SENIOR

SENIOR
Perbedaan pendapat


__ADS_3

Raka tersadar dari lamunannya, ia teringat dengan niat awalnya yaitu memberitahu Fathan dan Raina perihal kejadian kebakaran di villa.


"Sha, mereka kan udah pergi tuh, mendingan kita pergi juga yok. Kita susul yang lainnya ke rumah sakit, lo tanya ke Raina coba lokasinya dimana," ucap Raka.


Shasha mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, tanpa berbicara ia mengirimkan pesan pada Raina untuk menanyakan lokasi.


Suasana menjadi hening, tiba-tiba saja Rama keluar dari balik pohon sambil jalan mengendap-endap supaya tidak ketahuan oleh Shasha dan Raka. Saat sudah sampai di belakang keduanya, Rama berhitung di dalam hati.


"Dorrrrr!" teriak Rama.


"Aaaa!" teriak Shasha dan Raka bersamaan.


Saking kagetnya mereka, refleks Shasha dan Raka memukul orang yang berada di belakangnya.


"Ampun ... Ampun ... Woi sakit. Galak amat si lo berdua!" teriak Rama sambil menutupi kepalanya.


Keduanya menghentikan aksi memukul mereka saat mendengar suara yang tidak asing bagi telinga mereka.


"Ah lo Ram, gw kira maling atau rampok atau Maira yang balik lagi," ucap Raka dengan santai.


"Tau nih Rama bikin kaget aja. Sengaja banget mau buat orang panik. Rasain tuh bogeman dari kita," ucap Shasha.


"Teman gak ada akhlak kalian ya. Masa kalian gak bisa merasakan naluri pertemanan di antara kita sih. Lo kata kepala gw gendang apa ya main pukul-pukul aja," omel Rama.


"Salah sendiri munculnya bikin kaget. Lo ngapain kesini dah," ucap Raka.


"Gw kesini awalnya mau buntutin kalian berdua, soalnya gw kira kalian mau berduaan, kata orang-orang pamali kan berduaan nanti di tengah-tengahnya setan. Eh ternyata pas sampe sini gw liat setan betina," jelas Rama sambil mengusap-usap kepalanya.


"Lo dari tadi disini? Kenapa gak nongol sih saipul," geram Raka.


Rama menyengir kuda kemudian tersenyum pada Raka sambil mengingat bagaimana tersiksanya ia bersembunyi di balik pohon.


"Gw takut kena sasaran lagi, makanya gw ngumpet di balik pohon itu. Eh ternyata ngumpet di balik pohon sama aja tersiksanya, gw ditempelin nyamuk mulu disono Rak," keluh Rama.


Raka menepuk dahinya menatap Rama jengkel, mimpi apa dirinya ditakdir punya teman yang menyebalkan seperti Rama.


"Bodo amat ah suka-suka lo. Ayo Sha kita ke rumah sakit masih banyak urusan yang harus kita selesain," ajak Raka.


Melihat Raka dan Shasha yang pergi meninggalkan dirinya, Rama pun berlarian menyusul mereka.


"Tungguin dong. Gw ikut woy, gw tau lo mau ngadu ke Raina sama Farhan kan soal duo setan betina itu," teriak Rama.


***


Kini semua berada di rumah sakit kecuali Shasha, Raka dan Rama. Fano dan Cila yang sudah sadar dari pingsannya meminta untuk satu ruangan dengan Zara dan Farhan dengan alasan bosan. Hingga akhirnya kini semua berada di dalam satu ruangan.


Zara dan Farhan yang sudah sadar membuat seluruh orang yang berada di ruangan tersebut menghela nafas leganya.


"Kak Zala, Pano makin ngepens sama kak Zala. Kak Zala cepat sembuh ya bial nanti kita bisa main pelang-pelangan," ucap Fano sambil tersenyum menatap Zara.


"Ah lebay Fano, luka ginian doang mah sehari aja sembuh. Besok kita bisa main perang-perangan tenang aja," ucap Zara.


