RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
ALASAN UNTUK BERTAMU


__ADS_3

Melihat Vee yang tampak curiga, Yazza segera memikirkan sesuatu untuk menutupi arah pembicaraan.


Dengan seolah terkejut, pria itu tampak menepuk keningnya pelan, "Astaga … maaf kek! Yazza lupa kalau kita ada janji dengan Mr. Bald malam ini," tersenyum menatap Vee, "Karena calon istriku ini sudah bersusah payah membuat makanan sebanyak ini, bagaimana jika aku mencobanya dulu, baru kita bisa pergi?”


Tanpa sepengetahuan Vee, Yazza mengkerlingkan mata kepada kek Gio.


"Ah, benar … oke baiklah! Kalau begitu kakek akan menunggu," kek Gio tersenyum menatap Yazza dan Vee secara bergantian bergantian.


"Tunggu! Makan malam dengan Mr. Bald? Tidak mengajak aku dan Yve?" tanya Vee polos.


Kek Gio mendekat, mengelus lengan Vee, "Ini acara pertemuan para laki-laki … semacam acara pesta lajang! Sebentar lagi Yazza akan menikah denganmu, kami orang-orang terdekat Yazza hanya melakukan kebiasaan kami!"


"Pesta lajang?" Vee menyipitkan mata, "Hya … kakek sudah tua, apakah akan ada minuman juga di sana?"


Terkekeh, "Hahaha! Kakek juga sadar jika kakek sudah tua … kakek tidak akan minum!"


Memicingkan mata, "Janji?"


"Hya! Kenapa kamu lebih bawel dari almarhumah menantuku dahulu?" cibir kek Gio.


Vee mendengus tersenyum, "Hya! Vee cuma mengkhawatirkan kesehatan kakek!"


"Jangan khawatir! Pak Karno sering menipuku saat aku sangat ingin minum! Dia selalu mengisi botol dengan minuman berenergi … dengan bodohnya, kakek percaya saja jika itu adalah minuman dengan rasa baru! Hahaha," kembali terkekeh menertawakan dirinya sendiri.


Vee ikut terkekeh menutup mulutnya, "Kalau begitu Vee merasa sedikit tenang. Kakek sudah memiliki penjaga yang begitu cerdas!"


Yazza tersenyum menatap Vee yang terlihat begitu akrab dengan kakeknya.


"Cerdas apanya! Aku selalu ingin memecat dia! Hahaha," canda kek Gio.


"Vee akan bicara pada pak Karno dan berpesan supaya dia mengawasi kakek malam ini," Vee cengengesan.


"Hya! Dasar anak ikan," Cibir kek Gio, "paling tidak biarkan aku mencobanya lagi, seteguk saja!"


Menggeleng, "Nggak boleh!"


Yazza mendengus menertawakan, "Ya sudah aku ke atas dulu!"


Vee mengangguk, "Cepat turun lagi!"


"Iya!" Mencibir, "Kakek benar, dia memang lebih bawel dari ibuku!"


"Cih!" Mencibir menyilangkan tangan di depan perut.


"Kalian mau bersekongkol melawanku?" lanjut Vee dengan bibir manyun.


Kek Gio menggeleng, "Apapun itu, aku tetap di pihak Vee! Kalau perlu, kakek juga akan lebih bawel menghadapi Yazza," tersenyum mencibir menatap Yazza.


"Hya! Aku cucu kandung kakek loh," protes Yazza.


"Shhh! Sudah cepat mandi sana," usir Vee sambil mengolok-olok.


Kek Gio tersenyum lalu senyum itu perlahan pudar saat berisyarat mata menatap Yazza.


Beliau ingin supaya Yazza bergegas.


...***...



Gerry menunduk menopang kepala dengan kedua tangan.


Tasya menghampiri masuk ke kamar Gerry.


Dengan lembut dia mengelus punggung adik iparnya, "Aku tahu ini pasti berat untukmu!"


