RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TELUR DADAR GULUNG


__ADS_3

Seperti dugaan.


Orang-orang kantor cabang begitu panik melihat kedatangan Yazza.


Pak Ardi segera menyuruh seluruh penanggung jawab untuk mempersiapkan file laporan. Yazza akan menunggu di ruang meeting dalam 10 menit.



Selama meeting berlangsung, hawa panas dari kumpulan kegelisahan, kekhawatiran juga kegugupan menyatu di dalam ruang pertemuan.


Vee hanya mencibir ketika Yazza berhasil membuat semua orang ciut ketakutan saat dimarahi karena kinerja mereka.


Suasananya jauh berbeda ketika White Purple melakukan meeting.


Di sana penuh kehangatan dan kekeluargaan. Sangat jarang pemimpin marah dan memaki.


Jika ada kekurangan atau kesalahan, bersama-sama mereka akan membahas dan mencari jalan keluar.


Bahkan itu juga diterapkan di kantor cabang Vee sebelum datang kembali ke kantor pusat.


“Ok! Break lima menit.” Yazza duduk mengambil air mineral di depannya.


Ia melihat ke arah Vee.


Vee yang diam dari tadi langsung membuang muka.


Yazza mengirim sebuah pesan kepadanya.



Vee menatap tajam Yazza lalu berdiri berjalan keluar dengan enggan.


Yazza menghela nafas mengikuti.


“Kenapa menyuruh keluar, apa bedanya dengan bicara didalam?” toh mereka masih bisa melihat Vee dan Yazza dari dalam ruangan meeting full kaca itu.


Dari luar memang tidak akan jelas melihat kedalam. Tapi dari dalam, semua mata tertuju kepada mereka berdua.


Yazza mengeluarkan dompetnya, “Setidaknya mereka tidak mendengar.”


“Cihh!” membuang muka.


Memberikan dua kartu pada Vee.


“Aku tidak suka makan diluar. Masakan sesuatu untukku. Ini kartu apartemenku di dekat sini. Dan gunakan kartu kredit ini untuk belanja beberapa bahan makanan. Kamu masih ada uang untuk taksi online kan?”


Vee mendengus kesal, “Benar-benar seperti pesuruh!”


“Bukankah itu tugas asisten pribadi?” Yazza tersenyum mengejek.


“Sungguh merendahkanku sekali!” Vee merebut dompet Yazza.



Mengambil dua lembar uang kertas pecahan seratus ribuan, “Aku tidak membawa cash!” mengembalikan dompet Yazza.


Yazza tersenyum, kembali memasukan dompet ke saku celana.


“Jika tersesat lihat saja google map!”


“Cihh!” Vee berbalik dan langsung melangkah menjauh.


Ketika Yazza kembali masuk, semua mata yang tadinya melihat ke arahnya langsung memalingkan wajah dan pura-pura menyibukan diri.


Yazza mengabaikan dan kembali bersiap memulai meeting.


***



Daniel menelepon saat Vee sedang berbelanja.


“Kenapa ramai sekali di sana. Seperti di supermarket!” tanya Daniel.


 


“Memang di supermarket!”


“Hya, kenapa kabur dan malah bermain-main di sana?”


“Haiz, dia membuatku sangat menderita sekali! Membuktikan keseriusan dengan bekerja di kantornya? Cuih!” cibir Vee, “Diktator itu memperlakukanku seperti pembantu!”


“Hah?” Daniel terkejut.


Vee menghela nafas panjang, “Saya di Bandung sekarang.”


“Apa!” berdiri membelalakkan mata.

__ADS_1


Vee menjauhkan telepon dari gendang telinganya saat Daniel memekik.


“Bagaimana bisa sampai sana?”


“Mereka ada sidak ke kantor cabang. Sedang meeting sekarang. Dan Saya diminta berbelanja bahan makanan karena diktator itu begitu pemilih terhadap makanan.”


“Bahkan dia menyuruhmu berbelanja bahan makanan?”


