
Daniel mengantar Vee dan Yve sampai depan gerbang masuk.
“Tidak mampir?” tanya Vee.
Daniel menggeleng, tersenyum mengkerlingkan mata.
“Ma! Buruan masuk, Yve sudah gerah sekali mau mandi,” menarik-narik lengan mamanya.
“Ya sudah kalau begitu. Oh ya, jangan lupa besok ada meeting penting dengan Nirwana!” Vee mengingatkan.
“Malam kan?” tanya Daniel memastikan.
“Ya, sekitar jam tujuh.”
“Oke besok ku jemput.”
Vee mengangguk tersenyum.
“Mama! Ayo …,” kembali menarik Vee.
“Iya sayang!”
Vee tersenyum melambai lalu mengikuti Yve.
Daniel langsung menjalankan mobil kembali.
“Ibu Vee?” satpam menghadang.
Menyipitkan mata, “Ya?”
“Ah … tadi ada seorang wanita yang ingin bertemu.” Tersenyum ramah.
“Hah? Wanita?”
“Saya memintanya menunggu di lobby tadi.”
Vee penasaran menyipitkan mata, “Kalau begitu biar saya lihat!”
“Siapa Ma?” tanya Yve.
Menggeleng, “Mama tidak tahu … yuk ke sana!”
Mengangguk, “Yuk!”
“Permisi pak!” ucap Veer amah.
“Sama-sama ibu!” Satpam kembali ke post jaga.
...***...
Seorang gadis muda duduk dengan sopan di kursi tunggu lobby.
Gadis itu berdiri begitu Vee masuk.
“Nyonya Vee?” tanyanya tersenyum lembut.
“Iya itu saya,” menyipitkan mata. “Siapa ya?”
Tentu saja Vee tidak pernah bertemu atau melihat orang ini.
“Ah … perkenalkan nama saya Dania. Saya dipekerjakan pak Yazza untuk menjadi pengasuh baru nona Yve!”
“Pengasuh baru yang dipekerjakan oleh Yazza?” ulang Vee untuk meyakinkan.
“Madam Lia masih harus sibuk mengurus anaknya. Jadi saya akan menggantikan beliau menjaga nona Yve.”
Vee mengambil handphonenya.
Puluhan kali Yazza mencoba melakukan panggilan.
Shiiiit!
Pasti bakal ngomel-ngomel nih!
Batin Vee melihat daftar riwayat panggilan.
“Saya konfirmasi ke Yazza dulu ya?”
Dania mengangguk.
Vee menarik nafas panjang mempersiapkan diri untuk menelepon Yazza.
“Dari mana saja!” sentak Yazza begitu panggilan tersambung.
__ADS_1
Vee menjauhkan handphone dari telinganya, “Haiz! Sudah kuduga!”
“Hya! Aku meneleponmu puluhan kali! Sesibuk itukah acara pesta?” masih bernada tinggi.
“Hya … bisa tidak bahas itu nanti saja. Sekarang aku mau nanya, kamu mengirim pengasuh baru?”
“Itu yang ingin aku beritahukan. Dia sudah menunggumu lama, lagian pesta ulang tahun tidak akan selama itu kan?”
“Oke! Sudah kudapatkan jawabannya. Aku matikan dulu!” pungkas Vee.
“Hya …,-”
Vee mematikan panggilan sebelum Yazza sempat menyelesaikan bicaranya.
Malas saja mendengar celotehan Yazza.
“Siapa tadi namanya?” tanya ulang Vee.
“Dania nyonya!”
“Ah … ini Yve,” mengelus rambut putrinya, “sayang mbak Dania ini akan menjadi pengasuh menggantikan madam Lia.”
“Madam Lia tidak akan kembali lagi ya ma?”
Vee menggeleng, “Mama tidak tahu … nanti mama coba tanyakan ke papa.”
Yve melihat Dania yang tersenyum ramah padanya.
Terlihat begitu sopan dan lemah lembut.
Vee tersenyum menatap Dania, “Kalau begitu kita langsung ke atas saja!”
Dania tersenyum mengangguk.
...***...
Jam setengah Sembilan malam Yazza baru pulang.
Vee langsung berdiri mendekat.
“Eh, baru pulang?” membantu melepaskan jas.
Yazza memicingkan mata melihat Vee.
Dania tampak terpesona menatap ke arah Yazza.
Bibirnya tidak bisa untuk berhenti tersenyum.
“Kenapa belum tidur?” dingin melihat ke arah Yve.
“Ah, aku baru selesai mengajari Yve mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahnya,” tersenyum menggelayuti lengan Yazza.
Melirik menatap Vee, “Kamu pikir dengan begitu aku akan melupakan masalah pembahasan kita tadi?”
Mengernyit mencibirkan bibir, “Cih …,” melepaskan lengan Yazza, “tidak mempan!”
“Ma! Belajarnya sudah selesai semua kan?” tanya Yve mulai jenuh melihat buku-buku pelajaran.
“Sudah sayang!” Vee tersenyum menatap putrinya.
“Yve sudah ngantuk sekali! Yve tidur sekarang ya?”
“Oke sayang! Good night!”
Berdiri, “Good night Ma!” melemparkan kiss bye.
Vee seolah melakukan gerakan menangkap kiss dari Yve lalu menaruh tangannya di depan dada.
Tersenyum gemas melambai ke putrinya.
Yve tersenyum lalu menguap lebar.
“Yuk mbak!” menggandeng Dania, menariknya berjalan menuju kamarnya.
Yazza bertolak pinggang menatap Vee.
Tersenyum cengingisan, “Mau ku siapkan air hangat untuk mandi?”
