
“Kalo keluar harus sama temen, gak boleh sendirian.”
“Iya, Ma..”
“Terus juga berteman harus milih-milih. Jangan sampai terjerumus pergaulan yang salah. Kamu kan belum tahu banget pergaulannya di sana gimana. Pokoknya kamu harus jaga diri baik-baik. Belajar yang bener.”
Aku menghela napas pelan, lalu mengangguk meski aku tahu Mama tidak bisa melihatnya. “Iya, Mamaku. Reva janji akan jaga diri.” Bukannya aku tidak sopan, hanya saja Mama sudah mengatakan itu kesekian kalinya sejak aku menginjakkan kaki di Seoul dua hari yang lalu. Aku merasa bosan mendengarnya, bahkan kata-katanya sudah kuhapal di kepala. Aku tahu, Mama pasti sangat merasa khawatir melepasku sendirian di negeri orang meskipun untuk kuliah. Terlebih aku adalah anak bungsu. Aku memiliki seorang Kakak laki-laki menyebalkan, Rezi namanya. Dia sudah bekerja di salah satu perusahaan di Kota tempat kami tinggal. Mama pasti akan lebih memanjakannya karena aku sudah pergi. Huh.
“Ya sudah, kalau gitu Mama tutup dulu, ya. Mau makan malam dulu. Bye, Sayang.”
“Dahh Mam.”
Sambungan telpon terputus. Aku letakkan ponselku di atas meja. Mataku memerhatikan setiap sudut ruangan ini. Ruangan yang lumayan luas untuk ditempati tiga orang. Jadi, di sini tersedia tiga kamar ukuran kecil untuk masing-masing. Yah, setidaknya aku bisa bernapas lega karena kami tidak gabung, mengingat aku kurang nyaman sekamar dengan orang yang baru ku kenal. Selama kuliah di Korea, aku tinggal di asrama yang sudah disiapkan universitasku. Letaknya tidak begitu jauh dari kampusku. Hanya dengan berjalan kaki saja kurasa sudah sampai.
Omong-omong, Aku belum bertemu dengan teman sekamarku karena mereka belum datang. Itu karena aku datang paling awal dari jadwal yang seharusnya. Sejujurnya aku penasaran dengan mereka, apakah orang korea atau orang luar korea? Tidak sabar rasanya bertemu teman baru.
Selagi menunggu mereka yang juga calon mahasiswi baru, aku merapikan beberapa ruangan yang tampak kacau karena sejak aku tiba di Korea dua hari yang lalu aku tidak sempat merapikannya, faktor kelelahan.
Tak lama kemudian…
Aku mendengar seseorang masuk. Dengan cepat Aku melihat siapakah dia. Seorang cewek berwajah khas orang Korea juga berambut hitam panjang tersenyum di depanku, tangannya memegang satu koper, dan dua koper lainnya ada di sisi kanan dan kirinya. Dia membawa semua barang sebanyak ini sendirian?
Aku membalas senyumnya. Dia langsung membungkukkan badannya sedikit, tanda hormat. Spontan aku ikut balas membungkuk. “Anyeonghaseo, Revalia Arventa imnida.”
“Nde, Annyeonghaseo, kim Minah imnida.”
“Silakan masuk.” Tawarku dalam Bahasa Korea. Ya, aku bisa Bahasa Korea dan Inggris. Kedua Bahasa itu aku pelajari sejak kelas satu SMA. Itu semua kupelajari demi mewujudkan mimpi untuk kuliah di sini. Dan syukurnya, Mama, Papa, dan Kakakku mendukung keputusanku meski berat melepasku seorang diri. Oh, aku lupa. Kecuali Rezi, dia pasti senang aku pergi. Teman bertengkarnya tidak ada lagi sekarang. Meski Kak Rezi menyebalkan dan kami selalu bertengkar, tapi dia tetap menyayangiku sebagaimana adiknya.
Minah masuk menggeret dua koper, satu koper lainnya aku yang membawanya masuk. Dia tampak tak enak, namun aku bersikeras mengatakan tak apa.
“Kau sudah merapikan semuanya?” tanya Minah setelah aku antarkan dia ke kamarnya. Ekspresinya sedikit terkejut melihat seluruh ruangan sudah rapi dan bersih. Dia lumayan cantik, sepertinya aku benar-benar merasa tidak percaya diri ada di dekatnya.
