RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MEMOTONG SAYAP


__ADS_3

Melihat ekspresi dari kedua tamunya, paman Mail tampak bertanya-tanya.


“Apa ada yang salah?” menyipitkan mata dengan dahi mengerut.


Pak Ardi menggeleng, tersenyum mengangkat kepalanya.


Menghampiri paman Mail, “Tuan Yazza hanya sedih dengan kehidupan Vee di masa lalu yang begitu susah.”


Menghela nafas, “Yeah, beginilah kehidupan kami! Tapi dia tidak pernah mengeluh!”


Mengelus pundak paman Mail, “Boleh kami masuk ke kamarnya?” inisiatif pak Ardi.


Mengangguk, “Di sebelah sini silahkan!” mendahului untuk membukakan pintu.


“Tuan!” pak Ardi mencoba menegur Yazza agar bersikap tidak mencurigakan.


Menghela nafas panjang dan menghempaskan.


Yazza mencoba menguatkan diri untuk berjalan mengikuti pak Mail.


Kasur lantai dan sebuah almari susun dari plastik sudah tampak memenuhi ruangan, ditambah satu meja kecil yang dipenuhi buku-buku.



Dinding di sana penuh sekali dengan coretan dan tulisan.


“Ah, temannya Vee ini sedikit susah menerima pembelajaran semasa sekolah. Dan karena tidak ada biaya untuk membeli papan tulis, Vee sengaja menulis berbagai rumus dan materi penting di dinding untuk membantu sahabatnya menghafal dan belajar,” tersenyum, “Sesekali saya mendengar Vee begitu kesal dan tegas saat temannya ini mengeluh kesulitan atas apa yang sudah Vee ajarkan. Sungguh sepasang sahabat yang selalu melengkapi satu sama lain!”


Yazza melihat nomor telepon yang tertulis di dekat meja kecil.


Tidak asing!


Dia mencoba mengingatnya.


“Itu nomor siapa?” tanya Yazza membuat pak Mail terkejut.


“Ah, nomor lama Vee!” tersenyum, “Sudah tidak pernah aktif lagi setelah dia meninggalkan pesisir!”


Yazza mengambil ponselnya, dia melihat gambar yang di kirimkan oleh Mr. Bald.


Di genggamnya semakin erat ponsel di tangannya hingga otot-otot lengannya menyembul keluar.


“Tuan!” pak Ardi kembali menyentuh lengan Yazza untuk meredamkan amarah tuannya.


“Apa Vee menyebutkan alasan kenapa dia begitu membenci saya?” tanya Yazza tanpa melihat paman Mail.


Menggeleng, “Tidak! Seingat yang aku tahu, dia akan mengalihkan pembicaraan atau marah tiap saya ingin membahasnya,” kembali tersenyum, “Nama anaknya Yve, sengaja dia memberi nama yang sama dengan putri sahabatnya!”


“Nama yang sama?” mendengus mencibir.


“Ahh, saya ingat! Nama wanita itu Yunna!”


“Tuan!” pak Ardi hendak berbicara.


Yazza mengangkat sebelah tangannya, berisyarat agar pak Ardi menutup mulut terlebih dahulu.



“Yve, adalah singkatan nama keduanya, Yunna dan Vee. Itu sebabnya putri wanita itu diberi nama Yve dan putri Vee juga diberi nama yang sama,” menggeleng, “Saya sendiri juga tidak mengerti. Bukankah akan membingungkan jika mereka bertemu dan kedua putri mereka memiliki nama panggilan yang sama?”


“Atau mungkin, memang hanya ada satu Yve!” desis Yazza.


“Hah? Apa tuan saya tidak mendengar dengan jelas?” paman Mail mengernyitkan dahi.


Tersenyum kecut, “Saya pikir, Yve putri kami adalah singkatan Yazza dan Vee!”


“Ah, itu bisa juga,” menepuk kepalanya, “Kenapa tidak terpikirkan!”


“Anda tahu? Bahkan dia masih menuliskan nama saya di akta kelahiran Yve!” ucapan Yazza kali ini terdengar begitu santai tapi penuh dengan tekanan.


“Benarkah?” terkekeh, “Hahaha! Vee sebenarnya memang tidak ingin melupakan anda! Tapi karena keangkuhannya, dia menjadi keras pada dirinya sendiri dengan tidak ingin menemui anda!”


Atau ada maksud lain dengan tetap mencantumkan namaku di sana!

__ADS_1


Geram Yazza dalam hati.


Menepuk-nepuk bahu Yazza, “Sepertinya saya yakin sekarang, anda memang serius untuk mempertanggung jawabkan kesalahan anda! Jika tidak, mana mungkin anda akan berani datang kemari!”


“Jika dia sudah mengakui menjadi ibunya Yve, itu artinya dia memang akan menjadi istri saya bukan?”


“Eh … tentu saja! Itu anak kalian! Kalian harus membesarkannya bersama!” paman Mail kembali terkekeh.


Yazza tersenyum licik mengepalkan tangan semakin geram.


...***...


Daniel mengantar Vee dan Yve kembali ke tempat tinggal mereka.



“Boleh mampir?” tanya Daniel kepada Yve yang memegang kantung kue kacang yang sudah dibuat tadi.


“Tidak!” sahut Yve cepat.


“Cih!” mencibir.


Mereka memang berhenti di depan gerbang.


