
Kini Raina dan Fathan berada di ruang kerja Fathan sambil menunggu pesanan makanan mereka datang yang sengaja mereka pesan melalui aplikasi ojek makanan.
"Gimana hari ini? Katanya kamu ada kelas kok tiba-tiba udah disini aja," tanya Fathan tersenyum memandang Raina.
"Emangnya kenapa kalo aku tiba-tiba ada disini. Jangan-jangan yang dibilang sama Lala bener lagi. Kamu gak suka ya aku dateng kesini," tuding Raina.
Fathan menaikkan sebelah alisnya kemudian terkekeh, ia heran dengan kekasihnya yang tidak pernah berubah selalu percaya dengan apa yang orang-orang katakan tentang dirinya dibandingkan mencaritahu terlebih dahulu kebenarannya.
"Ini nih kebiasaan yang gak pernah ilang dan ujungnya bikin ribut." Fathan menyentil gemas hidung dan kedua pipi Raina hingga membuat Raina cemberut.
"Abisan kamu nanyanya kaya gitu bikin curiga aja tau gak. Udah tadi di bawah aku liat mbak-mbak kantoran bening-bening banget lagi," saut Raina dengan wajah muramnya.
Fathan menghela nafas gusarnya sambil menggaruk kepala yang sama sekali tak terasa gatal.
"Terus aja suudzon sama pacar sendiri. Biar makin maju tuh bibir sampe depan pintu gara-gara manyun. Aku nanya kaya tadi karena aku bingung aja soalnya kan terakhir kamu bilang sama aku lagi nungguin kabar dari dosen," ucap Fathan.
"Aku kesini sengaja mau kasih kejutan makanya gak ngasih tau kamu dulu kalo mau dateng kesini. Tapi ternyata ketauan duluan jadinya gagal deh," saut Raina.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan yang berasal dari luar pintu, Fathan dan Raina pun mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Fathan menghela nafas sebalnya saat melihat wajah Genta terpampang nyata di daun pintu sambil menunjukkan cengiran tanpa dosanya. Fathan beranjak dari duduknya menatap Genta dengan tatapan sinis kemudian berjalan ke arah pintu yang sudah terbuka.
"Stop disitu! Gak usah disamperin gw okey... Gw cowo mandiri yang bisa masuk sendiri. Jadi gak perlu disambut, tapi kalo Raina yang mau nyambut gapapa sih Hehe." Genta membalas tatapan sinis Fathan dengan senyum lebarnya, ia berjalan melewati Fathan tanpa mempedulikan bagaimana kini raut wajah Fathan.
"Dasar tamu gak tau diri!" sindir Fathan dengan nada ketusnya.
Genta hanya terkekeh geli saat mendengar sindiran Fathan untuknya. Ia tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menyapa Raina kemudian Ia sengaja mengambil tempat duduk di samping Raina.
Raina yang melihat hal tersebut refleks menolehkan kepalanya pada Fathan dan benar saja kini raut wajah Fathan berubah menjadi lebih garang dari sebelumnya.
"Kak Genta ngapain duduk disini, gw males ya dengerin kalian ribut terus. Udah deh sana duduk di sofa yang lain, masih banyak tuh sofa kosongnya," ucap Raina sambil menunjuk beberapa sofa yang masih kosong.
"Ini kan juga kosong Raina. Jadi gapapa dong jodoh masa depan kamu duduk disini. Pasti kamu takut ya liat mukanya orang itu, tenang aja ada babang tampan disini yang selalu ada buat kamu dan bakal lindungin kamu tiap saat," ucap Genta tersenyum lebar.
Fathan yang mendengar ucapan Genta refleks mengepalkan tangannya dengan rasa kesal yang sudah memuncak di atas ubun-ubun nya ia berjalan dengan cepat ke arah tempat dimana Genta dan Raina duduk.
Genta menarik kerah baju bagian belakang Genta layaknya seperti sedang memegang anak kucing. Ia menatap Genta dengan tatapan geramnya.
