
Leo baru saja keluar dari lift.
Langkahnya terhenti seketika.
Dia membelalakkan mata terkejut saat melihat seorang wanita berdiri tepat di depan pintu apartemen tempat dia tinggal.
Berli yang sudah menunggu dari tadi langsung tersenyum ramah sembari menenteng rantang di tangannya.
“Hi!” sapa nya berdiri tegak menatap Leo.
Melihat ke sekeliling, “Kenapa kamu bisa ada di sini?”
Tersenyum berjalan mendekat, “Aku ke sini untuk memberikan ini …,” menyodorkan rantang, “sebagai rasa terima kasihku … aku sengaja memasak spesial untukmu!”
Menyipitkan mata, “Memasak? Itu tidak perlu!”
“Hya … aku sudah berdiri di sini lama sekali! Kakiku pegal! Setidaknya ijinkan aku masuk untuk duduk dulu dong!”
“Hya … haiz!” Leo mendengus membuang muka, malas menanggapi.
“Heh … aku sudah berniat tulus datang ke sini untuk memberikan makanan … setidaknya hargai niat baikku!”
“Nyonya Gionio sudah membayar, masalahmu juga sudah selesai … kurasa hal-hal seperti ini di luar pekerjaan. Lebih baik bawa pulang lagi saja!”
Berli manyun langsung jongkok di depan pintu, masih memegang rantang.
“Hya! Apa yang kamu lakukan!” sentak Leo.
“Aku tidak akan pergi sebelum kamu menerima ini!”
Leo bertolak pinggang menghela nafas panjang sembari membuang muka.
“Aku akan di sini sampai pagi!” lanjut Berli menegaskan.
“Oke … baiklah! Aku akan menerima makanan ini!” membungkuk untuk menarik rantang yang Berli pegang.
Wanita itu mendongak tersenyum masih pada posisinya.
“Sekarang pergilah! Istriku di dalam akan marah jika tahu ada wanita lain di sini!”
Berdiri mencibir, “Cuih … bohong! Kata Vee kamu belum menikah, dan kamu tinggal seorang diri di sini!”
“Jadi nyonya Gionio yang memberitahukan kepadamu jika aku tinggal di sini?” tanya Leo sedikit memiringkan kepala.
Mengangguk, “Tentu saja!”
Sekali lagi Leo menghela nafas panjang. Tapi kali ini dia terlihat pasrah dan tidak berani menyalahkan tindakan Vee yang sembarangan memberikan alamat kediamannya pada orang lain.
“Bagaimanapun juga, aku harus berterima kasih karena bantuan mu!” Berli tersenyum memegang kalung berlian yang di berikan secara cuma-cuma dari pihak took atas permintaan maaf mereka kepada Berli.
“Iya! Sekarang pulanglah! Sudah malam!”
Mencibir, “Baiklah! Aku akan pulang!” menyingkir melewati Leo.
Leo hanya mendengus. Tanpa peduli lagi, dia mengeluarkan akses card-nya untuk membuka pintu.
Klik!
Tepat saat Leo memegang gagang pintu, dengan gesit Berli menyelinap mendorong pintu dengan tubuh untuk mendahului masuk.
“Hya!” sentak Leo memprotes.
Lampu otomatis menyala, Berli terperangah terkejut melihat isi apartemen yang dominan dengan warna hitam dan putih.
“Woah! Rapi sekali! Apakah benar kamu seorang pria?” langsung masuk sembari melihat-lihat.
“Heh! Keluar! Ini namanya pelanggaran privasi!” masih berdiri di dekat pintu.
Dengan cuek Berli duduk di sofa, tersenyum mengejek sembari memeluk bantal.
“Haiz! Astaga … dia benar-benar gila!” desis Leo kesal.
Tidak ingin membuat keributan, akhirnya dia mengalah.
Leo menutup pintu, melepas sepatu, lalu berjalan masuk.
__ADS_1
Diletakkannya rantang ke meja pantry.
Berli langsung berdiri kembali, “Aku bantu menyiapkan makanan di piring!” tersenyum riang setengah berlari ke pantry.
“Terserah kamu saja! Aku mau mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu!” cuek berjalan menuju kamarnya.
Berli tersenyum mengangguk mulai mengeluarkan makanan dari rantang.
...***...
Tisya menggandeng lengan Daniel selama mereka di showroom furniture.
“Semua yang kamu pilihkan memang sangat sesuai dengan seleraku! Sepertinya kamu memang sangat berbakat dalam bidang ini!” puji Tisya manja.
Tersenyum ramah, “Memahami keinginan pembeli adalah yang paling utama!”
Balas tersenyum, “Oh iya … kata mama kamu … kamu baru saja membeli apartemen ya?”
“Emb … iya! Mau belajar mandiri tinggal sendiri.”
“Oh ya? Kamu memang sangat menarik ya!”
Tersipu, “Ah … jangan melebih-lebihkan!” tersenyum menundukkan kepala.
“Selama rumahku masih di renovasi, bolehkah aku tinggal di apartemen mu? Tidak enak juga jika harus berlama-lama tinggal di rumah kakakku! Terlebih ada Gerry juga di sana!”
Deg!
Hah?
Aku harus menjawab apa?
Apartemen itu kan sengaja aku persiapkan untuk pertemuanku dengan Vee!
Jika Tisya tinggal di sana, aku tidak bebas dong?
