
Raina kebingungan, ia menatap ketiga sahabatnya meminta pendapat namun ketiganya hanya menaikkan kedua bahu mereka dengan bersamaan. Raina melirik pintu ruang sidang Fathan, ia terdiam sambil menatap pintu beberapa menit hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengiyakan ajakan Nova karena dirinya merasa tidak enak kalau menolak ajakkan dari Nova.
"Oke deh, tapi jangan lama-lama ya Nov. Gw gak bisa lama-lama soalnya. Emangnya kita mau ngomong dimana," ucap Raina.
Nova mengembangkan senyumnya saat mengetahui Raina menyetujui ajakkannya, ia sangat mengetahui bagaimana sikap Raina. Raina tidak mungkin menolak ajakkannya apalagi saat ini mereka baru saja bertemu setelah bertahun-tahun lamanya mereka tidak bertemu.
"Nanti juga lo tau. Yaudah yuk sekarang aja biar gak kelamaan, keliatannya lo lagi nungguin orang juga ya," saut Nova.
"Iya jelaslah. Raina disini kan nungguin pacar bucinnya. Lo ngajaknya gak tepat mending nanti aja deh kalo mau ngajak Raina. Kalo mau ngomong kan bisa disini aja kenapa harus jauh-jauh. Udah gak mau ajak kita lagi, emangnya kita ember apa ya sampe gak boleh ajak kita," oceh Lala dengan nada kesalnya.
Nova mendelikkan matanya saat mendengar ocehan Lala. Ingin rasanya ia memasukkan perempuan berisik di hadapannya ini ke dalam teko jin.
"Sebentar doang kok. Kepo banget sih jadi cewe, ini rahasia gak boleh ada yang tau bukan masalah embernya. Mendingan lo sama yang lainnya disini aja tungguin sampe pacarnya Raina kelar," ucap Nova yang mulai kesal dengan sikap Lala.
"Idih biasa aja dong Nopa, kenapa marah-marah. Bisa-bisanya Raina punya teman kaya begini. Udah sana hush pergi, awas ya kalo lo culik Raina, gw bakal kasih tau ke emak sama bapaknya," oceh Lala sambil bersidekap dada menatap Nova dengan tatapan tajamnya.
Nova menarik tangan Raina untuk mengikutinya karena ia sudah sangat malas mendengar ocehan Lala yang sepertinya Lala sangat tidak menyukai dirinya.
"Udah yuk Raina kita pergi aja, males disini diocehin sama nenek gayung," sindir Nova kemudian berjalan bersamaan dengan Raina.
"Enak aja ngatain Lala nenek gayung," protes Lala.
Zara sedari tadi hanya menyimak sambil memainkan ponselnya, ia tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka.
"Udah sih La gak usah diladenin terus lagian dia kan mau ngobrol doang sama Raina. Biarin aja mereka berdua pergi, keliatannya gak mencurigakan juga sih. Lagian Rainanya aja mau diajak dia masa kita ngelarang Raina," ucap Zara.
"Iya bener tuh La. Biarin aja Raina pergi sama dia, Raina tau kok mana yang baik dan buruk buat dia," sambung Aisyah.
Lala menepuk jidat kedua temannya secara bergantian. Ia tidak habis fikir dengan kedua temannya ini yang teralu berfikiran positif meskipun orang yang berhadapan dengannya adalah penjahat sekalipun.
"Kalian berdua ini gak ngerti ya, Lala yakin si nopa itu gak baik. Pasti dia ada niat jahat ke Raina. Coba kalian fikirin aja deh, kalo dia mau ngomong berdua kenapa harus jauh banget padahal di sekitaran sini juga bisa, emangnya kuping kita sepanjang apa sih bisa sampe denger omongan mereka. Dari matanya aja keliatan kalo dia lagi boong. Tolong dong kalian percaya sama gw!" geram Lala.
"Kebanyakan nonton sinetron sih lo, makanya fikiran lo gak baik mulu ke orang lain. Terus mau lo apa?" Zara menatap Lala dengan tatapan jengkelnya.
