RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PERSAINGAN


__ADS_3


Vee menahan lengan Yazza.


“Berli!” desis temannya memegang punggung Berliana.


Wanita itu membuka mata, melihat Vee yang sedang menghalangi Yazza.


“Cuih … kenapa? Seorang pria yang katanya tangguh, begitu menurut pada seorang wanita murahan yang melahirkan anak tanpa suami?” cibir Berliana.


Vee menghela nafas panjang, melepaskan tangan Yazza.


Berbalik menatap Berliana.


Melihat tatapan Vee, wanita itu sedikit mundur dengan nyali menciut.


“Tidak semua wanita yang membesarkan anak seorang diri adalah wanita murahan!” ucap Vee lugas.


Berli tampak mengepalkan tangan defensive.


“Satu hal yang harus kamu garis bawahi, siapa yang sebenarnya tidak tahu malu di sini?” tanya Vee tersenyum mencibir, “Dari yang aku lihat, sepertinya kamu cemburu dan merasa kalah saing, benarkah itu?” nada santainya seolah mengejek.


Wanita yang berdiri di hadapan Vee terlihat semakin geram, “Hya … wanita ini ….”


Tangan kanan Berli terangkat hendak menampar Vee.


Yazza menahan lengan Berliana dan langsung di hentakan kasar sampai Berliana terhuyung jatuh.


“Yazza!” pekik Berliana dengan wajah yang sudah sangat kecut.


Sebelum menjadi pusat perhatian banyak orang, Vee segera menarik lengan Yazza.


“Tidak penting menanggapi omongan sampah seperi itu!” Vee begitu dingin meninggalkan Berliana dan kedua temannya.


Yazza tersenyum sinis menatap Berliana sebelum akhirnya mengikuti langkah Vee.


Dia melihat, Vee terlihat begitu luar biasa.


Rasanya dia kembali teringat dengan persona Vee saat di kapal waktu itu.


Begitu sudah agak jauh, Vee langsung menghentakkan lengan Yazza.


Pria itu hanya mendengus tersenyum, “Peri kecilku memang selalu mengagumkan seperti ini!”


“Jangan pikir aku sedang membelamu! Aku hanya membela harga diriku sendiri!” tegas Vee.


“Tetap saja kita berdiri di atas perahu yang sama!”


“Ya, sampai saya gemas sekali ingin mendorong anda hingga terjatuh karena perahunya sudah kelebihan beban muatan!”


Yazza terkekeh pelan.


“Saya serius … tidak bercanda!” gerutu Vee mengernyit menatap Yazza.


Tersenyum, “Kamu ingat pria yang di Bandung waktu itu?”


“Saya bertemu banyak pria di kantor cabang!”


“Bukan … maksudku yang di tempat wisata waktu itu!”


“Ah, pria yang anda rusak kebahagiannya?”


“Wanita tadi pacarnya!”


Menyipitkan mata berhenti melangkah untuk menatap Yazza, “Kelihatannya dia terobsesi dengan anda!”


“Dia mantanku yang berselingkuh dengan pria itu. Lalu lebih memilih pria yang tidak bisa setia dan dia masih berpikir, dialah ratu yang hidupnya sempurna! Sangat dicintai dan dimanja dengan apapun yang dia mau.”


“Bunga ...,” Vee mengingat perkataan Yazza, “ah … saya paham! ‘Bunga-bunga’ itu adalah para wanita?”


Mengangguk, “Wanita itu berharap segera dinikahi. Tapi sampai sekarang hanya dipelihara dalam pot cantik dan tidak pernah dibayar tunai dengan pernikahan resmi. Dia menjadi frustasi ketika melihat aku bersamamu!”


“Cih, bukankah sudah memiliki kehidupannya sendiri. Kenapa masih ikut campur!” cibir Vee melirik ke belakang.



Ketiga wanita tadi tampak sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


“Dia pikir, selama beberapa tahun ini aku tidak menikah dan juga tidak mempunyai kekasih baru karena masih belum bisa melupakannya!”


“Wow! Jadi, wanita tadi yang membuat anda sampai mabuk parah delapan tahun yang lalu?”


Menyipitkan mata, “Bagaimana bisa kamu menebak seperti itu?”


Mencibir, “Cih … anda mengigau dan meminta agar dia tidak meninggalkan anda!”


Mengernyit, “Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu? Aku melihat peri kecilku malam itu setelah sekian lama, dan aku tidak mau dia pergi lalu menghilang lagi!”


“Cuih … berdalih!” ejek Vee mencibirkan bibir.


“Sungguh!”


Sekelebat bayangan terlintas dalam memorinya, dia seperti mendengar suara wanita lain dalam mobil itu.



Yazza menyipitkan mata, mencoba mengingatnya dengan keras.


Ia mencium Vee karena ingin mengenang pertolongan Vee sewaktu kecil yang sudah memberinya nafas buatan.


Lalu tertawaan wanita lain terdengar.


Melihat Yazza yang tiba-tiba terdiam membuat Vee menjadi bertanya-tanya.


“Pak Yazza! Anda baik-baik saja?” menyipitkan mata.


“Kenapa tiba-tiba bicaramu menjadi formal lagi?” Yazza mencoba menyingkirkan ingatan itu.


Meski dia merasa ada sesuatu yang ‘missed’ di sana.


Dia sungguh tidak bisa untuk mengingat kejadian lengkapnya.


Yang jelas, dia hanya mengingat wajah Vee yang begitu marah dan kesal saat dia memeluk juga mencium paksa wanita itu.


“Terserah saya!” kembali melangkah.


“Mengenai yang terjadi malam itu, aku sungguh meminta maaf … tapi sungguh! Aku melakukan itu karena yang ada kepalaku hanya sosok peri kecilku! Bukan karena mantan atau wanita lain!”


