SENIOR

SENIOR
Masakan penuh cinta


__ADS_3

Raina memelototkan matanya pada para laki-laki yang sibuk menyomoti makanan yang sudah matang.


"Woi jangan dicomot terus nanti gw bingung mau bagiinnya, gw masukin ke penggorengan kalian ya," omel Raina sambil mengacungkan spatulla yang ia gunakan untuk memasak.


"Uset dah galak amat. Cacing di perut gw udah demo duluan nih Raina, lo gak kasian apa sama para cacing di dalam perut gw," keluh Rama sambil mengelus perutnya.


"Tau si Raina jadi galak banget sekarang heran gw," saut Raka.


"Sana kalian semua atau gw pukul satu-satu nih ya. Mending bantuin deh jangan makan mulu kerjaannya," omel Raina.


"Tau nih, gak kasian apa sama kita seenggaknya bantuin goreng-goreng atau gak bakar-bakar nih ayam sama ikan kek gitu," ucap Shasha.


"Kita cuma punya bakat makan doang Sha, jadi kita cuma bisa bantuin makan aja. Setidaknya menghargai kalian para cewe yang udah capek-capek masak dengan cara kita bantu makan," ucap Rama menunjukkan cengirannya.


"Itu mah bisaan lo aja. Sono makan rumput aja noh," saut Zara sambil menujuk rumput.


***


Reno menggelengkan kepalanya saat melihat Lala yang sedang memotong bawang. Memotong bawangnya memang tidak aneh di matanya tetapi melihat Lala memotong bawang memakai kacamata renang membuatnya tertawa.


"Liat tuh Vico masa mama kamu cemen banget motong bawang doang segala pake kacamata udah gitu kacamatanya kacamata renang lagi," sindir Reno sengaja mengeraskan suaranya supaya Lala mendengar apa yang ia ucapkan pada Vico.


Mendengar ucapan Reno membuat Lala kesal dan tidak sengaja pisau yang ia gunakan untuk memotong bawang melesat mengenai tangannya hingga membuat tangannya mengeluarkan darah.


"Aduhhh ... Gara-gara kak Reno nih jadi berdarah kan," omel Lala sambil meringis kesakitan memegangi jari telunjuknya yang terkena pisau.


Reno dibuat kaget saat melihat tangan Lala mengeluarkan darah, ia sangat panik berniat mendekati Lala, namun melihat Lala yang terus melotot dan memarahinya membuatnya mengurungkan niatnya sambil memegangi rambutnya sendiri.


"Makanya kalo motong bawang itu harus dengan kondisi hati yang bahagia biar gak kepotong tangannya dan gak boleh melototin orang kalo lagi motong bawang, sakit gak?" Reno menasehati Lala dengan wajah tanpa dosanya hingga membuat Lala kesal.


"Sakitlah. Mau nyoba gimana rasanya gak sengaja keiris pisau? Ini semua gara-gara kak Reno yang bilang Lala cemen. Coba nih sekarang gantiin Lala motong bawang tanpa kacamata biar kak Reno rasain gimana galaunya motong bawang," omel Lala dengan wajah garangnya.


Melihat Lala yang marah-marah pada Reno membuat Vico tertawa geli. Entah hal apa yang membuat bayi tersebut tertawa. Sepertinya Vico sangat senang melihat Reno dimarahi oleh Lala.


Reno menghela nafas pasrahnya mendengar segala ocehan yang Lala ucapkan untuknya. Ia mendekat pada Lala dan menarik tangan kanan Lala, sebelum Lala kembali mengeluarkan ocehannya terlebih dahulu ia mengambil tissu kemudian membalut jari telunjuk Lala dengan tissu supaya darah tidak keluar lebih banyak lagi dari jarinya.


"Diem! Ngoceh lagi aku suapin bawang bombay nih ya," ucap Reno.


Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Lala dan Reno membuat yang lainnya menatap dengan tatapan iri mereka sambil tersenyum.


"Beda kasta kita mah yang jomblo sama yang udah sah, tangan keiris piso aja keliatannya kiyut banget kaya ada uwu uwunya gitu, coba gw yang keiris bisa-bisa jari gw dilakban sama si Zara," ucap Rama.