"Istirahat aja dulu Zar, jangan nurutin Fano dulu. Disini yang paling penting semuanya sehat dulu. Oh iya Rama, Raka sama Shasha katanya mau kesini dan ada hal penting yang mau dia kasih tau ke kita semua soal kebakaran di villa," ucap Raina.


"Yaudah kita tungguin aja disini," saut Wina.


Brak!


Suara pintu yang terbuka begitu kencang berhasil membuat orang di dalam ruangan terkejut dan menatap penasaran ke arah pintu.

__ADS_1


"Rainaaaa!" teriak Rama.


"Ya ampun ternyata trio macan yang buat kerusuhan bikin kaget aja lo bertiga ya, gak kasian apa sama orang tua, gw selepet atu-atu mental kalian semua ya ke arab." ucap Gio sambil mengelus dadanya.


Rama hanya menunjukkan cengiran dan tampang polosnya sedangkan Shasha dan Raka menatap Rama kesal karena ulah Rama yang membanting pintu begitu kencang membuat mereka berdua ditegur oleh perawat yang melintas di depan ruang rawat.


"Si Rama doang om suer dah. Gara-gara ulah dia barusan kita dipelototin sama suster di depan," adu Raka.


"Tau nih Rama rusuh banget sih lo kaya gak pernah buka pintu aja," omel Shasha.


"Ampun bang, teralu bersemangat soalnya," ucap Rama.


"Katanya Raina kalian mau ngasih tau info penting soal kebakaran. Emangnya kalian punya info apa?" tanya Fathan.


"Bentar-bentar, kalian pilih ya mau Raka, Shasha atau Rama yang cerita," ucap Rama yang tiba-tiba saja memotong pembicaraan.


Zara yang sangat penasaran dibuat mendengus sebal saat mendengar ucapan Rama.


"Kak Rama, gw lempar bantal lo ya," ancam Zara.


"Lempar aja, gw gak takut wle," ledek Rama.


"Udah-udah libut telus nanti dijewel mama Wina tau lasa," ucap Fano mengikuti gaya berbicara Reyhan.


"Heh kok lo ngikutin gaya gw sih bocil," protes Reyhan.


"Suka-suka Pano dong," saut Fano dengan santai.


"Yaudah sekarang gini aja deh. Raka coba kamu mulai cerita ke kita semua," ucap Wina.


"Jadi gini, kebakaran yang terjadi di villa itu gak murni kecelakaan tapi disengaja sama orang. Nah kita berdua curiga sama Maira dan Fahira soalnya tadi kita liat mereka di dekat villa lagi nontonin villa yang kebakar. Kita juga sempat samperin mereka kok, tapi mereka gak mau ngaku," ucap Raka.


"Yaiyalah gak mungkin ngaku, kalo ngaku mereka masuk penjara dong Raka," ucap Rama.


Aisyah terdiam sejenak, sulit sekali untuknya satu pendapat dengan Raka dan Shasha karena mereka menyebutkan satu namanya yang sangat ia ketahui perempuan itu sangat baik.


"Kenapa kalian bisa nuduh kak Fahira sama Maira. Aku tau banget kak Fahira gak mungkin ngelakuin itu semua apalagi di dalam sana ada orang-orang yang dekat sama dia. Kalo Maira aku percaya tapi kalo kak Fahira kayanya susah deh buat aku percaya," ucap Aisyah.


"Gw sih percaya aja karena gw tau gimana licik dan jahatnya dua perempuan gila itu. Kalo emang bener dia berdua yang ngelakuin, gw gak akan biarin mereka seneng di luar sana," ucap Zara.


"Kalian berdua yakin, kita gak boleh asal nuduh orang loh. Takutnya nanti ngerugiin orang lain," ucap Linda.


"Iya mamanya Lala. Sebenernya yang buat kita yakin kalo mereka pelakunya karena semalem Maira dateng dan dia juga sempat bilang sama kita kalo dia bakal lakuin hal yang gak kita duga. Nah kalo Fahira pas malem itu, dia ada pas Maira nyamperin kita cuma si Fahira gak ikut nyamperin kita. Dia cuma merhatiin aja dari jauh. Dari situ Shasha curiga kalo mereka kerja sama buat bikin kita susah kaya tadi." Setelah selesai berbicara Shasha mengedarkan pandangannya melirik satu per satu orang-orang yang ada di dalam ruangan, melihat bagaimana reaksi mereka setelah mendengar penjelasannya.


