
Resepsi sudah selesai kini semua sedang berkumpul di villa, mereka menyempatkan untuk sedikit bersenda gurau. Rasanya acara hari ini begitu banyak menyita tenaga dan fikiran mereka masing-masing hingga membuat mereka pusing.
Rama baru saja selesai mengganti galon kosong di dispenser dengan galon yang penuh. Ia menahan senyumnya saat melihat Reno dan Lala yang duduk berdampingan. Seketika terbesit niat di dalam otaknya untuk menggoda Reno dan Lala.
"Aduh senangnya penganten baru syalalala." Rama datang dengan membawa galon kosong ia sengaja menjadikan galon tersebut menjadi rebana.
"Duduk bersanding di atas sofa syalala," lanjut Rama sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Lala menatap Rama agak dongkol karena Rama tak ada hentinya meledek dan menggoda dirinya sedari tadi bahkan saat prosesi akad sebelum dimulai pun Rama sempat-sempatnya datang menghampirinya hanya untuk meledeknya.
"Gw masukin ke dalem galon lo ya lama-lama," ancam Lala.
Rama tertawa saat mendengar ancaman Lala, ia merasa senang saat Lala merespon candaannya. Bukannya berhenti justru Rama berniat melanjutkan nyanyiannya, tetapi ia urungkan niatnya tersebut karena ia lupa lirik dan nada.
"Coba aja kalo bisa. Lo kira gw jin yang bisa dikeluar masukin ke dalem galon. Udah jadi istri gak smart lo ah," ucap Rama.
"Khusus lo bisa kok. Mau coba?" tawar Lala.
Suasana villa begitu ramai dengan perdebatan dan juga candaan dari penghuninya, berbeda dengan Shasha dan Raka yang terlihat gelisah. Shasha dan Raka kebingungan bagaimana caranya memulai pembicaraan untuk memberi tahu pada mereka tanpa merusak momen bahagia yang sedang mereka saksikan ini. Rasanya berat sekali bagi mereka untuk membuka suara karena momen seperti ini seharian belum mereka dapat saking repotnya mereka mengurus kerusuhan yang dibuat oleh Fahira.
Shasha dan Raka saling menyenggol satu sama lain. Memberi kode untuk memulai pembicaraan.
"Raka, gw gak tega ngerusak momen bahagia kaya gini. Liat deh mereka semua bahagia banget becandanya," bisik Shasha.
"Sama Sha, besok aja kali ya kasih taunya jangan sekarang. Takutnya nanti pada panik semua kalo kita kasih tau sekarang," bisik Raka.
Lagi-lagi Fano memergoki Shasha dan Raka yang sedang berbisik-bisik membuat Fano memicingkan matanya menatap mereka penasaran. Fano berjalan mendekati keduanya sambil membawa segelas susu coklat yang baru ia minum sedikit.
Fano meletakkan gelas yang berisi susu di atas lantai kemudian ia menyelipkan kepalanya di samping kepala Shasha dan Raka.
"Hayo bisik-bisik apa, ajak Pano juga dong. Kasih tau Pano jangan pelit-pelit," bisik Fano.
Mendengar suara bisik-bisik persis di depan telinganya membuat Shasha dan Raka terkejut refleks menolehkan kepalanya bersamaan hingga tanpa sengaja kepala mereka beradu untung saja Fano sempat menjauhkan kepalanya dari sisi mereka, jika tidak kepala Fano menjadi sasaran empuk sundulan kepala Shasha dan Raka.
"Aduh." Shasha meringis memegangi kepalanya yang terasa berdenyut akibat benturan yang lumayan kencang.
Semua tertawa ketika melihat Shasha dan Raka meskipun mereka tidak tahu penyebab persisnya mengapa kepala mereka bisa saling beradu satu sama lain.
Fano yang berada di belakang mereka pun tak mau kalah, ia tertawa terbahak-bahak menertawakan kekonyolan Shasha dan Raka.
"Lo berdua ngapain si, ceritanya lagi latihan jadi banteng gitu," ucap Raina tertawa hingga sudut matanya berair.
