RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PASANGAN SEJATI


__ADS_3


Kek Gio melihat Yazza yang tampak buru-buru.


“Baru pulang mau pergi lagi?” melihat jam, “Setengah tujuh malam?”


“Ada meeting kek! Yazza harus hadir meski cukup enggan sebenarnya.”


“Kenapa begitu?” tanya kek Gio.


“Paradise punya proyek besar pembangunan rumah sakit. Tapi Yazza tidak tertarik! Well, hanya menghadiri sebagai formalitas saja sih … ikut-ikutan mengajukan proposal.”


Kek Gio teringat pembicaraannya dengan Mr. Bald.


“Kenapa tidak menolak saja dari awal?”


“Ckk! Seperti tidak tahu saja, memangnya siapa yang berani menolak mereka? Lagipula, proposal ini juga asal-asalan kok!”


Menghela nafas, “Huft! Kalau begitu kakek cuma bisa berpesan, hati-hati dan jaga bicaramu!”


Menyipitkan mata, “Kenapa kakek tiba-tiba begitu?”


“Kamu pikir kakek tidak tahu tentang kejadian pelemparan botol itu?”


Yazza menghempaskan nafas panjang, “Sepertinya Yazza salah karena mengatur jadwal pertemuan kakek dengan Mr. Bald!”


“Dengar, jika tidak terlalu mendesak. Jangan melibatkan atau berhubungan dengan mereka deh!”


“Iya kek!” melihat jam, “Yazza harus segera pergi.”


Melihat ke atas, “Sudah pamit putrimu?”


“Kenapa harus mengganggunya, dia kan harus belajar,” jawab Yazza acuh.


“Oh iya! Mengenai pengasuh Yve itu, darimana kamu mendapatkannya? Dia sedikit aneh!”


“Pak Ardi mencarikannya di sebuah agensi. Memangnya kenapa kek?”


“Cara dia menatapmu itu loh! Kok kayak kurang sopan banget.”


Menyipitkan mata, “Kurang sopan bagaimana?”


“Entahlah!Kakek kurang 'sreg' aja sama dia!”


“Ya sudahlah kek, kalau dia membuat kesalahan lagi, kakek bisa memecatnya!” mengambil tas, “Yazza pergi dulu kek!”


Kek Gio menghela nafas panjang menatap kepergian Yazza.


Dania bersembunyi di balik tiang lantai dua.


Tangannya mengepal dengan rahang mengeras.


Sialan kakek tua itu!


Dia bisa jadi penghalang jika terus dibiarkan!


Aku harus segera mencari cara supaya dia tidak banyak tingkah!


...***...


Berli melihat isi dompet. Menghitung uang yang tinggal beberapa lembar sepuluh ribuan ketika dia berada di dalam taksi online.


Amel dan Ellen mengundang Berli makan malam di salah satu mall terbesar di kota.


Ini simpanan terakhirku!


Hanya cukup untuk membayar taksi online ini!


Ah, nanti pulangnya aku pinjam mereka dulu lah!


Gumam Berli dalam hati.


Melihat keluar jendela. Bangunan mall sudah di depan mata.



Taksi online berhenti di depan lobby pintu masuk utama.


Amel dan Ellen Nampak sudah berdiri menunggu di lobby luar.


“Eh, lihat itu! Dia beneran sudah tidak memakai mobil yang biasa dia gunakan,” Ellen mencibir, “Cih … pasti dia sudah di buang oleh pacar kayanya itu!”


“Well, sebenarnya aku malas berteman dengan orang bego seperti dia deh! Tapi karena kebodohannya itu, dia gampang sekali diporotin!” Amel mengangkat bahu, “Lihat, gayanya yang sekarang! Terlihat sangat biasa! Dia pasti sudah kere!”


“Lalu kenapa kamu malah ngajak dia ke sini?” desis Ellen.

__ADS_1


Tersenyum sinis, “Kita masih butuh barang keren tanpa harus keluar duit say!”


Menyipitkan mata, “Bukankah beberapa waktu lalu dia menelepon mau minjam duit ke kita? Kamu yakin dia masih bisa membelanjakan kita seperti dahulu?”


“Dia boleh saja kere! Tapi dia tetap saja masih sebodoh dulu!” menyilangkan tangan di perut.


Berli tersenyum melihat kedua temannya sembari berjalan mendekat.


“Ikuti saja permainan hari ini!” pungkas Amel sembari tersenyum palsu seolah menyambut kedatangan Berli.


“Hey girls!” sapa Berli.


Amel membuka kedua tangan dengan senyum lebar, “Hi say!” memeluk di lanjut cipika-cipiki dengan Berli.


“Hi Ber!” Ellen juga ikut menyambut dengan cara yang sama.


“Sudah lama?” tanya Berli.


“Ah enggak kok!” Amel menggandeng Berli, “Masuk yuk! Gerah di sini!”


Tersenyum mengangguk.


Ketiganya berjalan ke dalam.


“Style kamu beda banget! Apa yang terjadi say?” basa-basi Amel.


Menghempaskan nafas sesak, “Calon kakak ipar ku berulah! Dia menyuruhku pergi dengan alasan rumah pacarku akan di renovasi! Aku marah dan pergi begitu saja!”


“Lalu pacarmu gimana?” tanya Ellen.


Tidak mungkin jika Berli harus mengatakan yang sebenarnya.


Gengsi dong.


“Emb, aku sengaja tidak memberitahunya aku tinggal di mana! Biar saja dia mencariku!” Tersenyum, “Kalian tahu? Dia ratusan kali berusaha menelepon tiap harinya … tapi aku mengabaikan!” menyilangkan tangan dengan pongah. “Biar saja! Biar tahu rasa!”


