
Kini Raina dan yang lainnya sudah berada di kelas dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Raina dan Zara hanyut dengan curhatan hati keduanya mereka saling bercerita berbeda dengan Lala yang heboh main ludo di kelasnya kalian jangan heran kelas Raina ini hanya umurnya saja yang tua, tetapi kelakuan mereka awet muda selain ludo mereka juga suka bermain monopoli hingga membuat mereka suka berkhayal kalau diri mereka sedang menjadi millioner yang bisa membeli suatu negara.
"Curang lo Bimo masa nying-nying gw balik ke markas semua, gak mau tau ah lo juga harus balik," ucap Lala sambil mengambil 4 buah gacoannya Bimo dan mengembalikannya ke markas ( Sumpah aku lupa yang ada 4 itu namanya apa makanya aku bilang gacoan yang tau silahkan komen ya).
Bimo memandang Lala jengkel dengan cepat tangannya mengacak-acak kertas ludo hingga berantakan.
"Udah kalah gak mau ngaku kalah mending gw tebalikin sekalian, udahan ah males gw main sama lo curang," omel Bimo.
"Hayooo lo Lala Bimonya baper," salah satu teman kelasnya bersorak sambil menatap Lala seolah-olah sedang menyalahkan Lala.
"Biarin ah nanti juga sksd lagi ke Lala, yaudah Lala mau main hp aja lebih asik gak baper kaya Bimo," sindir Lala sambil mengeluarkan ponselnya yang berada disaku celana.
Lala mengerutkan alisnya saat melihat notifikasi di ponselnya terlihat nama Fathan disalah satu notifikasi.
Kak Fathan ini gak jelas banget masa Lala disuruh jagain Raina katanya jangan sampe deket sama cowo lain padahal dia aja deket-deket sama bule, ya walaupun cuma settingan tapi kan kesel juga liatnya.
Lala hanya membaca pesan Fathan tanpa berniat untuk membalasnya lalu ia berjalan menghampiri kedua temannya yang sedang asik dengan obrolannya.
"Kalian ngomongin apasi kasih tau Lala dong," ucap Lala penasaran sambil mendekatkan telinganya.
"Kepo lo! Udah sono lo main aja sama yang lain," usir Zara.
"Jahat banget Lala diusir, yaudah Lala mau ke toilet aja ah," ucap Lala melangkah meninggalkan kelas.
*******
Baru saja Lala keluar dari kamar mandi ia dibuat terkejut oleh Rama yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Heh bayi dugong ngagetin gw aja lo, terus lo ngapain di depan toilet cewe mau ngintip ya? Wah parah bintitan ntar mata lo bedua," ucap Lala sambil memicingkan matanya menatap kedua laki-laki yang berada dihadapannya.
"Sembarangan lo ya kalo ngomong, gw sengaja berdiri disini nungguin lo keluar dari kamar mandi karena gw mau jewer seorang adik yang suka ngutang dikantin tapi mengatas nama kan orang lain," ucap Rama tangannya sudah terangkat ingin menarik telinga Lala namun Lala menghindar hingga aksi tarik telinga gagal.
"Ah ilah gitu aja pelit. Lo kan Abang gw walaupun ketemu gede si, tapi lo gak boleh lah pelit-pelit sama gw, lagian gw cuma ngutang bakso tusuk kak Rama, Lala aja rela berbagi Papa buat kak Rama masa kak Rama gak mau berbagi duit sih sama Lala dasar pelit nanti kuburannya sempit gak diterima bumi terus nanti kuburannya kebakaran kaya di film-film," ucap Lala dengan wajah polosnya.
Rama merasa tersindir dengan perkataan Lala soal berbagi Papanya namun ia berusaha menahan emosinya agar tidak terjadi permusuhan antaranya dengan Lala.
"Bodoamat! Nanti gw minta lebarin kuburan gw sama Bapak lo kalo perlu dua kali lipat terus nanti gw minta sediain pemadam kebakaran sampe 5 mobil biar kuburan gw gak gosong terus gak bikin kuburan sesepuh lainnya kebakaran juga biar mereka bisa tidur dengan nyaman di bawah tanah sana," ucap Rama dengan sengaja menyinggung Lala soal Papanya.
Lala tertawa mendengar perkataan Rama mengenai proses penguburannya tak jarang disela pembicaraan Rama ia berkhayal bagaimana situasi mobil pemadam kebakaran yang sudah bersiap di dekat pemakamannya.
"Bapak lo juga kampret dasar anak durhaka bapak sendiri gak diakuin," ucap Lala sambil tertawa.
"Nanti kalo gw bilang bapak gw lo gak rela lagi," sindir Rama.