"Ih Zara makin gede kok makin oon besok Lala beliin susu SGM deh biar pinter. Kita ikutin dia dong, jangan sampe sahabat kita kenapa-kenapa. Gw yakin itu cewe gak baik," geram Lala.
Zara dan Aisyah menghela nafasnya gusar, mereka saling melempar pandang satu sama lain.
"Yaudah kalo gitu lo aja yang ikutin kan lo yang curiga sama dia. Kita mah engga ya Aisyah," ucap Zara sambil menatap Aisyah yang direspon dengan anggukkan kepala oleh Aisyah.
Lala menolehkan kepalanya kebelakang, ia terkesiap saat Raina dan Nova sudah tidak terlihat lagi di sekitarannya. Ia menatap kedua temannya dengan tatapan kesal.
"Yaudah terserah kalian. Gw mau susul mereka karena gw yakin si nopa gak baik. Teman macam apa kalian telepati antar temannya gak kuat. Bye!" Lala berlarian dengan cepat sambil mengedarkan pandangannya di sekitar kampusnya sesekali ia bertanya pada orang-orang yang sedang duduk.
***
Raina dan Nova kini berada di salah satu cafe yang posisinya lumayan jauh dari kampus. Mereka memesan minuman dan makanan terlebih dahulu.
"Raina maaf ya tempatnya agak jauh dari kampus, nanti gw anterin lagi deh ke kampus lo. Gak marah kan sama gw?" ucap Nova menatap Raina dengan tatapan merasa bersalahnya.
Raina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada Nova.
"Iya gapapa kok Nov. Tapi lain kali kalo mau ngobrol jangan jauh-jauh hehe. Gak usah takut sama temen-temen gw, mereka gak ember-ember banget orangnya. Maafin si Lala juga ya, dia emang gitu orangnya kalo gak suka ya dia langsung bilang, tapi aslinya baik banget kok. Lo coba deh temenan sama dia, pasti ketawa terus ya walaupun banyak pusingnya sih Hehe," jelas Raina.
Nova hanya terkekeh saja mendengar perkataan Raina, bagi dirinya Lala adalah perempuan menyebalkan sedunia.
"Raina, gw ke toilet bentar ya. Lo jangan kemana-mana tunggu aja sampe makanannya dateng, Oke!" Nova beranjak dari kursinya kemudian menggeser kursi ke belakang.
"Iya Nov jangan lama ya," saut Raina.
Lala yang mendapat informasi dari teman kampusnya yang baru saja dari cafe tersebut merasa senang, hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta teman kampusnya itu untuk mengantar dirinya ke cafe tersebut dengan embel-embel janji akan mentraktir orang tersebut.
"Ayo buruan Ipan nanti keburu Raina diracunin sama dia, gw gak bisa ngebayangin kalo dia diracunin disana. Raina juga sih ngeyel kalo dikasih tau," oceh Lala sambil memukul-mukul lengan teman laki-laki yang berada di hadapannya ini.
Teman laki-laki Lala yang diketahui bernama Ipan tersebut menghela nafas gusarnya sambil menutup kedua telinganya.
"Iya Lala ampun dah cerewet banget kaya burung beo. Ayo buruan ke parkiran, motor gw kan disana," ucap Ipan.
"Bilang dong dari tadi, gimana sih Ipan mah gak jelas," saut Lala.
Keduanya melangkahkan kakinya menuju Parkiran motor untuk mengambil motor milik Ipan.
"Nyalahin orang aja bisanya lo, siapa suruh dari tadi ngoceh mulu disini," protes Ipan.
"Iya-iyaa Lala ngalah, ayo Ipan jalannya jangan lelet. Kita lari aja deh ke parkirannya biar cepet," oceh Lala sambil menarik paksa tangan Ipan.
Ipan hanya mendengus pasrah kita tangannya di tarik oleh Lala.
Nyesel gw ketemu dia ya ampun. Harusnya tadi gak usah gw kasih tau aja ya biar gak repot kaya gini.
Saat sampai di parkiran Ipan melihat bensinya yang sisa setengah, ia tersenyum pada Lala berniat meminta Lala untuk membelikannya bensin.
