
Bogem Vee mendarat tepat di pelupuk mata pria bersenjata.
Pria itu terpental, dan senjata apinya terjatuh.
Darah langsung mengucur menuruni wajahnya.
Dengan sigap, Vee mencengkram kerah leher pria itu, tangan kanannya kembali mengayun dari bawah ke atas.
BUCK!!!
Kali ini tepat mengarah ke rahang bawah si pria.
Pria itu melotot meringis kesakitan, lehernya terasa perih . Pisau kecil di cincin Vee kembali melukainya.
Tidak mau kalah, pria itu berusaha melawan, menahan lengan Vee berusaha membalikan keadaan.
Yazza hendak langsung maju, dengan cepat Mr. Bald menghadang.
“Icha, cepat bantu nona Vee!” Mr. Bald menatap kek Gio.
“Jangan menghalangiku!” berusaha menerobos Mr. Bald.
Menahan Yazza, “Sebaiknya cepat panggil tim gegana! Timer di bom itu terus berjalan.”
Tasya langsung menarik Gerry yang masih terperangah melihat pertarungan Vee dan suruhannya.
“Kita harus kabur sekarang!” desis Tasya panik.
“Mas Ganny, cepat amankan Caesar!” Tisya menunjuk arah Caesar dan Daniel.
Ganny mengangguk langsung menuju arah Caesar.
Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur berlari keluar.
Mereka panik histeris dan ketakutan.
“Kenapa dia selalu nekat seperti itu!” gumam Hirza.
“Mas, kita sebaiknya ikut keluar dulu!” ajak Hans panik.
“Cepat bawa lari Xean! Aku harus membantu Vee!”
Menahan lengan Hirza, “Mas! Jangan ceroboh!”
Menghentakkan, “Cepat! Ikuti saja perintahku!” melihat ke arah Xean.
Daniel menggendong Yve sambil menggandeng Xean mengikuti Ganny keluar dari aula.
Hans menghempaskan nafas panjang menatap Hirza kalah. Tanpa kata-kata lagi, Hans bergegas menyusul Xean.
“Mas Hans! Apa tante Vee akan baik-baik saja?” Xean hendak mendekat, mengikuti papanya.
“Kita keluar dari sini dulu!” menahan lengan Xean.
“Tapi papa dan tante Vee bagaimana?”
“Papa akan membawa tante Vee keluar!” Hans terpaksa menggendong Xean untuk membawanya keluar dari dalam ruangan.
“Mas Hans!” protes Xean berusaha berontak.
Hans tidak memperdulikan saat Xean memukuli punggungnya. Dia hanya menjalankan perintah kakaknya untuk segera membawa Xean menjauhi gedung.
...***...
Leo melihat Berli tampak ketakutan di bawah meja, tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menghampiri.
Berli terkejut saat lengan Leo menyentuh lengannya.
__ADS_1
“Ayo keluar dari sini!” Leo menarik Berli.
Melihat Leo di hadapannya, membuat Berli justru semakin mewek gemetaran, dia menurut mengikuti Leo dan langsung mendekap erat lengan pria itu, “Aku takut!” rengek nya.
Leo menoleh ke depan panggung, melihat Icha sudah turun tangan, sepertinya dia tidak perlu ikut membantu.
“Kita keluar dulu dari dalam gedung ini!” ajak Leo mengelus punggung Berli dengan sebelah tangan yang merangkul wanita itu.
“Apakah itu bom sungguhan?” tanya Berli masih sesekali menoleh ke belakang, “Apa Vee akan baik-baik saja?”
“Seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri! Ini bukan gempa bumi, kenapa malah bersembunyi di bawah meja?” cibir Leo sembari berjalan cepat menuju luar.
Mendongak menatap pria di sebelahnya, “Hya … aku panik dan ketakutan setengah mati! Aku tidak tahu lagi harus bagaimana!”
“Cih! Sudah kuduga … wanita tidak berotak sepertimu pasti akan melakukan hal-hal yang bodoh!”
“Hya!” protes Berli mencibir, wanita itu kembali menoleh, “Sebaiknya kamu bantu Vee deh!”
“Sudah ada orang tangguh yang membantunya! Aku akan masuk lagi begitu memastikan kamu keluar dari tempat ini!” ucap Leo datar.
Deg!
Berli tersenyum sipu menatap Leo tanpa kata-kata.
...***...
Icha menjepit leher pria berpakaian pelayan dengan siku dan lengan kanannya.
Dia berontak berusaha melepaskan lengan Icha dengan susah payah.
