RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SALAH TUDUH


__ADS_3


Dokter selesai memeriksa Yazza.


Vee langsung memanggil dokter agar datang ke kediaman Giono setelah melihat Yazza tidak henti-hentinya pergi ke toilet.


“Perbanyak minum air putih dulu setelah ini,” saran dokter.


“Tapi Dok … dia sudah bolak-balik ke toilet sebanyak puluhan kali. Beneran dia tidak perlu diberi cairan infuse?” Vee masih panik.


Tersenyum menggeleng, “Sudah saya kasih obat, semoga bisa lekas membaik.”


“Makasih dok! Mari saya antar,” ucap kek Gio ramah.


Mengangguk, “Sama-sama pak Gio … mari!”


Dokter berpamitan kepada Yazza dan Vee.


Kek Gio membimbing dokter berjalan menuju pintu keluar kamar.


Begitu kedua pria itu sudah tidak terlihat, Vee langsung menatap ke arah calon suaminya.


Dengan ragu dia duduk di sebelah Yazza, “Makan sedikit dulu baru minum obat ya?” ucapnya sungkan.


“Nggak usah sok baik lagi!” membuang muka jutek.


Manyun, “Sungguh … aku tidak menaruh apa-apa!”


“Tidak dengar apa kata dokter tadi? Jelas-jelas ini obat pencuci perut!”


Memegang keningnya, “Astaga beneran loh! Aku juga tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini!”


“Shhh! Udah deh … keluar saja dulu sana! Aku mau istirahat!”


Menggeleng, “Nggak mau! Meskipun aku tidak membenarkan tuduhan mu, tapi kamu menjadi seperti ini karena memakan masakan ku! Aku harus merawat mu,” tegas Vee kekeh menyilangkan tangan di perut.


“Hya! Tidak usah sok merasa bersalah. Aku tidak percaya lagi padamu,” miring membelakangi Vee.


Vee makin manyun merasa tidak enak hati.


Pelan dia mulai menggoyang-goyangkan lengan pria di sampingnya, “Yazza … please! Jangan begini! Aku lebih baik mendengar mu marah-marah dan berteriak ketimbang diam seperti itu!”


“Shhhh!” membenamkan kepala di balik selimut.


Bibir Vee mulai kelu dengan tatapan sendu.


“Yazza!” rengek nya masih sembari menggoyang-goyangkan lengan pria yang menyembunyikan diri di dalam selimut.


...***...


Kek Gio masih berdiri di depan pintu bahkan ketika mobil dokter sudah tidak terlihat lagi.



“Tuan, kenapa terlihat tidak tenang?” tanya pak Karno.


Menghela nafas, “Aku yakin Vee tidak mungkin melakukan hal itu kepada Yazza!”

__ADS_1


“Saya juga berpikir begitu,” menerawang ke depan, “tapi siapa pelaku sebenarnya? Semua orang yang bekerja di sini adalah orang-orang lama yang sudah dipercaya!”


“Kecuali satu!” sahut kek Gio cepat.


Menyipitkan mata, “Hah? Siapa?”


“Pengasuh Yve!”


“Pengasuh Yve?” ulang pak Karno mengernyitkan dahi dengan alis yang bertautan.


“Aku sudah cukup curiga dan merasa ada yang tidak beres dari gadis itu!” mengingat sesuatu, “Dari caranya menatap Yazza saja sudah terlihat aneh!”


“Shhh! Kenapa tidak diganti lagi saja?” tanya pak Karno.


“Vee juga tidak mungkin memecat seseorang tanpa alasan. Jika ingin menyingkirkannya, sebaiknya harus mencari bukti dulu! Kita juga tidak boleh asal menuduh begitu saja!”


Klakson mobil terdengar.


Satpam langsung membuka pintu gerbang.


“Sepertinya itu pak Ardi!” pak Karno melihat untuk memastikan.


“Nah, sebaiknya tanyakan padanya! Dia yang sudah merekrut gadis itu!” kek Gio ikut melihat ke arah depan.


Tanpa ragu, pak Karno langsung mengangguk untuk mematuhi perintah tuannya.


Begitu mobil diparkirkan, pak Ardi turun membawa setumpuk berkas dan tas laptop.


Kek Gio berdecak menggeleng, “Ckckck,” menatap pak Ardi yang berjalan mendekat, “bahkan hari libur juga masih membawa pekerjaan datang ke rumah!”


Pak Ardi tersenyum meringis tidak enak hati, “Jika bukan karena proyek Paradise, kita juga tidak akan memaksakan diri untuk lembur!”


“Entah kenapa, G Corporation membatalkan kontrak dan pak Hirza menghubungi kami untuk menandatangani kontrak!”


“Apa?” kek Gio terkejut setengah berteriak.