Langkah Vee kembali terhenti, tangannya mengepal sembari menarik nafas panjang.


“Jika saja aku sadar itu akan jadi malam pertama kita, pasti aku sudah akan menyiapkan tempat terbaik dengan suasana paling romantis yang tidak akan pernah kita lupakan!”


Menahan nafas geram, “Malam pertama kita ….”


Itu baru terjadi kemarin lusa!


Vee tidak melanjutkan dan hanya mengucapkannya dalam hati.


Dia menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


Meletakan tangan ke pundak Vee sambil tersenyum, “Setidaknya … malam kedua, ketiga dan keempat kita berada ditempat yang indah bukan?”


Melotot tajam sambil menyingkirkan tangan Yazza dengan kasar, “Sungguh minta di hajar sampai tidak bisa berbicara lagi!” geram Vee.


“Hya, bagaimana bisa kamu mengalahkan aku? Bukankah selalu tidak berkutik dan justru malah menikmatinya?”


Mengepalkan tangan, “Jika bukan di tempat umum sudah aku tampar sampai rontok giginya!” Vee kembali melangkah kesal.


Yazza hanya mendengus menertawakan, lalu mengikuti langkah Vee.


Berhenti tiba-tiba dan langsung membalikan badan, membuat Yazza terkejut dan ikut berhenti mendadak.


“Hya! Anda baru putus waktu itu dan sudah berpikir tidur dengan peri kecil?” tegas Vee.


Mengangguk polos.


Vee langsung menginjak kaki Yazza.


“Aww … hya!” Yazza menunduk memegang kakinya.


“Pria macam apa anda ini?“ Vee kembali berbalik melangkah sambil menggerutu, “Peri kecil itu kan aku! Dia sudah menempatkan aku di pikiran kotornya sejak lama? Cuih … menjijikan!” gumamnya lirih sambil terus berjalan.


“Dia sungguh penuh tanda tanya!” Yazza menggeleng tersenyum kembali berjalan mengikuti Vee.


...***...

__ADS_1



Gerry tengah tidur dengan seorang wanita saat Berliana pulang.


Tok … tok … tok!


“Tuan, nona Berli sudah kembali!” ucap pembantu dari depan pintu kamar.


Gerry tersenyum menatap wanita di sebelahnya, “Sembunyi saja dulu di almari. Wanita itu akan sangat lama saat mandi nanti!”


Tersenyum santai mengusap wajah Gerry, “Iya sayang … sungguh deh … pacarmu itu bodoh sekali!” mengambil pakaiannya.


“Dia hanya tahu bagaimana caranya menghambur-hamburkan uang!”


Terkekeh pelan, “Sambutlah dia! Akan ku bereskan kamar ini.”


Mengangguk, “Aku akan mengulur waktu!” mengecup kening  Raya, kekasih gelap yang juga merupakan sekertaris pribadinya.


Gerry turun dari ranjang.


Mengambil pakaiannya.


Dengan santai, dia mengenakan kaosnya sambil berjalan.


Berliana menendang kopernya kesal.


Dihempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu sambil mengumpat, “Haiz … belagu sekali janda itu!”



“Kamu kenapa? Baru datang sudah mengomel!” Gerry menuruni tangga.


“Kamu benar sayang! Yazza memang berkencan dengan janda itu!”


Menyipitkan mata, “Lalu kamu kesal karena dia sudah move on darimu?”


“Bukan begitu! Tadi mereka mempermalukan aku di bandara! Aku malu sekali!”


“Berani sekali? Aku jadi penasaran tentang wanita itu?” duduk sambil menerawang.


Tersenyum sengit, “Informan suruhanmu lumayan gesit juga. Cih … Yazza sungguh menurunkan seleranya! Dia hanya seorang janda yang arogan!”


Gerry tersenyum licik, “Aku akan membalas yang Yazza lakukan padamu. Tenang saja!”


Karena memang Yazza tujuanku! Jika memang Yazza sudah mempunyai kekasih baru, itu artinya wanita ini sudah tidak berguna lagi. Akhirnya bisa membuangnya juga!


Gerry tersenyum menatap licik Berliana sembari bergumam dalam hatinya.


Menyipitkan mata, “Kamu kenapa?”


Menggeleng, “Hanya sangat merindukanmu! Sudah satu minggu kamu berlibur di sana. Pasti banyak cowok bule yang tampan bukan?”


Tersenyum sipu mendesal ke dekapan Gerry, “Ah kamu … masih saja semanis ini! Tidak ada pria yang lebih tampan dan lebih baik darimu!”


*Cuih!


Itu hanya karena uangnya saja*!


Cibir Berli dalam hati.


Tiba-tiba wanita itu mengingat kata-kata Yazza, “Sayang ….”


“Ya?” merangkul bahu Berli.


“Waktu kamu perjalanan bisnis ke Bandung, apa klien mu adalah seorang wanita?”


Menyipitkan mata, “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”


“Yazza menyuruhku bertanya, dengan siapa kamu di sana saat bertemu dengan mereka pertama kali.”


“Cih! Masih saja berusaha menjatuhkanku!“ tersenyum, “Memang klien ku seorang wanita, tapi kita meeting tidak hanya berdua. Yazza selalu saja melebih-lebihkan!”


Tersenyum mencibir, “Cuih! Dia sudah bersama janda itu tapi tetap saja cemburu padamu. Dia pasti sangat tidak bisa melepaskanku!” ucap Berliana begitu percaya diri.


Gerry tersenyum mengelus pundak Berli, lagi-lagi dia mulai bergumam dalam hati.


Lihat saja! Jika memang Yazza sudah tidak menderita lagi karena aku merebut orang yang dia cintai. Maka aku akan mencari cara lain agar hidupnya tetap menderita!

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2