
Raina menghembuskan nafas leganya saat pintu kamar mandi terbuka menampakkan wajah Farhan disana yang terlihat kebingungan. Tanpa menunggu Farhan menyingkir dari depan pintu, Raina terlebih dahulu menggeser tubuh Farhan menjauh dari pintu kamar mandi kemudian ia menutupnya.
"Tuh anak kenapa sih aneh banget," gumam Farhan menggelengkan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya berniat kembali ke ruang tengah berkumpul dengan yang lainnya.
***
"Sha, gw mau ke kamar mandi nih. Lo gapapa kan gw tinggal sendirian," ucap Zara.
"Yailah Zara kaku banget berasa kamar mandinya di puncak monas aja sampe nanya begitu Haha. Lagian kamar mandinya kan gak jauh dari kamar gw," ucap Shasha.
Zara menunjukkan cengirannya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Gw kira lo takut sendirian Sha, secara kan lo habis make up gw seserem ini pasti kebayang-bayang," ucap Zara.
""Engga kok. Udah sana pergi, katanya mau ke kamar mandi tapi ngobrol terus," ucap Shasha mendorong pelan tubuh Zara.
***
Melihat pintu kamar mandi yang tertutup membuat Zara mengurungkan niatnya dan beralih ke dapur yang jaraknya tidak jauh dari kamar mandi.
"Di kulkas ada apa ya, semoga aja ada es batu kan lumayan tuh buat iseng-iseng gw grogotin es batu aja," ucap Zara.
Zara berjalan menuju kulkas, ia membuka kulkas dan benar saja apa yang ia cari ada di kulkas dengan semangat ia mengambil kotak yang biasa digunakan untuk membuat es batu di rumah.
Raina yaang baru saja keluar dari kamar mandi tidak sengaja melihat seseorang berbaju putih panjang yang sedang membuka kulkas. Raina berjalan pelan sambil menatap ke arah kulkas dengan tatapan penasaran.
"Aaaaaa ... Hantuuuu!" teriak Raina.
Zara tersenyum kemudian menutup kulkas sambil membawa kotak berisi es batu.
Refleks Raina mengambil serbet yang menggantung di dekatnya kemudian ia lempar ke arah Zara. Kemudian ia memutar tubuhnya berlarian menuju ruang tengah.
"Mana hantu nyaa! Ih kok gw di lemparin serbet sih. Raina lo mau kemana!" teriak Zara.
Zara meletakkan kotak es batu di atas meja lalu memunguti serbet yang berserakkan akibat ulah Raina. Setelah selesai memunguti serbet, Zara berlarian menyusul Raina untuk menjelaskan pada Raina kalau yang ia lihat bukan hantu.
"Si Raina bener-bener ya. Emangnya muka gw serem banget apa ya sampe buat dia kaget. Biasanya kan si Raina paling berani sama hantu-hantuan," gumam Zara.
***
Melihat Raina yang berlarian dengan nafas yang tidak beraturan dan keringat yang bercucuran membuat semua orang yang ada di ruang tengah ikut panik.
Fathan beranjak dari duduknya dengan cepat ia menghampiri Raina kemudian memeluknya. Ia melihat raut wajah Raina sangat pucat dan gemetaran seperti habis melihat hantu saja.
"Kamu kenapa sayang, tenang dulu ada kita semua disini ada aku juga. Tarik nafas terus buang pelan-pelan," ucap Fathan.
"Kak Fathan yang bener aja lo nyuruh Raina tarik nafas terus buang kaya gitu, emangnya Raina kebelet pup atau mau lahiran, jangan ngadi-ngadi deh," ucap Lala.
"Lala diem dulu stop bercandanya. Waktunya gak tepat kasian tuh Raina mukanya sampe pucat begitu," tegur Reno.
"Iya-iya maaf. Kak gantian dong gendong Vico, Lala pegel banget nanti kalo tulang Lala keropos gimana," keluh Lala sambil menyerahkan Vico pada Reno.
Raina berusaha menenangkan dirinya dan mengatur nafas setelah terasa mulai sedikit enakan ia berniat membuka suaranya namun belum sempat ia membuka suaranya teriakkan beberapa orang yang berada disana terlebih dahulu menyalip niatnya.
