RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KONTRAK


__ADS_3


Paradise.


Hirza baru selesai meeting dengan para manager kantor.


Begitu dia kembali ke ruang kerja, rasanya sudah tidak mengherankan jika dia melihat dua remaja berseragam tengah asik bermain game online.



“Beraninya bolos dan malah muncul di depan mataku?” menaruh laptop di atas meja.


“Kali ini kami tidak bohong mas bro! Kami semua dipulangkan pagi-pagi!” sambil tiduran Hans fokus dengan layar handphone.


Menyipitkan mata, “Kenapa begitu?”


“Ada salah satu guru yang mengalami kecelakaan dan meninggal. Guru-guru dan staff pergi melayat!”


“Bukan kalian yang merencanakan kecelakaan itu agar kalian bisa pulang pagi?”


“Hya!” Kali ini Hans menatap kakaknya memprotes, “Tega sekali menuduh kami sepicik itu!”


Tersenyum, “Ingat! Kita semua bukan orang baik!”


Mencibir, “Cih! Dipaksa menjadi jahat lebih tepatnya!”


Ozzy duduk tegak menatap Hirza, “Oh iya bos! Pak Rudi langsung mengambil tindakan semalam!”


Hirza menyipitkan mata menatap Ozzy penuh tanda tanya.


“Tindakan apa?”


“Tentang wanita itu!”


Hirza terdiam mengepalkan tangan menunduk menatap kosong ke atas meja.


Ozzy melihat perubahan wajah bosnya. Dia menyenggol lengan Hans yang masih asik bermain.


“Sttt! Hya!” desis Ozzy.


“Apa?” Hans melongok.


Berisyarat kepala menunjuk Hirza.


Begitu melihat kakaknya tampak muram, Hans bergegas duduk meletakkan handphonenya.


“Mas … ada yang salah?”


Menggeleng lalu menatap Ozzy, “Jadi apa yang akan di lakukan mas Rudi?”


Mengangkat bahu, “Saya hanya mengikuti perintah Hans, diam-diam saya mengawasi dan melihat jika orang-orangnya mas Rudi langsung membawa wanita itu!”


“Tidak di sangka secepat itu!” kembali menunduk muram.


“Apa mas sedang menghawatirkan wanita itu?” tanya Hans.


“Jangan sembarangan bicara!” tegur Hirza tapi dengan nada lemah dan datar tanpa menatap Hans.


“Lalu? Apa yang membuat mas bro terlihat berat hati?”


“Jika mas Rudi sampai tahu, aku sudah banyak melakukan hal untuk Vee … apa yang akan mas Rudi lakukan padanya?”


Mendengar pertanyaan itu, membuat Hans ikut menunduk sedih, “Mas jangan terlalu memikirkan hal itu! Kami tahu apa yang harus kami lakukan!”


“Itulah kenapa aku selalu mewanti-wanti kalian agar selalu berhati-hati dalam masalah yang menyangkut Vee!”


“Mas … aku minta maaf!” ucap Hans lesu.


“Kenapa tiba-tiba meminta maaf?”


“Aku banyak menuntut akhir-akhir ini … dan aku tidak berpikir sampai ke sini! Mulai sekarang, aku janji aku akan lebih berhati-hati!”


Hirza tersenyum menata adik angkatnya, “Kamu tahu kalau aku selalu percaya padamu kan?”


Hans mengangguk masih tidak berani menatap Hirza.


“Sudahlah! Intinya tetap pantau saja apa yang akan mas Rudi lakukan selanjutnya,” melihat jam tangan, “Siang ini beliau ingin bertemu denganku!”

__ADS_1


Menyipitkan mata, “Pak Rudi?” tanya Ozzy.


Mengangguk, “Kemungkinan akan membahas soal kontrak. Entahlah … beliau juga mengundang pihak G Corporation. Karena mas Rudi sudah memutuskan untuk mengambil alih keputusan, kita hanya tinggal menunggu hasil dari rencana yang sudah kita usahakan. Berhasil atau tidaknya … tergantung keberuntungan!”


“Maksud mas … Teratai Putih?”


Tersenyum sinis, “Ya!”


...***...



“Mama!” sambut Yve begitu melihat Vee masuk ke dalam rumah.


“Aaaa, kesayangannya mama!” memeluk Yve.


Manyun, “Mama sudah lupa Yve ya! Kenapa tidak menelepon!”


“Astaga maaf sayang. Di sana susah sinyal!”


“Huh, pokoknya Yve kesal!” menarik diri, menyilangkan tangan di perut.


Kek Gio terkekeh, “Hahaha! Anak ini lucu sekali sih!”


Vee tersenyum melihat ke sekeliling, “Eh, papa belum pulang?”


“Sudah di atas! Uring-uringan lagi sejak pagi, bahkan sepulang dari kantor masih saja cemberut. Tau deh kenapa!” kek Gio mencibir.


Vee menghela nafas panjang, “Kek! Boleh minta ijin membuat kebisingan ya?”


“Hah?” kek Gio mengernyitkan dahi, tidak memahami maksud Vee.