"Diem-diem menghanyutkan kalian berdua ya," ucap Farhan tertawa.
"Gw dukung kok Rak tenang aja, jangan lama-lama ya," ucap Fathan menepuk-nepuk bahu Raka.
Raka mengernyitkan dahinya menatap sekelilingnya jengkel sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa masih sedikit berdenyut.
"Dasar teman-teman gak ada akhlak kelean semua ya. Kepala gw nyut-nyutan nih berasa abis jedotan sama tembok malah diketawain bukannya dibantuin. Minimal nanya kek gimana kondisi kepala gw," keluh Raka.
Mendengar ucapan Raka membuat Shasha kesal. Ia tidak terima Raka menyamakan kepalanya dengan tembok. Padahal jelas berbeda dari bentuk saja kepalanya sangat berbeda dengan tembok. Saking geramnya ia menjitak kepala Raka dengan gemas.
"Enak banget lo ya kalo ngomong segala nyamain kepala gw sama tembok," protes Shasha.
"Ya maaf abisan kepala gw sakit banget. Ini semua gara-gara ada yang bisik-bisik nih di kuping gw," keluh Raka.
"Loh lo juga denger," heran Shasha.
"Iyalah orang jelas banget di depan kuping gw," ucap Raka.
"Hati-hati abis itu pasti kepala kalian bakal bejol deh." Aisyah bergedik ngeri sengaja menakut-nakuti Shasha dan Raka.
***
Maira dan Fahira yang berada di depan jendela memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Maira menyunggingkan senyumnya saat mengetahui Raka dan Shasha tidak memberi tahu pada mereka.
"Gw punya rencana bagus nih, gw jamin ini bisa buat mereka panik banget," ucap Maira.
Fahira yang semulanya fokus memperhatikan Fathan dan Raina tiba-tiba saja terkesiap dan menolehkan kepalanya pada Maira. Ia menatap Maira penasaran menunggu Maira melanjutkan ucapannya.
"Sekarang kita pergi dari sini, nanti lo bakal tau apa yang mau gw lakuin," ajak Maira.
Mereka pun pergi dari sana, tanpa mereka sadari Lala menyadari keberadaan mereka disana tetapi Lala tidak tahu pasti siapa yang berada di balik jendela.
"Kak Reno itu di jendela ada bayangan hitam, serem banget kira-kira orang aap hantu ya," bisik Lala.
Reno pun mengikuti arah pandangan Lala namun ia tidak melihat apapun disana, ia mengangkat tangannya mengusap lembut kepala Lala. Ia tersenyum menatap Lala, saking lelahnya sampai membuat perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya tersebut berhalusinasi yang aneh-aneh.
"Kayanya kamu ngantuk deh, mending tidud aja biar gak liat yang aneh-aneh lagi," ucap Reno.
Reno pun berpamitan pada yang lainnya untuk ke kamar lebih dulu dengan alasan Lala yang mengantuk.
Mendengar hal tersebut membuat yang lainnya tak henti menggoda mereka, bahkan tak jarang dari mereka yang meminta ponakan secepatnya.
"Asik dah penganten baru bawaannya mau ke kamar mulu, gih sana dah kita mah apa atuh cuma bisa request aja," ucap Rama.
"Udah sana bang Reno jangan lupa bismillah Haha," ledek Fathan.
"Kak, jangan diledekin terus liat noh si Lala mukanya udah kaya ayam keilangan anaknya. Aku gak mau ya nanti kamu dijambak sama Lala," tegur Raina.
"Iya sayang. Tenang aja gak akan kejadian itu mah. Lagian kan ada pacar aku disini yang gak kalah jagonya sama Lala soal jambak menjambak," ucap Fathan tersenyum menarik Raina ke dalam rangkulannya.
"Ini lagi pasangan bucin. Gak ngerti banget sih disini ada jomblo tampan. Sana kalo mau pacaran jangan di depan gw," omel Rama.
"Makanya buruan cari pacar biar gak iri mulu hidup lo," saut Fathan.
"Bantuin cariin lah kak, kamu kan banyak tuh yang naksir di kampus. Bisa kali kasih satu ke kak Rama," ucap Raina terkekeh.
