
Jam sepuluh malam.
Mr. Bald, Leo dan Icha baru meninggalkan ruangan.
Itu dikarenakan jam jenguk sudah mencapai batas.
Jika saja tidak ada batasan, mungkin mereka masih akan di sini.
Mengobrol basa-basi dengan Mr. Bald dan Icha memang cukup menarik.
Banyak sekali topik pembicaraan yang tidak ada habisnya.
Mr. Bald sangat tertarik dengan kisah hidup Vee semasa masih berada di pesisir.
Pantas saja Vee begitu kuat dan tangguh bertarung melawan tiga preman elite dari Strom.
Mr. Bald mengatakan, Icha juga seorang petarung wanita yang cukup tangguh, tapi dia tidak seberani dan senekat Vee yang bahkan tetap melawan dengan tangan kosong meski tahu mereka bersenjata.
Itu sebabnya Mr. Bald berniat memberikan hadian cincin petarung untuk Vee.
“Hei … bahagia sekali mendapat cincin baru,” cibir Yazza sembari melirik Vee yang sedang tersenyum mengamati cincin barunya.
“Tentu saja … aku bisa menggunakan ini untuk mengancam kamu nanti,” Vee cengingisan.
“Hya, kamu lupa apa kata Mr. Bald tadi? Tidak boleh untuk melukaiku!”
“Cih,” cibir Vee langsung mengambil handphone, “Yve sudah pulang belum ya?”
Menyipitkan mata, “Dari mana?”
“Tadi dia menelepon … dia meminta ijin main ke rumah teman.”
“Oh!”
“Hanya oh?” cibir Vee.
“Harus apa memangnya?” tanya Yazza datar.
“Paling tidak ikut khawatir dong … dia seorang gadis kecil! Jika jam segini belum pulang, sebagai ayah seharusnya kamu ikut penasaran!”
“Sudah aku bilang, kita belum punya anak!”
“Yazza! Aku malas berdebat lagi tentang ini!” tegas Vee.
“Cih … baiklah terserah kamu saja! Lagipula sudah ada madam Lia juga ‘kan? Apa lagi yang perlu dikhawatirkan!”
“Aku tegaskan sekali lagi … jika bukan karena kamu adalah ayah Yve, aku sungguh malas sekali berurusan bahkan berbicara padamu! Jadi, bersikap baiklah padanya!”
Menaruh handphone di atas meja, lalu menyilangkan tangan di depan perut dengan wajah cemberut.
“Hmph!” Yazza begitu cuek mengangguk tipis.
Melirik, “Hya … tentang sapu tanganmu … aku minta maaf!”
“Hya … dari banyak hal … kenapa kembali membahas itu?”
“Kamu itu kan perhitungan sekali!” gumam Vee lirih tidak berani menatap Yazza.
“Lagian sudah kubilang jangan di bawa!”
Menatap tajam, “Nah … benar kan! Haiz … aku akan menggantinya! Satu lusin!”
Tersenyum, “Lupakan saja! Besok aku akan meminta orang untuk mengemas seluruh barang kalian!”
“Hah?” menautkan alis, tidak mengerti maksud pembicaraan Yazza.
“Kalian akan tinggal di rumahku,” lanjut Yazza.
“Jangan sembarangan!” protes Vee.
“Karena kamu sudah berhasil memenangkan lelang hari ini, anggap saja hadiah yang aku berikan untukmu!”
“Hya … sudah kubilang, aku sendiri yang akan memutuskan hadiah apa yang akan aku terima!”
Mencibir, “Cih!”
“Tepati janjimu!” menuntut dengan tegas.
“Memangnya apa yang kamu pinta?” Yazza sedikit memicingkan mata.
__ADS_1
“Tidak sulit kok … aku cuma mau, kita berakting di hadapan Yve!”
“Bukankah kita memang selalu berakting?” sela Yazza.
Menghela nafas panjang, “Kita tidak akan bisa menutupi luka ini … luka di lenganku dan luka di kepalamu! Bilang saja kita mengalami kecelakaan ringan dan jangan mengungkit masalah perkelahian di hadapan Yve!”
Mencibir, “Bukankah kamu juga mengajarinya berkelahi?”
“Hya … Yve tidak seperti kebanyakan anak lain! Dia itu tipe yang selalu ingin tahu … jika belum menemukan jawaban, dia akan terus bertanya. Memangnya kamu mau, aku menjelaskan dengan jujur jika aku menghajar preman yang menjadi musuh ayahnya?”
“Memangnya kenapa dengan itu?” Yazza kembali cuek.
“Hya otakmu berguna tidak sih?” Vee kesal, “Yve akan sedih jika tahu ayahnya memiliki musuh … padahal dia sangat yakin jika ayahnya orang baik! Apa aku juga harus bilang jika ayahnya itu punya teman seorang gangster?”
Yazza mendengus mencibir, “Sebenarnya kamu tidak ingin anak itu sedih atau sedang melindungi nama baikku?”
Vee makin kesal mendengarnya, “Susah kalau ngomong sama orang yang tidak mau mendengarkan orang lain,” membuang muka
“Hya siapa yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain?” sindir Yazza.
Vee jadi teringat kejadian siang tadi.
“Maksudmu apa?” defensive balik meninggikan nada.
“Hya … jangan terlalu dekat dengan pak Hirza! Kamu akan menjadi istriku dan dia itu seorang duda … akan ada gosip lain nantinya,” Yazza menghela nafas, “yang ini saja masih belum mereda! Untung beritanya tertutup oleh peristiwa tawuran pelajar!”
“Tunggu … duda?” Vee menyipitkan mata.