Aku mengangguk canggung, tersenyum singkat. “Iya. Kalau begitu aku keluar dulu, ya. Silakan istirahat, kau pasti kelelahan.” Setelah mengatakan itu, aku beranjak keluar kamar. Baru saat akan menutup pintu, Minah memanggilku. Alisku terangkat seolah bertanya.
“Kita belum kenalan. Kau sudah pergi saja. Lagipula kita akan jadi teman sekamar dalam waktu yang lama, kan?”
Kerutan di dahiku muncul, bukankah tadi aku sudah memperkenalkan diri? “Maaf Minah, kau sudah tahu namaku, kan?”
Tawa pelan cewek itu keluarkan, “maksudku, aku belum bertanya asalmu dari mana dan umurmu berapa?” Dia menggandeng tanganku, memaksaku untuk ikut duduk di tepi ranjangnya.
“Ah, aku dari Indonesia. Umurku delapan belas tahun. Baru saja tamat sekolah.”
__ADS_1
“Oh? Indonesia. Aku salut dengan caramu berbicara sudah fasih seperti orang korea.” Dia memujiku, membuatku jadi sedikit tidak enak. Jujur, aku kurang suka dipuji. Tapi, karena Minah adalah teman baruku, jadi aku memakluminya.
“Hehe, terima kasih.”
Pembicaraan kami harus terinterupsi, bel kembali berbunyi.
Aku yang memutuskan untuk membukanya, ternyata Minah mengekoriku dari belakang.
“Hi. My name is Christina Chloe.” Seorang perempuan berambut pirang dan berwajah orang inggris menyapa kami. Tak lupa senyumnya yang menurutku sangat cantik dengan kulitnya yang juga yang sangat putih. Berbeda denganku, aku termasuk putih jika dibandingkan dengan teman-teman dan keluargaku. Namun, setelah melihat Christina aku jadi sedikit minder.
Minah tersenyum, “I’m Kim Minah.”
Aku juga ikut menyunggingkan senyuman. “I’m Revalia Arventa. Nice too meet you.”
Mari aku bantu bawa barangmu.” Minah berkata dengan Bahasa korea. Sepertinya dia tidak bisa Bahasa inggris. Dia langsung membawa barang-barang Christina.
Christina menolak, namun Aku dan Minah sudah bergerak cepat.
“Jadi, Christina, Minah. Dengan bahasa apa kita berkomunikasi?”
“Aku tidak bisa Bahasa Inggris,” Minah berkata dengan lesu.
“Oh? Tak apa, aku bisa Bahasa Korea, kok. Kalian tenang saja.”
Ucapan Christina membuat Aku dan Minah bersorak senang.
Ah, serunya punya teman baru. Meskipun sebenarnya aku sedih karena teringat sahabatku di Indonesia. Mika, Bunga, Lisa, Adit, dan Tyo. Aku merindukan mereka.
“Kalian mengambil jurusan apa?” Aku bertanya sebelum memasukkan sepotong kimbab ke dalam mulutku. Saat ini kami tengah berada di kantin asrama. Mengisi perut kosong yang sedari tadi berbunyi. Suasana kantin di malam hari semakin ramai, mungkin karena banyak yang suka makan malam.
“Aku mengambil Bisnis,,” Christina menjawab.
“Ku harap begitu.”
Mina tampak menghela napas kecewa. “Sayang sekali, aku memilih Design.”
“Tak apa. Yang penting kita tetap sekamar, kan?” Christina tertawa.
Kami bertiga tertawa bersama. Ternyata berkenalan dengan orang baru tidak begitu buruk. Aku sangat berhati-hati dalam memilih teman, apalagi orang baru. Bisa dibilang aku adalah orang yang sulit sekali cepat berbaur dengan sekitar. Selalu ada kecemasan tersendiri yang ada di dalam diriku setiap bertemu sesuatu hal yang baru. Untuk memutuskan kuliah ke Korea saja aku membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan diri. Berpisah dengan Mama, Papa, dan Kak Rezi. Segala ketakutan aku singkirkan demi sebuah cita-cita. Aku tidak mau hanya karena itu mimpiku harus terhalangi. Akan ku buktikan bahwa seorang introvert sepertiku pasti bisa sukses dan berhasil.