"Nah bener banget tuh Raina. Emang ya dia doang yang ngertiin mood jomblo. Mending kita pacaran aja yuk Rain," ucap Rama yang dihadiahi pelototan dari Fathan.
__ADS_1
"Ngomong lagi gw tendang lo dari sini," kesal Fathan.
"Ampun bang jago, pacar lo galak banget Raina ngalahin bapak lo," keluh Rama.
***
Waktu menunjukkan pukul 02.45 dini hari, suasana di villa nampak hening karena penghuninya yang sedang tenggelam dalam dunia mimpi masing-masing.
Berbeda dengan Maira dan Fahira yang masih sibuk dengan rencana mereka. Mereka membawa beberapa jerigen berisi bensin dan minyak tanah.
Fahira menatap beberapa jerigen yang berjejer rapi di dekatnya, ia berusaha menduga-duga untuk apa jerigen tersebut.
"Lo mau ngapain Ra?" tanya Fahira.
"Ada jerigen isinya bensin sama minyak tanah, lo pikir gw mau ngapain disini?" ketus Maira.
Fahira kaget saat menyadari tujuan Maira sebenarnya, refleks ia menutup mulutnya yang ternganga. Fahira menatap tak percaya pada Maira yang mempunyai keberanian melakukan hal berisiko seperti itu.
"Lo seriusan mau lakuin ini. Ini bahaya lo, tujuan kita kan Fathan sama Raina bukan yang lainnya. Ini kriminal loh Ra, kasian juga yang punya villa," ucap Fahira.
"Berisik banget lo. Terus kemarin lo mau nyelakain Raina emangnya bukan kriminal? Jadi orang jahat tuh jangan setengah-setengah deh, gak ada penjahat yang sok-sokan berhati malaikat," ucap Maira sambil membuka tutup jerigen.
Fahira menatap Maira sebal karena Maira sama sekali tidak mendengarkan ucapannya.
"Bukan gitu Ra, tapi kan ini yang dirugiin banyak dan orangnya sama sekali gak ada urusan sama kita," bantah Fahira.
Maira mendengus sebal. Maira menatap Fahira jengel karena sedari tadi berisik dan memberikannya ceramah.
"Dari pada lo ngomong terus mending lo bantuin gw siram sekitaran villa pake ini, selebihnya biar gw yang ngerjain," ucap Maira.
Fahira pun pasrah dan menuruti apa yang dikatakan oleh Maira. Sejujurnya ia sangat kesal dengan Maira yang tidak mau mendengar pendapatnya.
Setelah selesai menyirami beberapa tempat dengan bensin dan minyak tanah Fahira pun segera berlarian kembali menuju tempat Maira.
"Udah kelar kan. Lo tunggu sini ya jangan kemana-mana," pinta Maira.
Maira tersenyum sinis menatap villa, ia tidak menyangka mudah sekali membalaskan dendamnya pada mereka.
"Gw pastiin kalian gak akan selamat dari sini Haha. Bye!" ucap Maira.
Maira melemparkan korek api yang menyala dan tidak butuh waktu lama api mulai menyala dan merambat ke tempat lain. Tidak puas dengan hal tersebut Maira berjalan ke sisi lain dari villa kemudian kembali melemparkan korek api yang menyala ke villa.
Setelah melihat api yang lumayan besar berhasil ia ciptakan di sekeliling villa, Maira pun memutar balik tubuhnya kemudian berlarian menyusul Fahira.
"Gede banget apinya, terus itu Fathan gimana dia kan ada di dalam," ucap Fahira dengan cemas.
"Santai aja lah gak usah panik begitu, gw yakin bentar lagi juga dia keluar dengan selamat," ucap Maira dengan santai padahal ia sendiri pun tidak tahu siapa yang akan selamat dari kebakaran tersebut.
"Gila lo ya itu api gede banget Ra, lo bisa sesantai ini. Gw biar dikata dendam tapi masih punya hati Ra, apalagi yang ada di dalam Fathan," protes Fahira.
