SENIOR

SENIOR
Ide bagus


__ADS_3

Setelah berunding dengan melewati beberapa perdebatan, candaan dan lain sebagainya akhirnya mereka sepakat dengan saran yang diberikan oleh Shasha untuk menyelidiki Fahira dan Maira sampai mendapatkan bukti kalau benar-benar mereka yang melakukan hal tersebut.


"Gw harap nanti kalo bener-bener ketauan dua perempuan itu yang lakuin pembakaran villa, kak Fathan sekeluarga jangan ngebelain mereka dan tegas sama mereka kalo bisa jangan kasih mereka maaf," ucap Zara melirik Aisyah, Farhan dan juga Fathan bergantian.


Fathan menganggukkan kepalanya, jauh sebelum mereka membahas tentang Maira dan Fahira sebenarnya Fathan sudah berkomitmen pada dirinya sendiri tidak akan melepaskan orang yang sudah membakar villa dan nyaris menyelakai banyak orang di dalamnya. Meskipun orang yang melakukan hal tersebut adalah orang terdekatnya, ia tidak akan membiarkan orang itu berkeliaran dengan bebas.


"Oke sepakat semua kan berarti. Nah rencana selanjutnya gimana, kita mau mulai ngapain," ucap Raka.


"Kita keljain aja penjahatnya bial tau lasa. Kita takut-takutin pake suala hantu bial meleka ketakutan telus kabul lali-lalian keliling telus bial capek," saut Fano yang tiba-tiba saja berbicara.


"Nah denger ocehannya Fano gw jadi punya ide, kita kerjain aja tuh dua orang sampe ngaku. Gw punya ide nih, mau tau gak?" ucap Rama dengan semangat.


Mendengar ucapan Rama kembuat Fano refleks menolehkan kepalanya pada Rama dan melempari Rama dengan sisa bakwan yang berada di tangannya. Melihat bakwan tersebut masuk ke dalam mulut Rama semakin membuat Fano jengkel pada Rama.


"Nyontek ide Pano nih kak Lama culang banget dan beldosa banget. Itu bakwan Pano kenapa dimakan. Ganti pokoknya Pano gak ikhlas, Pano nyesel udah lempal kak Lama pake golengan bakwan Pano." Fano mencibirkan bibirnya sambil bersidekap dada.


"Siapa suruh lempar-lempar makanan, masa minta ganti sih kan Fano yang lempar sendiri tanpa paksaan," protes Rama.


"Pano kan mau lempal bakwan ke kepala kak Lama bukan ke mulut kak Lama," bantah Fano


"Udahan ributnya, sekarang fokus sama rencana kita. Ram lo punya ide apa," ucap Fathan.


Rama mengembangkan senyumnya saat membayangkan ide-ide yang ada di dalam otaknya.


"Jadi gini, mereka kan taunya Zara sama Farhan kejebak di dalam villa, tapi kalo mereka tau juga kalo kalian berhasil keluar ya gapapa juga sih karena gak ngaruh banget ke rencana gw," ucap Rama terdiam sejenak memastikan respon yang lainnya.


Melihat Rama yang diam kemudian melirik sekitar membuat yang lainnya menahan geram karena mereka sudah serius mendengarkan tetapi Rama bercerita dengan setengah-setengah.


"Iya, terus ide bagusnya dimana Ram," geram Fathan.


"Tau nih gak jelas banget, mendingan sarannya si Fano dah," ucap Raka.


"Tau kalah lo sama bocil huu," ucap Reyhan.


Mendapat sorakan dari teman-temannya membuat Rama tertawa, rasanya puas sekali melihat wajah kesal mereka.


