
Pak Fauzan melihat ke sekeliling begitu Yve dan istrinya berjalan menuju toilet umum.
Di hadapan mereka terbentang danau buatan yang cukup luas, lengkap dengan perahu bebek, angsa dan sampan.
“Kita tunggu di sana saja yuk!” pak Fauzan melihat saung bambu tak jauh dari danau.
“Yuk ke sana! Sebelum orang lain menempatinya!” ajak Daniel menggandeng papanya.
“Hei … aku masih bisa jalan sendiri!” cibir pak Fauzan.
Daniel cengingisan, “Iya-iya astaga! Mau dibantuin juga!”
“Papa belum setua itu untuk dibantu! Haiz …,” memukul pelan kepala Daniel.
Daniel kembali cekikikan.
Ketiganya duduk santai di saung sampai akhirnya Yve datang bersama bu Risma.
Yve terlihat cantik mengenakan gaun yang Daniel belikan untuknya.
“Hya … lepas dari princess Ariel, kenapa sekarang jadi princess Elsa?” cibir Yve bertolak pinggang menatap Daniel.
“Itu cantik sekali kok sayang!” puji Vee.
“Terlalu gemerlap Ma!” Yve manyun.
Bu Risma dan pak Fauzan terkekeh.
“Hya ... harusnya kamu berterima kasih! Gaun itu sangat cocok untukmu,” Danie mencibir.
“Kita mau liburan bukan mau ke pesta!” bantah Yve kesal.
“Ya sudah kembalikan sini, biar aku ganti dengan yang lain!”
“Tidak enak saja!” Yve mundur satu langkah memegangi gaun yang dia kenakan.
Mendengus tersenyum, “Cih … hya! Apa sih maunya?”
Melihat ke danau, “Mau naik itu!” menunjuk dengan ketus.
Daniel segera turun, “Aku mau naik sendiri … tidak mau mengajakmu,” mendahului bersemangat.
“Hya!” Yve mengejar, “Tunggu!”
Daniel membalikan badan menjulurkan lidah, setengah berlari.
“Hya … awas kalau kena,” masih mengejar.
Vee tersenyum menatap pak Fauzan dan bu Risma.
Pak Fauzan mendengus tersenyum melihat Daniel, sementara bu Risma terkekeh kecil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hahaha! Ada-ada saja mereka,” duduk membuka keranjang piknik.
Vee langsung membantu bu Risma menyiapkan makanan.
__ADS_1
“Dia dulu masih seusia Yve saat aku sering mengajaknya bermain ke sini … haiz, kenapa dia begitu cepat tumbuh sebesar itu! Ckckck …,” pak Fauzan menggeleng berdecak.
“Tapi kekanak-kanakannya tetap tidak pernah hilang! Hahaha ...,” sahut bu Risma.
Vee tersenyum tipis, “Itu yang menjadi cirri khas pak Daniel … periang dan selalu ceria!”
“Mama dengar lengan kamu terluka? Bagaimana sekarang?” melihat ke lengan Vee.
Tersenyum, “Itu tidak seberapa kok!”
Mengelus lengan Vee, “Lain kali jangan berkelahi lagi … mama khawatir!”
Tersenyum meringis, “Kalau tidak ada yang menyinggung White Purple, tentu aku tidak akan berkelahi!”
“Kamu ini!” pak Fauzan tersenyum menepuk punggung Vee pelan.
“Terimakasih ya!” ucap bu Risma.
Vee menunduk sedih, “Mama … Papa, maafkan Vee!”
Ikut sedih, tapi masih berusaha tersenyum, “Kenapa harus meminta maaf?”
“Vee dengar, Daniel sampai tidak makan seharian ya?” menatap ke arah Daniel dan Yve yang sedang asik naik perahu bebek.
“Dia sangat terkejut … begitu juga dengan kami,” menunduk sedih.
“Maaf karena tidak memberitahukan semuanya terlebih dahulu!” Vee tidak berani mendongak menatap bu Risma.
Mengelus tangan Vee, “Kamu pasti punya alasan tersendiri … bukankah kamu bilang, dia orang yang paling kamu benci?”
“Lalu, kamu sendiri bagaimana? Menikah tanpa cinta sama saja sengaja masuk kedalam rumah berhantu yang akan membuatmu tidak nyaman seumur hidup!” Pak Fauzan menatap Vee.