“Memasak juga! Haiz…! Pokoknya sudah seperti pembantu di sini!”


Daniel makin tidak tenang, “Mau aku samperin ke sana?”


“Ah tidak! Tidak!” Vee menggeleng.


“Sebenarnya, ada yang ingin saya bicarakan kepada pak Daniel.” Lanjut Vee berucap dengan hati-hati.


“Apa?”


“Diktator ini menyuruh orang mengawasi Yve. Tapi saya merasa masih kurang percaya pada orang asing. Bolehkah saya meminta tolong pada pak Daniel untuk mengawasi Yve setelah pulang bekerja nanti?”


“Tentu saja!” jawab Daniel cepat.


Vee merasa sedikit lega, “Terima kasih pak.”


“Tapi kamu akan baik-baik saja di sana?”


“Saya akan baik-baik saja. Tapi jika saya sudah habis kesabaran, mungkin saya akan mencampur racun ke makanan ini nantinya.”


“Hya!” sentak Daniel.


Vee terkekeh, “Bercanda. Saya tidak mau dipenjara dan meninggalkan Yve sendirian.”


Menghela nafas lega, “Syukurlah masih punya otak!”


“Bapak pikir saya bodoh!” sentak Vee.


“Sudah mulai galak!” Daniel mencibir, “Cihh! Lebih baik aku segera menutup panggilan!”


Vee terkekeh pelan, “Hahaha! Pak, saya sangat meminta tolong tentang Yve.”


“Jangan khawatir. Serahkan padaku!”


Vee tersenyum, “Sekali lagi terima kasih.”


“Tentu!”


“Saya lanjut berbelanja dulu. Bapak jangan banyak ulah dan menyusahkan pak Didik di sana.”


“Kalau begitu saya akhiri. Sampai jumpa nanti pak!” pungkas Vee mengakhiri panggilan.


Daniel tersenyum tapi muram dalam hatinya.


Yazza membawa Vee jauh keluar kota saat ini.


Entah kenapa, Yazza semakin lama semakin meresahkan baginya.



Apartemen Yazza terlihat rapi dan bersih.


Sepertinya baru saja dibersihkan. Bau ruangannya sangat harum.


***


Pak Ardi kembali memberikan laporan tentang data diri Vee seusai rapat.


“Hanya sampai sini?” Yazza menyipitkan mata.


“Ya, tidak ada yang tahu dari mana nona Vee berasal. Entah dia melarikan diri dari masa lalu atau sengaja menjauh dan menghindar, kami masih belum menemukan motif jelasnya”


Menyipitkan mata, “Lalu?”


“Nona Vee tinggal di sebuah rumah susun kecil bersama bayinya dan itu sudah tanpa seorang suami. Orang-orang selalu mencibir dan mengucilkannya karena nona Vee dianggap sebagai wanita nakal yang hamil di luar nikah.”


Yazza mengernyitkan dahi, “Sesulit itukah hidupnya?”


“Dia diusir dari rumah susun pertamanya karena banyak suami-suami para penghuni rusun yang menggoda nona Vee. Setelah itu nona Vee menyewa perumahan kecil dan dia sudah bekerja di kantor cabang White Purple.”


“Kenapa masih saja ada orang-orang yang begitu diskriminatif terhadap hal-hal semacam itu. Bahkan mereka tidak tahu, kesulitan apa yang dialami orang yang mereka bicarakan.” Yazza cukup terbawa suasana mendengar kisah hidup yang sudah Vee jalani.


“Nona Vee dikenal sebagai wanita paling dingin di kantor sebelumnya. Dia jarang bicara pada rekan-rekannya, tapi dia selalu bertindak semaksimal mungkin dalam pekerjaannya. Karakternya begitu kuat sampai membuat orang lain segan untuk dekat dengannya.”


Yazza mengangguk membenarkan.


Vee memang sangat berkarakter sampai mampu membuatnya begitu ingin tahu tentang wanita itu.


