RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TENGGELAM DALAM EMOSI SESAAT


__ADS_3


Hans yang baru pulang, bersiul santai berjalan menuju ruang tamu.


Hirza menoleh mencibir melihatnya.


“Eh, mas bro! Tumben jam segini sudah di rumah?” Hans melihat Xean yang memunggunginya berusaha menyembunyikan muka.


“Sudah menemui mas Rudi?” tanya Hirza.


Mengangguk, “Eh … tuan kecil kenapa bertingkah aneh?” Hans masih fokus melihat Xean yang tidak mau melihat ke arahnya.


Hirza menghela nafas panjang sembari berdiri.


“Aku tunggu di ruang kerja!” ucap Hirza santai, berjalan meninggalkan ruang tamu.


Hans mencibir mengangkat bahu.


“Hei … bocah! Kamu kenapa,” menyentuh punggung Xean.


Xean menampik lengan Hans, menyembunyikan wajah di balik bantal sofa.


Cengengesan, “Cie … pasti abis nangis gara-gara dimarahi papa ‘kan?” goda Hans.


“Tidak! Pergi sana temui papa … jangan pedulikan aku!”


“Cih mencurigakan sekali!” berusaha merebut bantal Xean, “Apa yang kamu sembunyikan!”


“Hya pergi saja sana!” berusaha menahan bantal.


Hans menggelitik Xean sampai Xean tidak tahan lagi karena kegelian.


“Hya! Geli mas!” Xean terkekeh memukul-mukul lengan Hans.


Menarik bantal.


Seketika tawa Hans pecah menggelegar begitu melihat wajah bengep Xean.


“Hahaha! Berkelahi lagi di sekolah baru?” cibir Hans.


Melempar Hans dengan bantal lain, “Pergi sana!”


Mengusap rambut Xean, “Jadi … kali ini langsung dikeluarkan atau masih diperingati saja?” goda Hans.


Menyentakkan lengan Hans sambil manyun kesal, “Bukan aku yang memulai!”


“Ah, jadi ada yang mau mem-bully kamu?”


“Belain dong!”


Mencibir, “Cih … mas Hans tidak akan melawan anak SD! Hiii … turun image nantinya! Dah ah … mas mau menemui papa,” dengan gemas kembali mengusap kepala Xean.


“Hya … sudah aku bilang jangan begitu!” Xean kesal.


Hans hanya cengingisan terus berjalan menuju ruang kerja Hirza.


Hirza duduk santai di sofa membaca majalah saat Hans masuk.


“Jadi, apa kata mas Rudi?” tanya Hirza datar.


Duduk menghela nafas, “Huh … ‘bayangan mata’ masih belum menyerah untuk memulihkan server!“


“Mereka sungguh ingin menemukan kamu?” melirik Hans kesal.


Hans menunduk merasa bersalah, “Maaf!”


“Lain kali jangan bertindak sembarangan!” tegur Hirza.


“Kenapa malah jadi dimarahi lagi? Kan katanya sudah tidak mau memarahi dan mau membantu,” cibir Hans.


“Hya … kurang dibantu apa lagi? Lagipula aku tahu apa maksud kamu … aku tidak menyalahkan kamu! Hanya saja … jangan asal bertindak! Aku cuma menasehati.”


Manyun, “Iya-iya maaf!”


“Jadi Shadow masih berpikir jika kecelakaan Yazza ada campur tangan dari Strom?” Hirza menyipitkan mata.


“Itu sebabnya Shadow masih tidak mau menyerah untuk mencari tahu melalui rekaman CCTV jalan!”


Hirza kembali menghela nafas panjang, “Entahlah … aku tidak tahu lagi! Ini juga kesalahanku sebenarnya!”


“Lagipula … kenapa tidak menghadapi nona Vee sejak dulu?” Hans terlihat sedih saat bertanya.


“Kemunculanku ini adalah sebuah kesalahan! Seharusnya aku tidak perlu ikut campur secara langsung! Ini akibatnya jika seseorang tenggelam dalam emosi sesaat!”


Hans menatap Hirza dengan tatapan frustasi.


Antara tidak setuju dengan pendapat Hirza, tapi membenarkan kalimat akhirnya.