Mata pria itu kembali tertuju ke arah senjatanya.
“Vee, ambil senjatanya!” ucap Icha.
Vee melihat ke arah pria itu melihat.
Gawat!
Jangan sampai dia mendapatkan senjatanya lagi!
Si pria berhasil lepas dari Icha.
Dia menarik gaun Vee, membuat Vee terjengkang jatuh ke belakang.
Dengan cepat, pria itu mengambil senjata lalu mengarahkan ke kepalanya sendiri.
DOORRRR!!!
“Aaaaaaaaa!”
Beberapa orang yang di sana tampak memekik histeris menutup mata.
Vee menutup wajah dengan sebelah lengan saat cipratan darah nyaris mengenainya.
Dia mengernyit ngeri melihat kejadian itu terjadi tepat di depan matanya sendiri.
Tubuh pria itu terhuyung ke arah Vee.
Yazza yang hendak berlari melindungi Vee langsung menghentikan langkahnya.
Hirza memeluk Vee dari depan.
Tubuh pria itu menghantam punggung Hirza sebelum tersungkur di atas lantai.
Seketika, darah langsung menggenang di sana.
“Senior!” desis Vee melihat Hirza di hadapannya.
“Kenapa kamu selalu membahayakan dirimu sendiri sih!” gerutu Hirza sambil melihat ke arah lengan Vee, “Astaga kamu terluka?”
__ADS_1
Vee melihat ke arah lengannya sendiri, darah merembes keluar.
Hirza melihat kening Vee, “Kamu berkeringat?” mengelus wajah Vee, “Tubuhmu juga dingin!”
“Pria itu mau melukai Yazza! Syukurlah pelurunya mengenai ku!” ucap Vee lirih tersenyum gemetar.
“Vee! Kamu baik-baik saja?” tanya Hirza panik.
Yazza, kek Gio, Mr. Bald dan Icha terkejut mendengar kepanikan Hirza.
Pandangan mata Vee mulai berpendar, buram.
Seluruh syaraf melemas, hendak mengangkat tangan pun terasa berat.
Semakin lama, semua yang dia lihat menjadi berputar.
“Vee!” Hirza menahan kepala Vee yang terhuyung lemah jatuh ke lengannya.
“Vee!” Yazza panik langsung menarik tubuh Vee dari dekapan Hirza.
“Icha, panggil ambulance!” Mr. Bald ikut panik.
Yazza segera menggendong tubuh Vee berlari keluar ruangan.
Hirza menunduk sedih dengan tangan yang gemetaran.
Dalam keadaan seperti ini ….
Aku masih saja lemah!
Bahkan aku tidak punya kekuatan untuk tetap mendekap Vee lebih lama lagi!
Gumamnya dalam hati menatap ke arah Yazza.
Ada rasa cemburu dan sakit hati melihatnya.
Rasanya dia tidak rela membiarkan Yazza merebut Vee dari dekapannya tadi.
Tapi dia tidak boleh membiarkan egonya menang.
Jika sampai ada yang melihat dan melaporkan ke pak Rudi atau para petinggi Paradise, sama saja Hirza menempatkan Vee ke dalam bahaya yang lebih besar..
Dia tidak ingin jika Vee bernasib sama seperti Raya maupun wanita-wanita lainya yang dekat dengannya.
“Pak Hirza! Sebaiknya kita keluar dari sini terlebih dahulu!” Mr. Bald mengulurkan tangan ke arah Hirza yang masih terduduk lemas di lantai.
Hirza menoleh, mendongak menatap Mr. Bald.
“Sepertinya pakaian anda terkena banyak noda darah!” Mr. Bald melihat genangan darah dari pria yang tersungkur tepat di belakangnya.
Bahkan darah Vee juga mengotori kemeja dan jasnya.
Hirza tidak boleh memperlihatkan kesedihannya.
Dia tersenyum menerima uluran tangan dari pemimpin Shadow itu.
“Terima kasih!” ucapnya sembari berdiri, “Apakah anda sudah menelepon tim penjinak bom?”
Mengangguk, “Yeah! Itu bom sungguhan … sebaiknya kita cepat-cepat menjauh dari sini terlebih dahulu!”
Hirza menganggukkan kepala menoleh melihat ke atas troli sebelum akhirnya menurut untuk meninggalkan ruangan.
Icha dan pak Karno menuntun kek Gio berjalan keluar dari dalam gedung.
Dengan langkah berat, Hirza terus melihat telapak tangannya.
Vee!
Maafkan aku!
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...