Mendengar namanya disebut membuat Zara yang sedang asik memotong daun bawang terpaksa menolehkan kepalanya pada asal suara, padahal sedari tadi ia susah payah menahan kepalanya untuk tidak menoleh karena rasanya malas sekali menonton keromantisan orang lain.


"Apa lo sebut-sebut nama gw, mau gw cincang lo bareng daun bawang!" Zara memperlihatkan pisau dan daun bawang pada Rama hingga membuat Rama bergedik ngeri dan menggelengkan kepalanya cepat.


Reno tidak memperdulikan semua orang di sekitarnya yang sedari tadi menggoda dirinya dan Lala. Ia fokus pada jari Lala setelah selesai membersihkan jari telunjuk Lala, Reno nampak kebingungan mencari plester tangan yang biasa di sebut hansaplast.


"Nyari apa bang Ren. Minyak goreng, garam atau micin. Keliatannya kebingungan banget," tanya Raina sambil meletakkan piring yang berisi lele goreng di dekat Zara.


"Hansaplast buat jarinya Lala, kamu bawa gak De?" tanya Reno.


"Gak bawa bang Ren. Coba tanya yang lain," jawab Raina.


"Nih gw ada bayar ya 1 hansaplast 50 ribu," sambung Fathan yang entah dari mana tiba-tiba saja ia muncul.


"Heh dasar oknum mau kaya lo ya kak Fathan, enak aja lo naro harga hansaplast 1 lembar 50 ribu di warung gope satu. Udahlah harga temen aja gratis," ucap Lala.


"Udah mana sini Fath, nanti dibayarnya setelah acara ini." Reno mengulurkan tangannya meminta plester bermerek hansaplast pada Fathan.


Fathan mengembangkan senyumnya kemudian memberikan plester pada Reno. Fathan menjulurkan lidahnya pada Lala hingga membuat Lala kesal kemudian melempari Fathan dengan bawang merah yang sudah ia potong.


Fathan tertawa saat melihat bawang yang sama sekali tidak mengenai tubuhnya, ia kembali menjulurkan lidahnya pada Lala.


"Sayang marahin tuh temennya yang buang-buang bahan masakan, parah banget tuh dia masa buang bawangnya banyak banget," adu Fathan sambil menunjuk bawang yang berserakan di atas rumput.


"Salahin tuh pacar lo yang sok ganteng. Dia dari tadi rusuh banget ngeledek gw mulu. Gw gak mau tau lo sama kak Reno sekarang harus gantiin gw potong semua bawang yang ada disini," omel Lala mengambil dua pisau kemudian menyerahkan masing-masing pisau tersebut pada Reno dan Fathan.

__ADS_1


Lala mengambil Vico dari Reno kemudian ia mendudukkan dirinya di atas karpet bersama dengan Vico.


"Enak banget lo ya nyuruh-nyuruh. Ogah gw disuruh sama teletabis kw, mendingan gw bantuin pacar gw goreng-goreng disana," tolak Fathan meletakkan pisau di sembarang tempat kemudian menghampiri Raina.


"Yaudah biarin aja Fathan bantuin Raina, aku bisa potong semua bawang ini sendirian," saut Reno dengan percaya diri.


"Yaudah sana potong, semangat ya suami yang baru 1 hari," ucap Lala tersenyum pada Reno.


Reno mengedarkan pandangannya mengabsen beberapa bawang yang berbeda, ia mengerutkan dahinya saat melihat bawang tersebut.


Gimana caranya motongnya ya, aku aja gak pernah potong bawang. Duh jadi nyesel banget nantangin si Lala.


"Kenapa diem? Gak bisa kan, makanya jangan ngeledekin orang terus," ucap Lala.


"Bisa. Gak ada yang gak bisa buat seorang Reno. Udah sana kamu urus Vico aja yang bener," ucap Reno.


"Sombong banget, palingan bentar lagi nangis-nangis," gumam Lala.


***


Fano yang masih betah di dapur hanya tersenyum menatap 3 bungkus es krim yang sudah ia makan. Ia kembali membuka kulkas mengambil 2 bungkus es krim untuk ia bawa keluar.


"Asik banget Pano bisa makan es klim banyak, biasanya Pano cuma dibolehin makan 2 doang," ucap Fano.


Fano berjalan sambil bersenandung dan berjoget-joget. Melihat jendela yang tidak dikunci dengan cepat Fano berlarian mendekati jendela kemudian keluar melalui jendela tersebut.


