
Vee terus melihat ke sekeliling.
Mobil dijalankan dengan sangat lamban.
“Bagaimana?” tanya Daniel.
Menggeleng, “Nihil!” menghela nafas.
“Sudah ada info dari kantor atau team lain yang juga mencari?”
Melihat ponselnya, “Belum!”
“Haiz … bagaimana bisa gps mobil pengirimannya juga dimatikan! Tidak ada berita kecelakaan ‘kan?”
“Tidak ada … kalaupun kemungkinan buruknya mereka kena begal atau kejahatan lainnya … itu yang lebih saya khawatirkan!”
“Haiz! Semoga saja tidak terjadi hal buruk seperti itu?” Daniel menghela nafas panjang ikut melihat ke sekeliling.
...***...
Pak Ardi membuka pintu ruangan Yazza.
“Tuan, orang kantor White Purple mengatakan, ada masalah besar di sana!”
Menyipitkan mata, “Katakan!”
“Mobil pengiriman barang yang seharusnya sudah sampai ke perusahaan Nirwana, tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dilacak. Perusahaan Nirwana merasa ditipu dan berniat menuntut jika pesanan mereka tidak kunjung datang juga hari ini!”
“Menghilang? Terdengar cukup aneh!”
“Nyonya Vee bersama pak Daniel turun ke lapangan untuk menyelidiki.”
“Induk inang G Cooperation itu memang terkenal otoriter. Tapi sejauh yang kutahu, mereka tidak akan dengan sengaja mencari masalah atau membuat drama!” berdiri merapikan pakaiannya.
“Anda mau ke mana tuan?”
“Aku tidak suka Vee pergi dengan Daniel sampai larut!”
Menyipitkan mata.
“Ke markas Shadow!” Yazza melangkah mantap.
“Baik tuan!” pak Ardi mendahului untuk membukakan pintu.
...***...
Gerry mencibir melihat bangunan di hadapannya.
“Bahkan gaya model bangunannya sangat menggambarkan betapa ambisiusnya Yazza!” cibirnya.
Gerry melihat ke sekeliling.
“Kenapa anak itu masih belum turun juga!” gerutunya merasa jengah.
Dua pria berbadan kurus tampak duduk di dekat area taman.
Gerry menyipitkan mata, melihat mereka dengan seksama.
“Apa mereka sedang bermalas-malasan di sini?” memakai kacamatanya lalu berjalan ke arah kedua pria tadi.
Yve yang digandeng pak Didik turun untuk mengantar Caesar.
“Yve, terima kasih oleh-olehnya! Dan paman, terima kasih sudah menemani kami bermain!” Caesar memberi hormat pada pak Didik.
Terkekeh, “Hahaha … anak pintar. Orangtuamu pasti sangat pandai dalam mendidik anak!”
Yve tersenyum, “Main lagi kapanpun kamu mau!”
Caesar tersenyum, “Tentu saja!”
Melihat sekeliling, “Tapi di mana om kamu? Katanya sudah menunggu di bawah?” tanya Yve.
“Ah, benar. Coba telepon lagi!” saran pak Didik.
Caesar celingukan, “Mobilnya di sana!” menunjuk ke depan, “Eh … itu dia … om aku di taman!” menunjuk seseorang.
Pak Didik menyipitkan mata, “Sepertinya tidak asing?”
“Paman mengenal om aku?” tanya Caesar.
“Em, apakah namanya pak Gerry?”
“Ah, iya. Itu nama om aku!”
Terkekeh, “Pamanmu sangat terkenal dalam dunia bisnis. Tentu paman tahu dia … tapi belum tentu pak Gerry mengenal paman!”
__ADS_1
“Ah benar, om Gerry memang selalu sibuk bekerja!”
“Tapi siapa dua pria yang bersamanya. Penampilannya tidak seperti orang kantoran!” pak Didik menyipitkan mata, bergumam dalam hati.
“Sepertinya … om kamu sedang berbicara pada orang?” Yve mengamati.
Menyipitkan mata, “Mereka seperti paman yang sering menemui mama!” Caesar sedikit ragu.
“Ah, mungkin mereka memang saling mengenal dan sedang saling menyapa sekarang. Kita tunggu saja!” saran pak Didik.
“Paman dan Yve kembali saja … saya akan menghampirinya!” Caesar tersenyum.
“Kalau begitu hati-hati di jalan! Sampai jumpa besok di sekolah!” Yve berpamitan.
“Sekali lagi terima kasih!” melambai, “Sampai jumpa … bye-bye paman!”
Pak Didik tersenyum mengangguk ikut melambai.
Caesar berjalan pelan menenteng tas yang berisi oleh-oleh dari Yve.
Kedua orang itu terkejut melihat Gerry.
Buru-buru mereka berdiri untuk memberi salam penghormatan.
“Kenapa kalian di sini?” sergah Gerry.
“Seperti yang anda perintahkan tuan … bertugas tentunya!”
Menyipitkan mata, “Di sini?”
“Ya … wanita yang ingin anda selidiki tinggal di sini!”
“Sungguh?” tersenyum sinis.
“Semalam Yazza menginap dan kami sudah mendapatkan rekaman videonya.”
“Ah … bisa untuk menjatuhkan nama baiknya! Kerja bagus!” puji Gerry.
“Kemungkinan Yazza akan kembali pulang ke sini. Jadi, kami sengaja menunggunya lagi di tempat ini!”
“Om Gerry!” panggil Caesar.
Ketiganya terdiam.
Gerry menoleh ke belakang.
“Kenapa tuan muda di sini?” tanya salah seorang.