Membuatnya menjadi bingung sendiri sampai tidak bisa berkata-kata.


“Kuberitahu padamu … ajarkan juga kepada Xean! Dalam keadaan apapun, harus selalu tenang dan berpikir dengan jernih! Jangan mengulangi kesalahanku ini,” Hirza tersenyum tipis.


Hans tampak semakin sedih sekarang, “Ini sudah puluhan tahun! Aku masih tidak paham, kenapa mas bro justru menyulitkan diri sendiri sampai sejauh ini?”

__ADS_1


Tersenyum menggeleng, “Aku tidak ingin menyeretnya masuk kedalam neraka!” mencibir pada dirinya sendiri, “Apa bedanya aku dengan seorang psikopat?”


Hans hanya menarik nafas panjang lalu menghempaskannya.


Tidak berani lagi dia menjawab atau menanggapi pembicaraan Hirza.


...***...



Pak Ardi sudah berada di rumah sakit ketika Vee dan Yve hendak pamit pulang.


Jam Sembilan malam sekarang.


“Maaf pak Ardi, malam ini saya harus pulang! Kasihan Yve kalau diajak menginap di sini,” Vee menggandeng Yve yang sudah terlihat sangat mengantuk.


“Saya akan menjaga tuan Yazza nyonya. Jangan khawatir!”


“Lagipula besok pagi sudah boleh pulang kok! Jangan khawatir” sahut Yazza.


Mencibir, “Siapa yang mengkhawatirkan kamu? Ya sudah kami pulang dulu ya!”


“Yakin tidak mau diantar pak Ardi?” tanya Yazza.


“Tidak! Driver taksi online sudah menunggu di bawah!”


“Ah … baiklah! Hati-hati,” pesan Yazza.


Yve tersenyum melambai, “Semoga cepat sembuh papa!”


Yazza hanya mengangguk tipis.


...***...


Pak Didik dan Daniel baru keluar dari lobby kantor.



“Ah capek sekali! Kenapa harus lembur sih,” cibir Daniel menguap sambil meregangkan otot pinggang.


“Gara-gara kamu lah!” pak Didik mencibir, “Heh … ini memang perusahaan papamu! Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya keluar masuk kantor pada jam kerja!”


Menatap pak Didik memicingkan mata, “Aku merasa … sepertinya pak Didik ini adalah ayahku di kehidupan sebelumnya!”


“Hya! Masih saja bercanda,” memasang sikap hendak memukul Daniel.


Daniel cengingisan, mundur menghindari tangan pak Didik, “Lagian kan sudah aku bilang … tadi itu mendesak sekali!”


“Hya! Vee itu akan menjadi istri orang!”


Pak Didik melotot bertolak pinggang, “Hya … haiz … anak ini benar-benar!”


Daniel kembali terkekeh, “Hahaha … jangan merusak mood deh!”


“Mood! Mood! Marmut … mahmud?” cibir pak Didik kesal.


Daniel mencibir tersenyum mencemooh, “Dih ngelawak!”


“Lagian ada-ada saja,” menurunkan kedua tangan.


Daniel terkekeh menertawakan.


Pak Didik menghela nafas panjang, kembali teringat kata-kata Vee.


Daniel menyipitkan mata, “Kenapa? Marahan sama istri … takut pulang ke rumah?” goda Daniel.


“Benar-benar minta dipukul anak ini!”


Daniel cengengesan.


“Hya … aku tidak tahu ini masih bermanfaat atau tidak! Tapi ada sesuatu yang seharusnya kamu tahu!”


Daniel menyipitkan mata, “Jangan bilang pak Didik memang menjual aku saat masih bayi kepada kedua orang tuaku ya?”


“Daniel … serius deh!” pak Didik kesal.


Daniel malah kembali cengengesan, “Iya-iya maaf,” menatap pak Didik, “Apa memangnya?”


“Aku dan Vee berbincang waktu itu … dia mengakui sesuatu yang cukup mengejutkan!”


Daniel kali ini tampak diam, menyipitkan mata memperhatikan pak Didik.


“Sebenarnya Vee juga sudah lama menyukaimu … bahkan sejak dia masih magang di kantor ini!”


Seketika bahu Daniel turun begitu mendengarnya.


Dia terdiam tidak bisa berkata-kata.