Lala teringat dengan dua bayangan perempuan yang ia lihat di dekat jendela semalam. Kalau di lihat dari postur tubuhnya memang mirip seperti mereka.


"Kak Reno inget gak semalem Lala bilang ke kak Reno di dekat jendela ada bayangan," bisik Lala.


Lala sengaja tidak langsung memberitahu apa yang ia lihat karena ia tidak mau membuat orang-orang semakin kebingungan.


"Iya. Terus kenapa?" tanya Reno.


"Ih kak Reno kan lebih pintar dari Lala masa beginian doang gak ngerti. Males ah sama kak Reno, sana jauh-jauh dari Lala jangan deket-deket," omel Lala sambil mendorong tubuh Reno.


Reno memejamkan matanya berusaha menyemangati dirinya sendiri untuk lebih banyak bersabar.


"Maksud aku bukan gitu Lala. Aku tau soal kamu yang katanya liat bayangan di deket jendela, tapi yang buat aku gak ngerti kenapa kamu nanya itu sama aku," ucap Reno.


"Tetap aja ngeselin, harusnya kan kak Reno itu jadi suami harus siap siaga dan peka apa yang dibilangin sama istrinya tanpa nunggu dijelasin dulu," saut Lala yang tidak mau terima apapun alasan yang diucapkan oleh Reno padanya.

__ADS_1


Perdebatan keduanya berhasil membuat yang lainnya terusik, kini Lala dan Reno menjadi tontonan semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Ini lagi penganten baru malah debat di waktu yang gak pas. Debatin apa sih kalian keliatannya serius banget. Uang bulanan atau rencana bulan madu," ucap Gio menggelengkan kepalanya.


"Tau nih gak ngerti banget orang lagi ngomong serius juga huuu," ucap Rama.


"Ih apaan sih. Ini lagi ngomongin yang penting juga tau, suudzon aja semuanya sama kita," protes Lala.


"Itu si Lala bisikin soal semalam yang dia ...." Belum selesai Reno berbicara, semua sudah heboh bersorak-sorak menggoda keduanya hingga membuat Reno dan Lala salah tingkah.


"Tolong ya pamerlah pada tempatnya. Aku jomblo bisa apa Mas," ucap Rama.


"Wihhh go publik nih ceritanya Haha. Nanti aja ceritanya kalo gw udah sah sama Raina yang Bang, jangan buru-buru gitu," ucap Fathan tertawa terbahak-bahak.


"Ada anak kecil woy, liat muka mereka kebingungan tapi penasaran tuh," ucap Raka terkikik.


"Bentar lagi dapet ponakan pertama nih kayanya kita gais Haha," ucap Farhan.


Wajah Lala terlihat cemberut saat mendengar perkataan teman-temannya yang terus menggoda dirinya dan Reno.


Ngeselin banget sih orang-orang ini. Pikirannya travelling kemana-mana terus, padahal kak Reno belum selesai ngomong. Lagian boro-boro lakuin yang ada difikiran mereka, kita tidur sebentar aja udah dikagetin sama si jago merah.


"Kebiasaan orang belum kelar ngomong udah di potong, kak Reno tuh mau bilang kalo Lala semalem liat bayangan di deket jendela. Coba aja tangan Lala ada banyak, udah Lala jitak-jitakkin kalian semua satu-satu kecuali orangtua, bisa dilaknat nanti Lala jitak orangtua," ucap Lala mendengus sebal.


"Oh gitu toh, emangnya bayangan apaan?" tanya Raka.