"Lala nanti ganti bensin gw juga ya," ucap Ipan sambil menunjukkan cengirannya.
Lala membelalakan matanya saat mendengar perkataan Ipan. Ia terdiam sambil membayangkan sesuatu kemudian setelah selesai membayangkan hal tersebut ia bergedik ngeri sambil menatap Ipan dengan tatapan herannya.
"Lo mau makan terus minumnya bensin Pan?" tanya Lala.
"Engga lah Lala. Aqua banyak di kantin ngapain gw minum bensin. Buat motor gw La, kasian dia kehausan," saut Ipan.
"Ya udah iya nanti gw beliin, buruan anterin gw kesana sebelum Raina kenapa-kenapa. Sampe gw gak ketemu Raina disana, lo minum bensinnya ya," oceh Lala.
***
__ADS_1
Nova berjalan memasuki dapur pegawai, ia tersenyum pada salah satu pegawai yang merupakan temannya.
"Mau ngapain lo, senyum-senyum segala lagi," tegur pegawai tersebut.
"Biasa, minta tolong dong masukin ini ke makanan sama minuman temen gw yang tadi dateng barengan sama gw," ucap Nova.
Pegawai tersebut menatap Nova dengan tatapan herannya kemudian mengalihkan pandangannya pada botol yang entah isinya apa yang berada di tangan kanan Nova.
"Apaan itu? Gila lo ya, masih aja kerja beginian. Kapan tobatnya lo Nov, gak takut diazab tuhan apa lo," heran pegawai tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
Nova mencubit gemas lengan pegawai tersebut. Sejujurnya ia sudah berhenti bekerja seperti itu, tetapi ini semua karena Maira yang merupakan saudaranya yang meminta. Rasanya tidak mungkin sekali ia menolak permintaan Maira karena keluarga Maira begitu baik padanya dan di dalam keluarganya semenjak kedua orangtuanya meninggal hanya keluarga Maira lah yang peduli padanya.
"Sembarangan lo kalo ngomong Sal. Gini-gini gw udah tobat, tapi ini karena permintaan sodara gw yang pernah gw ceritain ke lo waktu itu makanya gw terpaksa ngelakuin ini lagi. Udah sana buruan nanti gw ceritain dah setelah semuanya beres," ucap Nova.
"Ini gw gak kebawa-bawa kan sama kasusnya, ini kriminal gak?" tanya pegawai tersebut.
"Pokoknya lo gak akan kebawa-bawa dah. Makanya buruan Faisal lakuin aja apa yang gw minta biar cepet kelar ampun dah nanya mulu," geram Nova.
Yaa ... Pegawai tersebut bernama Faisal yang juga merupakan teman Nova
"Iya-iya ini terakhir kali ya, besok-besok jangan kaya gini lagi. Gw gak mau lo terus-terusan kerja kaya gini. Kebetulan disini ada lowongan, lo ngelamar disini aja," ucap Faisal.
Nova mendorong tubuh Faisah kemudian memaksa masuk ke dalam dapur karena ia gemas sekali dengan Faisal yang mempersulit keadaan.
"Ngapain lo masuk-masuk, nanti yang ada gw diomelin sama bos gw," ucap Faisal.
"Stttt ... Lo mending diem dulu deh biar cepet kelar dan gw cepet keluar juga dari sini. Tugas lo cuma nganterin ini makanan ke meja gw dan pastiin lo aja yang nganter," ucap Nova.
"Hadeh susah punya temen yang hobi banget nyusahin temennya, yaudah sana kuar lo dari sini. Udah kelar kan?" ucap Faisal dengan pasrah.
****
Raina sibuk memainkan ponselnya sembari menanyakan ke teman-temannya apakah Fathan sudah selesai atau belum. Tiba-tiba saja dirinya dibuat terkejut dengan kedatangan Nova yang tiba-tiba saja menyapanya.
"Eh maaf ... Gak ada maksud buat bikin lo kaget sumpah deh Raina. Gw kira lo sadar kalo gw ada di depan lo," ucap Nova.
