
Esok paginya, semua orang tengah sudah sibuk di dapur.
Mereka menyiapkan masakan untuk sarapan Vee dan Yazza yang masih di Rumah Sakit.
Kek Gio sudah menunggu kedatangan pak Ardi sejak pagi.
Mbak Rosi tampak sedang membuatkan kopi untuk kek Gio.
“Itu untuk tuan Gio ya mbak?” tanya Dania sok polos.
“Iya! Seperti biasa!” jawab mbak Rosi.
Dania tersenyum mengangguk-angguk, “Ahh, pasti kopi pahit,” ucap Dania ikut sibuk membantu memasukan makanan ke dalam rantang.
“Eh … sepertinya pak Ardi sudah datang! Rosi, cepat buatin susu untuk nyonya Vee,” pinta bi Imah menoleh menatap mbak Rosi.
Wanita itu tersenyum cengengesan, “Ahh … iya, hampir lupa! Hehehe,” membuka almari untuk mengambil kotak susu bubuk.
Dania terkejut saat melihat bungkus susu itu, “Untuk ibu hamil?”
“Ya … ini kabar bahagia! Pak Ardi meminta saya untuk membelikan susu ini semalam! Nyonya mau punya anak lagi!” mbak Rosi berjalan menuju pemanas air.
Dania melihat ke arah kopi di dalam cangkir.
“Dania! Kamu juga harus segera bersiap ke rumah sakit kan?” tanya mbak Rosi.
Gadis itu terkesiap terkejut menoleh salah tingkah, “Eh iya … benar!”
“Kalau begitu cepat bantu mengemas! Biar cepat kelar,” pinta bi Imah kepada Dania kali ini.
“Ah baik!”
Sementara di luar, pak Ardi merasa heran karena kek Gio sudah menyambut di depan pintu.
Madam Lia memberikan salam hormat.
“Akhirnya kalian datang juga!”
“Kenapa tuan besar di luar? Ini masih sangat dingin,” pak Ardi berjalan mendekat.
“Ya nungguin kalian lah!”
“Tuan bisa menunggu di dalam saja!” pak Ardi khawatir.
“Ah, tidak apa-apa! Meskipun dingin, udaranya cukup segar kalau pagi hari begini!”
Pak Ardi tersenyum membenarkan, “Tuan besar juga akan ke Rumah Sakit kan?”
“Iya, tapi agak siangan sedikit nanti palingan,” melihat madam Lia, “eh … karena Lia sudah bisa kembali, lebih baik kamu cepat-cepat minta Yazza untuk memberhentikan anak kuliahan itu deh!”
Dania yang sudah membawa tas makanan urung keluar begitu tidak sengaja mendengar ucapan kek Gio.
“Hah? Kontraknya belum selesai sih,” ucap pak Ardi mengernyitkan dahi.
“Ahh … suruh saja dia langsung berhenti! Uang tidak masalah … kan sudah ada Lia lagi!”
__ADS_1
Meski pak Ardi tampak kurang memahami maksud kek Gio, tapi dia tetap menganggukkan kepala.
“Akan saya sampaikan ke tuan Yazza kalau begitu,” jawab pak Ardi lugas.
Dania tampak geram mencengkram pegangan tas dengan erat.
Rahangnya juga ikut mengeras dengan tatapan nanar melirik ke arah punggung kek Gio.
“Eh, mau masuk dan sarapan dulu?” kek Gio menawarkan pada pak Ardi dan madam Lia.
“Emm … karena tahu pak Ardi akan datang menjemput, saya sengaja memasak sarapan dan memintanya makan dulu di rumah saya tadi,” madam Lia menolak halus.
“Ah begitu!”
Dania menarik nafas panjang dan menghempaskan perlahan.
Dia tersenyum sambil melangkah keluar seolah tidak pernah mendengar apa-apa sebelumnya.
“Pagi pak Ardi, tuan dan …-” menyipitkan mata melihat madam Lia.
“Ahh … perkenalkan! Ini pengasuh Yve sebelumnya, madam Lia!” pak Ardi memperkenalkan.
Madam Lia tersenyum, “Tidak disangka ternyata pengganti ku masih sangat muda.”
Dania tersenyum, “Ya … saya masih kuliah, nama saya Dania!” mengulurkan tangan ke arah madam Lia.
“Emm … Dania!” kek Gio memanggil.
“Ya tuan Gio?” jawab Dania menyahut.
Dania merasa terpojok di sana, “Ahh … baiklah!” dia semakin memendam kekesalan kepada kek Gio kali ini.
“Ini sarapan untuk tuan dan nyonya?” tanya pak Ardi melihat tas di tangan Dania.
“Ah benar!” mengulurkan ke depan.