Mengendurkan dasinya, “Mau ribut sekarang atau nanti setelah anak itu tidur?”
Vee tersenyum menggoda, menyampirkan jas ke lengannya lalu mencoba membantu Yazza melepaskan dasi, “Apa memangnya yang harus diributkan?”
Melepaskan lengan Vee, “Cih … tunggu sampai aku selesai mandi!” berjalan melewati Vee.
Mendengus kesal, “Cih … benar-benar sudah tidak ada jalan untuk kabur lagi!” gerutu Vee memicingkan mata menatap punggung Yazza.
__ADS_1
Meskipun Yazza masih berkeras hati, Vee masih berusaha membuat mood Yazza sedikit lebih baik.
Dengan begitu, Yazza tidak akan terlalu marah jika dia mengatakan alasan kenapa tidak menjawab panggilan darinya seharian ini.
Secangkir teh hangat dan sepotong kue disediakan di meja dekat jendela kaca.
Yazza keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
“Sudah makan malam belum? Kalau belum aku siapkan ya?” tanya Vee santai duduk di sofa.
“Jangan mencoba mencari alasan untuk menghindar!” mendekat.
Mencibirkan bibir, “Haiz! Kenapa auranya menjadi gelap begini sih?” Vee mengibaskan tangan di depan wajahnya yang panas meskipun AC di kamar itu sudah cukup dingin.
Yazza duduk di sebelah Vee, bertelanjang dada menyampirkan handuk di kedua bahunya.
“Emb …,” Vee menunduk tidak berani menoleh ke sampingnya, “maaf tadi tidak memegang handphone seharian!”
“Oh, sudah menyadari kesalahanmu tanpa harus dipertanyakan lagi?” sindir Yazza.
Masih menunduk tidak menatap Yazza, “Tadi setelah acara ulang tahun … neneknya Yve … emb …, maksudku, mamanya pak Daniel menelepon. Mama … emb … maksudku mamanya pak Daniel, mengundang Yve untuk bermain dan mencicipi kue kacang buatannya. Kami diajak piknik ke taman hiburan setelahnya.”
“Jadi seharian bersama Daniel sampai tidak sempat mengecek handphone? Wuih, pasti asik sekali ya bersamanya!” sindir Yazza tajam.
“Ada pak Fauzan dan bu Risma juga! Yve tidak akan berbohong, kamu bisa tanya saja padanya,” berusaha membela diri.
“Cih … sudahlah! Kamu melanggar perjanjian, jangan bekerja lagi untuknya!” tegas Yazza.
Seketika Vee langsung menoleh menatap Yazza, “Jangan gitu dong! Itu tidak bisa disebut melanggar perjanjian. Yve juga ingin menemui kakek dan neneknya!”
“Hya! Mereka bukan kakek dan nenek Yve!”
Menciut, “Selama ini dia tidak pernah memiliki kakek dan nenek. Begitu bertemu pak Fauzan dan bu Risma yang dengan senang hati memperbolehkan Yve memanggil mereka nenek dan kakek, Yve sangat gembira. Mana tega aku merusak kebahagiaanya!”
“Kenapa sih anak itu terus saja merepotkan hidupmu!”
“Yazza!” sentak Vee tegas kali ini.
Membuang muka, “Baiklah jangan membahas tentang anak itu!”
Yazza tahu dan sangat paham dengan betul, tiap kali dia menjelekan Yve, Vee pasti akan sangat kesal dan marah.
“Dengar! Aku melakukan semua ini, termasuk bersedia melayanimu, itu hanya karena ingin melindungi Yve! Apapun itu, asalkan bisa membuatnya bahagia, aku akan melakukannya!”
Menghempaskan nafas panjang, “Kita tidak sedang berdebat untuk masalah ini!”
Vee ikut menghempaskan nafas panjang membuang muka, “Yve sangat senang akhirnya memiliki kakek dan nenek. Jadi tolong, biarkan saja dia tetap menganggap pak Fauzan dan bu Risma sebagai kakek dan neneknya!”
“Oke aku tidak akan mempermasalahkannya! Tapi ingat, jangan terlalu sering menemui mereka kecuali hanya untuk urusan pekerjaan!” tegas Yazza lagi.
“Emb … ngomong-ngomong tentang pekerjaan, besok malam kami akan ada meeting dengan Nirwana.”
Menyipitkan mata, “Saturday night? Dengan Nirwana?”
“Katanya itu request special dari CEO Nirwana. Supaya tidak terlalu formal.”
Yazza menyipitkan mata, “Aku akan ikut besok!”
“Hya, ini akan menjadi meeting White Purple dengan Nirwana! Jika kamu ikut, bukankah akan sangat lucu?”
“Ya pokoknya aku ikut! Terserah kalian mau meeting di privat room atau di mana. Aku bisa menjauh dan duduk di meja lain. Intinya, aku harus tetap berada di sekitarmu!”
Menyipitkan mata, “Aneh sekali!”
“Orang-orang Nirwana itu seperti ular semua. Waspadalah dengan mereka!”
Vee tidak menjawab.
Ia teringat tentang pertemanan Yve dan Ceasar.
Dan bahkan, dia sudah bertemu dengan seluruh keluarga besar Nirwana hari ini.
Ganny, Tasya, Tisya bahkan Gerry, tampak cukup baik dan ramah setelah mengobrol bersama.
Lebih baik tidak menyinggung tentang mereka untuk saat ini di hadapan Yazza.
Bisa-bisa Yazza justru semakin marah dan membatasi hidupnya setelah ini.
“Kenapa diam?”
Vee terlonjak terkejut menatap Yazza.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1