"Iya gapapa kok. Lagian gw juga teralu asik sama hp makanya sampe gak sadar kalo lo udah dateng. Lo ke toilet lama banget Nov, emangnya ngantri banget ya?" ucap Raina terkekeh.
"Iya Raina tadi gw nungguin orang dulu makanya agak lama Hehe. Makanannya belum dateng?" tanya Nova.
Raina menggelengkan kepalanya sambil mengedarkan pandangannya kesekitaran cafe.
"Belum Nov, tapi tadi gw liat orang yang baru dateng udah dateng makanannya kenapa kita belom ya, aneh banget nih cafe," saut Raina.
"Maaf mbak lama menunggu, ini pesanannya," ucap Faisal tersenyum ramah pada Raina.
"Iya Mas, kok aneh banget sih pesanan saya lama banget sedangkan yang baru datang udah nyampe duluan," ucap Raina.
Nova menyadari maksud dari lirikkan Faisal pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Udah Raina biarin aja, mendingan kita makan aja dari pada nanti makanannya dingin," ucap Nova.
***
Lala dan Ipan baru saja sampai di depan cafe dimana terakhir kali Ipan melihat Raina.
"Ayo Pan ke dalem buruan tinggalin aja motornya disini," ajak Lala dengan tidak sabar.
"Enak banget lo kalo ngomong kulit pastel, ini motor hasil jerih payah gw ngojek setiap hari tau. Lo masuk aja duluan kalo lo penasaran, nanti gw nyusul," saut Ipan.
"Yaudah deh, tapi jangan lama-lama yak. Gw ke dalem duluan," ucap Lala.
"Iya bawel banget heran gw sama lo. Ini suami lo kuat banget ya punya istri cerewetnya kebangetan begini," ucap Ipan.
"Suami gw seneng punya istri keren kaya gw Hehe. Bye bye Ipan temennya Upin," saut Lala.
Lala berlarian kecil memasuki cafe, namun langkahnya terhenti saat melihat Raina yang tak sadarkan diri dibawa oleh beberapa orang dan juga Nova. Lala terkesiap saat melihat semua orang berjalan menuju pintu keluar dengan cepat ia menyembunyikan dirinya di balik pot besar.
"Tuh kan bener dugaan Lala, emang ya itu perempuan gak baik. Tapi keliatannya Raina cuma pingsan doang bukan diracunin sama dia. Lala biarin aja dulu ah, mau liat dia bawa Raina kemana," gumam Lala.
Ipan berjalan memasuki cafe dengan raut wajah kebingungannya karena baru saja ia melihat Raina yang dibawa oleh orang-orang dalam keadaan pingsan tetapi ia tidak melihat keberadaan Lala disana.
"Ipan sutttt ... Woy ... Sutttt ... Ipan kupingnya budek banget nih," bisik Lala.
Lala keluar dari persembunyiannya kemudian dengan gemas ia menjitak kepala Ipan.
"Dari tadi dipanggilin gak denger-denger ngeselin banget sih lo Pan. Ayo kita ke Parkiran buruan sebelum ketinggalan jejak," ajak Lala menarik paksa tangan Ipan.
"Santai ngapa La dari tadi narik-narik mulu berasa kaya kambing gw tuh," ucap Ipan.
"Iya maaf Ipan, tapi kita harus buru-buru sebelum kita ketinggalan jejak," saut Lala.
Ipan memutuskan untuk tidak menyahuti perkataan Lala, ia memilih untuk berjalan menuju parkiran dengan cepat supaya Lala tidak terus-terusan mengocehi dirinya.
"Ayo buruan naik, itu mobilnya udah mau keluar dari parkiran. Lelet banget lo!" oceh Ipan dengan raut wajah sebalnya.
Kini motor yang dikendarai oleh Ipan terus mengikuti Mobil yang di dalamnya ada Raina. Lala mengarahkan kamera ponselnya pada mobil yang berada di hadapannya.
"Lo ngapain sih foto-foto mobil," tanya Ipan.
"Ini tuh bbarang bukti kalau kita kehilangan jejak mereka tau gak sih, udah deh lo fokus aja sama jalanan," ucap Lala.
