
Dua hari berlalu setelah hari liburan mereka. Kini semua sudah kembali ke Jakarta dan memulai aktivitas mereka masing-masing.
Kini Raina dan teman-temannya sudah berada di kampus mereka karena berniat mengurus perihal cuti kuliah Raina yang sempat diurus oleh Reno.
"Seneng deh bisa balik dan liat kampus lagi. Rasanya kaya udah 5 tahun gak ke kampus," ucap Raina mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kampus.
Raina tidak pernah menyangka kalau dirinya bisa kembali melihat dan beraktivitas seperti biasa di kampusnya, bahkan tidak pernah terbesit di dalam fikirannya kalau matanya secepat ini kembali normal. Sejujurnya ia kecewa dengan dirinya yang sebegitu pasrahnya menerima keadaan.
"Lebaynya mulai deh," sindir Zara.
"Lala sih kangen baksonya mba Wiwik. Di Bandung gak ada baksonya mba Wiwik soalnya," saut Lala.
***
Selesai mengurus urusannya Raina segera berjalan menuju kelasnya menyusul ketiga sahabatnya yang sudah menunggunya di kelas.
Saat Raina berjalan di koridor kampusnya tiba-tiba saja ia melihat Fathan. Ia melihat Fathan dengan seorang perempuan yang nampaknya mereka dekat sekali. Terlihat dari raut wajah Fathan yang begitu ramah pada perempuan tersebut. Melihat respon Fathan membuat Raina kesal, ia sengaja berbalik arah mencari jalan lain supaya ia tidak berpapasan dengan Fathan.
"Dulu aja sebelum pacaran galak banget sama gw, sok sokan gak jual mahal lagi. Sekarang malah nyengir-nyengir sama cewe lain. Emang dasar ya cowo suka bikin kesel," gerutu Raina sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
Saat sampai di depan kelasnya, Raina mendorong pintu kelasnya dengan kencang hingga membuat kaget semua yang ada di dalam kelas.
"Weh Raina dateng-dateng ngamuk. Gw kira ada kingkong nyasar masuk ke dalem kelas, sampe kaget gw untung jantung gw normal," ucap Bimo menatap Raina sambil mengelus dadanya.
Raina hanya melirik Bimo sekilas kemudian ia melengos menuju kursinya tanpa menyahuti perkataan Bimo.
Ketiga sahabat Raina pun sama kagetnya dengan yang lain. Mereka menatap Raina penasaran.
"Kenapa sih Raina, lo gak boleh kuliah disini lagi?" tanya Zara.
"Eh kalo ngomong, gak mungkin gara-gara itu kayanya sih," saut Aisyah.
Raina menghela nafas gusarnya, ia mendudukkan dirinya di atas kursi kemudian meletakkan tasnya di sembarang tempat.
"Gw lagi sebel banget sama kak Fathan," ucap Raina.
Mendengar jawaban Raina membuat ketiga sahabatnya mengerutkan dahinya, mereka semakin dibuat kebingungan.
"Loh kok jadi kak Fathan. Emangnya dia ngapain?" tanya Lala.
"Tadi gw liat kak Fathan sama cewe. Udah gitu keliatannya akrab banget lagi," geram Raina.
"Mungkin temen sekelasnya kali. Lo kaya baru kenal kak Fathan aja Raina. Lagian dari dulu kan kak Fathan emang banyak disukain cewe-cewe, gak aneh juga sih kalo dia barengan ama cewe," ucap Zara dengan santai.
"Tau ah udahlah gak usah dibahas. Lo gak ngerti," kesal Raina.
"Oh gw tau nih kenapa Raina berubah jadi kingkong kaya tadi. Dia iri sama cewe yang tadi dia liat sama kak Fathan kayanya deh. Soalnya dulu tuh dia dicuekin bahkan diusir terus sama kak Fathan sedangkan cewe itu gampang banget deket-deket sama kak Fathan. Bener kan Raina?" Lala tersenyum lebar menatap Raina seolah-olah sedang meminta respon padanya.