“Terima kasih pak Daniel untuk hari ini. Keluarga pak Daniel sangat hangat dan menyenangkan.”


Tersenyum kepada Vee, “Kalian bebas datang kapanpun kalian suka!”


“Salam untuk mama,” Vee tersenyum ramah.


Tersipu, “Aww … sweet sekali! Calon istriku sudah memanggil mama pada calon mertuanya!”


“Hya! Jangan sembarangan bicara!” sentak Yve pada Daniel.


Vee tersenyum mengelus kepala Yve, “Lebih baik pak Daniel pulang sekarang, sudah mau gelap!”


Tersenyum mengangguk, “sampai jumpa lagi tikus kecil dan tikus besar!” melambai dari dalam mobil.


Yve mengancam memukul dengan mengangkat sebelah tangan sambil mencibir.


Daniel balas tersenyum, menutup jendela mobil dan mulai menjalankan kembali mobilnya.


Yazza duduk santai membaca buku di sofa dekat jendela yang memperlihatkan kolam renang di bawah sana.



Vee membuka pintu dengan kartu aksesnya.


Melihat sesosok pria sudah berada di dalam rumahnya, tentu membuatnya terkejut bukan main.


Sedikit menoleh, “Baru kembali sejak pagi tadi?” tanya Yazza sinis.


“Kenapa anda bisa di sini!”


“Papa!” Yve berlari mendekat.


Yazza tampak begitu acuh, melanjutkan membaca.


Yve menyipitkan mata berdiri di sebelah Yazza, “Kami tadi membuat kue, Yve sengaja meminta untuk dibawa pulang agar papa mencobanya. Kue kacang, Papa juga suka kacang jadi aku langsung memikirkan tentang papa!”


Yazza tetap acuh tanpa menoleh sedikitpun.


Yve sedikit mewek, menunduk sedih menarik lagi kue yang sempat dia sodorkan.


Melihat perubahan wajah Yve membuat Vee menjadi kesal terhadap sikap pria itu.


“Pak Yazza!” sentak Vee.


“Bersiaplah untuk acara kejutan makan malam!” tetap menatap buku tanpa menatap keduanya.


Vee tidak tega melihat kesedihan putrinya, “Sayang! Mandi dulu gih!”


Yve mengangguk, melihat papanya lagi sebelum akhirnya melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


Vee langsung mendekat, “Kenapa anda bisa masuk!”


“Anak itu memberikanku kartu aksesnya!”


Bertolak pinggang memejamkan mata sambil membalikan badan, “Ckk! Anak ini sungguh!”


“Dari mana?” tanya Yazza dengan nada dingin.


“Bukan urusan anda!” tegas Vee menyahut seketika.


“Pakaian jogging?” melihat Vee, “Sepertinya memang baru pulang sedari pagi!”


“Itu terserah saya!”


“Bersiaplah! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Dan kamu akan menyukai kejutan dariku nantinya!” tersenyum sinis menatap Vee.


Menyipitkan mata, “Kenapa terdengar mencurigakan! Kami lelah, kami tidak akan ikut pergi!”


Menarik lengan Vee.


Berusaha melepaskan.


Yazza semakin erat menggenggam lengan Vee, “Dengar! Akan aku pastikan kamu tidak akan bisa seangkuh ini lagi setelah ini!”


“Cih! Anda terlalu percaya diri!”


“Cepat bersiap!”


Menarik lengannya dengan keras, “Setidaknya ini hari terakhir saya akan menuruti kata-kata anda!”


Tersenyum mencibir, “Sungguh? Kamu akan menyesal mengatakannya!”


“Cuih!” Vee kesal membalikan badan berjalan menuju kamarnya.


Yazza menghela nafas panjang.


Kali ini dia meletakan bukunya, mengepalkan tangan melihat ke luar jendela.



Beberapa jam sebelumnya.


Yazza dan pak Ardi dalam perjalanan pulang dari pesisir.


“Jadi, apa yang akan tuan lakukan kepada nyonya Vee?”


“Memotong sayapnya!”


Menyipitkan mata melirik spion atas, “Maksud tuan?”


“Seorang peri tidak akan terbang dengan bebas jika tidak memiliki sayap!”


“Itu benar, tapi saya sungguh tidak memahaminya?” pak Ardi penasaran.


“Dia memalsukan segalanya untuk anak itu. Bahkan rela dihina dan dicap sebagai wanita murahan karena melahirkan tanpa suami. Tidakkah itu artinya, anak itu begitu penting baginya?”


“Lalu, bukankah nyonya Vee sudah tahu semua rahasia kita?”


“Ya … coba pikirkan, kenapa dia masih tidak mengungkapkan dan malah memilih melarikan diri, menghindari kebenaran?”


Tampak berfikir, “Shhh … jika nyonya Vee melaporkan kejahatan itu, dia sebenarnya mempunyai banyak bukti untuk bisa membuat kita semua tertangkap. Dan yeah … dia malah justru menyembunyikannya!”


“Karena untuk melindungi anak itu!” mengepalkan tangan geram, “Apa yang akan terjadi jika anak itu tahu, Vee bukanlah ibu kandungnya!” tersenyum sinis.


“Memotong sayapnya?” pak Adri sepertinya mulai sedikit memahami sekarang.


“Kita akan mengadakan wawancara dengan majalah besok!” Yazza kembali tersenyum licik menatap ke samping.


Mobilnya melaju melewati jalanan kota.



...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2