***
__ADS_1
Nova yang berada di dalam mobil hanya tersenyum sambil menatap ke arah belakang, sejujurnya ia mengetahui kalau Lala mengikutinya hingga ke cafe. Ia sengaja membiarkan Lala terus mengikutinya karena ia yakin nanti Lala dapat membantu dirinya.
"Kayanya dia orang yang pas deh buat bantuin gw nanti. Meskipun ngeselin tapi gw yakin dia bisa diandelin," gumam Nova.
Novaa mulai mengotak-atik ponselnya tiba-tiba saja ia mendapatkan panggilan masuk dari seseorang dengan cepat ia mengangkat panggilang tersebut.
"Kemana aja lo, lama banget cuma kerja begituan doang. Gw udah di lokasi dari tadi," ucap orang tersebut.
Raut wajah Nova seketika berubah menjadi kesal saat mendengar perkataan orang yang sedang berbicara dengannya melalui telepon.
"Sabar dong, lo kata gampang bawanya, lo gak tau aja tadi gw dicurigain sama temennya dia yang ngeselin banget yang namanya Lala, jangan bisanya ngoceh doang, lo aja gagal teruskan sampe masuk penjara berkali-kali lagi. Bahkan sekarang lo kabur dari penjara cuma buat bales dendam doang nyusahin aja lo," oceh Nova.
"Iya-Iya, gw cuma mau mastiin aja kalo lo gak gagal," ucap orang tersebut.
"Ini gw lagi sama Raina, lagi jalan kesana. Udah deh lo gak usah ngoceh terus nanti yang ada gw gak nyampe kesono kalo lo ngoceh terus," omel Nova.
Setelah setengah jam lamanya akhirnya Taxi online yang Nova gunakan untuk membawa Raina sudah sampai di lokasi tujuan. Nova mencoba untuk menghubungi seseorang untuk meminta bantuan padanya membawa Raina.
"Gw udah sampe, buruan kesini bantuin gw bawa Raina, gak mungkin kan gw nyuruh bapak taxi onlinenya bantuin gw bawa Raina ke dalem nanti yang ada makin ribet," ucap Nova.
Seteleh selesai menelpon, Nova mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia tersenyum saat melihat Lala dan satu orang laki-laki berhasil mengikutinya.
Sekarang tinggal tahap akhir gw harus hubungin mereka, setidaknya sekarang aman karena udah ada Lala sama temen cowonya.
Nova terus melirikkan matanya ke arah mereka sampai akhirnya orang yang ia tunggu datang.
"Lama banget lo, pegel gw nungguin lo disini," omel Nova dengan sengaja mengalihkan perhatian orang tersebut supaya orang itu tidak menyadari keberadaan Lala dan temannya.
***
Ipan sengaja menghentikan motornya agak jauh dari lokasi tempat taxi online tersebut berhenti.
"Kenapa kita berenti disini?" tanya Lala dengan kebingungan.
"Lala plisss dah kalo lagi kaya gini oonnya diilangin dulu bentar. Kalo kita berentinya di deket mobil itu nanti yang ada kita ketauan," geram Ipan.
Lama menganggukkan kepalanya menyengir kuda sambil menatap ke arah Nova dengan tatapan sebalnya.
"Iya juga sih, kenapa gw gak kepikirian kesana ya, ternyata ada gunanya juga gw ngajak lo hehe, tenang aja nanti gw beliin bensin sama teraktir makan, tapi lo harus ikut gw ya sampe misi ini kelar," ucap Lala.
"Iya ah ilah cerewet lo. Untung jam kuliah gw lagi kosong," saut Ipan.
Ipan terkesiap saat melihat Raina dibawa masuk oleh kedua perempuan yang tidak ia ketahui tersebut.
"Tuh Raina dibawa ke dalem sama mereka, ayo ke dalem kita liat mereka mau ngapain. Lama-lama gw penasaran juga jadinya," ajak Ipan.
