
Fano dan Genta berjalan dengan hati-hati. Fano berada di belakang Genta sambil menarik ujung baju Genta.
"Kak Genta kenapa kita jalannya kaya begini kaya squippel yang ada di dola tau," tanya Fano dengan wajah menggemaskannya.
"Kitaa harus hati-hati dan waspada Fano. Kita kan gak tau orang yang ada di dalam kontrakan jahat apa baik. Nanti kalo tiba-tiba orang itu lemparin laba-laba ke aku gimana, makanya kita harus hati-hati," ucap Genta.
Fano menganggukkan kepalanya sambil menatap Genta dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kak Genta badan doang besal tapi sama laba-laba takut. Tenang aja ada Pano disini, kalo ada spidelman nanti Pano yang ambil," ucap Fano mengembangkan senyumnya.
"Laba-laba bahaya loh Fano. Kak Genta mendingan dikejar-kejar sama kecoa terbang deh dari pada ketemu laba-laba," saut Genta.
Fano menatap Genta tak percaya, ia bergedik ngeri saat membayangkan kecoa terbang.
"Benel ya, awas aja kalo nanti ada kecoa telbang kak Genta malahan kabul Pano jitakin sampe botak," tantang Fano.
Genta hanya menyahuti perkataan Fano dengan kekehannya kemudian ia kembali mengajak Fano berjalan menuju kontrakan orang misterius tersebut.
Fano gemas pada Genta yang jalannya sangat lambat hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlari menuju kontrakan tersebut kemudian mengetuk pintu kontrakan berkali-kali.
Genta yang melihat hal tersebut hanya dapat menghela nafas pasrah sambil menepuk dahinya. Ia berjalan gontai menyusul Fano.
"Fano gimana sih kenapa pintunya diketok, pasti nanti orangnya keluar deh. Ngomong apa nih gw, mana belom mikir lagi," ucap Genta.
"Kak Genta lama sih, Pano dali tadi digigitin nyamuk tau gala-gala jalannya lama. Udah tenang aja nanti Pano yang ngomong. Ngomong aja segala pake mikil, ngomong pake mulut bukan pake kepala tau," saut Fano.
"Sabar Genta ... Ini yang ada di depan lo anak kecil. Anak kecil itu tingkahnya macem-macem jadi wajarin aja ya, jangan dibawa hati," gumam Genta.
Fano mengerutkan dahinya menatap mulut Genta dengan heran.
"Kak Genta kenapa malah ngomong sendili telus malah komat kamit kaya mbah dukun. Pano kan udah bilang nanti Pano aja yang ngomong, kak Genta duduk aja diem disini jangan komat kamit kaya mbah dukun ya," oceh Fano.
Genta menggertakkan giginya menahan geram pada Fano. Ingin sekali rasanya ia menelan bocah yang ada di hadapannya ini.
"Untung sepupunya Raina, coba kalo bukan. Udah gw kempesin nih bocah atu," gerutu Genta.
"Kak Genta jangan sumpahin Pano di dalem hati ya. Dosa tauuuu!" Fano berkacak pinggang menatap Genta dengan tatapan menuduhnya.
"Kegeeran Fano mah. Udah sana katanya mau ngomong," ucap Genta.
__ADS_1
"Iya sabal dulu. Pintunya aja belum kebuka masa Pano ngblol sama pintu. Nanti Pano dikatain olang gila sama olang-olang, mana ada olang gila ganteng kaya Pano gini," saut Fano.
Fano kembali mengetuk pintu kontrakan orang tersebut dengan tidak sabar. Hingga membuat Genta bergedik ngeri sambil menatap pintu.
"Santai aja ketuk pintunya, itu pintu bukan gendang atau pun bedug masjid. Aku yakin orang yang di dalem kesel deh, siap-siap aja Fano bentar lagi diguyur air sama orangnya," ucap Genta.
Benar saja pintu rumah terbuka dan menampakkan seorang perempuan dengan gayung berbentuk lovenya yang berwarna pink.
Byur!
Suara air yang berasal dari gayung yang sempat ia tuangkan ke orang lain.
Fano menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat melihat Genta dengan keadaan yang sudah basah kuyup. Fano mengalihkan pandangannya pada perempuan yang sudah menyiram Genta dengan segayung air.
"Kakak cantik jangan silam Pano juga ya. Pano udah mandi suel deh. Kalo gak pelcaya nih cium aja ketek Pano pasti wangi banget deh," ucap Fano dengan panik.
Perempuan tersebut terkekeh sambil menatap Fano, ia merasa tidak asing dengan bocah yang berada di hadapannya ini.