******
Minggu pagi. Aku sudah bersiap untuk pergi mengelilingi Kota Seoul dengan Christina. Besok sudah mulai masuk kuliah, yang artinya aku sudah resmi jadi maba. Minah tidak ikut bersama kami karena dia mengatakan akan pergi entah ke mana dengan teman-temannya. Minah ternyata punya banyak teman di asrama yang sama. Jelas saja, dia kan orang Korea. Hehe.
“Sudah?”
“Let’s go.”
Kami berjalan kaki ke luar asrama. Lensa mataku melihat sekeliling, para mahasiswi baru berjalan di koridor dengan langkah tergesa seolah dikejar waktu. Bagiku itu agak sedikit aneh karena di Indonesia sendiri orang-orangnya berjalan sewajarnya.
“Bruk-“ Seseorang menabrakku, membuat tubuhku terjatuh menyapa lantai. Ringisan kecil keluar saat aku merasakan sakit di bagian bokong.
Dengan cepat Christina membantuku berdiri, “Hampir saja kamu terinjak, badanmu sangat kecil, Reva. Kalau kau tidak hati-hati, itu berbahaya bagimu.” Raut wajahnya terlihat panik dan khawatir.
Ya, kali ini memang salahku yang berbadan terlalu mungil. Terlalu mudah untuk ditabrak, diculik, dan terhempas. Bahkan tinggiku hanya mencapai dagunya Christina dan telinganya Minah. Beginilah, resiko orang kecil.
“Ya sudah, ayo. Jangan terlalu memikirkan itu. Aku tak apa.” Aku mengajaknya untuk pergi segera. Tak mau membahas hal yang tidak penting.
Christina menggeleng saja. Dia tetap mengikutiku.
Di Korea sedang musim gugur. Musim yang sangat indah sekali. Di mana dedaunan berjatuhan. Sungguh, aku benar-benar senang berada di sini. Langit biru yang cerah dan bersih disertai gumpalan awan yang tipis. Udara yang sejuk meskipun matahari menampakkan sinarnya.
Aku meminta Christina agar ia mau mengambil beberapa fotoku dengan berbagai pose. Setelah itu bergantian, aku yang memotonya. Dan terakhir, kami selfie berdua.
__ADS_1
Orang-orang di sini sepertinya sangat suka musim gugur. Banyak keluarga yang bertamasya saat weekend. Mereka terlihat sangat menikmatinya. Aku harap negaraku bisa bebas polusi seperti Korea, juga sampah yang nyaris tidak berserak di mana-mana. Rapi, sejuk, dan juga suasanya menenangkan.
Christina dan aku berjalan ke taman yang ada di dekat sungai. Lagi, mengambil beberapa foto kami. Ah, senangnya. Setelah ini akan ku tunjukkan pada Mama, Papa, juga Kak Rezi.
“Reva, ku rasa kita perlu sarapan.”
“Oh iya? Aku lupa. Aku juga lapar, tapi karena pemandangan terlalu bagus jadinya aku abaikan saja. Hehe.” Cengiran ku tampak, Christina dengan cepat mengajakku pergi ke sebuah resto. Cewek itu benar-benar doyan makan, namun anehnya tubuhnya tetap saja kurus. Ya, aku juga kurus, sih. Tetapi tidak sekurus Christina.
Letak restonya lumayan jauh, jadinya untuk pergi ke sana kami mengendarai subway, biayanya sekitar 1.350 won.
“Christina, kamu dari negara mana, sih?” Pertanyaan yang dari kemarin hendak ku katakan, akhirnya ku ingat kembali.
“Amerika.”
“Kau sendirian saja di Korea?”
Christina menghela napas pelan, lalu mengangguk.
Aku tersenyum, “sepertinya nasib kita sama.”
“Menjauhlah dariku, anjingmu sangat bau!” seorang nenek berkata dengan sedikit berteriak. Raut wajahnya masam, tampak tak senang dengan keberadaan penumpang yang berdiri di depannya dengan menggendong anjing. Tentu saja itu menyita perhatianku dan Christina.
Aku dan Christina yang duduk tak jauh dari keributan sedikit terkejut.
Seorang cewek yang masih muda yang membawa anjing tersebut tidak terima dikatai, dia membalas. “Enak saja mengatai anjingku bau! Hidungmu yang sebenarnya tak beres, nenek tua!” Suaranya juga naik beberapa oktaf.