"I... It ... Ituu bu kunti beneran." Tangan Lala menunjuk ke arah Zara dengan gemetar, tubuhnya sulit sekali untuk digerakkan. Ia terus membaca doa-doa di dalam hatinya berharap hantu yang ia lihat segera pergi.
"Hantuuuu ... Ayo kita kabur Cilaa sebelum kita di makan sama hantu," teriak Fano berlarian mengelilingi sofa.
"Yaampun itu hantu beneran ngikutin gw sampe kesini," gumam Raina.
"Kayanya bukan hantu deh, ini mah manusia liat tuh kakinya aja lengket di lantai," ucap Rama.
Rama berjalan mendekati Zara kemudian dengan sengaja ia menjitak kepala Zara yang membuat Zara meringis dan memelototkan matanya pada Rama.
"Siapa yang nyuruh lo jitak gw! Bener-bener lo ya," omel Zara kemudian membalas perbuatan Rama dengan menjitak kembali kepala Rama.
__ADS_1
Shasha tertawa dari kejauhan saat melihat beberapa orang yang sama sekali tidak menyadari sosok hantu yang mereka lihat adalah Zara. Ia sengaja tidak datang kesana dan memberitahu pada mereka karena ia masih tertarik untuk melihat yang lainnya lari-larian ketakutan.
"Hantu bukan sih. Coba ah Pano dolong kalo hantu pasti dia telbang gak bakalan jatoh," ucap Fano mendorong tubuh Zara hingga membuat Zara terjatuh meniban orang yang berada di dekatnya.
"Fanoooo! Jahat banget sih dorong-dorong orang seenaknya. Untung jatohnya gak langsung ke lantai, bisa benjol nih kepala, luka di tangan belom kering ditambah lagi benjol kan gak enak banget liatnya," oceh Zara.
Disaat Zara asik dengan ocehannya, ia tidak menyadari orang yang berada di bawahnya yang sedang berusaha memberikan kode pada Zara untuk segera minggir dari punggungnya.
Orang yang berada di bawah sana adalah Farhan yang secara kebetulan berada di dekat Zara dan akhirnya ia terpaksa menerima punggungnya ditiban oleh Zara.
"Punggung saya lebih gak enak lagi malahan. Kalo punggung saya punya mulut mungkin dia udah teriak-teriak," ucap Farhan dengan nada kesalnya.
Mendengar ucapan Farhan membuat Zara cepat-cepat berdiri. Ia menatap Farhan kesal.
"Lagian siapa juga yang mau niban lo. Gw tuh terpaksa niban punggung lo gara-gara di dorong Fano. Daripada jidat gw benjol gara-gara kejedot lantai mendingan gw nemplok aja di punggung lo," protes Zara.
"Yaudah. Budayakan setelah menyusahkan orang untuk bilang terima kasih ya. Mahasiswi bar-barku," ucap Farhan dengan tersenyum paksanya.
"Iya-iya. Makasih pak dosen reseku," ucap Zara dengan malas.
"Ini beneran Zara? Ya ampun pangling banget gw suer dah. Lo kaya hantu beneran Zar. Fix lo udah cocok jadi hantu," heboh Rama sambil memutar-mutar tubuh Zara.
"Iya benar itu Zara, kalian kenapa panik banget sih kaya liat hantu beneran aja Haha. Tenang aja tenang gw tau kalo ini Zara soalnya gw yang make up dia langsung," ucap Shasha tertawa terbahak-bahak.
***
Kini Zara, Fano dan Rama sedang diam-diam masuk ke dalam villa tempat Fahira dan Maira menginap. Mereka sudah siap dengan tugas masing-masing.
"Jalannya hati-hati jangan sampe ketauan, kita ke Fahira dulu. Mumpung dia sendirian tuh," bisik Rama.
Rama memberikan kode pada teman lainnya yang berada di samping villa untuk membuat jendela terbuka dan tertutup terus menerus dengan sendirinya supaya kesan horor menjadi lebih terasa.