“Ckk! Kayak kakek nggak tahu saja! Sudah pasti Vee bakal jadi tumbal kekesalannya lah!”


Terkekeh, “Hahaha! Dasar kamu ini … mau ribut aja kenapa ijin dulu!”


Berdiri manyun, “Saya sih malas ribut. Tapi pasti bakal dipancing-pancing! Darimana saja! Kenapa tidak mengabari! Tidak usah pulang sekalian!” Vee bertolak pinggang sambil menirukan gaya Yazza saat marah dengan cibiran bibir.


Kek Gio kembali terkekeh, “Hahaha! Persis kayak yang di depanmu itu dong!”


Dengan gemas Vee langsung memeluknya, “Uhh, sayangnya mama jangan ngambek lagi ya? Maafin mama ya sayang!”


“Kali ini Yve maafin. Tapi mama jangan begini lagi!” tegas Yve.


Mengangguk tersenyum manja, “Oke mama janji!”


“Nah … nanti gitu juga sama Yazza! Dijamin nggak jadi berantem!” goda kek Gio.


Vee mengernyit jijik, “Masak iya orang dewasa diperlakukan sama seperti anak-anak!”


“Ya coba saja. Kamu sendiri yang bilang kalau malas ribut kan?”


Vee membayangkannya, “Geli ih!”


Terkekeh, “Hahaha! Sudah mandi dulu sana! Habis dari luar membawa banyak virus.”


Tersenyum, “Iya kek!” mengelus rambut Yve, “Sana main lagi sama eyang buyut!”


Yve mengangguk.


Vee berjalan keatas membawa kopernya.


Yazza sedang menonton berita di Tv saat Vee masuk.



Dia hanya melihat ke arah Vee sebentar lalu kembali fokus menonton.


“Eh, tidak langsung mengomel?” gumam Vee cengingisan langsung menuju kamar mandi.


Bahkan setelah Vee selesai mandi dan kembali keluar, Yazza masih di posisi yang sama.


“Shhh! Dia diam seperti itu kenapa malah mencurigakan ya?” menyisir rambut melihat Yazza.


Yazza tak bergeming sedikitpun.


“Eheeemm!”

__ADS_1


Vee berusaha menarik perhatian Yazza dengan berdehem.


Masih tidak terpengaruh sama sekali.


Vee kesal langsung berdiri di depan Tv.


“Hya … tidak lihat aku sudah kembali?” bertolak pinggang.


“Lalu kenapa? Perlu kejutan untuk menyambut? Buket bunga? Balon? Banner?”


“Hya!” sentak Vee.


“Jangan menghalangi Tv!” mengisyaratkan supaya Vee menyingkir.


“Sungguh tidak mau mengajak aku untuk berdebat?” tanya Vee memastikan.


“Justru kamu yang mau mengajakku ribut duluan saat ini! Sudah minggir dulu!” memiringkan kepala untuk melihat Tv.


Mengernyit memicingkan mata, “Apa dia habis bertemu dewi lotus?” berjalan menyingkir.


Vee duduk di pinggiran ranjang sekarang.


“Hya, sungguh tidak mau mengatakan apa-apa?”


“Apa?” Yazza menoleh datar.


“Ya … marah gitu. Kayak protes inilah, itulah atau berteriak-teriak gitu!”


“Ckk! Suka sekali dimarahi sih! Aku sedang malas!” menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan kepala.


Vee menatap Yazza yang tampak tidak bersemangat.


Memang ada yang kurang jika tidak mendengar omelan Yazza.


“Ada masalah di kantor ya?” tanya Vee datar.


“Ya! Maslah yang sangat besar sekali!”


Menyipitkan mata, “Apa? Perlu bantuan dariku?”


“Kurasa lebih baik tidak melibatkan mu!”


“Heh, aku hanya mau membantu! Kalau tidak mau ya sudah!” Vee kembali berdiri kesal.


“Hya mau kemana lagi?”


“Tidur di kamar Yve!” jawab Vee cepat.


“Hya! Kembali ke sini!” tegas Yazza.


Vee tersenyum kali ini.


“Kenapa malah senyum-senyum sendiri.”


“Ini baru Yazza! Suka berteriak!” cibir Vee, membalikan badan berjalan menuju pintu.


“Hya! Kembali!” Yazza duduk menatap Vee kesal.


“Aku lapar! Cuma mau makan!”


“Kenapa tadi bilang mau tidur di kamar Yve?”


“Haiz hanya menggoda mu saja!” membuka pintu, “Sudah! Aku lapar sekali … mau makan dulu!”


Yazza mendengus melihat pintu ditutup dari luar.


“Belum juga tenang karena perkataan Gerry tentang Vee! Dan sekarang masalah lain datang … haiz! Kenapa Paradise mengubah keputusan sesuka hatinya sih?” gerutu Yazza kesal.


Yazza mengambil file di bawah bantalnya.


Membuka dan kembali menghela nafas panjang tiap kali melihatnya.


Dengan kesal dia melemparkan file berisi surat kontrak ke samping tubuhnya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2