“Dia kembali mendaftar di kantor cabang White Purple dan bekerja keras agar dipromosikan ke kantor pusat dengan harapan bisa kembali bertemu denganmu!”


Daniel mengepalkan kedua tangannya.


“Tidak beruntungnya, dia malah kembali dipertemukan dengan pak Yazza. Dan karena putrinya itu, mau tidak mau dia memang harus menikah dengan pak Yazza!”

__ADS_1


Udara di sekitar Daniel terasa semakin menyesakkan.


“Bukan pak Yazza yang ada dihatinya! Bahkan jauh sebelum Yve ada … tanpa kamu sadari … kamulah yang sudah menempati ruang hatinya!” ucap pak Didik lembut.


Tanpa kata-kata Daniel langsung membalikan badan, berlari ke arah parkiran.


Pak Didik menghela nafas panjang, hanya melihat tanpa beranjak dari tempat dia berdiri.


Sudah tidak mengejutkan jika Daniel akan seperti itu begitu mengetahui kebenarannya.


...***...



Vee baru saja menutup pintu kamar Yve begitu putrinya sudah tertidur.


Bel pintu berbunyi.


Vee menyipitkan mata.


Sudah terlalu larut jika ada seseorang yang hendak bertamu.


Orang yang membunyikan bel sepertinya sangat tidak sabar.


“Berisik sekali!”


Gerutu Vee mendekat ke pintu.


Ia cukup terkejut melihat ke layar CCTV pintu.


“Pak Daniel?” menyipitkan mata, sembaru membuka pintu.


Daniel memang terlihat begitu gelisah dan tidak tenang.


Begitu pintu dibuka dan melihat Vee di hadapannya, Daniel langsung mendorong kembali masuk ke dalam apartemen.


Menutup pintu … membalikan tubuh Vee mengunci geraknya di sana.


Daniel berdiri dalam diam menatap Vee begitu dalam.


“Hya! Pak Daniel mabuk?” desis Vee takut membangunkan Yve.


“Katakan! Kamu juga menginginkan aku ‘kan?”


Kali ini Daniel terlihat sangat serius, nadanya setengah berbisik.


Membuat Vee menjadi salah tingkah tidak berkutik.


“Pak Didik sudah mengatakan semuanya! Jangan menyangkalnya lagi!” ucap Daniel cukup mencengangkan.


Dia tidak pernah terlihat begitu mempesona seperti yang dia tunjukan saat ini.


Vee menelan ludah menatapnya.


Daniel menurunkan tatapan, melihat ke bibir Vee.


“Kenapa pak Daniel menggodaku seperti itu?” Vee mencengkram ujung sisi bajunya sendiri, matanya nakal ikut turun menatap bibir Daniel.


“Siapa yang sebenarnya sedang memancing menggoda dari tadi siang?” desis Danie nyaris tidak terdengar suaranya.


Vee memejamkan mata mengumpulkan keberanian sembari menarik nafas panjang.


Detik berikutnya, dia langsung menarik tengkuk leher Daniel, mendekatkan kepala untuk mendapatkan bibir Daniel.


Daniel yang tidak mau kalah langsung melingkarkan sebelah tangan ke pinggang Vee dan sebelahnya lagi menahan tengkuk leher Vee.


Tidak akan dia biarkan lepas.


Keduanya semakin tenggelam sampai tidak bisa mengendalikan diri lagi.


Semakin lama, menjadi semakin panas saja.


Mereka mundur ke belakang, menuju sofa tanpa melepaskan dekapan sembari terus mengadu bibir.


Decitannya terdengar sangat jelas saat keduanya menghempaskan tubuh.


Vee duduk dipangkuan Daniel, sembari terus mengecupnya.


Tangannya mulai liar melepas satu per satu kancing kemeja Daniel.


Vee juga menurut mengangkat kedua tangan saat Daniel menarik bajunya ke atas.


“Pak Daniel jangan di sini!” desis Vee menahan lengan Daniel yang baru saja berhasil melepas pengait di belakang punggung Vee.


Daniel menoleh ke arah pintu kamar Yve.


“Ah … maaf!” desisnya.


Vee tersenyum sipu.


Berdiri langsung menarik Daniel menuju kamarnya.


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2