“Kalau begitu sepertinya kami harus segera ke Rumah Sakit! Tuan dan nyonya pasti sudah lapar,” ucap pak Ardi menerima tas berisi rantang makanan dan termos susu.
“Ah benar! Cepat segera ke sana!” perintah kek Gio.
“Kami permisi tuan!” Madam Lia kembali memberikan salam hormat sebelum kembali masuk ke dalam mobil.
Setelah mereka pergi, kek Gio menatap aneh ke arah Dania yang masih berdiam.
Kek Gio hanya berdehem lalu meninggalkan Dania sendirian di luar rumah.
“Sialan orang tua itu! Dia benar-benar berniat menyingkirkan ku dari rumah ini!” gerutu Dania menatap tajam ke arah pintu.
Semua orang kembali sibuk ke rutinitas mereka masing-masing.
Kek Gio sepertinya sedang mandi untuk bersiap ke Rumah Sakit.
Dania tersenyum sinis saat melihat kopi di atas meja ruang tamu.
“Bagus sekali! Kopi si tua itu belum di minum!” mengambil bungkusan kecil berisi bubuk berwarna putih, “Enak saja dia mau menyingkirkan aku dari sini! Sebelum aku disingkirkan … lebih baik aku menyingkirkannya terlebih dahulu!”
__ADS_1
Dania menaburkan bubuk racun ke dalam kopi.
Dengan senyum sinis dia menatap ke cangkir kopi, “Sekali dayung dua pulau terlampaui!”
“Kopi ini Rosi yang membuatnya! Jika benar memang si tua ini seorang mafia, sudah pasti Rosi tidak akan selamat setelah ini!” lanjutnya mendengus kecut.
“Setelah si tua ini tersingkir, pasti akan lebih mudah menyingkirkan wanita itu! Dia piker … dia bisa seenaknya saja terus menerus melahirkan keturunan tuan Yazza? Tidak akan aku biarkan! Tuan Yazza akan jadi milikku setelah dia mati!” geram Dania bergumam lirih.
...***...
SETELAH PEMAKAMAN
Hans dan Hirza dalam perjalanan pulang.
“Kasihan adik Yve … seharusnya dia belum boleh keluar dari rumah sakit! Dia pasti sangat terpukul dengan kepergian eyang buyutnya,” Xean jadi ikut muram setelah mengingat kesedihan Yve.
“Dengar … meski kamu kasihan padanya, kamu tidak boleh sering menemuinya seperti ini!” tegas Hirza.
“Kenapa pa!” cibir Xean kesal.
“Kamu tidak lihat? Ayahnya sepertinya tidak begitu menyukai kita,” sambung Hans.
“Aku juga tidak menyukai paman itu!”
“Xean! Ini bukan hanya tentang papanya saja,” Hirza menghempaskan nafas panjang, “Kamu tega melihat papa dimarahi paman Rudi kalau kamu sembarangan berteman dengan orang?”
Mendengus kesal menyilangkan tangan di perut, “Lagi-lagi tentang paman Rudi!”
“Kalau kamu sayang sama papa, sebaiknya menurut saja! Pamanmu itu kan galak sekali,” Hirza mencoba memberitahukan dengan nada pelan.
“Iya … iya! Xean tahu!” cibir Xean kesal sembari memakai headphone nya dan langsung memejamkan mata menyandar punggung kursi belakang.
Hirza menghempaskan nafas panjang, kali ini sambil melihat ke arah Xean.
“Mas, jadi bagaimana tentang wanita itu?”
“Kita harus menemukan cara untuk mengungkap kejahatannya! Dia tidak boleh terlalu lama berkeliaran di sekitar Vee!”
Hans tampak pusing memikirkannya, “Tidak disangka, dia ternyata lebih berbahaya dari yang aku bayangkan!”
Hirza menatap ke samping, “Sementara, sambil memikirkan cara yang tepat, sebaiknya kita harus menjaga jarak dengan Shadow untuk saat ini! Biarkan saja Bayangan Mata bekerja terlebih dahulu!”
“Aku yakin, mereka akan sangat sulit menemukan pelakunya!” celetuk Hans sembari fokus mengemudi.
“Yang menjadi pertanyaan, siapa yang paling benar diantara aku dan anak kuliahan itu? Dia yang ingin membunuh pasangan orang yang dia suka agar bisa hidup bersamanya … atau … aku yang hanya berdiam membiarkan orang yang aku sayangi hidup bersama dengan orang lain?”
Mendengar kalimat Hirza tersebut tentu membuat Hans terdiam tanpa bisa berkomentar apapun lagi.
Dia menoleh ke arah Hirza yang menatap kosong ke jalanan.
Pandangan mata itu seolah hampa dan penuh dengan kepedihan di dalamnya.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1