Ipan sengaja membiarkan motornya berada disana, ia berjalan bersama dengan Lala mendekati rumah tersebut dan perlahan masuk ke dalam dengan sangat hati-hati supaya mereka tidak mengetahui kedatangan Ipan dan Lala.
Nova lagi-lagi menyadari kedatang Lala dan Ipan, ia hanya bisa tersenyum senang saat mengetahui Lala dan teman laki-lakinya ikut masuk ke dalam.
Ternyata dia berani juga ya, gw kira mereka bakalan di depan terus dan gak berani ke dalem.
Lala kaget saat melihat Maira yang sedang mengikat tangan Raina sedangkan Nova yang sedang memegang gayung di tangan kirinya. Gayung kini berpidah tangan menjadi ke tangan Maira dengan sengaja Maira menyiram tubuh Raina dengan air yang bercampur es batu dari gayung yang ia pegang.
"Gila itu orang ya beraninya nyulik-nyulik dan sekarang dia nyiram Raina pake air es," bisik Lala berniat keluar dari persembunyiannya namun ditahan oleh Ipan.
"Mau ngapain lo? Kita udah capek-capek ngikutin mereka sampe sini, lo mau gagalin gitu aja. Kita liat dulu apa yang mau dia lakuin ke Raina kalo udah kelewat batas baru kita keluar. Lo siapin hp aja videoin kejahatan dia biar nanti kita laporin ke polisi udah ada bukti," ucap Ipan.
"Percuma aja Ipan itu orang gak ada kapoknya, kayanya nunggu azab indosiar dulu deh baru kapok tuh nenek lampir," saut Lala.
"Yaudaah kalo gitu kita diem aja disini sambil videoin barangkali videonya diperluin. Kalo si Maira udah kelewat batas baru kita maju," bisik Ipan.
"Oke deh kalo gitu, jangan berisik ya Ipan stttt," ucap Lala sambil meletakkan jari telunjuk diatas bibirnya.
Nova yang berada tidak jauh dari posisi Maira dan Raina perlahan berjalan mundur menjauh dari mereka. Hal tersebut di sadari oleh Ipan, namun ia memutuskan untuk tidak memberitahukannya pada Lala karena nanti akan membuat keadaan semakin tidak enak.
Ngapain dia jalan mundur begitu aneh banget, udah keliatannya kaya panik gitu lagi mukanya. Udahlah biarin aja.
****
Nova menghembuskan nafas leganya saat dirinya berhasil keluar dari ruangan dimana tempat Raina disekap oleh Maira. Nova merogoh saku celananya kemudian mencari kontak orang yang ingin ia hubungi.
Panggilan tersambung hingga akhirnya panggilan diangkat oleh orang dari seberang sana.
"Hallo Genta, ini gw udah ada ditempat dimana Raina disekap sama Maira. Gw udah sharelock ke lo, buruan dateng kesini sekalian kabarin yang lainnya. Disini ada Lala sama temennya yang diem-diem ngikutin gw. Gw harap sih kalian semua dateng tepat waktu karena gw takut Lala sama temennya gagal," ucap Nova dengan nada paniknya sambil memastikan keadaan sekitar supaya dirinya tidak diketahui oleh Maira.
"Iya, nanti gw kabarin ke yang lainnya. Usahain alihin dulu ya buat ngulur waktu jangan sampe terjadi sesuatu yang gak mau gw inginkan terjadi sama calon pacar masa depan gw," saut Genta.
Nova bergedik ngeri ketika mendengar perkataan Genta, ia tidak menyangka ada saja laki-laki modelan Genta di dunia ini.
"Idih halu mulu lo Genta, Setau gw kan Raina udah punya pacar. Gak ada malunya ya Haha," saut Nova.
"Ini bukan halu Nova, tapi ini cita-cita gw yang masih coming soon Haha. Yaudah ya nanti lagi ngobrolnya, gw mau fokus nyelametin pacar masa depan gw dulu," ucap Genta.
Nova menggelengkan kepalanya setelah selesai menelpon Genta kemudian ia berjalan kembali ke tempat dimana Raina disekap.
****
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar ya gais buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya supaya lebih baik lagi di bab berikutnya.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1