semua orang sudah terlelap.
Berkali-kali dia mengecek handphone.
Seharian ini Daniel tidak mengirim pesan atau mencoba melakukan panggilan seperti biasanya. Membuat Vee jadi overthingking saja.
“Sengaja mau membuat mataku silau?” sindir Yazza.
Vee terkejut, langsung mematikan cahaya dari layar.
Bahkan dia sendiri tidak sadar jika Yazza masih terjaga.
“Kenapa … masih mau berdebat lagi?” tanya pria yang berada di sampingnya itu.
Vee menghela nafas panjang, duduk menatap Yazza melalui cahaya temaram dari lampu meja yang menerangi.
“Aku tidak paham … kenapa kamu menyeret Yve dalam permusuhan yang seharusnya hanya ketahui orang dewasa?”
Yazza ikut menghela nafas, menatap langit-langit kamar sembari menjadikan kedua tangan sebagai bantalan kepala.
“Ini bukan tentang permusuhan lagi. Apapun yang berkaitan dengan Nirwana ataupun G Corporation, sebaiknya memang menghindari mereka!”
“Anak-anak hanya tahu tentang bermain!”
“Itu benar, tapi siapa yang tahu jika itu bisa jadi batu loncatan mereka untuk menjatuhkan kita?”
“Kamu terlalu berburuk sangka deh!”
“Bahkan kamu tahu, tapi kamu sengaja merahasiakannya bukan?” tanya Yazza datar.
“Karena aku memang takut hal ini akan terjadi!”
“Anak-anak akan mudah menemukan teman. Begitu dia pindah ke sekolah baru, dia pasti akan punya teman baru lagi.”
“Yazza! Kamu sungguh serius dengan apa yang sudah kamu rencanakan ini?”
“Aku sudah meminta pak Ardi untuk menghubungi kepala sekolah khusus anak perempuan. Di sekolah itu ada asrama juga, apa kamu mau jika aku juga memasukannya ke asrama?”
“Yazza!” sentak Vee melotot tajam.
“Kalau begitu jangan banyak membantah. Dia hanya akan pindah sekolah, bukan pergi jauh darimu!”
Vee geram tidak bisa menjawab lagi.
__ADS_1
“Aku beritahu sesuatu kepadamu … teman dari putri angkatmu itu adalah anak kandung Gerry dan juga kakak iparnya,” menatap dalam.
“Yazza! Jangan sembarangan bicara!” tegas Vee.
Tersenyum mencibir, “Aku bicara berdasarkan kenyataan. Sekarang, sudah tahu bukan? Betapa gilanya keluarga itu?”
“Apa kamu pikir aku akan percaya dengan apa yang kamu katakan ini?” Vee mencibir, “Cih … kamu memang membenci Gerry, tapi menuduhnya berselingkuh dengan Tasya, itu sangat keterlaluan!”
Bagaimanapun juga, Vee melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang kehangatan Tasya saat bersama suaminya. Keduanya terlihat mesra dan saling menyayangi.
“Terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas aku sudah memberitahu rahasia ini padamu!”
“Tentu saja aku tidak akan percaya!”
Mencibir membuang muka, “Tidurlah! Besok pagi-pagi kamu harus kembali ke apartemen dulu untuk bersiap sebelum ke sekolah baru anak itu!”
Menggeleng, kembali berbaring, “Yve pasti akan sangat membencimu setelah ini!” memunggungi Yazza.
“Apa ruginya? Aku tidak butuh simpati dari anak itu! Selama masih bisa memanfaatkannya untuk membuatmu tetap bersamaku, aku hanya akan peduli sebatas itu!” mendengus tersenyum kecut.
Deg!
Kalimat itu mampu membuat Vee merasakan pukulan keras samai ke ulu hati. Tangannya mengepal mencengkram baju di depan dadanya sendiri.
Apakah dia masih belum bisa menerima kehadiran putri kandungnya sendiri?
Orang macam apa dia itu?
Tapi kenapa justru orang yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah yang justru lebih peduli?
Dia pikir aku mau berpura-pura menurut padanya semudah ini?
Jika bukan karena Yve, tak sudi aku berbicara pada orang macam Yazza!
“Well, aku juga tidak suka jika putri angkatmu itu berteman dengan putra pak Hirza!”
“Sekalian saja semua anak di sekolah Yve kamu curigai!” sindir Vee mencoba menahan diri.