“Yeah … tiba-tiba mereka meminta supaya kami memperbaiki desain … tentu saja kami tidak akan bisa menolak! Apapun alasannya,” jawab pak Ardi cukup frustasi.


Kek Gio membuang muka, menghela nafas semakin gelisah, “Huh! Kenapa sih mereka ingin mendekati Yazza?”


“Sepertinya mereka memang sedang memanfaatkan kita untuk menjatuhkan Strom!” sahut pak Ardi menjawab dengan serius.


“Padahal aku sudah berusaha semampuku untuk tidak melibatkan Yazza dalam hal-hal seperti ini lagi!” menggeleng menundukkan kepala.


“Anda tidak perlu khawatir. Meski Mr. Bald selalu menunjukan sikap dingin, tapi sebenarnya Shadow tidak pernah meninggalkan objek bayangannya! Terlebih untuk mengawasi keselamatan tuan Yazza,” pak Ardi mencoba membuat kek Gio merasa lebih tenang.


“Aku sudah memintanya untuk tidak terlalu sering bertemu dengan Yazza.”


Tersenyum, “Bagaimanapun juga … Mr. Bald tetap setia kepada anda!”


“Cih! Aku sudah pensiun dari dunia itu,” cibir kek Gio.


“Eh iya … kenapa tuan besar dan pak Karno ada di depan rumah?” celingukan melihat kea rah pintu utama.


“Sehabis mengantar dokter,” sahut pak Karno menjawab.


“Dokter? Siapa yang sakit?”

__ADS_1


“Ada yang menaruh obat pencuci perut dalam bubur yang dimasak nyonya Vee.”


“Hah? Siapa?” tanya pak Ardi terkejut menatap pak Karno.


Tangan kanan kek Gio itu tampak menggeleng sembari menoleh ke belakang, “Entahlah … tapi tuan Yazza masih menuduh jika nyonya Vee lah pelakunya!”


Menyipitkan mata, “Hah? Itu tidak mungkin!” bantah pak Ardi cukup percaya diri.


Mendengus tersenyum, “Bahkan kamu juga bilang begitu kan?”


“Maksud tuan?” pak Ardi tidak mengerti.


“Kita semua percaya jika Vee bukanlah pelakunya! Memang sih … Vee yang memasak bubur itu, tapi mana mungkin dia sejahat itu kepada Yazza,” kek Gio mengangkat bahu, “Itulah kenapa kita curiga ada yang sengaja menaruh obat pencahar di masakan Vee!”


“Tapi siapa yang ingin mencelakai tuan Yazza di dalam rumah ini?” pak Ardi diam menerawang.


Kek Gio menghela nafas panjang, “Kasihan Vee … dia dimarahi Yazza karena kesalahan yang belum tentu dia lakukan!”


Pak Ardi jadi semakin penasaran, “Aneh sekali! Apa ada penyusup?”


“Justru kami mau bertanya pada pak Ardi tentang hal ini,” ucap pak Karno.


“Bertanya kepada saya?” ulang pak Ardi.


“Ya … tentang pengasuh nona Yve. Memangnya, darimana anda mendapatkan gadis itu?” tanya pak Karno.


“Dari agensi … kenapa dengan anak itu? Apa ada yang tidak beres?” pak Ardi balik bertanya.


“Entahlah … coba kalian cari tahu!” kek Gio membalikkan badan.


Dengan bertumpu pada tongkat, dia berjalan pelan menuju pintu masuk.


...***...



Pak Rudi dan Tasya sudah duduk bersila berhadap-hadapan di restaurant Jepang.


Pria paruh baya itu tampak tersenyum sembari menuangkan the.


“Bidadari akhirnya turun juga dari langit,” ucapnya santai.


Tasya tersenyum sipu mendengar pujian pak Rudi, “Anda terlalu melebih-lebihkan. Saya hanya manusia biasa!”


Terkekeh, “Hahaha! Sungguh jarang sekali bisa melihat anda semenjak melahirkan putri kedua anda!”


“Saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga … suami dan adik-adik saya yang mengambil alih kantor!”


“Eh benar! Adik perempuan anda sudah kembali ke sini kan? Beberapa waktu yang lalu, kedatangannya di acara lelang menarik begitu banyak perhatian dari para pengusaha besar!” Kembali terkekeh, “Hahaha! Kalian berdua sungguh memiliki daya pesona yang luar biasa!”


Tasya kembali tersenyum sipu, “Anda memuji saya lagi!”


“Silahkan diminum,” melihat ke arah pintu, “Mr. X ini bagaikan harta karun yang tersembunyi di dalam badai. Aku sangat menyukai cara kerjanya,” tersenyum menatap Mr. X.


“Terima kasih pak atas pujiannya!” Mr. X menunduk memberi hormat.


“Jadi, hari ini … kamu meminta bertemu … apa karena tentang adik ipar mu?”

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2