“Selama bertahun-tahun ini, beliau membesarkan putrinya seorang diri. Tidak ada yang pernah tahu nona Vee pernah dekat dengan siapa. Semua pria yang mencoba mendekatinya akan berakhir dengan keputusasaan hingga mereka menyerah pada niatnya. Nona ini benar-benar cuek dan acuh kepada siapapun dan selalu tertutup tentang kisah masa lalunya.”

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya dia coba tutupi? Apakah mungkin dia mencoba menghindari ayah dari putrinya?”


Pak Ardi diam sejenak, “Itu juga yang sempat saya pikirkan. Mungkin dia trauma dengan masa lalunya dan hanya ingin menghindar untuk memulai semuanya dari awal kembali.”


“Cukup masuk akal jika luka masa lalunya ini membuatnya menjadi wanita yang sedingin itu.”


Yazza terdiam untuk beberapa saat.


“Tapi kenapa dia sedingin itu juga padaku. Sementara dia terlihat begitu hangat saat bersama Daniel.”


Menghela nafas panjang, “Pria mana yang sudah tega membuatnya menderita?” dengus Yazza frustasi.


Yazza berdiri merapikan jasnya, “Pasti ada celah untuk mengetahui lebih dalam tentang masa lalunya!”


“Tuan jangan khawatir! Kami akan tetap mencari tahu.”


Melihat jam tangan. Waktu menujukan pukul 12 lebih.



“Aku akan istirahat di apartemen. Kita akan kembali setelah petang.”


“Baik tuan!”


Yazza tersenyum mengingat jika dia akan segera menemui Vee.


Pak Ardi cengingisan, “Jika perlu sesuatu bisa langsung menghubungi saya.”


“Takutnya, jasa pak Ardi tidak akan dibutuhkan lagi untuk saat ini!” mendengus tersenyum lalu berjalan melewati pak Ardi.


Pak Ardi menahan senyum.


Dia ikut bahagia jika tuannya juga bahagia.


Sudah sejak lama, tuannya tidak seperti ini. Murah senyum dan bersikap lebih lembut dari biasanya.


***


Yazza mencium bau harum masakan begitu masuk ke apartemen.


Dia tersenyum melepas sepatu dan jasnya.


Vee hanya melirik sebentar saat dia masuk.


“Telur dadar gulung?” Yazza mendekat, mencuci tangan di wastafel.



Menghindar, tidak mau dekat-dekat dengan Yazza, “Dimana pak Ardi?” pura-pura menyibukkan diri memotong tomat.


Yazza kembali mendekat, “Biar kubantu!” hendak menyentuh pisau di tangan Vee.


Vee langsung meletakan pisau dan kembali membalik telur di teflon.


Yazza hanya mengangkat bahu, melanjutkan memotong tomat, “Masih ada yang harus dia kerjakan di kantor.”


Vee merasa risih sedekat ini dengan Yazza, “Bapak duduk saja di sana. Biar saya yang menyelesaikan!”


Yazza membalikan badan, mengambil sepotong telur dan mencicipinya.


“Enak sekali!”


Vee teringat sesuatu yang mampu membuatnya dadaanya begitu sesak.


Yunna sangat suka sekali dengan masakan ini.



Vee segera menarik piring di tangan Yazza.


“Buang saja masakan ini. Biar saya buat makanan yang lain!”


Yazza menahan lengan Vee, seolah dia sedang memeluk Vee dari belakang.



“Aku akan memakan yang ini!” desah nafas Yazza terasa sangat jelas di telinga Vee.


Segera dia mendorong tubuh Yazza dengan punggungnya sembari berkelit menghindar, “Jangan dekat-dekat!” Vee kesal.


Yazza tersenyum mencibir, “Bukankah kita sudah sangat mirip seperti pasangan suami istri yang baru menikah!”


“Jangan sembarangan bicara!” sentak Vee.


Yazza mendengus tersenyum, melewati Vee sambil membawa piring ke sofa depan Tv.


“Dia mau mati berkata seperti itu!” gerutu Vee lirih melanjutkan memasak sembari melirik tajam ke arah Yazza.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2