"Tuh Raina diem aja, berarti bener. Kayanya cewe itu lebih cantik dari lo deh Raina, makanya kak Fathan asik banget bareng dia. Buruan deh sana cari cadangan sebelum lo nangis bombay Haha." canda Lala yang dihadiahi pelototan dari Zara dan Aisyah.
"Lala kok ngomongnya begitu sih. Aku berani jamin kalo Abang aku gak kaya gitu orangnya. Pasti dia ada alasan tersendiri, kamu udah coba tanya ke bang Fath belum Raina?" ucap Aisyah.
"Tau nih Lala, bukannya support Raina malah ngompor-ngomporin.
"Yaudah maaf sih. Bercanda doang Ais, lagian Lala gak bakalan biarin kak Fathan selingkuh dari Raina," saut Lala.
***
Waktu menunjukkan pukul 12.30
Lala dan Aisyah berpamitan untuk pergi ke kantin pada Raina setelah lelah terus-terusan membujuk Raina yang tidak mau ikut dengan mereka ke kantin. Sedangkan Zara hanya menitipkan pesanannya pada Lala supaya ia bisa menemani Raina.
Setelah keduanya keluar dari kelas, Zara menatap Raina dengan tatapan kebingungannya. Ia bingung harus melakukan apa ketika melihat Raina yang begitu tidak bersemangat.
__ADS_1
"Gw ngerti lo cemburu liat kak Fathan sama cewe lain. Tapi kan lo gak tau itu cewe siapa. Harusnya lo tanya dulu Raina ke kak Fathan biar jelas. Jangan kaya gini ah, kaya anak sekolahan baru pacaran aja lo," bujuk Zara.
Raina merasa ada benarnya juga apa yang diucapkan oleh Zara, ia tidak boleh seperti ini. Seharusnya ia lebih percaya pada Fathan.
"Iya lo bener Zar. Nanti deh gw tanyain ke kak Fathan. Tapi kali ini beneran gw males ke kantin, kalo lo mau ke kantin gapapa, biar gw disini aja sendirian," ucap Raina.
****
Lala dan Aisyah sedang mengantre di stand somay. Lala menolehkan kepalanya saat merasakan ada yang mencabut rambutnya.
"Eh siapa yang cabut rambut gw," ucap Lala dengan garang.
Rama yang jaraknya tidak jauh dari posisi Lala mengacungkan jari telunjuknya sambil cekikikan.
"Kak Ramaaaa! Ganti rambut gw gak! Harganya lima ratus ribu rupiah per helai. Berapa tuh tadi yang lo tarik, totalin aja sendiri," teriak Lala.
"Idih rambut jelek kaya gitu aja harganya mahal banget. Nih gw balikin rambut lo," ucap Rama menyodorkan 2 helai rambut Lala yang masih ada di sela-sela jarinya.
Mata Lala tertuju pada Fathan yang berada di belakang Rama. Ia menghiraukan Rama kemudian berjalan mendekati Fathan. Dengan gemas Lala menarik rambut Fathan hingga membuat Fathan meringis.
"Apaan sih lo gak jelas banget," omel Fathan.
"Lo yang gak jelas. Gara-gara lo Raina gak mau ke kantin. Ganjen banget sih lo jadi cowo," omel Lala.
Fathan memutar bola matanya berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga membuat Lala berbicara seperti itu padanya, padahal sedari tadi ia belum bertemu Raina sama sekali. Selama 2 menit lamanya ia terdiam namun ia tidak menemukan jawaban apapun di dalam dirinya.
"Maksudnya apaan sih gw gak ngerti," tanya Fathan.
"Tadi kata Raina dia liat lo barengan sama cewe sambil cengengesan gitu ke cewe itu. Ganjen lo ya kak Fathan, gak nyangka gw sama lo. Dasar buaya udara! Udah ah gw males ngomong sama lo yang ada gw makin sebel pengen jambak lo lagi," ucap Lala kembali menyusul Aisyah yang sedang mengantre.
Fathan menepuk dahinya setelah mendengar penjelasan dari Lala.
"Kenapa sih?" tanya Raka.
"Raina salah paham," saut Fathan.
