
Shasha mengurungkan niatnya untuk memberitahu pada Raina dan Fathan karena tidak sengaja ia melihat Maira yang posisinya tidak jauh dari villa. Disana Maira tidak sendirian karena di sampingnya ada perempuan yang sangat tidak asing di mata Shasha.
"Ternyata dugaan gw bener. Awas kalian ya, gw gak akan biarin kalian pergi gitu aja. Kalian harus tanggung jawab, tindakan kalian ini udah kelewat batas," gumam Shasha.
Shasha melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Raka yang melihat kepergian Shasha dan menatap penasaran pada Shasha kemudian ia berlarian menyusul Shasha.
Rama menatap heran pada Shasha dan Raka yang tiba-tiba saja pergi bersamaan dengan arah yang berbeda dari yang lainnya.
"Mau kemana itu mereka, wah jangan-jangan mau berduaan. Gak boleh dibiarin nih bahaya nanti di tengah-tengahnya bisa ada setan. Harus gw ikut nih," gumam Rama.
Rama berlarian menyusul Shasha dan Raka sesekali ia bersembunyi di balik pohon atau semak-semak yang penting bisa ia gunakan untuk bersembunyi supaya mereka tidak menyadari keberadaannya.
Rama memicingkan matanya dan berusaha memperjelas penglihatannya bahwa yang ia lihat sekarang ini benar-benar Maira dan Fahira.
"Loh ternyata setannya si Maira sama Fahira," gumam Rama.
Shasha tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya hingga saat sampai di hadapan Maira ia mendorong Maira hingga tersungkur di atas tanah merah.
"Maira. Gw tau ini semua kerjaan lo kan. Lo jahat banget sih jadi orang, lo hampir ngebunuh banyak orang dan lo juga udah buat kerugian yang besar sama yang punya villa," bentak Shasha.
Setelah membentak Maira, Shasha mengalihkan pandangannya pada Fahira yang terlihat panik saat melihat dirinya datang dan mengamuk.
"Lo juga sama jahatnya. Gw tau lo gak suka sama Raina, tapi lo fikir deh di dalam sana ada Farhan sama Fathan, orang yang lo kenal dari kecil kan bahkan yang gw tau lo itu punya perasaan lebih sama Fathan. Tapi kok lo tega ngebakar villa yang di dalamnya ada mereka. Dimana hati lo! Denger ya, gw gak akan biarin kalian ngelakuin hal jahat lagi sama mereka dan gw bakal laporin perbuatan kriminal lo ini ke polisi," bentak Shasha sambil menuding Fahira dan Maira bergantian.
Maira menunjukkan senyum sinisnya pada Shasha kemudian ia berusaha berdiri.
"Silahkan laporin aja. Lo fikir gw takut sama yang begituan, gw udah pernah masuk penjara tapi lo liat gw bebas dalam waktu yang cepat kan," ucap Maira dengan sombong.
"Sombong banget lo ngomong kaya gitu. Liat ya gw gak akan biarin lo bebas dari penjara kalo perlu lo di penjara seumur hidup," ucap Raka.
__ADS_1
Fahira mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, ia berusaha mencari alasan untuk melawan Shasha dan memotong pembicaraan antara Shasha dan Maira supaya Shasha tidak terus menerus menyudutkan Maira dan membuat Maira keceplosan.
"Lo dari tadi ngoceh gak berenti-berenti terus tiba-tiba nuduh kita, emangnya lo punya bukti apa, kalo kita yang lakuin semuanya. Disini banyak banget orang yang nontonin. Kenapa lo gak nuduh yang lain dan kenapa harus kita yang lo tuduh," ucap Fahira.
"Gak perlu bukti, gw bukan orang bodoh yang bisa kalian ****-begoin dengan alasan basi kalian. Gw temanan sama orang jahat ini bukan satu atau dua tahun lagi. Jadi gw paham betul apa yang dia ucapin dari mulutnya itu, entah itu kebohongan atau kejujuran yang dia omongin," ucap Shasha menuding wajah Maira yang langsung ditepis kasar oleh Maira.
Maira tertawa saat mendengar ucapan Shasha kemudian ia bertepuk tangan hingga membuat Shasha dan Raka menatap heran padanya.
"Apa kata lo? Lo paham tentang gw? Ngayal lo ya. Lo gak tau apa-apa tentang gw. Semua yang lo tau cuma sebagian kecil dari kehidupan gw, jadi jangan merasa diri lo yang paling kenal gw di dunia ini, bahkan orangtua gw pun sama kaya lo, mereka gak tau apa-apa tentang anaknya." Tersirat rasa kepedihan yang ia rasakan di balik matanya yang sayu membuat Shasha melihatnya dengan sedikit rasa simpatik.