Menyipitkan mata melihat perubahan wajah Daniel, “Emm … maaf! Tidak boleh ya? Maaf ya kalau aku lancang,” menunduk sedih.
Daniel merasa bersalah, “Emb … bu … bukan begitu. Boleh kok! Boleh!”
Tersenyum menatap Daniel, “Wah, sungguh! Terima kasih ya!” menyandarkan kepala ke bahu Daniel.
Batin Tisya tersenyum licik dalam hati.
“Emb, mau makan malam?” tanya Daniel sedikit tidak nyaman sedekat itu dengan Tisya.
Mengangguk, “Boleh! Di mana?”
“Di mana saja kamu suka!”
“kebetulan aku ada restaurant favorit. Kamu pasti juga akan suka dengan menunya!” Tisya antusias.
...***...
Leo keluar dengan pakaian santai.
Berli sudah menyiapkan semua makanan ke piring.
“Eh, kamu suka warna putih ya?” tersenyum melihat kaus yang Leo kenakan.
Leo tidak menjawab, dia langsung duduk di dekat meja pantry.
Berli menyodorkan piring berisi nasi goreng di hadapan Leo.
“Tadi aku berbelanja dan sengaja memasak ini semua untukmu!” kali ini menyodorkan telur dadar gulung dan sayuran.
“Buang-buang waktu saja!” mengambil sendok.
“Karena aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa!” manyun.
“Dengan ucapan saja sudah cukup!”
Leo menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Seketika wajahnya berubah, dia berhenti mengunyah dan langsung menelan makanannya.
Melihat ekspresi Leo membuat Berli menyipitkan mata, “Apa ada yang salah?” tersenyum polos, “Bagaimana? Enak kan?”
__ADS_1
“Apa kamu tidak mencicipi dahulu makananmu?” mengambil satu sendok lagi.
Menggeleng,”Ini pertama kalinya aku memasak!”
Menatap Berli kesal tanpa kata-kata.
“Aku sudah mengikuti semua petunjuk dari YouTube, aku yakin ini pasti enak!” tersenyum pongah.
Leo berdiri menahan kepala Berli, dengan gerakan cepat dia memaksa Berli untuk memakan sesendok nasi yang di sodorkan ke mulutnya.
“Hya!” protes Berli.
“Buka mulutmu!”
Berli menurut menyantap makanannya.
Begitu makanan itu masuk, dia langsung mengernyit membalikan badan memuntahkan makanan ke wastafel.
“Wlekkkk! Asin sekali!” mencuci mulut dengan air keran.
Leo tersenyum mencibir melihat dari belakang, “Setidaknya cicipi dahulu sebelum memberikan makanan ke orang lain!”
Membalikan badan menatap memprotes, “Hya! Tadi kamu menelannya … itu asin sekali! Jangan di makan lagi!”
Mencoba menahan senyum, “Hanya menghargai ‘niat baik’ mu,” member tekanan di akhir kalimat.
“Itu menipuku namanya!”
“Hya … aku yang dirugikan di sini!” cibir Leo bertolak pinggang.
Kruk … krucuuukkk ….
Leo menatap perut Berli yang berbunyi.
Wajah wanita itu memerah, salah tingkah membuang muka.
“Hya … kamu sendiri kelaparan tapi mau memberi makanan ke orang lain!” menyipitkan mata, “Aku semakin yakin, kamu sengaja mau memberiku makanan tidak enak ini kan?”
Berli bertolak pinggang menatap Leo memprotes, “Hya … aku tidak makan karena semua bahan makanan yang aku beli kumasakkan untukmu!”
Leo mendengus menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum tipis melihat jam di layar handphone, “Ikut aku!” berdiri menatap Berli.
“Kemana?”
“Membuatmu pergi dari sini!” berjalan mengambil jaket.
“Hya … aku sungguh tidak sengaja dengan masakan itu! Kamu mau mengusirku?” Berli manyun mencibirkan bibir.
“Jangan berisik! Ikut saja atau ku laporkan ke polisi karena sudah sembarangan masuk ke rumah orang tanpa ijin!” berjalan menuju pintu.
Terperangah ketakutan, “Hya … jangan! Oke-oke! Aku akan pergi,” melihat Leo mengambil kunci mobil, “Kamu mau mengantarku?”
“Hmmm!”
Tersenyum riang.
Buru-buru Berli mengambil tas dan mengenakan sepatunya.
...***...
Leo mengajak Berli ke sebuah restaurant.
“Hya! Aku tidak punya uang,” desis Berli lirih.
“Aku yang membayar!” ucap Leo datar.
Tersenyum riang menggoyang-goyangkan lengan Leo, “Sungguh? Woah! Yes!”
“Aku akan minta ganti setelah kamu punya uang!”
Menghentakkan lengan Leo kesal, “Hya!” Berli melihat sekeliling, “Haiz … pasti makanannya mahal-mahal!”
Tisya memiringkan kepala membuang muka, menutup wajah dengan sebelah tangan.
“Kamu kenapa?” tanya Daniel menyipitkan mata.
“Emb … sepertinya aku tidak sengaja menjatuhkan sesuatu. Bukan apa-apa kok … hanya tissue,” jawab Tisya tersenyum menatap Daniel, lalu melirik ke arah Berli yang terus berjalan.
Kenapa dia bisa bersama Leo?
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...