***
Shasha yang belum sepenuhnya tertidur karena masih kepikiran soal ancaman Maira padanya dibuat kaget dengan asap tebal yang masuk ke dalam kamarnya. Jantungnya berdetak tak karuan berharap dugaannya salah, ia berjalan menuju pintu kemudian membukanya perlahan memastikan apa yang terjadi dan dari mana asalnya asap tebal tersebut.
Shasha dibuat panik saat melihat asap yang lebih tebal di luar kamarnya. Shasha berlarian menuju kasur dan berteriak membangunkan Zara dan Aisyah.
"Zara! Aisyah! Kebakaran buruan bangun!" teriak Shasha dengan panik kemudian ia melihat ke arah jendela.
Zara dan Aisyah yang terusik dengan suara teriakan dari Shasha perlahan membuka matanya. Mereka kaget saat melihat asap yang hampir memenuhi kamar.
"Kebakaran beneran ini. Ayo keluar kasih tau yang lainnya gw yakin pasti mereka ketiduran deh," teriak Zara panik.
"Zara kita gak ada waktu buat keluar, tadi gw liat asep di depan kamar tebel banget yang ada nanti kita pingsan kalo lewat tengah. Sekarang bantuin gw gulung-gulung ini sprai biar kita bisa turun pake ini, untungnya api belom sampe ke bagian kamar kita cuma apesnya kamar kita ada di lantai 2 aja," teriak Shasha.
Zara tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Shasha, ia yakin banyak yang belum menyadari kebakaran tersebut karena mereka sama-sama mengantuk dan baru tidur.
"Zara gw yakin pasti mereka sama kaya kita lagi usaha nyari jalan keluar, percaya sama gw!" teriak Shasha.
Aisyah melirikkan matanya pada sprai yang sudah menjuntai ke bawah.
"Terus kita gimana, kasian Zara sendirian," ucap Aisyah.
"Kita turun dulu Aisyah, setidaknya kita gak buat orang lain susah nyariin kita dan kita gak ngebahayain diri sendiri," saut Shasha.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk turun perlahan menggunakan sprai.
***
Zara berteriak di lantai 2 dan mengetuk pintu dengan kencang supaya yang di dalam mendengarnya. Ia terbatuk-batuk berulang kali karena ia lupa mengambil masker untuk menutup mulut dan hidungnya. Matanya memerah akibat terpapar langsung dengan asap.
Zara bernafas lega saat ia berhasil membangunkan semua orang, ia mengajak semuanya berjalan mengikutinya ke kamar yang ia pakai untuk tidur bersama dengan Shasha dan Aisyah, ia yakin pasti mereka berhasil keluar menggunakan cara Shasha dan ia akan melakukan hal yang sama pada yang lainnya.
"Lo ngapain bawa kita kesini, harusnya kita tuh turun dan keluar dari sini bukannya masuk ke kamar lagi," ucap Reyhan dengan panik.
"Ikut aja dulu. Resikonya gede kalo kita lewat jalan biasa," ajak Zara.
Mereka pun turun secara bergantian tersisa Wina dan Zara disana. Zara menatap Wina heran karena Wina terus mematung di tempatnya.
"Tante ayo turun, kenapa diem aja," ucap Zara sambil terbatuk-batuk.
"Tante kepikiran sama Raina, Cila dan Fano yang ada dibawah, Tante takut mereka masih tidur," ucap Wina dengan wajah cemasnya.
"Nanti Zara turun ke bawah liat kamar mereka, tapi tante turun dulu ya terus tante liat mereka udah keluar apa belum abis itu kasih tau ke Zara . Zara tungguin info nya dari sini," ucap Zara.
Zara terdiam menatap teman-temannya yang terduduk lemas. Ini bukan pertama kali baginya terkurung dalam peristiwa kebakaran, ia tak akan membiarkan ada korban di dalam villa ini, sebisa mungkin ia akan memastikan semua berhasil keluar dari villa dengan selamat.
Wina kembali dengan wajah cemasnya, perasaannya tidak tenang saat mengetahui anak-anaknya tak ada di luar.