"Minggir gak lo dari sini. Selain gak tau diri ternyata lo gak tau malu juga ya. Move on dong sana cari cewe lain kaya gak ada cewe lain aja segala terus-terusan godain pacar gw. Udah 6 bulan masih aja ganjen. Belom aja lo gw lempar dari jendela," oceh Fathan.
Genta memejamkan matanya sambil menutup kedua telinganya tak mau mendengar ocehan Fathan namun tetap saja apa yang Fathan katakan terdengar jelas oleh telinga Genta.
"Raina kamu gak pusing ya punya pacar yang tukang ngoceh kaya gini. Mendingan sama aku aja yuk pasti hidup kamu terjamin." Lagi-lagi perkataan Genta berhasil membuat emosi Fathan naik.
"Minggir gak lo! Atau mau gw lempar sekarang juga dari jendela!" ancam Fathan.
Genta terkekeh geli melihat wajah kesal Fathan yang memerah. Andaikan saja dulu saat masa sekolah ia menemukan cara seampuh ini untuk melawan Fathan pasti dulu ia tidak ada tandingannya saat masa sekolah. Sekarang sangat bahagia karena ia bisa tertawa puas melihat raut wajah Fathan yang berusaha menahan emosinya padahal dahulunya ia hanya bisa melihat wajah datar Fathan saja.
"Iya-iya. Santai dong bos, galak amat sih. Ampe kalah galaknya sama mak gw," saut Genta.
Fathan kembali memelototi Genta karena Genta tak juga berpindah tempat. Andaikan melempar orang dari ketinggian tidak dosa dan masuk penjara mungkin saat ini sudah ia lakukan.
Genta yang sengaja menggoda Fathan hanya terkekeh melihat Fathan yang memelototinya.
"Iya-iya nih pindah. Ngeri ngegelinding itu mata," ucap Genta melangkahkan kakinya perlahan.
"Sekalian keluar dari sini juga gapapa, dateng kesini cuma buat rusuh doang gak ada faedahnya. Sana pergi jauh-jauh lo dari sini," usir Fathan.
__ADS_1
"Dasar bos yang kejam, gw aduin lo ya ke mak sama bapak gw. Biar tau rasa lo," ucap Genta.
Fathan mendelik sebal, ia mendekati Genta kemudian mendorong Genta menuju pintu ruangannya. Ia sudah tidak tahan dengan kelakuan Genta yang terus menerus membuat Fathan menahan geramnya.
"Sana keluar lo, nanti aja balik lagi kesini. Dasar pengganggu," ketus Fathan.
"Kok gw diusir sih, gw kesini mau ngomongin bisnis nih ampun dah. Partner gak berperipertemanan lo ya. Kalo bisnisnya bangkrut jangan salahin gw lo ya, nanti kalo ditanyain gw gak mau belain lo," teriak Genta.
Teriakan Genta membuat perhatian beberapa pegawai yang berada di sekitar ruang kerja Fathan terfokus pada Genta, mereka menatap Genta penasaran karena jarang sekali hal seperti ini terjadi di kantor.
"Kenapa pak Genta?" tanya salah satu pegawai.
"Tuh manusia titisan tembok cina ngusir saya, nanti kalian jadi saksi ya kalau perusahaan ini amit-amit gitu ya tiba-tiba bangkrut semua gara-gara si tembok cina itu. Nanti kalian aduin ke bapaknya dia, okey!" Genta mengacungkan kedua jari jempolnya. Genta merupakan sosok yang sangat terkenal humoris di kantor, tak jarang pula banyak pegawai yang menyapanya dengan sedikit candaan. Berbeda dengan Fathan yang begitu cuek dan dingin terhadap pegawai hingga membuat pegawai sungkan untuk sekedar berbicara dengannya.
Pegawai yang mendengar ucapan Genta hanya tertawa, lagi pula mana berani mereka berkata seperti itu pada orangtua bos mereka, bisa-bisa mereka dipecat tanpa pesangon sepeserpun nantinya.
"Pak Genta aja lah sana, Bentar lagi saya gajian soalnya pak, nanti kalo gaji saya gak keluar gimana," saut salah satu pegawai dengan diselingi oleh tawanya.