Tersenyum, “Pak Didik juga sudah memarahi saya tentang hal ini. Tapi kembali lagi, semua hanya demi Yve. Saya sudah menjadi sebatang kara dan susah sejak kecil. Saya hanya ingin Yve tidak kesepian seperti masa kecil saya. Anak mana yang tidak akan senang mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya?”
“Tidak perlu menikah jika memang kamu tidak suka,” bu Risma mengusap bawah matanya.
Vee terkekeh sedih berusaha menghibur dirinya sendiri, “Kenapa mama menangis?” ikut berkaca-kaca.
Merangkul Vee dengan sebelah tangan, “Jangan terlalu memaksakan diri!”
Mengusap matanya, “Yazza akan menuntut hak asuh jika saya tidak kembali padanya. Dan yang paling saya takutkan adalah … kehilangan Yve!”
“Kamu yang mengasuhnya selama ini. Pengadilan pasti akan memutuskan kamu yang berhak mendapatkan hak asuh atas Yve.” Pak Fauzan kembali mengelus lembut punggung Vee.
Menggeleng, “Orang-orang di belakang Yazza bukanlah orang sembarangan! Dia bisa saja membeli hukum dan membuat yang dia inginkan menjadi kemenangan telak baginya.”
Vee mengingat Mr. Bald, asistennya dan juga Leo.
Ketiganya terlihat sangat memahami tentang bisnis dan cukup cerdas untuk menangani sebuah masalah.
Dari cara mereka bicara saat terakhir ngobrol dengan Vee saja sudah bisa ditebak, mereka bukan orang sembarangan.
...***...
Hirza mengenakan topi, kacamata hitam dan jaket jeans duduk di bawah pohon.
__ADS_1
Xean menarik bahu Hans, “Hya … papa jadi seperti itu lagi!” berbisik ke telinga Hans sambil melirik ke arah papanya yang duduk terdiam.
Kali ini Hans memakai hoodie dengan penutup kepala yang dinaikkan.
Dari balik kacamata hitamnya, dia melihat ke arah Hirza memusatkan perhatian.
“Sudah, jangan banyak bicara dulu!” desis Hans.
Melepas topinya, “Gerah … panas sekali! Banyak orang pula,” cibir Xean yang memang tidak terlalu menyukai keramaian.
Hans kemabli memakaikan topi Xean, “Jangan dilepas nanti ketahuan.”
“Aku masih mengenakan kostum Bajak Laut, ditambah lagi harus mengenakan jaket tebal … lagian kenapa sih tidak pulang saja dulu!”
Begitu Vee meninggalkan rumah keluarga Nirwana, Hirza langsung datang dan menyuruh mereka untuk ikut dengannya.
Bahkan Hirza sudah menyiapkan supir pengganti untuk membawa pulang mobil Hans.
“Haiz! Anak ini banyak mengeluh deh!” Hans mencibir.
“Kita bukan James Bond,” mencibir manyun, “cih … kenapa tidak langsung menemui tante Vee saja sih?”
Hirza menoleh, “Sudah papa bilang … jika kita menemuinya, tante itu akan terkena masalah!”
“Tapikan sekarang sudah berkenalan! Kenapa masih harus sembunyi-sembunyi?” Tanya Xean polos.
“Bahkan jika sudah menjadi lebih dekat sekalipun, kalau bisa jangan terlalu sering menemuinya. Jika paman Rudi tahu, papa akan dimarahi,” jawab Hirza datar.
Xean menghela nafas panjang, menatap ke arah Vee.
“Xean curiga, papa terus mengikutinya diam-diam seperti ini … jangan-jangan benar jika dia mama kandungku!”
“Hush!” Hans menyenggol lengan Xean.
“Kenapa?” cibir Xean mengusap-usap lengannya.
“Sembarangan!” Hans melihat ke sekeliling.
Dua pria suruhan Gerry yang waktu itu mengawasi apartemen Vee, terlihat mencurigakan di sekitaran taman dekat danau.
“Mas bro! Itu mereka!” Hans menunjuk dengan isyarat kepala.
“Jadi badai benar-benar datang?” Hirza mencibir tersenyum sinis.
Hans langsung berdiri, mengenakan masker penutup mulut dan membenahkan kacamata.
“Waktunya bermain!” mendengus sengit memicingkan mata.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1