"Sabar permisa, nafas dulu lah biar gak meninggal. Oke gw lanjut lagi. Mereka kan gak tau nih keadaan terbarunya Han sama Zara, nah kita kerjain mereka gunain Han sama Zara aja. Kita buat kabar seolah-olah dia berdua udah meninggal meskipun amit-amit ya jangan sampe kejadian beneran. Usahain kabar meninggalnya dia berdua bener-bener sampe ke kuping Fahira dan Maira. Nah abis itu kita kerjain mereka dengan cara, nakut-nakutin mereka seolah-olah Han sama Zara minta pertanggung jawaban. Nah pasti kan mereka takut tuh dan secara gak sengaja mereka ngomong apa yang mereka lakuin. Disitulah tim detektif bergerak buat rekam pengakuan mereka. Keren kan ide gw, pasti keren lah Rama gitu lo." Selesai bercerita, Rama mengambil air mineral yang masih disegel kemudian membukanya dan meminumnya dengan tidak sabar.


"Santai aja kali minumnya, air selokan masih banyak juga," ucap Raka.


"Bagus juga sih ide lo Ram. Tapi keadaannya si Zara kan gak memungkinkan buat ngejalanin rencana ini, kalo Han boleh lah pasti bisa dia," ucap Fathan sambil mengalihkan pandangannya pada Zara.


"Iya juga sih. Zara kan lagi sakit pasti susah buat dia pake baju yang panjang," ucap Lala sambil melihat luka Zara yang sudah dibalut oleh perban.


"Semunya sih tergantung di Zara sama Farhannya. Tapi kalo mereka gak bisa, kita bisa buat planning lain tapi tetap pake cara yang sama, bedanya yang jalanin rencana ganti orang jangan Farhan sama Zara," ucap Reno.


"Engga kok, gw bisa gituan doang, tenang aja gak usah berlebihan gitulah. Gw anak silat loh patah tulang aja gw pernah. Luka beginian doang mah kecil, gw setuju sih sama idenya kak Rama," ucap Zara.


"Iya Pano juga setuju, nanti Pano jadi anaknya genduluwo deh bial nenek lampilnya takut sama Pano," ucap Fano dengan heboh.


"Mana ada anak genduruwo, Fano mah cocoknya jadi tuyul aja,"ucap Rama.


"Lo gimana Han, mau nyoba gak?" tanya Fathan.


"Iya, gw juga penasaran siapa orang yang udah tega ngebakar villa yang di dalemnya banyak banget orang, gak waras gw rasa itu orang," ucap Farhan dengan kesal.

__ADS_1


"Yaudah berarti udah pada setuju semua nih ya, tinggal bagi tugas aja. Khusus para orangtua tinggal santai aja lah gak usah ikut-ikutan biar kita yang muda beraksi Haha," ucap Rama dengan bangganya.


"Hidih gaya banget lo kak Rama. Ide boleh nyomot dari Fano aja bangga. Minta hak royalti sama kak Rama sana Fan, harusnya dia bayar tuh udah ngambil ide orang tanpa izin," ucap Lala tanpa menoleh karena sedang fokus memegang botol susu untuk Vico.


"Diem aja lo La, urus aja tuh bayi ntar nangis aja," omel Rama.


"Kalo nangis ya kasih ke lo lah biar lo yang urus," ucap Lala.


Gio yang sebelumnya sempat keluar dari ruangan untuk bertemu dokter dan mengurus administrasi rumah sakit kini kembali menuju ruang rawat Farhan dan Zara.


"Udah-udah ribut terus nih, Papa gio yang kece badai ini punya kabar gembira buat kalian semua, mendingan kalian pada balik deh ke villa istirahat disana, pasti kalian capek dan kurang tidur. Tadi Papa udah sewa villa yang lokasinya gak jauh dari villa yang kebakar. Zara sama Farhan juga bisa langsung pulang dan langsung istirahat aja disana," ucap Gio.


"Emangnya Zara gapapa pulang Pa, Zara kan masih sakit," tanya Raina dengan raut wajah khawatirnya.


"Dibolehin sama dokternya, asal lukanya teratur dibersihin dan perbannya diganti," ucap Gio.


***


Waktu menunjukkan pukul 07.18


Kini semua orang sudah berada di villa yang baru, mereka berharap kali ini tidak ada lagi kerusuhan yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kejadian beberapa jam yang lalu membuat semuanya menjadi lebih berwaspada dan lebih berhati-hati.