"Dia liat gw sama kak Maya si dosen magang itu loh. Gw nyusul Raina dulu ya, lo sama Rama disini aja gak usah ikut gw." Fathan menepuk bahu Rama dan Raka bergantian kemudian ia pergi meninggalkan keduanya.
"Lagian siapa juga yang mau ngikutin lo sih Fathan. Gw sih mendingan di kantin aja, perut gw lebih penting soalnya," ucap Rama.
"Perut mulu yang diurusin," ucap Raka.
***
Fathan berlarian menuju kelas Raina, Fathan mengembangkan senyumnya saat melihat Raina sedang bersama dengan Zara di dalam kelasnya. Tanpa banyak berfikir ia membuka pintu kelas lalu menghampiri Raina.
Melihat Raina yang hanya diam saja dan tidak mau melihatnya membuat Fathan kebingungan, ia sengaja menggeser kursi yang berada di dekat Raina menjadi berhadapan dengan Raina, kemudian Fathan tersenyum di depan wajah Raina.
"Udah deh gak usah senyum-senyum kaya gitu. Aku lagi gak mau ngomong sama kak Fathan," ucap Raina memalingkan wajahnya ke arah Zara.
"Pacar aku ceritanya lagi ngambek nih. Jangan kaya gini dong ke aku, tadi itu yang kamu liat cuma salah paham aja. Itu dosen magang yang minta tolong sama aku, masa dosen aku jutekkin nanti yang ada nilai aku dibikin jadi D. Kamu gak mau kan punya pacar yang lulus dari kampus ini nilainya ancur gara-gara jutekkin dosen," jelas Fathan.
Raina menolehkan kepalanya perlahan saat mendengar penjelasan dari Fathan, sejujurnya ia sangat malu saat mengetahui alasan sebenarnya.
"Beneran dosen? Tapi kok muda, cantik juga lagi beda banget sama bu asih," ucap Raina.
"Namanya juga dosen magang sayang ... Masa iya dosen magang mukanya harus setua bu asih. Kalo kamu gak percaya aku kenalin deh sama dosennya. Lagian aku udah ceritain kamu juga kok ke dia. Dosen magang itu naksirnya sama kembaran aku kok bukan aku tau," ucap Fathan.
Zara yang sedang melihat ponselnya dibuat terkesiap saat mendengar ucapan Fathan, refleks ia menolehkan kepalanya menatap Fathan.
"Kenapa lo Zar. Keliatannya kaget banget," tanya Fathan.
Zara dibuat gugup dengan pertanyaan Fathan, ia menggelengkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Gak. Emangnya gw kaget kenapa biasa aja kok," saut Zara.
"Yaudah terserah. Kamu masih ragu sama aku? Ayo kita ke ruangannya kak Maya biar kamu gak salahpaham," ucap Fathan.
Raina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia percaya dengan apa yang diucapkan oleh Fathan. Melihat Fathan yang begitu serius rasanya tidak mungkin sekali Fathan membohonginya.
"Iya aku percaya. Tapi gimana ceritanya dosen itu suka sama kak Farhan tapi gak suka sama kamu. Kalian kan kembar bahkan muka kalian nyaris gak bisa dibedain," ucap Raina.
Fathan terkekeh geli mendengar pertanyaan Raina yang menurutnya sangat aneh sekali. Nyatanya semua yang Raina tanyakan padanya mengenai Farhan dan Maya jawabannyaa ada pada Raina sendiri.
"Kamu sendiri gimana caranya bisa suka sama aku tapi gak suka sama kembaran aku? Padahal kita kan muka kita sama." Fathan sengaja membalikkan pertanyaan Raina hingga membuat Raina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Karena sikap dan sifat kalian berbeda. Aku suka semua yang ada di kak Fathan tapi aku suka juga sih sama sikapnya kak Farhan. Siapa sih yang gak suka sama kak Farhan udah ganteng, ramah, baik, karirnya bagus. Andai aku ketemu kak Farhan duluan pasti aku sukanya sama dia," ucap Raina yang tanpa ia sadari perkataannya berhasil membuat wajah Fathan memerah menahan kesalnya.