Reyhan terkesiap saat melihat jendela bergerak dan terbuka menampakkan sosok anak kecil yang beberapa hari ini membuatnya jengkel.


"Heh keluar dari jendela kaya gak ada pintu aja, untung kepala gw agak jauhan dari jendela kalo gak udah penyok nih pala kejedot jendela," omel Reyhan.


"Kejauhan kak Ley, Pano males mutel-mutel pusing soalnya mutel-mutel telus. Jangan malah-malah telus nanti jadi tambah jelek," saut Fano.


"Lo yang jelek, gw mah ganteng dari lahir. Itu es krim siapa yang lo ambil," ucap Reyhan.


"Es klim punya Pano lah," saut Fano sambil berlarian meninggalkan Reyhan karena takut nanti dirinya akan kena ocehan Reyhan.


"Fano sini aja duduk jangan di dekat kompor, nanti kena minyak," ucap Reno menatap Fano khawatir.


Benar saja baru beberapa detik Reno mengingatkan Fano terkena percikan minyak yang berasal dari kompor karena Raina baru saja memasukkan ikan ke dalam penggorengan.


"Aduh sakit panasss Huuuuaaa tolongin Pano," teriak Fano sambil mengusap-usap tangannya yang terkena percikan minyak.


Fano menjauh dari kompor, ia berjalan mendekati Reno berniat mengadu pada Reno.


"Kak Leno hiks." Susah payah Fano menahan air matanya namun ia tidak tahan dan akhirnya ia menangis.


"Sok tegar tapi ujung-ujungnya nangis tuh anak Haha," ucap Raka tertawa geli.


"Mau ketawa tapi kasian," gumam Rama.


"Sini Fano sama kak Zara aja, biar kak Zara obatin jangan nangis ya. Kak Reno nya lagi sibuk motong bawang tuh jangan digangguin ya," ajak Zara membawa Reno menjauh dari yang lainnya.


***


Fano sesegukkan memegangi tangannya yang terasa perih, ia berusaha menahan air matanya hingga membuat Zara terkekeh melihat tingkah Fano.


"Nangis aja gapapa kan gak ada orang lain disini cuma ada kak Zara, lagian anak kecil wajar kok nangis apalagi nangisnya gara-gara ini, pasti panas banget ya," ucap Zara mengoleskan salep yang sempat ia gunakan untuk lukanya pada tangan Fano.


"Pano kesel kak Zala dali tadi Pano diketawain telus gala-gala nangis hiks," saut Fano dengan sisa-sisa sesegukannya, ia mengusap pipinya dan sudut matanya.


"Biarin aja semuanya ngetawain Fano. Fano gak tau aja mereka lebih cengeng dari pada Fano tau. Mending Fano makan es krim aja, liat tuh es krimnya pasti meleleh deh gara-gara gak Fano makan," ucap Zara.


Fano mengalihkan pandangannya pada 2 es krim yang ada di tangannya, ia melirik Zara kemudian menyodorkan es krim pada Zara.


"Kak Zala mau. Ambil satu aja tapi ya," ucap Fano.


Zara tertawa kemudian menggelengkan kepalanya. Rasanya ia tidak tega pada Fano yang masih terlihat sesegukan.

__ADS_1


"Buat Fano aja, kak Zara gak mau es krimnya," ucap Zara.


"Ambil aja kak Zala jangan malu-malu. Ini upah buat kak Zala kalena kak Zala udah mau jadi doktel Pano telus ngobatin tangan Pano dan gak ngetawain Pano pas disana," ucap Fano kembali menyodorkan es krim pada Zara.


"Baiklah ini gara-gara Fano maksa ya. Minta dua-duanya boleh gak?" Zara menahan tawanya saat melihat raut wajah Fano yang kebingungan sambil menatap kedua es krim tersebut.


Pano udah makan 3 es klim, tapi Pano masih pengen makan es klim. Udah deh bialin aja kasih ke kak Zala aja, kata mama Wina kan gak boleh makan es klim banyak nanti Pano batuk. Kak Zala juga baik banget sama Pano udah ngobatin Pano.


"Yaudah deh nih dua-duanya buat kak Zala, tapi Pano bagi dikit ya setengah ajaa gapapa kok," ucap Fano memberikan kedua es krim pada Zara.