“Eh benar! Ini paman yang sering menemui mama ‘kan?” tanya Caesar polos.
“Iya tuan muda!” tersenyum ramah.
“Kenapa kalian di sini?”
“Em … ibu Tasya meminta kami mengawasi anda!”
“Ah, jangan khawatir … sudah ada om Gerry sekarang!” Caesar tersenyum.
Mereka balas tersenyum, “Kalau begitu kami permisi!”
Gerry mengangguk, menggandeng tangan Caesar, “Kita pulang sekarang … sudah gelap!”
Mengangguk tersenyum, “He’um!”
...***...
Kantor PT Gadai Bayang.
Dua satpam menyambut membukakan pintu saat Yazza dan pak Ardi hendak masuk ke dalam kantor pegadaian.
Jam operasional kantor ini melayani 24 jam pelayanan.
Semua terlihat normal, layaknya kantor pegadaian pada umumnya.
Ada beberapa orang di sana. Yazza duduk menunggu di kursi antrian. Sementara pak Ardi mengambil nomor antrian.
Bukan antrian teller, melainkan antrian customer service.
Tidak perlu menunggu lama, begitu nomor disebutkan, Yazza segera mendekat.
Wanita cantik tersenyum hangat, “Apa yang bisa saya bantu tuan?”
“Saya membutuhkan 2.479 pon daging sapi kualitas terbaik!”
Menyipitkan mata, “Apakah anda yakin tidak salah masuk tempat?” melihat ke sekeliling, “Ini kantor pegadaian!”
Mengangguk, “Tapi saya butuh daging!”
__ADS_1
Tersenyum, “Bagaimana jika anda pergi saja dari sini! Mungkin anda sedang mabuk atau sengaja bercanda dengan para petugas pegadaian ini?”
Yazza mencibir tersenyum tipis.
Wanita itu berdiri melambai ke arah salah satu satpam.
Satpam yang terlihat lebih senior mendekat.
Wanita tadi langsung membisikan sesuatu padanya.
“Oh, maaf tuan … anda sudah mengganggu karyawan! Mari ikut saya keluar!” satpam mempersilahkan.
Yazza berdiri merapikan jasnya, “Mobil saya di parkiran. Boleh antar lewat belakang saja?”
“Mari tuan!” satpam mendahului.
Mereka melangkah mengikuti satpam menuju lift.
Tentu yang ditekan adalah tombol ke lantai bawah.
Pintu lift terbuka.
Seperti sebuah garasi tertutup yang langsung terhubung ke tempat parkiran dengan gedung di sebelahnya.
Gedung itu merupakan gedung ekspedisi penyedia jasa penyewaan truck dan mobil.
Masih satu kepemilikan dengan pemilik pegadaian.
Sekilas memang hanya terlihat seperti area exit.
Mereka masuk ke sebuah pintu yang mengarah ke gedung sebelah.
Beberapa mobil jasa pengangkutan barang berada di dalam garasi yang tertutup rapat.
Di ujung sisi lain pintu garasi utama, terdapat pintu besi geser yang sangat besar.
Satpam memberi hormat lalu membuka akses pintu dengan kartu khususnya.
Pintu bergeser membuka otomatis.
Di dalam begitu luas dan sangat terang.
Banyak sekali alat-alat permainan kasino yang masih sangat bagus.
Yeah, di sanalah markas Shadow yang sebenarnya.
Tempat yang juga merupakan gudang alat permainan kasino.
Yazza dan pak Ardi segera masuk.
Satpam langsung kembali menutup pintu dari luar.
Beberapa pekerja tampak sibuk memeriksa mesin yang siap dikirimkan ke tempat-tempat kasino seluruh kota. Pergantian rutin tiap minggu untuk pengisian hadiah juga perbaikan.
Tidak ada bisnis yang benar-benar bersih di bawah kekuasaan Shadow.
Dengan sedikit memodifikasi mesin, mereka akan menerima keuntungan yang lebih.
Shadow sendiri merupakan salah satu kelompok mafia di kota.
Bedanya, mereka lebih berfokus pada bisnis perdagangan ketimbang menyediakan jasa orang sewaan.
Seorang pria botak berjalan sembari menghisap cerutunya.
Badannya gempal, tinggi dan cukup berkarisma.
Di belakangnya, gadis cantik berbadan ramping memakai kemeja putih ketat dan rok hitam di atas paha tampak tersenyum ramah.
Rambutnya diikat tinggi ke atas, berwarna hitam, panjang dan lurus.
Wanita itu terlihat jauh lebih muda dari pria yang menjadi tuannya.
“Wah, mengejutkan sekali … apa yang membuat anda sampai harus datang ke tempat kotor ini!” pria tadi melepas cerutunya.
Yazza memberi hormat, “Apa kabar Mr. Bald!”
Terkekeh, “Hahaha … beberapa waktu yang lalu anak buahku mengakui kesalahan mereka … apa kedatangan tuan berkaitan dengan ini?”
Menggeleng, “Saya butuh ‘bayangan mata’!”
Menyipitkan mata kembali menghisap cerutunya.
“Kenapa mau melihat bayangan?” Mr. Bald bertanya santai.
“Takutnya … ada ‘badai’ yang sengaja ingin membuat langit murka!”
Tampak geram, “Apa mereka berulah lagi?” menoleh ke asistennya dengan tenang, “Icha … kumpulkan team!”
Tersenyum manis, “Baik tuan!” dia mengangguk hormat lalu membalikan badan.
Berjalan anggun dengan belahan rok yang memperlihatkan hampir seluruh paha kanannya.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...