"Oh gitu ya. Yaudah sana pacaran aja sama kembaran aku yang kata kamu baik, ramah, ganteng, karirnya bagus," sindir Fathan bersidekap memalingkan wajahnya.
Raina yang menyadari perubahan sikap Farhan pun langsung menarik tangan Fathan supaya kembali berhadapan dengannya.
"Kok jadi kamu yang ngambek ya. Bukan gitu maksud aku. Mau gimana pun kembaran kamu tapi tetap aja hati aku buat kamu," ucap Raina.
"Pacaran terus, serasa kelas punya berdua. Kita yang disini sampe gak keliatan ya," sindir Bimo yang sejak beberapa menit yang lalu masuk ke dalam kelas.
"Apaan sih Bimo, gak usah rese deh," omel Raina.
"Lo gak bosen disono Zar. Mirip banget obat nyamuk yang ada di rumah gw lo," ucap Bimo sambil tertawa.
***
Berbanding terbalik dengan Raina dan teman-temannya yang sudah kembali beraktivitas di kampusnya, kini Fahira dan Maira harus menanggung apa yang sudah mereka perbuat.
"Ini semua gara-gara lo Maira. Sekarang kita jadi ada di dalem tempat kaya gini. Lo keras kepala sih, gw udah bilang sama lo jangan nekat tapi lo kepala batu," omel Fahira.
Maira melirik Fahira sekilas, rasanya kepalanya pusing sekali mendengar Fahira yang setiap hari tak henti menyalahkannya.
"Udah deh gak usah berisik. Mending lo diem aja , percuma juga lo ngoceh-ngoceh gak ada gunanya," saut Maira.
"Gimana gw gak berisik. Lo liat gara-gara ide gila lo kita jadi disini. Mereka sekarang malah bahagia diluar sana karena merea berhasil ngirim kita ke tempat ini," keluh Fahira.
"Gw gak sebodoh yang lo pikirin. Gw masih ada orang di luar sana yang bisa gw suruh buat ngerjain mereka biar mereka tau rasanya berurusan sama gw. Biarpun gw di penjara gw bisa buat mereka celaka," ucap Maira.
Fahira menatap Maira tak percaya, ia tidak menyangka Maira sebegitu dendamnya pada Fathan dan Raina. Terlihat sekali dari mata Maira yang memancarkan aura dendam yang begitu dalam.
"Gak usah aneh-aneh deh Maira. Gak usah ngelakuin kejahatan yang kriminal lagi. Cukup sekali aja, ini aja gak tau kita disini sampe kapan," protes Fahira.
"Gw gak minta pendapat lo. Kalo lo gak mau ikut rencana gw mending lo diem aja gak usah banyak ngomong. Gw bisa lakuin semuanya sendiri tanpa bantuan lo," saut Maira.
Fahira memilih bungkam karena ia merasa percuma saja berbicara pada orang yang hatinya gelap dan begitu dipenuhi oleh dendam.
Mendingan gw diem aja lah. Gak guna juga nyeramahin dia gak ada gunanya masuk kuping kanam keluar kuping kiri.
Tiba-tiba saja salah satu polisi yang bertugas datang memanggil Maira karena ada yang ingin bertemu dengannya. Melihat raut wajah Maira yang begitu senang membuat Fahira penasaran.
"Pasti ini ada hubungannya sama rencana dia deh. Itu orang bener-bener gak ada kapoknya. Gw gak mau ikut-ikutan lagi cukup sekali aja gw terlibat rencana kriminal dia," gumam Fahira.
Maira tersenyum pada orang yang sedang duduk menunggunya.
"Gw butuh bantuan lo, gw harap lo bisa bantu gw," ucap Maira.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan sarannya. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya supaya aku bisa lebih baik lagi hehe. Makasih buat yang udah komen positif dan seru. Makasih juga buat yang udah kasih kritik dan sarannya. Komen kalian aku baca semua kok walaupun kadang aku gak sempat balas satu-satu saking sok sibuknya aku Haha.
__ADS_1
Buat para author yang udah mampir makasih banyak dukungannya ya, maaf juga kadang suka lama berkunjungnya hehe.
Sekian dan terima kasih.