"Mereka gak ada Zar. Lala, Reno, Fathan, Raina, Cila, Fano dan baby Viko masih ada di dalam semua," teriak Wina.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan Wina, Zara berlarian keluar dari kamar, ia menuruni tangga dengan cepat kemudian mencari keberadaan mereka.
Kebo juga mereka ya, asap setebel ini gak bangun-bangun. Ada anak kecil sama bayi lagi disini. Harusnya kan mereka yang di bawah bisa keluar lebih duluan dari pada kita yang diatas.
Zara bertemu dengan yang lainnya di bawah, ia berlarian mendekati Raina dan Fathan yang kewalahan.
"Gimana yang di atas Zar?" tanya Fathan.
"Mereka udah keluar barusan, tinggal kalian semua yang belum keluar. Kita keluar bareng-bareng lewat pintu depan aja ya," ucap Zara.
"Iya kasian juga anak-anak yang ngehirup asap tebal kaya gini," ucap Raina sambil terbatuk-batuk.
Beberapa kayu perlahan mulai berjatuhan dan hampir menimpa tubuh mereka. Mata Zara terbelalak saat melihat kayu yang nyaris putus dan akan menimpa Lala dan juga bayi yang ada di gendongannya.
Zara melirik sekilas pada Reno yang kelihatannya tidak menyadari hal tersebut, ia merasa tidak punya banyak waktu untuk meneriaki Reno. Dengan cepat ia mendorong tubuh Lala menjauh dari tempat tersebut hingga akhirnya kayu tersebut sedikit mengenai kaki Zara.
"Argh! Lala ini kebakaran bukan di rumah hantu jadi lo harus sigap jangan kaya batu begitu. Buruan keluar sebelum kayunya makin banyak yang jatuh," teriak Zara menahan rasa perih sekaligus panas di kakinya.
Raina menatap luka bakar yang berada di kaki Zara. Ia tidak yakin Zara bisa jalan keluar dari sini sendirian.
"Zara itu kali lo luka, lo bisa jalan kan atau gak gini aja deh kak Fathan kamu bantuin Zara jalan, aku takut dia kenapa-napa," pinta Raina.
Fathan dibuat kebingungan karena kini posisinya ia sedang menggendong Fano. Sedangkan Reno sedang menggendong Cila tidak mungkin ia menyuruh Raina menggantikannya menggendong Fano karena sangat bahaya.
"Udah kalian jalan aja duluan, biar dia sama gw," ucap Farhan yang entah dari mana munculnya tiba-tiba sudah berjongkok membantu Zara berdiri.
Semua sejenak bernafas lega saat mengetahui Zara ada yang membantu.
"Makasih lo dateng di waktu yang pas Han. Gw percaya sama lo," ucap Fathan menepuk bahu Farhan.
Mereka berjalan dengan hati-hati hingga akhirnya mereka berhasil keluar dari villa dengan keadaan lemas dan anak-anak yang pingsan serta bayi yang terus menangis.
"Lo ngapain sih kesini, gw bisa sendiri mending lo keluar sana," ketus Zara.
Farhan mendengus sebal menatap Zara gemas karena selalu menolak saat ia ingin membantu Zara berdiri.
"Ini keadaannya darurat, turunin dulu gengsi kamu atau kamu mau kita mati berdua disini gara-gara gengsi kamu itu," ucap Farhan.
"Ogah! mending mati sendirian," ketus Zara.
"Yaudah makanya ayo kita keluar kalo kamu gak mau mati berduaan disini bareng saya," ucap Farhan.
Farhan menggertakkan giginya, menatap Zara geram karena teralu lama berfikir hingga akhirnya ia memutuskan untuk menggendong Zara tanpa seizin dari Zara. Ia tak peduli dengan Zara yang akan mengamuk padanya nanti, sekarang yang ada di fikirannya segera keluar dari villa dengan selamat tanpa meninggalkan siapapun di dalam villa.
***
Dari kejauhan Maira tertawa menikmati drama bertema action yang baru saja ia buat. Rasanya ia sangat puas melihat orang-orang yang keluar dari dalam sana dengan kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Ternyata seru juga ya ngeliatnya Haha," ucap Maira.