"Kita disini masih dua hari lagi, jadi kalian harus lebih hati-hati lagi ya, jangan sampai kejadian kebakaran di villa sebelumnya keulang lagi," ucap Wina.


"Iya Mama, kalo perlu kita bikin shift ngeronda deh di sekitar villa biar gak ada yang iseng lagi main bakar-bakaran," ucap Reyhan.


"Nah ide bagus tuh, tapi ini kan udah pagi mana mungkin ada yang bakar-bakaran juga," ucap Raka.


"Atur aja ya, kita udah kebagian ngurus bayi jadi aku gak bisa ikut ngeronda di luar," ucap Reno.


"Debat mulu ah pusing, Lala ke kamar duluan ya, kasian nih Vico dari tadi tidurnya kaya tidur ayam gara-gara kebangun terus tidur lagi terus kebangun lagi," pamit Lala sambil melihat wajah tenang Vico yang sedang tertidur.


"Raina juga deh ke kamar dulu, capek banget soalnya, mata perih banget," pamit Raina.


Semua berpencar menempati kamar yang ada di villa, meskipun langit sudah berubah menjadi terang tetapi bagi mereka seperti masih gelap hingga membuat mereka enggan untuk melakukan aktivitas di pagi hari dan lebih memilih untuk tidur.


***


Berbeda dengan yang berada di villa, kini Fahira dan Maira tampak sedang menikmati sarapannya dengan raut wajah yang sumringah.


"Apa yang lo lakuin semalem gila banget deh Ra, untungnya Fathan baik-baik aja," ucap Fahira sambil memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Lo teralu panik jadi orang, liat kan bukantinya Fathan baik-baik aja. Gw tuh sengaja bakar villa cuma buat bikin mereka panik, kalo ada yang tewas atau celaka di dalam sana berarti itu semua salah mereka, kenapa mereka gak cepet-cepet keluar," ucap Maira dengan santai.


"Bener-bener parah lo ya. Tapi terakhir kita liat si Zara sama Farhan sempat kejebak lama banget di dalam dan pas keluar dari gw liat si Zara di gendong sama Han dan beberapa menit kemudian mereka pingsan, kira-kira gimana ya kabar mereka," ucap Fahira.


Maira meneguk air putih kemudian meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja, ia sedikit berfikir saat mendengar ucapan Fahira, ia lupa dengan Zara dan Farhan untuk mengecek bagaimana keadaan mereka.


"Gak tau, gw lupa ngeceknya. Lagian gak mereka berdua gak penting, biarin aja lah gak usah dibahas," ucap Maira dengan santai dan tenang.


Maira terlihat tenang dan santai berbeda jauh dengan perasaannyaa yang merasa cemas dan penasaran. Jauh di dalam lubuk hatinya sejujurnya ia merasa sedikit panik, ia takut kalau mereka meninggal karena hal tersebut akan mempersulit dirinya sendiri dikemudian hari.


"Oh iya Ra, selanjutnya lo ada rencana apa lagi. Gw sih berharap lo gak lakuin hal gila kaya semalem, nyaris lo bikin jantung gw copot tau gak. Lo gak tau aja pas nyiramin tuh bensin ke villa ini tangan gw gemeteran banget," ucap Fahira.


Maira tertawa saat mendengar ucapan Fahira yang menurutnya sangat berlebihan.

__ADS_1


"Lebay lo, cuma nuangin bensin doang sampe gemeter begitu kaya gak punya tulang aja lo," ucap Fahira.


"Sejahat-jahatnya gw, baru kali ini gw ngebakar rumah orang Ra, makanya gw gemeter banget," ucap Fahira.


"Yaudah lah terserah lo aja mau ngomong apa yang penting rencana gw udah berhasil. Tinggal mikirin rencana selanjutnya aja. Tapi kali ini rencana gw khusus buat Raina. Gw bakal buat Raina bersujud di kaki gw dan nangis mohon-mohon sama gw," ucap Maira tersenyum sambil membayangkan rencananyanya, ia yakin rencananya berhasil sama seperti rencana pembakaran villa.


Fahira menolehkan kepalanya penasaran pada Maira, ia berusaha menebak-nebak apa yang akan direncanakan oleh Maira untuk Raina.