"Iya karena dulu yang gw kenal itu Maira yang baik bukan Maira yang kriminal," saut Shasha.
"Gilaaa seru juga ternyata ya nontonin manusia debat sama jelmaan jin tomang, gw bantuin gak ya. Tapi gw ngeri nanti jadi kena sasaran kebar-baran mereka kaya semalem, mendingan gw ngumpet disini aja lah kasian rambut gw yang berkilau ini," gumam Rama sambil mengibaskan rambutnya.
"Debatnya nanti aja di kantor polisi. Sekarang lo ikut gw ke kantor polisi," ucap Raka menarik paksa tangan Maira dan Fahira.
Maira dan Fahira tidak tinggal diam, mereka melawan bahkan dengan sengaja mereka menginjak kaki Raka hingga membuat Raka meringis kesakitan.
"Mending kita pergi dari sini, sebelum penghianat dan pangerannya semakin menjadi," ucap Maira.
***
Raina kini berada di rumah sakit tepatnya di ruangan Zara dan Farhan di rawat secara bersamaan di dalam ruangan yang sama.
Raina memandang Zara yang belum sadarkan diri dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak sanggup melihat Zara dengan banyak luka bakar di tangannya.
"Kalo kebakaran ini disengaja. Gw bersumpah gak akan maafin orang yang tega ngelakuin semua ini. Gw bakal kasih pelajaran ke dia. Sekarang biarin gw yang jagain lo Zar, gw gak akan lepasin orang yang udah buat sahabat gw kaya gini. Gw bakal lakuin hal yang sama kaya lo disaat lo liat gw dikasarin sama orang lain," ucap Raina tak terasa air mata perlahan mengalir di pipinya.
"Lala juga sama. Liat nanti ya Lala bakal patahin tangan orang jahat itu. Nanti ajarin Lala caranya patahin tangan orang ya Ra, soalnya Lala belum bisa patahin tangan orang, makanya buruan sadar biar Lala bisa berguru sama Zara," ucap Lala tersenyum menatap Zara.
__ADS_1
"Raina kayanya Zara sama kak Han lagi lama-lamaan pingsan deh soalnya dari tadi gak sadar-sadar," lanjut Lala.
Pintu ruangan terbuka, terlihat Fathan yang muncul dari balik pintu dengan wajah lelahnya dan tidak lupa juga dengan wajahnya yang masih cemong-cemong akibat asap.
"Kak lo cuci muka sih, kaya tentara lagi latihan kedisiplinan tau itu muka item-item begitu," ucap Lala.
"Berisik nih istrinya calon abang ipar. Lo dicariin tuh sama suami lo, katanya suruh ke ruangannya Fano sama Cila. Sana pergi husss. Gw mau disini aja berduaan sama Raina," ucap Fathan dengan malas.
"Kak, jangan gitu ah. Kasian tau Lala baru nyampe udah diusir gitu," tegur Raina.
Tangan Raina terangkat mengusap wajah Fathan yang cemong-cemong tetapi bukannya hilang atau berkurang malahan noda hitamnya semakin menyebar hingga membuat Raina tercengang dan panik.
"Makasih Raina udah balesin rasa kesal Lala Haha. Lala pamit nyusul kak Reno dulu ya bye bye. Dasar cemong kuadrat huuu," ucap Lala sambil meledek Fathan.
Fathan menatap Lala heran dan penasaran. Apa yang membuat Lala sebegitu senangnya dan diakhir Lala meledek dirinya.
"Itu anak kenapa?" tanya Fathan.
"Hehe gapapa, biasa lah Lala tingkahnya aneh-aneh," saut Raina sambil menunjukkan cengirannya.
"Oh iya jelas si Lala mah emang aneh. Ini mereka belum sadar dari kapan?" tanya Fathan.
"Gak tau persisnya dari kapan. Jelasnya sih udah lumayan lama. Kasian Zara kak tangannya kena luka bakar pasti perih dan panas banget," ucap Raina.
"Iya, padahal harusnya dia udah keluar dari tadi. Tapi dia nekat keliling ke semua ruangan buat mastiin kita semua udah bangun. Aku bakalan cari tau apa penyebab kebakaran dan kalo disengaja aku gak akan biarin orang itu lolos," ucap Fathan.
***
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan sarannya ya hehe. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar.
Sekian dan terima kasih.