“Hya, jangan bilang kamu tidak tahu! Apa yang kalian obrolkan seharian tadi?” sentak Yazza.
Jangan sampai kelepasan jika Vee memang tidak mengobrol dengan Hirza.
“Memangnya kenapa kalau tidak tahu … aku tidak suka membicarakan hal yang sensitive di hadapan orang. Kita hanya membicarakan nostalgia masa lalu saja,” dalih Vee.
“Pokoknya jangan terlalu dekat! Anaknya juga sudah cukup besar.”
Vee tampak berpikir, “Woah … cocok sekali! Aku ibu tunggal dan dia seorang duda,” dengan sengaja dia hendak membuat Yazza kesal.
“Hya …. Sembarangan! Kita akan menikah dalam waktu dekat!” sentak Yazza kesal.
Vee mendengus cengingisan, “Bahkan kamu sok manis kepadaku di hadapan senior buaya tadi!”
Vee mencibirkan bibir, “Cih … kita hanya berteman!”
“Lidah tak bertulang … hati manusia siapa yang tahu?”
Tersenyum genit, “Well, Hirza sangat keren dan masih muda. Gurita bisnis Paradise ada di mana-mana! Itu artinya … dia duda berkualitas premium!”
“Hya!” sentak Yazza semakin geram.
Cekikikan geli, “Dia tidak mungkin juga suka kepadaku! Perbedaan kami seperti bumi dan langit!”
Mencibirkan bibir, “Bagus kalau kamu sadar diri!”
Tersenyum mencibir, “Heh … aku belum menyebutkan permintaan kedua,” mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Ada lagi?” protes Yazza mengernyitkan dahi menatap Vee.
Mengangguk, “Yaps … permintaan kedua adalah, aku tidak mau pergi dari apartemen sebelum kita benar-benar resmi secara hukum!”
“Tidak bisa begitu! Aku sudah mengumumkan ke publik … tidak aman jika kita tinggal di tempat yang berbeda!”
“Cih … memangnya apa bedanya? Tidak satu rumah sekalipun kamu juga sering menginap meski tidak aku ijinkan!”
“Pokoknya besok kalian harus pindah!” tegas Yazza.
“Hya! Tepati janjimu, aku sudah membantu hari ini!” protes Vee.
“Kenapa banyak sekali sih permintaanmu!”
Mencibir, “Intinya aku belum mau pindah!”
“Baiklah aku mengalah! Tapi berikan akses masuk untukku!”
“Cih … bukankah itu sudah kamu dapatkan?” sindir Vee. “Tidurlah! Besok aku sudah akan kembali ke kantor! Aku ingin istirahat!”
“Besok pagi pihak Wedding Organizer akan datang!”
“Hya!” protes Vee lagi.
“Tinggal bilang kepada pak Didik jika kamu akan masuk siang bisa ‘kan?” Yazza mencibir, “Syukur aku masih mengijinkan kamu untuk bekerja!” gerutu Yazza mencibir.
__ADS_1
Vee hanya bisa melotot protes, tapi tidak bisa berkata-kata.
Jika dia membantah, takutnya malah akan jadi panjang.
Yeah, masih syukur dia masih mengijinkan tetap bekerja di White Purple.
Dengan kesal dia berdiri menuju saklar lampu.
Mematikannya.
“Selamat malam!” kembali menuju sofa dengan langkah yang sengaja dihentakkan kasar.
Yazza tersenyum mencibir, “Padahal mematikan dengan remote juga bisa,” beringsut tiduran.
Vee hanya mencibirkan bibir.
“Tidak mau tidur di sebelahku saja?” goda Yazza cengengesan.
Mengangkat tangan kanan, “Woah … sepertinya malam ini akan menjadi 'first blood' untuknya deh!” tentu saja cincin petarung, yang Vee maksud.
Yazza kembali mendengus, “Cih … sepertinya dia memang perlu di bawa ke psikiater,” cibir Yazza, membenahkan selimut, memunggungi Vee.
Vee mendengus tersenyum.
Ikut memunggungi Yazza, tidur di atas sofa.
...***...
Laki-laki muda berjaket kulit berjalan tengil.
Sembari bersiul, dia melangkah ringan menenteng tas dengan sebelah tangan yang disampirkan ke belakang bahu.
Celana biru SMA sudah dia pakai meski tanpa seragam atasan dan hanya menggunakan kaos.
Hirza menatap dari dekat mobilnya.
Dia sudah bersiap untuk berangkat bekerja pagi ini.
“Hans tunggu sebentar!”
“Eh, pagi mas bro,” sapa Hans santai mengangkat tangan kanan, melambai kepada Hirza.
“Mas Hans,” seorang anak laki-laki melongok dari dalam mobil lain.
Terparkir tepat di sebelah mobil Hirza.
“Kita kabur saja, sebelum mendengar ceramah panjang,” celetuk anak itu.
Hirza menyilangkan tangan menatap putranya.
Hans menoleh ke arah Xean, “Heh … jangan bilang kamu tidak makan sarapan lagi?”
“Cih … mas Hans juga tidak sarapan!” dengan angkuh dia menyilangkan tangan di perut menatap ke depan.
“Hans, aku mau bicara serius!” sela Hirza.
“Siap mas bro!” berdiri tegap.
Bersikap seolah menirukan tentara yang sedang memberi hormat kepada atasan.
“Setelah mengantar Xean ke sekolah barunya, pergilah ke tempat mas Rudi … bereskan sisa borok yang kamu buat!”
Seketika Hans berdiri mematung dengan nyali ciut.
“Mas Rudi?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1