"Sama sekali gak seru Ra, liat banyak orang yang jadi korbannya bahkan anak-anak pun kena. Kita fokus aja sama target kita Ra jangan libatin orang lain," protes Fahira.
"Berisik lo dari tadi protes mulu. Ini cara paling bagus buat bikin mereka gak ngeremehin kita lagi, lagian itu bocah juga pada rusuh gapapa lah sekali-sekali kasih syok terapi," saut Maira.
Maira mengabsen satu persatu semua yang berhasil keluar dari villa namun ia merasa ada yang kurang saat selesai mengabsen mereka.
"Eh bentar kayanya ada yang kurang deh, si Zara cewe tarzan mana ya kok dia gak keliatan," ucap Maira.
"Kayanya dia kejebak di dalam dan Farhan juga gak ada disana," saut Fahira.
"Baguslah, kalo bisa dia pergi ke neraka biar gak ada lagi wonder women yang selalu ngebela Raina palingan tinggal si Lala aja yang harus disingkirin," ucap Maira tersenyum senang.
***
Lala teringat dengan kain yang digunakan oleh Reno untuk menutupi kepala Vico untuk mengurangi asap yang terhirup oleh bayi tersebut. Lala membuka kain lalu mengusap lembut pipi vico.
"Maafin aku ya, aku lupa buka kainnya kalo mau marah tuh marahin aja kak Reno soalnya dia yang nutup kepala kamu pake kain ini. Cup ... Cup ... Cup jangan nangis lagi ya kita udah selamat nih." Lala berusaha membuat Vico berhenti menangis.
"Kenapa jadi nyalahin aku. Aku sengaja kaya gitu biar si vico gak pingsan kaya Fano sama Cila. Liat tuh mereka belum sadar sampe sekarang," protes Reno menunjuk ke arah Fano dan Cila.
"Fathan itu ada tim medis mendingan kamu buruan gendong Fano samperin mereka, aku bantuin bawa Cila. Biar anak-anak cepat ditanganin sama tim medis soalnya mereka banyak banget ngehirup asap di dalam," ucap Reno yang direspon anggukkan kepala oleh Fathan.
Fathan melirik Raina sekilas, ia mengusap kepala Raina lembut.
"Kamu disini aja ya jangan kemana-mana," ucap Fathan.
Raina menganggukkan kepalanya kemudian ia mendekatkan dirinya pada Lala melihat keadaan Vico.
"Dia kuat banget ya bisa tahan di dalam asap tebal kaya tadi," ucap Raina.
"Iya Rain, semuanya berkat kak Reno sih, Lala jadi ngerasa bersalah udah nyalahin kak Reno terus dari tadi," ucap Lala sambil menatap ke arah villa yang berkobaran dengan api.
"Gimana ya keadaan Zara sama kak Farhan di dalam sana, Lala berharap mereka bisa keluar dengan selamat tanpa ada yang luka sedikit pun," lanjut Lala.
Raina menatap Lala kesal, ingin sekali rasanya ia kembali membawa Lala ke dalam villa dan mengulang adegan saat Zara berusaha menyelamatkannya.
"Lo lupa ya tadi kakinya Zara kena bara kayu gara-gara nyelametin lo, jadi mana mungkin mereka keluar tanpa lupa," ucap Raina.
***
Bersambung ....
Episode kali ini mengandung banyak sekali asap, tapi bukan asap dari bakar-bakar daging ayam atau sapi ya, ini asap dari bakar-bakar villa.
Kira-kira gimana ya kelanjutannya author sih berharap mereka berdua selamat biar dosa author gak nambah karena udah buat mereka meninggal secara mengenaskan disana. Kalau kalian gimana?
Jangan lupa like, komen dan saran. Kalo ada saran silahkan dititipkan di kolom komentar biar bisa jadi bahan evaluasi aku.
Mau ingetin aja author juga punya novel baru yang gak kalah serunya dari novel ini hehe. Kalo kalian berkenan dan tertarik silahkan samperin ke lapak baru author ya.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.