****
Raina tertawa geli melihat Fathan yang kembali menghampiri dirinya sambil berkomat-kamit. Laki-laki yang berstatus sebagai kekasihnya tersebut nampak lebih terlihat imut ketika sedang kesal.
Fathan menatap Raina sebal karena kekasihnya tersebut tidak berhenti menertawakan dirinya. Kemudian ia mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Seneng kamu ya," ketus Fathan.
Raina menganggukkan kepalanya dengan semangat, ia menggeser posisi tubuhnya kemudian mencubit pipi Fathan dengan gemas.
"Kenapa ya kamu kalo marah kaya tadi makin lucu. Jadi gemes deh aku liatnya hehe. Tapi aku gak suka liat kalian berdua ribut terus kalo ketemu tau," ucap Raina.
"Iya, tapi kan gak perlu kaya tadi. Mau gimana pun kalian kan partner bisnis. Lagian kak Genta cuma seneng becandain kamu doang tau. Liat tuh buktinya sekarang dia keluar dari ruangan kamu," ucap Raina.
"Udah ah jangan ngomongin dia lagi. Sebel aku kalo udah bahas dia. Dia tuh rusuh dari dulu sayang," ucap Fathan dengan gusar.
***
Setelah mengurus Fano dan Cila dan mengantar mereka sampai depan Lala bersiap-siap menyiapkan beberapa peralatan mandi untuk Vico. Kemudian setelah menyiapkan segala keperluan Vico, Lala tidak tega membangunkan Vico yang sedang terlelap tidur.
"Aneh banget biasanya bayi jam segini udah teriak-teriak gak betah di kamar, ini mah anteng banget tidur malahan belom mandi lagi. Jadi gak tega banguninnya," gumam Lala sambil mengusap-usap pipi Vico dengan lembut.
Beberapa menit Lala mengusap-usap pipi Vico akhirnya membuat Vico terusik dan menggeliat berkali-kali hingga akhirnya Vico membuka matanya.
Lala tersenyum saat melihat Vico sudah terbangun dan menggeliat berkali-kali.
"Anak Mama yang kece banget ini udah bangun ternyata. Betah banget tidurnya kamu ya, sekarang kita bersih-bersih yuk. Mandi biar wangi, nanti pas Papa pulang jadinya udah keren," ucap Lala sambil menggendong tubuh Vico memindahkan Vico ke kasurnya.
"Vico ngomong dong, masa dari tadi Mama ngobrol sendirian. Kamu gak kasian apa sama mama dari tadi ngomong sendiri gak ada yang nyautin," ucap Lala.
Reyhan yang ingin ke dapur melewati kamar Reno dan Lala mendengar ucapan Lala hanya mengerutkan dahinya. Ia tidak habis fikir dengan Lala yang bisa-bisanya berbicara seperti itu pada seorang bayi. Reyhan mengetuk pintu kamar kemudian masuk ke dalam kamar setelah Lala menyahuti dan menyuruhnya masuk.
"Lo masih waras kan La?" tanya Reyhan.
Mendengar pertanyaan dari Reyhan membuat Lala kesal. Dengan sebal ia melempari Reyhan dengan pampers bekas Vico yang baru saja ia lepaskan.
"Rasain tuh popok bekas Vico. Kalo ngomong suka ngadi-ngadi lo yak. Gw selepet tau rasa," omel Lala kemudian membawa Vico menuju kamar mandi.
"Kakak ipar kampret emang lo ya. Bisa-bisanya lo lemparin gw pake pampers bayi," omel Reyhan.
__ADS_1
Reyhan berjalan menuju tong sampah yang berada di sudut kamar kemudian berjalan menyusul Lala ke kamar mandi.
"Bang Reno kemana La? Kok lo sendirian mandiin Vico. Biasanya kalian berdua setiap pagi selalu heboh mandiin bayi doang," tanya Reyhan penasaran.
"Kak Reno barusan pergi nganterin Fano sama Cila sekolah. Lo parah banget ya bukannya nganterin para bocil-bocil malahan kelayapan kasian kan suami gw baru nikah udah momong 3 anak sekaligus," ucap Lala yang masih fokus pada kegiatannya memandikan Vico.
