RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PATUNG IKAN EMAS


__ADS_3


4 Hari Kemudian.


Vee senang akhirnya bisa menghirup udara bebas di luar lagi.


Dia sudah diperbolehkan pulang dan hanya perlu rawat jalan untuk kelanjutannya.


Yve dan kek Gio menyiapkan sambutan selamat datang dengan menghias ruang tamu penuh dengan balon, pita hias dan banner ucapan.


“Selamat datang kembali mama!” Yve menyalakan kembang api kertas.



Vee terkekeh pelan melihat ke arah putrinya.


“Ahh … ya ampun! Manis sekali!”


“Yve yang sudah menyiapkan ini semua, mama suka?” tanya Yve tersenyum riang.


Yazza mengernyit menggelengkan kepala, “Apa-apaan sih! Kekanakan!”


Seketika anak itu tampak manyun mendengar cibiran dari ayahnya.


Dengan gerakan tidak kentara, Vee menyenggol lengan Yazza dengan siku lalu kembali melihat ke arah putrinya.


“Ini bagus sekali sayang … terima kasih ya,” Vee jongkok membuka kedua tangannya, “ Sini peluk mama dulu dong!”


“Tangan mama bagaimana?” tanya Yve melihat ke arah bahu Vee.


“Tidak akan sakit kalau hanya untuk memeluk putri mama yang paling manis!”


Tersenyum gembira langsung memeluk mamanya, “Yve sayang mama! Jangan sakit lagi ya,” mencium pipi mamanya.


Balas menciumi Yve dengan sangat gemas, “Tentu saja! Mama kan harus tetap menjaga Yve!”


Terkekeh, “ Hehehe … Yve akan berlatih bela diri lebih giat lagi supaya nanti kalau ada orang jahat yang mau melukai mama, Yve bisa melindungi mama!”


“Ah, tidak! Pokoknya mama yang harus melindungi Yve,” Vee masih memeluk gemas putrinya.


“Yve!” panggil Yazza menyela, “Mulai saat ini … kamu tidak diijinkan untuk melanjutkan latihan bela diri itu lagi!”


“Yazza!” tegas Vee meninggikan nada.


Yve melepaskan pelukannya, dengan muram dia berdiri tegak menatap papanya.


“Kenapa begitu?” tanya Yve dengan bibir kelu.


“Pokoknya kamu tidak perlu datang lagi ketempat itu!” tegas Yazza.


Dania tersenyum tipis memalingkan wajah.


Sepertinya pak Yazza memang tidak suka jika Yve berteman dengan anak itu!


Pak Yazza sudah mulai mempercayai kata-kataku!


Bukankah ini langkah awal yang bagus?


Oh my God!


Pak Yazza tenang saja … kita pasti akan segera bersama!

__ADS_1


Garis bibir Dania sedikit terangkat ke atas ketika membayangkan khayalannya tentang Yazza.


Dengan susah payah Vee berdiri memegang bekas luka di bahunya.


Meski dia ingin membela putrinya, tapi dia sadar jika mendebat Yazza untuk saat ini, pasti hanya akan menciptakan keributan yang lebih besar.


Dia hanya tidak ingin melihat Yve semakin sedih ketika mereka bertengkar di hadapan anak kecil itu.


Masalahnya Yazza memang sudah secara terang-terangan menegaskan untuk tidak terlalu dekat dengan keluarga Paradise.


Keputusan yang Yazza buat, tentu saja hanya untuk menjauhkan Yve dari Xean.


“Tapi pa … aku suka ikut latihan bela diri itu!” Yve mulai mewek sekarang.


“Kamu nggak usah ngeyel! Kalau papa bilang tidak boleh … ya tidak!” tegas Yazza bertolak pinggang menatap tajam putrinya.


“Mamaaa ….” Rengek Yve memeluk Vee.


Gadis kecil itu mulai menangis menderu, menyembunyikan wajah dalam pelukan mamanya.


“Yazza,” sembari mengelus punggung putrinya, Vee mencoba menjadi penengah.


“ Jangan terlalu banyak membuat batasan untuk Yve! Dunia anak adalah dunia ekplorasi … jika kamu selalu membatasinya, bagaimana anak kita bisa berkembang?” lanjut Vee berucap setenang mungkin.


“Jangan lupa … bonsai akan lebih indah jika dirawat di dalam pot,” balas Yazza berucap sembari membuang muka.


Yve menoleh menatap ke arah eyang buyutnya kali ini.


“Eyang buyut tolong bujuk papa! Yve masih mau latihan bela diri,” pintanya memohon.


Pria tua yang banyak berdiam sedari tadi akhirnya memberikan respon begitu Yve berbicara padanya.


“Tapi eyang buyut setuju sama papamu,” ucapnya lembut dengan senyum ramah.