"Mau ngapain lagi lo? Gila banget sih lo, gak ada kapok-kapoknya, padahal tadi ada dua teman Raina yang terang-terangan nantangin lo," ucap Fahira sambil menggelengkan kepalanya.


"Cuma mereka berdua doang mah gak mempan buat gw, lo gak tau gimana pas gw di penjara semua orang maki-maki gw bahkan ngacam gw, tapi semua itu gak mempan buat gw. Mendingan kita cari tau mereka pindah kemana, pasti mereka sekarang ada di tempat yang baru. Kalo diliat-liat kebakaran di villa semalem itu parah banget nyaris 90% hangus semua, jadi gak mungkin mereka balik kesana lagi," ucap Maira.


"Yaudah lanjut sarapan aja dulu. Abis itu terserah lo dah mau ngapain, berhubung sarapan gw udah kelar jadi gw mau ke luar bentar buat ngehirup udara segar karena kan semalam gw capek ngehirup bau asap mulu," ucap Fahira.


Fahira membawa piring dan gelas kosong kemudian mencucinya lalu ia pergi keluar dari villa.


***


Fahira keluar dari perkarangan villa dan mencoba untuk berkeliling di sekitaran villa hitung-hitung sekalian olahraga.


Baru beberapa menit Fahira berjalan tiba-tiba saja ia dibuat kaget saat melihat Fathan dan Rama berada di depan villa yang lokasinya tidak jauh dari tempat penginapannya dengan Maira.


"Loh itu kan Fathan. Pas banget gw liat mereka, kabar baik nih buat Maira dan gw gak perlu capek-capek kesana kemari nyari mereka ternyata mereka mendekatkan diri dengan sendirinya," gumam Fahira.


Fahira melangkahkan kakinya mendekati villa tersebut berharap mendapatkan informasi yang sangat penting.


Fahira sengaja mengambil sisi samping dari villa supaya tidak membuat Fathan dan Rama curiga.


"Aw!" ringis Fahira saat tidak sengaja kepala dan badanya terkena jendela yang baru saja di buka dari dalam yang membuatnya refleks meringis kesakitan. Fahira memundurkan langkahnya dengan cepat sambil menutup mulutnya sendiri.


Fano sengaja membuka jendela kamar yang ia tempati karena pintu kamarnya yang sengaja dikunci oleh Cila. Ia berniat keluar dari jendela dan membalas perbuatan Cila. Tetapi ia dibuat kaget saat mendengar teriakan orang saat ia membuka jendela.


"Suala siapa itu," ucap Fano.


Fano keluar dari kamarnya dengan cara lompat dari jendela kemudian kembali menutup jendelanya.


Fano melihat sekitaran jendela kamarnya mencari siapa orang yang tadi berteriak di depan jendelanya.


"Kuping Pano gak mungkin budek, pasti tadi ada yang ngintipin Pano nih awas aja ya Pano sumpahin matanya bintitan soalnya Pano gak ikhlas diintipin kaya tadi. Untung aja Pano belum mandi," ucap Fano.


Hih kepedean banget bocah tengil satu ini, siapa juga yang mau ngintipin bocah tengil kaya dia. Harusnya sih gw yang marah-marah karena kepala sama badan gw pada sakit semua gara-gara kelakuan bocah rese itu.


Fahira mengepalkan tangannya menatap Fano dengan tatapan kesalnya. Melihat Fano yang sudah pergi menjauh dari nya membuat Fahira keluar dari persembunyiannya dan menghela nafas leganya.


"Kalau bukan karena mau nguping disini, udah gw tendang tuh anak ke dalem kamarnya biar kapok," gumam Fahira.


Fahira memutuskan untuk kembali ke penginapannya karena jika ia berlama-lama disana nanti yang ada bisa ketahuan karena mengingat hari yang semakin siang pasti semua sedang ramai-ramainya beraktivitas disana. Bisa-bisa nanti kepala dan badannya kembali menjadi sasaran jendela yang sengaja mereka buka.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan sarannya ya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2