"Gak usah setengah, nih satu buat Fano kita makan satu-satu ya," ucap Zara.


Mata Fano berbinar saat diberikan satu es krim oleh Zara. Tangannya dengan cepat mengambil es krim dari tangan Zara.


"Makasih kak Zala, huaaa Pano seneng bisa makan es klim lagi," heboh Fano.


"Dih es krim punya anak kecil aja masih kamu minta, gak ada malunya dasar," sindir Farhan sambil berjalan melewati Fano dan Zara.


"Bodoamat! Caper mulu lo," ketus Zara.


Farhan mengentikan langkah kakinya kemudian ia menolehkan kepalanya pada Zara.


"Caper sama kamu? Idih ogah banget, mendingan caper sama orang-orangan sawah," saut Farhan.


"Belantem telus belantem telus, mending kak Palhan sini deh ikut Pano makan es klim aja jangan malah-malah telus, gililan deket malah-malah gililan jauh-jauhan nyali-nyaliin aneh banget olang gede," ucap Fano sambil memasukkan es krim ke dalam mulut.


***


Shasha merasa canggung saat melihat Fathan dan Raina yang begitu asik dengan dunia mereka. Ia tidak mau melihat tetapi matanya penasaran ingin melihat.


Gak enak ternyata jadi obat nyamuk mau ngapa-ngapain jadi bingung. Sampe lupa tadi mau ngambil apa.


Melihat Aisyah yang sedang membawa buah-buahan membuat Shasha bernafas lega dan memberi kode pada Aisyah untuk menghampirinya namun lagi-lagi ia menghela nafas gusarnya saat Aisyah memberi kode padanya kalau Aisyah sedang membuat minuman.


"Udahlah pasrah aja, anggep aja gak ada orang disini," ucap Shasha yang terdengar oleh Raina dan Fathan.


"Tuh kan gara-gara kamu sih, jadinya gak enak kan sama Shasha keliatannya dia bete banget deh," bisik Raina pada Fathan.


"Biarin aja lah, pasti dia ngerti kok. Lagian kita kan masak bukan pacaran doang," saut Fathan.


Raina mencubit gemas lengan Fathan, ia tidak terima dengan ucapan Fathan yang mengakui kalau dirinya ikut memasak padahal sedari tadi Fathan hanya menganggu proses memasak yang di lakukan oleh Raina.


"Masak apanya, dari tadi kamu gangguin aku terus bukan bantuin aku," omel Raina.


"Aku bantu semangatin kamu biar kamu masaknya dengan sepenuh cinta karena kan cintanya kamu udah ada disini. Dan akhirnya masakan kamu jadi enak banget deh," ucap Fathan tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Boro-boro enak yang ada masakkan aku jadi gosong semua dan rasanya jadi pait banget," saut Raina.


Shasha mencium bau-bau tidak enak di hidungnya, ia menolehkan kepalanya ke arah Raina dan Fathan kemudian melirik ke arah kompor dengan cepat ia mengangkat tahu yang setengahnya gosong kemudian mematikan kompor.


"Itu masakkan lo Raina sampe gosong sebelah dan udah berasep begitu. Ributin apaan sih kalian berdua sampe gak liat itu tahu hampir gosong," tegur Shasha.


Raina melirik ke arah tahu yang sebagian menghitam, ia meringis saat melihat keadaan tahu yang mengenaskan.


"Ini bukan hampir lagi Sha, tapi udah gosong beneran. Gara-gara kamu nih masakan aku jadi gosong beneran kan, udah deh sana kamu ikut bang Reno aja sama motong-motong bawang," omel Raina.


"Kok jadi aku yang disalahin, perasaan kamu yang ngomong masakkan kamu bakalan gosong deh. Makanya jangan ngomong sembarangan kan jadinya kejadian, inget omongan adalah doa," ucap Fathan mendudukkan dirinya di samping Reno.


"Kalo bukan gara-gara kamu yang gangguin aku terus, gak mungkin ini tahu jadi gosong. Pokoknya kak Fathan tetap salah," ucap Raina menatap Fathan kesal.


"Iya-iya kamu menang," saut Fathan.


****


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan sarannya ya gais. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar untuk bahan evaluasi di bab selanjutnya biar lebih baik lagi hehe.

__ADS_1


Sekiian dan terima kasih.


__ADS_2