Gadis kecil itu kembali mendekap erat pinggang mamanya.


“Ma … aku tidak suka mereka! Kita pulang saja ke tempat lama … aku tidak mau tinggal di sini,” rengek nya dengan nada tidak terlalu jelas karena disertai dengan isak tangis.


Vee hanya bisa menghempaskan nafas panjang sembari mengernyitkan dahi mengelus punggung putrinya agar anak itu merasa lebih tenang.


Sebenarnya mereka ini kenapa sih?


Kakek tidak biasanya ikut-ikutan menentang keinginan Yve.


Ini sudah dua kali kakek mendukung Yazza. Pertama saat Yve harus pindah sekolah dan sekarang tentang latihan bela diri ini.


Bukankah tidak masuk akal jika hanya karena Caesar dan Xean adalah anak-anak dari orang yang tidak mereka sukai?


Masalah bisnis atau persaingan orang dewasa … kenapa harus melibatkan kepolosan anak-anak?


Toh mereka juga tidak akan memahami tentang permusuhan ini.


Apa salahnya sih jika membiarkan mereka tetap berteman?


Kecuali, jika Tasya ataupun Hirza benar-benar orang jahat yang ingin memanfaatkan anak-anak untuk saling menjatuhkan satu sama lain!


Tapi yang aku lihat … baik Tasya maupun Hirza, keduanya adalah orang-orang baik.


Mana mungkin mereka akan sampai tega menyakiti anak-anak hanya karena persaingan!


Batin Vee berkemelut dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


“Dengar … jika kamu masih mau latihan bela diri, papa tidak keberatan! Tapi latihan saja di rumah,” ucap Yazza masih tegas meski dengan nada datar.


“Akan papa carikan guru bela diri khusus untuk mu! Dia yang akan datang ke sini, jadi kamu tidak perlu pergi ke luar rumah lagi jika tidak ada hal yang terlalu penting!” lanjut Yazza kembali menegaskan.


Vee menatap Yazza dengan perasaan sedikit lega.


Setidaknya dia masih memikirkan tentang hal itu!


Vee kembali menundukkan kepala untuk melihat putrinya.


“Nah sayang … kamu dengar kan? Papa masih mengijinkan kamu untuk berlatih bela diri. Tidak apa-apa kan kalau harus di rumah saja?”


Meski sudah tidak menangis histeris, Yve masih menderu terisak lirih tanpa menjawab sepatah katapun.


Vee kembali menghempaskan nafas panjang.


Sepertinya Yve benar-benar marah dan kesal kali ini!


Tidak sengaja pandangan Vee tertuju pada hiasan ikan besar yang berkilauan di ruang tamu.



Ikan itu di taruh di atas tiang putih besar dengan tinggi satu meter.


Kilaunya cukup menarik perhatian.


“Eh … kamu membeli hiasan baru?” tanya Vee penasaran.


Yve masih tidak mau menunjukan mukanya, sesenggukan dia menyembunyikan wajah di depan perut mamanya.


Yazza mendengus membuang muka, dia langsung paham tentang hiasan yang Vee maksud.


“Apa itu patung ikan emas? Emb … maksudku ikan yang terbuat dari emas asli?” Vee memiringkan kepalanya untuk mengamati, “Tunggu … matanya dari diamond?”


Kek Gio menghempaskan nafas panjang, “Yeah! Itu memang terbuat dari emas asli … dan juga berlian! Bukan hanya di mata … sirip, badan bahkan ekor juga terdapat berliannya!”


“Hah?” mengernyit terkejut, “Bukankah itu akan sangat mahal? Haiz … menghambur-hamburkan uang saja!” cibir Vee di akhir kalimat.


“Bahkan aku juga akan berpikir seribu kali untuk membuat yang seperti itu,” gumam Yazza lirih dengan nada mencibir.


“Tunggu … jadi bukan kamu?” Vee menoleh menatap kek Gio, “Kakek yang membelinya?”


Lagi-lagi kek Gio menghempaskan nafas panjang membuang muka.


“Kalian kenapa sih?” tanya Vee kembali melihat ke arah patung.


Ada sebuah kertas berwarna pink dengan pita di letakkan di atas tiang penyangganya.


“Eh … itu apa? Terlihat terlalu imut jika hanya sebuah kertas biasa?” gumamnya penasaran.


Yazza dan kek Gio sama-sama membuang muka.


Keduanya tampak enggan untuk menjawab.


Membuat Vee jadi semakin bertanya-tanya.


“Itu dari papanya kak Xean ma,” jawab Yve tersendat-sendat oleh isak tangis yang belum reda.


Gadis itu masih tidak berpaling, memeluk erat pinggang mamanya.


“Hah? Apa?” Vee kembali mengernyit terkejut menatap patung ikan emas yang berdiri kokoh di ruang tamu.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2