Ellen dan Amel saling melempar pandangan mata, mencibir menertawakan Berli.


Tentu mereka sudah hafal dengan kesombongan Berli yang tidak mau di pandang rendah.


“Ah, jadi begitu!“ Amel pura-pura percaya dengan yang Berli katakana.


“Eh iya … sebentar lagi Amel ulang tahun! Kamu mau kasih kado apa Ber?” tanya Ellen.


“Haiz! Kapan lalu Ellen kamu kado berlian! Masak aku tidak di kado berlian juga sih!” Amel memasang wajah cemberut.


Aduh!


Darimana aku dapat uang untuk membelikan hadiah untuk Amel!


Untuk pulang nanti saja masih mikir!


Batin Berli.


“Eh … itu toko berlian. Mampir lihat-lihat yuk!” Amel kembali menggandeng Berli.


“Eh!” Kaget salah tingkah. “Ta … tapi Mel! Aku tidak membawa credit card ku. Waktu aku marah, aku meninggalkan semua barang di rumah pacarku!”


Tersenyum ramah, “Ah … aku paham kok! Kan hanya melihat-lihat dulu. Santai saja,” Amel mengelus bahu Berli.


“Emb, kalau begitu … oke deh!” Berli tersenyum menurut.


Mereka bertiga masuk ke toko Berlian di dalam mall.


Karyawan toko mulai menunjukan barang-barang paling bagus.


Kedua teman Berli saling bertukar pandang berisyarat mata.


Ellen mengangguk tersenyum licik lalu melangkah menjauhi Amel dan Berli.


...***...


Daniel menyiapkan kejutan dinner untuk Vee di resort yang mereka sewa.



Dia menyuruh orang untuk menghias meja dengan suasana romantis.


View yang langsung mengarah ke lautan tampak memperlengkap suasana.


Cahaya bulan dan gemerlap bintang ikut menyempurnakan kejutan yang dia buat.


Daniel menutup mata Vee, membimbingnya berjalan menuju lokasi.


“Daniel! Apaan sih ini, aku nggak suka deh!” protes Vee sok acuh meski bibirnya tertarik ke atas menurut mengikuti langkah yang Daniel arahkan.

__ADS_1


“Shhh! Diam saja, namanya juga kejutan!”


Vee tersenyum cengengesan.


“Duduk!”


Vee menurut.


“Tadaaaa!” membuka mata Vee.


Tersenyum melihat ke sekeliling, “Lebay banget!”


“Hya! Kenapa responnya jauh sekali dari ekspektasi?” protes Daniel berjalan menuju kursi yang lain.


“Jika kejutan ini terjadi delapan tahun yang lalu, mungkin aku akan sangat terkagum!”


“Ya sudah gulung saja lagi semuanya!” cibir Daniel.


Terkekeh puas, “Hahaha! Jangan … kasihan yang sudah mendekor semua ini!”


“Hya! Jadi hanya karena kasihan dengan yang menghias?”


Makin terkekeh, “Hahaha … bercanda astaga!”


Cemberut, “Suka atau tidak?”


“Suka! Terima kasih sayang!” Vee menatap Daniel dengan senyum tulus.


Tersenyum menopang dagu dengan kedua tangannya ke meja, “Unch, manis sekali!”


“Apaan sih!” tersipu menunduk.


“Oh ya!” mengambil sesuatu dari saku celananya, “Ini untukmu!”


Kotak perhiasan.


Vee terdiam menatapnya.


Daniel tersenyum membuka kotak, “Tenang saja ini bukan cincin.”


Gelang emas putih yang sangat indah, Vee sampai terkagum melihatnya.



“Karena aku tidak mungkin memberikan cincin. Jadi anggap saja gelang ini sebagai penggantinya! Anggap saja ini adalah tanda yang mengikat kita berdua.”


“Mengikat? Tapi bagaimana kita menyebut hubungan kita ini?” Vee tersenyum menggoda.


Tampak berpikir, “Pasangan sejati!”


Terkekeh pelan, “Kekanakan sekali!”


“Kita memang tidak akan pernah disahkan oleh KUA. Nama kita berdua juga tidak di cetak dalam buku Negara. Tapi, hanya kita berdua yang tahu, betapa dalam dan bermakna nya hubungan kita. Lalu kata apa lagi yang lebih tepat untuk menggambarkannya … jika bukan pasangan sejati!”


Vee tersenyum haru sekaligus pedih mendengarnya.


Sebenarnya, Daniel lah yang lebih layak menjadi suami sahnya.


Pria itu berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Vee, jongkok di sampingnya.


Vee tersenyum menatap lekat, “Kenapa berpose seperti mau menyematkan cincin?”


Menarik lengan Vee lembut, “Jangan pernah meninggalkan aku!” memakaikan gelang di lengan Vee.


“Indah sekali!” tersenyum haru melihat perlakuan Daniel kepadanya.


Pria itu tersenyum mengecup punggung tangan Vee.


...***...



Gerry melihat ke layar laptop di dalam mobil.


“Raya!”


“Ya?” menoleh ke arah Gerry.


“Ini kesempatan jika kamu mau membuktikan keseriusan mu. Kita harus mendapatkan proyek ini! Jangan sampai kalah dari Yazza!”


Gerry menoleh menatap sekretarisnya.


“Jika kita berhasil mendapatkan proyek ini, kita bisa menyelamatkan G Corporation dari krisis yang sedang terjadi. Hubungan kita dengan Paradise juga akan membaik karena kerja sama kali ini!”


Tersenyum, “Serahkan saja kepadaku!” jawab Raya pongah, menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2