"Zar lo ke deket jendela sana, lo pasang muka seserem mungkin biar si Fahira ngejerit ketakutan terus nanti Fano lari-larian aja di deket dia sambil ketawa-ketawa ya," ucap Rama memberikan intruksi.
"Keseringan nonton horor indonesia sih lo Kak, makanya pinter banget soal ginian, ternyata hobi lo ada juga yang ada gunanya," ucap Zara.
Zara berjalan meninggalkan Rama dan Fano sambil menarik gaun putihnya dengan cepat ia berlarian menuju jendela.
"Fano lari kesana sambil ketawa-ketawa ala tuyul ya," perintah Rama sambil menunjuk tempat dimana Fahira sedang duduk.
Fahira kebetulan sekali sedang menonton film horor. Ia dibuat kaget berkali-kali saat pintu terbuka dan tertutup dengan kencang.
"Si Maira gimana sih udah tengah malem jendela gak dikunci. Berisik banget lagi jendelanya bikin parnoan aja," gerutu Fahira.
Fahira yang sudah tidak tahan dengan suara berisiknya jendela pun memutuskan untuk menutup jendela.
Fano mulai berlarian sambil tertawa cekikikan di belakang Fahira hingga membuat Fahira melirik ke belakang berkali-kali.
"Hi hi hi hi cie gak liat Pano. Pano talik ah bajunya bial dia kaget," ucap Fano berjalan mendekati Fahira kemudian menarik ujung baju Fahira.
Merasakan bajunya ada yang menarik sontak membuat Fahira dengan cepat menolehkan kepalanya.
"Mairaaaa, udah deh gak usah iseng. Segala narik-narik baju gw norak tau. Gw gak takut!" teriak Fahira dengan kesal.
"Sok tau banget si kakak itu. Olang Pano yang nalik kenapa jadi nuduh olang lain," gerutu Fano.
Fahira meraih jendela kemudian menariknya berniat menutup kembali jendela yang terbuka namun lagi-lagi ia dibuat terkejut, namun kali ini ia lebih terkejut karena ia melihat langsung sosok seram di depan jendela.
"Aaaaa! Pergiiiii ... Jangan gangguin gw, gw gak ganggu lo!" teriak Fahira mendorong jendela ke arah Zara hingga membuat wajah Zara terjeduk oleh jendela.
Fahira menutup jendela dengan gorden. Ia berlarian sekencang-kencangnya menuju kamar Maira. Namun ia dibuat kaget dengan kemunculan Fano yang tiba-tiba saja menampakkan dirinya tepat di hadapannya.
"Haaaaa! Ini villa kenapa banyak hantunya sih. Pergi! Sana pergi jangan gangguin gw," teriak Fahira.
Fano menggelengkan kepalanya sambil cekikikan, ia sengaja menjulingkan matanya kemudian memeletkan lidahnya meledek Fahira.
__ADS_1
"Enak aja nyuluh-nyuluh. Aku ini hantu yang telkenal banget di indonesia tau," ucap Fano.
"Sana pergi. Kamu mau apa? Mau uang pasti kan, biasanya kan tuyul doyan uang. Nih saya kasih tapi kamu harus pergi dan jangan gangguin saya, kalo mau gangguin sana gangguin aja villanya Raina," ucap Fahira dengan gemetaran menyodorkan lembaran uang berwarna merah.
Melihat uang yang disodorkan oleh Fahira membuat Fano tersenyum senang dengan cepat ia mengambil uang tersebut kemudian menyelipkan uang di pinggangnya.
"Segini doang gak cukup, buat beli lobot-lobotan kulang. Bagi lagi dong," pinta Fano menadahkan tangannya di depan Fahira yang sedang berjongkok ketakutan.
"Anak kecil gak boleh jajan banyak-banyak, matre banget jadi tuyul. Sana pergi! Jangan ganggu gw!" teriak Fahira melempari Fano dengan kotak tissu namun lemparannya tidak mengenai Fano.
"Dasal pelit. Emangnya enak gak kenal. Nih lasain lempalan tuyul kelen," ledek Fano melempar kotal tissu dan tepat sekali mengenai kepala Fahira.