"Tenang aja, aku cuma bawa satu gayung aja kok Hehe. Kalo aku bawa 2 gayung baru deh aku siram kamu," ucap perempuan tersebut.
Fano menghela nafas leganya sambil mengelus dada karena merasa lega saat mengetahui jawaban dari perempuan tersebut.
Genta berdecak sebal ia beranjak dari duduknya kemudian melirik sinis Fano dan perempuan tersebut secara bergantian.
"Ngapain mbaknya nyiram saya. Nih pelakunya yang ngetok-ngetok pintu rumah mbak kaya lagi mukul bedug masjid. Kalo mau marah, marah aja sana sama dia nih namanya Fano," omel Genta.
"Ya maaf, saya kan gak tau siapa yang ngetuk pintu kaya mau nagih utang begitu. Saya kira kamu, soalnya pas pertama kali buka pintu yang saya liat itu kamu duluan," saut perempuan tersebut.
"Kak kita kenalan dulu yuk biar gak libut telus. Kenalin nama aku Pano umul aku 5 tahun lebih. Masih PAUD dan masih jomblo," ucap Fano sambil menyodorkan tangan kanannya di hadapan perempuan tersebut.
"Nama aku Nova, ada keperluan apa ya kalian datang kesini?" tanya Nova.
"Kita mau main aja kak, nyapa olang-olang balu. Siapa tau kita jodoh hehe," ucap Fano.
"Fano masih kecil jangan ngomong jodoh-jodoh," tegur Genta.
"Bisa-bisa diomelin sama keluarganya Raina nih gw udah ngebiarin nih bocah ngomong ngelantur," gumam Genta.
***
__ADS_1
Fathan menatap Vico yang sedang memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut miliknya.
"Si Vico udah dikasih makan belum bang Ren. Kasian tuh anak keliatannya dari mukanya laper banget sampe gigitin jempol terus," ucap Fathan.
Raina melirik Fathan sebal setelah mendengar perkataan Fathan, ia mencubit gemas lengan Fathan hingga membuat Fathan meringis.
"Kak Fathan ... Anak bayi kan emang begitu suka gigitin jempol, kaya gak pernah jadi bayi aja sih," saut Raina dengan geram.
"Aku sih emang pernah jadi bayi, tapi kan aku gak tau waktu bayi itu aku ngapain aja. Emangnya kamu tau? Wah keren juga ingetan kamu, padahal masih bayi tapi inget masa-masa nyemilin jempol sendiri," ucap Fathan dengan wajah polosnya.
"Kenapa sekarang kak Fathan jadi ngeselin kaya gini sih. Mana kak Fathannya aku yang cerdas dan gak ngeselin," keluh Raina.
"Gimana, udah ada kabar belum si Genta temen kamu itu Fath. Harusnya sih kita buru-buru cari tau siapa orang itu kalo teralu lama nanti yang ada makin susah lagi dan makin memberikan mereka peluang buat lanjutin rencana mereka mau itu rencana baik atau pun buruk kita harus cari tahu biar lebih jelas lagi," tanya Reno.
"Gw gak tau Bang. Dia belom ngabarin lagi atau lo mau ikut nyelidikin juga bareng gw? Lo gak kerja emangnya bang?" Fathan menimpali Pertanyaan pada Reno.
"Itu kantor punya orangtua gw, kalo aku minta izin untuk hal ini pasti diizinin. Emangnya mau kapan?" saut Reno.
"Nanti setelah nganterin Raina ke kampusnya, gw lagi gak ada kelas tapi Raina kan ada," ucap Fathan.
"Yaudah berarti barengan aja, aku juga ngaterin Lala dulu kayanya, nanti dia iri sama Raina yang dianterin Haha," ucap Reno.
***
Zara dan Farhan kini berada di pasar tradisional. Zara tiada hentinya menanyakan jam pada Farhan karena ia lupa membawa ponselnya.
Zara mengalihkan pandangan pada tas belanjaan, ia mendengus sebal saat melihat barang belanjaanya yang belum kebeli semua.
"Kalo kaya gini caranya, gw sih bakalan telat ke kampus bahkan pas nyampe kelas pasti udah kelar deh," gumam Zara.
"Makanya fokus aja sama daftar belanjaan yang mau kamu beli jangan nanyain jam dan ngoceh terus. Kalo kamu fokus pasti pas kok waktunya," ucap Farhan.
"Pas apanya, liat dong masih banyak yang mau dibeli sedangkan kelas gw dimulai 45 menit lagi," keluh Zara.
****
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar ya gais buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.