"Jadi semalem pas kita semua lagi kumpul-kumpul mata Lala meleng kemana-mana terus gak sengaja liat bayangan dua orang di deket jendela. Lala kira itu hantu yang lagi kepo dan pengen nimbrung sama kita terus Lala kasih tau ke kak Reno, tapi pas kak Reno liat bayangannya udah gak ada." Jelas Lala bergedik ngeri mengingat apa yang ia lihat semalam karena ia masih mengira bayangan tersebut adalah hantu yang iseng lewat di dekat jendela.


"Nah makanya semalam kita pamit ke kamar duluan, soalnya si Lala ketakutan dan parnoan banget sehabis liat bayangan itu. Jangan travelling kemana-mana dong otaknya Haha. Lagian mana sempat keburu kebakaran," ucap Reno terkekeh diakhir ucapannya.


Mendengar penjelasan dari Lala dan Reno. Zara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang mereka jelaskan. Ia berusaha menghubungkan apa yang diceritakan oleh Shasha dengan cerita Lala dan Reno. Ia tersenyum senang saat mendapatkan titik terang dari apa yang ia fikirkan.


"Udah fix pelakunya dua perempuan gila itu, andai aja gw gak sakit, udah gw samperin tuh dua perempuan," geram Zara.


"Zara jangan nuduh sembarangan dulu," bela Aisyah.


Zara mendelik kesal pada Aisyah. Sedari tadi ia berusaha menahan rasa kesalnya pada Aisyah, namun kali ini ia tidak bisa menahan rasa kesalnya karena Aisyah lagi-lagi membela Fahira padahal semua sudah jelas dugaan tertuju pada Fahira dan Maira.


"Apalagi Aisyah, dari cerita mereka aja udah bisa kita ambil kesimpulan kalau mereka pelakunya. Lo bela mereka karena ada Fahira? Objektif Ais, orang salah ya tetap aja salah. Jangan karena dia baik sama keluarga lo terus-terusan lo bela dan lo sama ratakan. Lo gak tau semalam yang Fahira lakuin ke Raina," ucap Zara.


"Kalo emang benar kak Fahira salah aku gak masalah sama sekali, tapi kan ini belum ada bukti kuatnya kalian cuma dengar berdasarkan cerita dan kalian ambil kesimpulan dari semua cerita," ucap Aisyah.


"Iya sih gw setuju sama Aisyah, ini bukannya gw ngebela Fahira, tapi ini persoalan bukti yang belum pasti," ucap Fathan.


"Yaudah terserah lo kak, gw cuma mau ingetin aja apa yang dia lakuin kemarin. Terserah kalo lo dan keluarga lo ga percaya yang jelas gw bakal terus awasin dua orang itu," ucap Zara dengan perasaan kesalnya.


Farhan yang asik dengan rebahannya tiba-tiba saja sedikit terusik dengan ucapan Zara, ia melempar Zara dengan tissu.


"Enak aja kamu bawa-bawa keluarga, emangnya kamu tau saya sependapat apa engga sama Fathan dan Aisyah," protes Farhan.


Raina merasa situasi mulai tidak enak karena perbedaan pendapat. Terlihat dari pancaran mata Zara yang tampak sangat kesal. Ia tidak akan membiarkan mereka meributkan hal yang membuat mereka menjadi saling sindir satu sama lain.


"Udahlah gak usah ribut, malu sama anak kecil yang anteng-anteng banget. Sekarang kita cari tau aja bareng-bareng bener apa engga mereka pelakunya," ucap Raina.


"Buat Aisyah sama kak Fathan, kita tau kalian sangat dekat sama Fahira mungkin kalian lebih paham bagaimana sikap Fahira. Tapi inget lagi kak berapa lama kalian gak pernah ketemu. Bisa jadi disaat kalian gak ketemu sama dia, disana sikap dan sifat dia berubah tanpa kalian sadar. Gw juga kenal Maira dulu aslinya kaya apa bahkan Maira yang gw kenal dulu gak sama kaya Maira yang sekarang, tapi gw gak mau bela dia karena gw tau dia salah," ucap Shasha dengan hati-hati supaya tidak ada yang tersinggung dengan ucapannya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan saran. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat jadi bahan evaluasi aku ke depannya hehe.


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2