"Udah Ram, jangan diperpanjang Lala kan anaknya begitu suka ngelantur kalo ngomong," bisik Raka.
***********
Fathan yang kini berada di pesawat sibuk menatap jendela pesawat sesekali melihat kebawah sambil bergerutu.
"Kira-kira kalo gw loncat langsung nyampe di depan rumah Raina gak ya, kita udah dimana sih sekarang kenapa gak nyampe-nyampe," ucap Fathan.
__ADS_1
Fathan yang berada di samping Fathan hanya mendengus sebal dan kembali fokus pada komiknya dan tidak ada niat sedikit pun untuk merespon ucapan Fathan.
Aisyah yang berada di belakang Fathan mendengar perkataan Fathan hanya bisa bergedik ngeri sambil menatap kedua orang tuanya.
"Bun, liat tuh bang Fath jadi gila masa dia mau loncat dari pesawat yang ada dia nyampe di kuburan bukan depan rumah Raina kan," adu Aisyah.
Sementara Rahardian menggelengkan kepalanya sesekali tertawa.
"Itu namanya lagi kasmaran De, mati pun rela kalo udah cinta mah kaya Bunda sama Papa," ucap Rahardian mengembangkan senyumnya.
"Hmm terserah deh terserah," pasrah Aisyah kembali membaca novel yang sempat ia bawa dari rumahnya.
************
Sejenak Raina melupakan perasaan gelisahnya mengenai Fathan kini ia terfokus pada Zara.
"Zar, lo bener-bener gak lagi deket sama siapa pun?" tanya Raina.
Zara mengerutkan alisnya menatap Raina heran karena tidak biasanya Raina menanyakan persoalan cinta-cintaan.
"Tumben banget lo nanya beginian, jangan pernah lo berfikiran mau jadi mak comblang ya karena gw gak bakalan mau," tegas Zara.
"Galak banget si, gw kan cuma nanya doang dari pada gak ada yang dibahas mending gw nanya begituan karena kan selama ini lo gak pernah cerita soal cowo ke kita saking bar-barnya lo," ucap Raina dengan tawa yang merekah.
"Songong banget lo ya, gw nih ya bar-bar gini berhati lembut tau," ucap Zara.
"Hilih mau percaya tapi hati ini menolak," ucap Raina terkekeh.
"Udahlah Raina dari pada lo ngurusin gw mending lo pikirin tuh rencana lo selanjutnya sama Aldo gimana nanti yang ada berantakan lagi," ucap Zara.
"Iya kali gak paham gw soal dia," ucap Zara acuh.
"Terus si Lala kemana dah ke toilet gak balik-balik tidur kali dia ya disana," ucap Raina.
"Jangan-jangan dia dilabrak lagi sama Maira dan buntut-buntutnya biasanya pemeran antagonis selalu suka ngelabrak orang ditoilet apa lagi tadi si Lala abis jambak-jambakan sama Maira," curiga Zara dengan cepat ia beranjak dari kursinya menarik tangan Raina yang masih terdiam mencerna perkataan Zara, keduanya berjalan menuju toilet.
Saat sampai di toilet mereka tidak menemukan sosok Lala disana, mereka memutuskan untuk kembali menuju kelas.
"Udah Zar tenang aja dugaan lo itu salah kok, gw yakin si Lala sekarang lagi di kantin kalo lo masih penasaran juga lo tengok aja ke kantin pasti ada dia disitu," ucap Raina dengan percaya diri.
"Tuh anak gak ada bosen-bosennya ke kantin padahal baru aja tadi kita abis dari kantin, terus kok lo bisa sepede itu nebaknya seakan-akan bener banget tebakan lo," heran Zara.
"Lo inget gak sih pas dulu kita tukeran biodata kan dia nulis tempat favoritenya lo baca ulang dah masa lo lupa," ucap Raina.
"Gw inget tentang kalian mah, tapi kan dia nulis tempat favoritnya gak kantin dia bilang tempat yang ada makanannya dia suka," ucap Zara.
Dengan gemas Raina melayangkan satu jitakan di kepala Zara.
"Lo pernah liat orang jualan pupuk di kantin gak?" tanya Raina.
Zara membalas kembali jitakan Raina sambil menatap Raina jengkel.
"Enggalah di kantin mah orang jualan makanan emangnya lo mau makan pupuk?" ketus Zara.
__ADS_1
"Nah coba lo bandingin sama tempat favorit Lala, sumpah ya Zara selemot-lemotnya Lala dia gak gini-gini amat perasaan," gemas Raina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......
Happy reading jangan lupa like dan komennya gais 😉😁