“Aku dengar baru-baru ini, Hirza menaruh saham di sekolah itu. Bahkan mereka langsung mengganti Kepala Sekolah setelah dua hari anak angkatmu masuk ke sana,” menoleh meski hanya punggung Vee saja yang dia lihat. “Dan yang lebih mencurigakan, tidak lama setelahnya putra Hirza juga masuk ke sekolah itu!”
Mencoba memejamkan mata untuk tidak menggubris ocehan Yazza.
“Teman lama?” tanya Yazza ironi. “Kamu pikir, Hirza adalah orang yang bisa berteman dengan sembarang orang? Dia bisa saja hanya memanfaatkan kamu untuk kepentingannya sendiri!”
“Yazza! Cukup! Aku muak mendengar semua omong kosong mu itu,” tegas Vee masih pada posisinya.
“Yeah … anggap saja kamu masih menutup mata untuk saat ini! Tapi suatu hari nanti, kamu akan tahu … wajah asli dari orang-orang di sekitarmu!”
“Justru aku bertanya-tanya tentang wajah aslimu yang penuh dengan manipulasi dan kebohongan itu!”
__ADS_1
Tersenyum, “Bukankah tidak semua kebohongan itu adalah hal yang buruk?”
“Semua yang kamu lakukan pasti adalah keburukan!”
“Aku bisa saja lebih jahat dari ini jika kamu berkata seperti itu! Aku sudah pernah berencana membuang anak itu, apa salahnya jika mencobanya sekali lagi?”
Vee memejamkan mata menahan nafas sembari mencengkram selimutnya tanpa menoleh ke arah Yazza.
Mendengus tersenyum, “Anak itu begitu polos! Bahkan dia tidak tahu jika dia hanya aku manfaatkan untuk menangkap ikan yang lebih besar!”
“Aku akan membuat Yve semakin membencimu! Dengan begitu, dia sendiri yang akan mengajak aku pergi dari kehidupanmu ini!” geram Vee.
“Jika memang ingin menutup jejak sejak awal, seharusnya kamu tidak perlu mencantumkan nama Yazza di akta kelahirannya!”
“Ya! Anggap saja itu memang kesalahan terbodoh yang pernah aku lakukan!”
“Bahkan kamu sudah bodoh sejak kamu memutuskan menyelamatkan anak haram itu saat dia masih bayi!” cibir Yazza.
Vee tidak tahan lagi, dengan rahang yang mengeras dia menyibakkan selimut, duduk dan menatap tajam ke arah Yazza.
“Dia tidak akan menjadi anak haram jika kamu mau bertanggung jawab!”
“Cih … Apa kamu masih belum paham juga? Ini semua karena kamu! Setelah kamu membuat aku tidak bisa tidur tanpa bayangmu di setiap malam, dan setelah apa yang aku lakukan sampai berencana melenyapkan mereka agar aku bisa tetap menjaga nama baik ketika bertemu lagi denganmu … kamu masih bisa berkata tentang pertanggung jawaban?”
Deg!
Yazza memang pernah menjelaskan alasan kenapa dia tidak bisa menerima kenyataan tentang Yunna dan anaknya.
Yazza benar, dia sudah menaruh Vee di dalam hatinya. Begitu kabar tentang Yunna yang melahirkan garis keturunannya, jelas itu membuat Yazza kehabisan akal.
Kenyataannya, hanya Vee yang ingin dia nikahi sejak awal.
“Kamu menentang saat aku hendak mengijinkan Berli tinggal. Kamu bilang dia pernah berencana membunuhku, lalu apa bedanya denganmu? Bahkan aku tidur dengan seorang pembunuh yang sama sekali tidak memiliki hati nurani!” pandangannya mulai buram oleh selaput air mata.
Yazza ikut duduk kali ini, “Hati nurani katamu?”
“Ya! Sudah tahu salah, tapi tidak mau mengakuinya! Apapun alasannya, manusia tidak berhak menghilangkan nyawa manusia lain! Jelas sekali kalau kamu memang tidak waras!”
“Salah?” Yazza memicingkan mata mencibir ke arah Vee, “Jangan pura-pura sok lupa dengan apa yang terjadi pada malam itu. Aku mabuk berat, dan temanmu sengaja mengajak ke hotel untuk memanfaatkan keadaan … siapa yang salah sekarang?”
Semakin geram, “Seharusnya kamu menolak!”
“Jangan gila! Aku dalam keadaan tidak sadar! Yang aku ingat, malam itu aku mencium dan mendekap mu … aku pikir … aku melakukan itu denganmu!” mendengus, “Lalu kenapa malah wajah ****** itu yang aku lihat begitu membuka mata paginya?”
PLAK!!!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...