"Lagian gak ada yang bilang ke gw buat nganterin mereka. Jadi jangan salahin gw dong. Biarin lah itung-itung belajar jadi bapak yang baik Haha," saut Reyhan.
****
Zara dan Farhan kini berada di salah satu tempat nongkrong yang biasanya Zara kunjungi. Zara sengaja mengajak Farhan tempat tersebut karena ia tahu harga di tempat tersebut tidak mahal dan cukup untuk membayar makanan yang Farhan makan.
Farhan mengedarkan pandangannya ke sekitar cafe tersebut. Kemudian ia melihat beberapa menu yang ada di meja. Ia tersenyum saat melihat menu yang ada.
"Saya mau ini, ini, ini, ini dan yang ini," ucap Farhan sambil menunjuk beberapa makanan yang harganya lumayan mahal untuk isi dompet Zara.
Zara membelalakan matanya saat melihat apa saja yang dipesan oleh Farhan. Ia menyesal sudah mengajak Farhan.
"Lo manusia apa kingkong sih, itu makanan segitu banyak mau lo makan sendirian?" ucap Zara dengan tatapan terkejutnya.
Farhan menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan senyumannya pada Zara.
Kalo gw turutin apa yang dia mau yang ada gw gak makan dong. Duit gw kayanya cuma cukup buat bayar makanan yang dia pesan deh. Ah udahlah biar cepet kelar mendingan gw turutin aja deh. Gw bisa nahan kok, nanti gw dateng aja ke rumah Raina minta makan hehe.
"Yaudah sana pesan, udah malakin gw masa gw juga yang pesan kesana sih," ucap Zara dengan lemas.
"Enak aja nyuruh-nyuruh gak sopan banget kamu nyuruh-nyuruh saya. Sana buruan pesanin," ucap Farhan.
Zara mendengus sebal, ia beranjak dari kursinya dan menggeser kursinya dengan tidak santai, ia menatap Farhan dengan tatapan sebalnya.
"Ish ada ya orang ngeselin kaya gini, udah malak terus nyuruh lagi," gerutu Zara.
"Kalo ngelakuin sesuatu itu harus ikhlas jangan ngedumel terus-terusan," sindir Farhan.
"Kalo saya bilang gak ikhlas pun bapak tetap nyusahin saya. Udah deh gak usah sok-sokan nyindir-nyindir kaya gitu," ketus Zara.
Zara berjalan meninggalkan Farhan dengan wajah kesalnya.
Hih dasar dosen ngeselin, nyebelin, nyusahin. Udah nguras abis duit gw sekarang malah nyuruh seenak jidatnya. Ya ampun kenapa nasib gw gini banget ya hari ini, pagi-pagi ngeliat tante ganjen sama brondongnya terus tiba-tiba dosen ngeselin nongol habis ini ada apa lagi ya. Mohon bersabar ya kepala, gw takut kepala gw meledak abis ini karena emosi seharian.
Farhan dari kejauhan terkekeh geli sambil menatap Zara. Rasanya ia puas sekali mengerjai Zara hingga membuat Zara kesal padanya. Namun anehnya mengapa Zara mau saja mengikuti apa yang dirinya minta padahal bisa saja Zara menolak.
"Dasar perempuan aneh. Kesal tapi tetap dilakuin," gumam Farhan.
Setelah 5 menit Zara meninggalkan Farhan akhirnya Zara kembali dengan wajah muramnya, ia berjalan gontai menuju meja yang di tempati oleh Farhan.
Zara mendudukkan dirinya dengan malas di atas kursi, ia menatap Farhan dengan tatapan jengkelnya. Kemudian ia merogoh tasnya mencari ponsel untuk menghubungi Raina atau Lala untuk meminta asupan makanan pada mereka.
"Mukanya jangan kaya gitu. Kamu udah jelek tambah jelek kalo kaya gitu. Lagian saya kan cuma minta makanan itu doang kenapa kamu pelit banget sih. Nanti saya ganti deh kalo saya pengen buang-buang uang pasti saya cari kamu duluan," ucap Farhan.
****
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan saran ya gais. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar supaya karya ku bisa lebih baik lagi nantinya hehe.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1