"Kenapa mereka memilihku untuk menjalankan tugas ini? Mereka masih berniat menghukum ku?" gerutu Gerry.


"Kamu tidak sendiri! Jadi jangan khawatir … kami pasti akan selalu berdiri di belakangmu!"


"Sya! Kejadian Raya saja masih membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak! Aku tidak bisa terus menerus melihat orang mati di hadapanku … dan mereka … mereka justru memintaku mengurusi tentang hal ini! Gila!" menggeleng frustasi.


"Ambil sisi positifnya! Mereka mengakui kamu secara resmi … setelah ini perusahaan mu pasti akan lebih maju," mencoba menghibur Gerry.


Pria itu terdiam untuk beberapa detik, lalu menatap Tasya menyipitkan mata, "Tunggu … apa itu artinya, aku juga boleh memulai 'genjatan senjata' ke Teratai Putih?"


Tersenyum, "Selama kamu bisa menjalin hubungan baik dengan kelompok lainnya, kamu pasti akan bisa mengalahkan Teratai Putih dengan mudah!"

__ADS_1


Tersenyum sinis, "Kalau begitu aku bersedia belajar berjalan di jalan ini!"


Tasya tersenyum lega mengelus punggung Gerry, "Satu hal lagi yang harus kamu lakukan!"


Menyipitkan mata, "Apa?"


"Buat Caesar supaya lebih dekat lagi denganmu! Jika sampai terjadi sesuatu padanya, kamu yang harus bertanggung jawab. Dia masih kecil, akan banyak pesaing yang mungkin akan mengincarnya. Jadi, pikirkan tentang bagaimana membuat dia tetap aman dan terlindungi."


Tampak berpikir, "Benar! Tapi bagaimana?"


"Aku akan mulai menyuruh Mr.X untuk terus mengikuti Caesar!" Tasya melihat kosong lurus ke depan.


"Lalu, bagaimana dengan Tisya? Dia sepertinya masih tidak terima?"


Wanita itu tersenyum meski cukup berat, "Dia masih tidak rela karena Strom adalah milik keluarga kami. Jangan terlalu dipikirkan, aku akan berbicara padanya!"


Menghela nafas panjang, "Sepertinya aku juga harus berbicara padanya!"


...***...


Pak Ardi datang untuk menjemput kek Gio dan Yazza.


Dia melihat tuannya masih duduk di ruang makan.



"Wah, nyonya Vee masak banyak sekali?" Pak Ardi tersenyum mendekat.


"Eh pak Ardi, sini cobain juga deh," Vee tersenyum mempersilahkan.


"Ah … saya sedang mengurangi makan makanan berlemak," pak Ardi tersenyum meringis.


"Nah, dengar! Sepertinya kamu juga harus membuat makanan sehat di dalam menu mu!" Yazza mencibir.


Pak Ardi menyipitkan mata, "Menu?"


"Emb, aku lupa belum bilang ke pak Ardi. Dia bilang, dia mau membuka restauran!"


"Eh, taruh saja di dekat apartemen Teratai Putih!" Saran pak Ardi.


"Bisa sih … tapi dia harus menyelesaikan proposal nya terlebih dahulu!"


Pak Ardi mendengus tersenyum, "Sepertinya nyonya Vee harus mulai bisa belajar sabar menghadapi tuan Yazza. Bisa jadi … nanti ketika nyonya Vee mau membeli pakaian saja harus membuat laporan terlebih dahulu," goda pak Ardi.


"Hya! Aku tidak separah itu!" protes Yazza.


Vee tersenyum mendengus,"Kalau aku tidak sabar sejak lama, pasti aku sudah meninggalkannya!"


"Ardi … kamu sudah datang?" kek Gio berjalan dituntun pak Karno.


"Emb, tuan besar," memberi salam hormat.


Melihat ke arah Yazza, "Sudah siap berangkat?"


Yazza melihat ke arah Vee, "Aku harus pergi sekarang!"