Fano berlarian keluar dari villa setelah melempari Fahira dengan kotak tissu yang sebelumnya Fahira gunakan untuk melempari dirinya.
"Aduhhh! Dasar tuyul tuyul sialan!" teriak Fahira.
Rama dan yang lainnya melihat tingkah Fano yang diluar arahan Rama menjadi cemas. Mereka takut Fano terkena lemparan-lemparan barang dari Fahira.
Mereka menghela nafas leganya saat melihat Fano yang kembali pada mereka dengan tawa yang menghiasi wajahnya.
"Keren Fano. Dapet duit berapa? Bagi dua ya sama produser," ucap Rama menoel hidung Fano.
"Fanoooo. Lain kali jangan kaya gitu lagi bahaya tau. Untung aja tadi yang dilempar sama dia kotak tissu coba piring. Bisa jadi nasi kuning kamu Fano terus dimakan deh sama dia. Mau jadi nasi kuning?" ucap Raina mengusap rambut Fano.
"Tenang aja Pano kan tuyul kece, gak mungkin bisa dijadiin nasi kuning soalnya kan Pano walnanya gak kuning," ucap Fano.
"Fano dengerin kak Raina dulu. Jangan deket-deket banget sama mereka kalo mereka mau lempar Fano ya," ucap Raina yang sangat mengkhawatirkan Fano.
"Iya kak Laina. Celewet banget nih kaya kak Lala," ucap Fano.
***
Fahira mengedarkan pandangannya memastikan bahwa hantu-hantu yang ia lihat sudah tidak ada lagi disekitarnya. Setelah yakin mereka tidak ada disana dengan cepat Fahira beranjak dari duduknya.
"Aaaa!" teriak Fahira.
"Apaan sih lo segala teriak-teriakkan kaya tarzan aja. Ini gw Maira gak usah panik gitu lah berasa abis liat hantu aja lo. Makanya gak usah sok-sokan malem-malem nonton film horor. Sukurin jadi parnoan kan lo sekarang Haha," ejek Maira tertawa saat melihat wajah pucat dan tangan Fahira yang gemetaran.
Fahira mendelikkan matanya kesal, ia terus menyumpah serapah Maira di dalam hatinya dan ia berharap Maira akan mengalami hal yang sama dengannya.
"Gw emang abis liat hantu tadi. Udah tuyulnya matre banget udah gw kasih lima ratus ribu masih aja minta lagi. Gw juga liat kunti Ra di deket jendela. Ih sumpah gw gak mau kesana lagi, gw tidur bareng lo aja ya," ucap Fahira terlihat jelas wajah ketakutan yang terpancar dari wajahnya.
"Lo halu kali. Buktinya sekarang gw gak liat apa-apa. Coba ya gw cek ke jendela sekalian gw mau nutup jendelanya. Hobi nonton horor tapi jiwa penakut Haha," ucap Maira.
Sebelum menutup jendela ia memeriksa sekitaran jendela terlebih dahulu namun lagi-lagi ia tidak melihat apapun dan ia yakin kalau Fahira hanya halusinasi saja karena Fahira sedang menonton film horor dan mungkin saja suasana horor tersebut membuat Fahira menjadi parnoan.
"Mana gak ada apa-apa. Udah gak usah nonton horor lagi lo, nyusahin gw aja. Itu jendela udah gw kunci," ucap Maira.
Fahira geram dengan Maira yang sedari tadi mengejeknya dengan mengatakan dirinya hanya halusinasi dan jiwa penakut.
"Tersera lu Ra, mau percaya atau engga sama gw. Semoga aja nanti lo ketemu ya sama mereka biar lo rasain gimana rasanya jadi gw," omel Fahira.
"Yayaya terserah, gw mau ke dapur dulu, laper banget gw," ucap Maira.
"Ikutttt," pinta Fahira.
"Udah lo ke kamar gw aja duluan, gw mau bawa makanannya ke kamar soalnya," ucap Maira.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan saran. Kalo ada saran boleh kalian titipkan di kolom komentar ya gais buat bahan evaluasi di bab selanjutnya.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1