Penumpang lainnya tidak ada yang melerai, mereka cuek saja seolah tidak ada apa-apa. Fokus pada kegiatan masing-masing. Aku dan Christina kompak mengerutkan kening menyaksikannya. Apa telinga mereka semua tidak berfungsi lagi?
“Hidungku baik-baik saja. Anjingmu sangat bau, bodoh!”
“Yak!” Si cewek pemilik anjing tersulut emosi.
Aku memutuskan untuk menghentikan keributan yang terjadi, akan tetapi Christina segera menahan lenganku. Dia berkata “biarlah itu urusan mereka. Aku tidak ingin kau terlibat masalah sepele seperti itu. Sudah, duduk saja di sini,” katanya mengingatkan. Aku menurutinya. Ada benarnya juga, lagipula aku kan belum tahu banyak tentang Korea dan warganya. Tentang seperti apa pergaulan mereka, sifat mereka, juga kebudayaanya. Perlu diketahui, aku bukan penikmat K-pop dan juga K-drama. Jadi aku benar-benar tidak terlalu banyak mengetahui tentang Korea selain Universitasku, Bahasa Korea, dan makanan-makanannya. Ah, berbicara tentang makanan, aku jadi semakin lapar.
“Aku heran, kenapa sih penumpang lain cuek saja, ya? Seperti tidak terganggu.” Kali ini aku bertanya dengan serius pada Christina, barangkali dia tahu banyak hal tentang Korea.
“Mereka kebanyakan individualis. Gak peduli tentang hal yang bukan urusan mereka. Ya, walaupun ada juga yang peduli pastinya.”
“Begitukah?”
Christina mengangguk mantap.
“Sebelumnya kamu sudah pernah ke Korea?”
“Sudah. Sepuluh kali. Berlibur bersama keluarga.”
Aku sangat terkejut mendengar penuturan Christina. “Artinya kamu sudah sangat paham tentang Korea, kan? Kalau begitu kamu bisa jadi pembimbingku kalau jalan-jalan. Okay?” Aku menyengir, dia tertawa senang melihat wajahku,”Reva, aku baru sadar kau sangat imut.” Lagi-lagi kami tertawa.
Beberapa orang melihat aku dan Christina yang asik berbincang, anehnya dengan tatapan tak bisa diartikan. Saat aku menyadarinya, aku berbisik di telinga Christina, “Kenapa kita dilihatin gitu, sih? Padahal kan kita Cuma ngobrol.”
Kemudian, Christina mengajakku berbicara dengan Bahasa Korea. Aku sedikit kaget karena sebelumnya kami berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Dan tiba-tiba dia menggantinya, jelas aku bingung. Meskipun begitu, aku tetap menjawabnya.
Dan ajaibnya, beberapa orang yang memerhatikan kami dengan tatapan tak enak itu langsung mengubah raut wajahnya sedikit terkejut. Entahlah, aku tidak mengerti dengan segala keanehan yang ku temui beberapa jam ini. Menurutku ini aneh. Tapi, aku tak mau banyak bertanya dulu pada Christina.
Sesampainya di resto tujuan, kami langsung memesan beberapa makanan. Lalu setelahnya kami makan dengan lahap.
Untuk makanan Korea, aku sangat suka dengan kimbab, bulgogi, kimchi dengan nasi, dan tteokbokki. Aku memesan semuanya yang ku sebut. Christina tampak terkejut melihat porsi makananku, cewek berkulit putih pucat itu meledekku dengan mengatakan aku akan gendut beberapa bulan lagi. Aku hanya tertawa membalasnya.
Sementara Christina memesan Japche, samgyetang, kimchi jjigae, dan Samyang. Porsinya juga tidak kalah banyak denganku. “Hey, kamu juga makan sangat banyak, kan? Itu artinya kita sama,” balasku tak terima.
Dia tertawa, “iya. Bedanya, aku tetap kurus dan kamu tetap berisi. Hahaha.”
Pipiku menggembung, tapi ada benarnya juga perkataan dia. Lantas, tanpa basa-basi lagi kami langsung makan dengan lahap.
Senangnya punya teman baru yang ternyata sangat cocok denganku. Kami memiliki beberapa kesamaan, termasuk suka makan.
__ADS_1