"Jangan mabuk! Nanti sembarangan berjalan di tengah jalanan lagi," sindir Vee.


Mendengus mencibir.


Vee melihat ke arah pak Karno, "Ingat pak! Jaga kakek supaya tidak sembarang minum-minum!"


Pria itu tersenyum ramah, "Tentu saja! Itu memang sudah tugas saya!"


Kek Gio mencibir, "Yazza carikan aku orang yang lebih longgar saat menjagaku!"


Pak Karno tersenyum menggelengkan kepala.


"Cuma pak Karno yang bisa bertahan menghadapi kakek! Jadi terima saja," Yazza berdiri setengah tersenyum.


"Haiz!" Kek Gio tersenyum tipis melirik pak Karno, tangan kanannya sejak dahulu.


"Ya sudah, kita langsung pergi saja. Biar tidak kemalaman pulangnya," Yazza melihat jam dinding.


"Ah benar, jangan terlalu larut pulangnya!" Vee menatap semua orang secara bergantian.


Yazza tersenyum mengusap kepala Vee lembut, “Jangan khawatir!"

__ADS_1


...***...


Beberapa saat setelah kepergian Yazza dan kek Gio, bi Imah datang menemui Vee untuk memberitahukan jika ada tamu.


"Siapa bi?" tanya Vee sembari menutup pintu kamar dari luar.


"Tiga orang, yang satu masih anak-anak! Sedang ngobrol dengan Yve sekarang!"


"Ah teman Yve?"


"Mungkin!"


"Ya sudah kita turun deh," Vee tersenyum menggandeng lengan bi Imah sedikit manja.


Vee terkejut melihat siapa yang datang.


Senyumnya merekah melihat Hirza, Hans dan Xean di ruang tamu.



"Senior buaya!" bergegas dia setengah berlari untuk mendekat.


Dania terus mencuri pandang melihat Hirza.


Pria ini tampan sekali!


Apa dia selingkuhan ibu Vee itu?


Batinnya bertingkah genit dengan terus memegangi rambut panjangnya.


Hirza tersenyum menatap Vee, "Kok sepi … pak Yazza mana?"


"Ah … orang-orang sedang ada acara di luar!" duduk di sebelah Xean, "Hi sayang … kok nggak ngasih tahu tante dulu kalau mau datang?"


Tersenyum, "Sudah … tapi nomor tante tidak bisa dihubungi," anak itu menunduk sedih.


Vee tersenyum cengengesan, "Ah benar! Maaf ya … tante menonaktifkan handphone!"


"Kemaren Xean bertemu Yve di tempat latihan, katanya tante dan Yve sudah pindah rumah, jadi Xean berencana berkunjung!"


Melihat parcel di meja, "Ini Xean yang bawa?"



Xean mengangguk.


Mengelus kepala Xean, "Ah terimakasih sayang!"


Anak itu menjadi tersipu salah tingkah.


Hans mencibir mengacak-acak rambut Xean, "Yee … kalau nona Vee saja tidak marah!"


Xean melotot menatap Hans.


"Kak Xean, mau lihat koleksi kerang Yve?" tanya Yve antusias.


Mengangguk, "Boleh!"


"Kakak temani ya!" Hans bersemangat.


"Nggak jangan dibolehin!" cibir Xean.


Yve tersenyum, "Boleh kok!"


Menjulurkan lidah mengejek Xean.


"Cih! Dia tukang minta … hati-hati ya Yve!" ejek Xean melirik sinis Hans.


Yve cekikikan sambil berdiri, "Ayo kak Xean!"


"Mbak Dania temani mereka ya!" pinta Vee.


Dania tersenyum mengangguk, menatap Hirza lalu berbalik mengikuti Xean dan Yve.


Hans mengkerlingkan mata kepada Hirza sebelum mengikuti Xean dan yang lain.


Hanya tinggal mereka berdua di ruang tamu sekarang.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2