SENIOR

SENIOR
Berhasil


__ADS_3

Berbeda dengan keadaan di luar gudang, kini di dalam gudang Maira sudah berhasil melepaskan tali yang mengikat tangan Fahira hingga kini Fahira pun ikut membalaskan rasa kesalnya pada Zara.


Brak! Gedubrak!


Suuara pintu terbuka begitu keras dan terlihat Rama dan beberapa teman yang lainnya terjatuh akibat saling dorong mendorong.


"Sukurin jatoh kan kalian, buka pintu aja berasa berebut sembako segala pake dorong-dorongan, liat noh diketawain sama bayi, ketawa lebih keras aja Vico Haha," ucap Lala tertawa sambil menatap Vico.


Fathan yang berada di belakang Lala dibuat kaget dan panik saat melihat Zara yang dihakimi oleh Fahira dan Maira. Ia melirik ke arah bawahnya, rasanya ia sangat kesal pada mereka yang lama sekali menyingkir dari sana hingga membuat dirinya tidak bisa menolong Zara.


Raina yang berada di samping Fathan pun dibuat panik dan kebingungan rasanya ingin sekali ia melempar dua perempuan tersebut dengan barang apapun yang ada disekitarnya.


"Kak itu Zara tolongin, ih bener-bener itu perempuan ya," geram Raina.


"Iya sabar, kamu gak liat tuh mereka pada tiduran di bawah. Masa aku injek mereka sih," ucap Fathan.


"Loncat aja," ucap Raina.


Fathan mengikuti apa yang Raina ucapkan tanpa banyak berfikir, ia memasang ancang-ancang untuk loncat setinggi-tingginya supaya ia mendarat dengan tepat.


Namun ancang-ancang yang ia ambil sedikit melesat, kakinya mendarat tepat diatas jari tangan milik Rama hingga membuat Rama menjerit.


Aaaaa!


"Sakit woi! Gajah dari mana sih yang nginjek jempol gw, lama-lama nih jempol namanya ganti jadi bapak jari nih bukan ibu jari lagi!" teriak Rama.


Wajah Rama memerah akibat menahan rasa sakit dan berdenyut pada jarinya sehabis diinjak oleh Fathan.


Fathan menolehkan kepalanya sejenak pada Rama kemudian ia melengos dan melangkahkan kakinya mendekati Fahira, Zara dan Maira tanpa memperdulikan Rama yang terus meneriakinya.


Fathan nampak sangat emosi sekali melihat Fahira dan Maira yang terus menerus mengerjai Zara. Fathan menarik paksa pergelangan tangan Maira dan Fahira menjauh dari Zara.


"Gak adaa kapok-kapoknya kalian berdua ya!" bentak Fathan.


Maira menatap Fathan kesal saat mendengar bentakkan dari Fathan yang seolah-olah menyalahkan mereka sebagai perusuhnya padahal sudah jelas-jelas dirinya dan Fahira hanya korban dari kerusuhan Zara dan Fano.


"Heh gak salah lo ngomong kaya begitu? Harusnya lo marahin tuh cewe sama anak kecil yang kurang ajar itu jangan salahin kita! Kita disini gak tau apa-apa justru kita yang dikerjain sama mereka," protes Maira menatap Fathan dengan tatapan menantangnya.


"Enak aja nyalahin Pano, Pano cuma ketawa-ketawa jalan mutel-mutel telus belajal ngelukis pake klayon tau. Pano gak ngapa-ngapain, nenek gelandong aja yang cemen sama Pano aja takut wle. Solakin nenek gelandong huuuu," protes Fano sambil meledek Maira dengan menyoraki Fahira berkali-kali.


"Tau lo nenek lampir gak diapa-apain tapi mainnya fisik, coba sini lo gw jambak terus gw pukul kaya tadi gimana rasanya. Untung si Zara cewe berbadan hulk coba kalo gak, udah gepeng tangannya Lala lo pukul-pukul terus," ucap Rama menatap keduanya secara bergantian dengan tatapan geramnya.


Raina yang sebelumnya sempat pergi ke dapur kini kembali masuk ke dalam gudang dengan membawa dua gelas berisi air rebusan jengkol yang sempat dibuat untuk mengerjai Fahira dan Maira.


Lala berada di depan pintu gudang bersama dengan Reno dan Vico yang berada di gendongan Lala. Reno sengaja melarang Lala untuk tidak ikut-ikutan masuk ke dalam karena Lala sedang bersama dengan Vico dan merasa sangat bahaya jika Lala memaksa masuk ke dalam.


Lala menatap Raina penasaran karena ia melihat Raina berlarian dengan tergesa-gesa menuju dapur dan kembali dengan dua gelas berisi air yang sangat keruh dan berbau hingga membuat Lala mual saat aroma air rebusan jengkol tersebut merasuki hidungnya.


"Mau ngapain Raina. Bau banget itu air apaan sih kaya bau jengkol," tanya Lala sambil menutup hidungnya.


"Rebusan jengkol. Alah lebay segala tutup hidung biasanya juga lo doyan banget jengkol," ucap Raina.


"Kali ini baunya beda banget gak kaya jengkol pada umumnya lagian gw sukanya makan jengkol bukan minum jengkol," ucap Lala tidak mau kalah.


"Udah ah gw mau masuk ke dalam mau kasih ini minuman, ngobrol sama lo gak ada ujungnya capek doang. Nanti aja gw kasih tau resep rahasia ini minuman apa," ucap Raina berjalan meninggalkan Lala dengan tergesa-gesa.


Emosi Raina yang semulanya mulai mereda kini dibuat naik saat melihat Fahira yang sedang menangis sambil memegang tangan Fathan dan yang membuat dirinya lebih kesal lagi saat melihat Fahira memeluk Fathan.


"Lepas! Ngapain lo peluk-peluk pacar orang, jangan harap dengan lo nangis-nangis terus meluk-meluk kak Fathan, lo bakal lepas dari kita semua," omel Raina menatap Fahira dengan tatapan sengitnya.

__ADS_1


Ia mendorong tubuh Fathan menjauh dari Fahira kemudian ia melemparkan air rebusan jengkol yang sengaja ia campur dengan telur busuk pada Fahira hingga habis dan tinggal satu gelas lagi yang berada di tangan kirinya yang sengaja ia sisakan untuk Maira.


Semua dibuat tercengang dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Raina. Mereka tidak menyangka Raina bisa melakukan hal tersebut.


"Wah Raina hebat, jadi selama ini dia diem-diem aja ternyata dia lagi mengamati apa yang Lala lakuin. Lala bangga banget deh sama Raina," ucap Lala.


Fahira menundukkan kepalanya kemudian mencium tangannya yang terkena tetesan dari air yang Raina siram. Ia mengernyitkan dahinya saat mencium tangannya yang sangat bau dan nyaris membuat dirinya mengeluarkan muntahan dari mulutnya.


"Aaaa ... Bau banget! Lo nyiram apaan ke gw!" bentak Fahira.


"Cuma rebusan jengkol sama telur busuk," jawab Raina dengan santai.


"Bener-bener lo ya, lo liat Fath pacar lo yang cari gara-gara sama gw. Dia nyiram gw pake air sebau ini. Terus salah kalo gw bales ke mereka," ucap Fahira dengan nada kesal.


"Heh intropeksi diri, lo udah ngebakar villa dan hampir buat kita semua mati di dalam sana, tapi gw liat lo anteng-anteng aja sama sekali gak ada rasa bersalah malahan gw liat seneng-seneng aja. Dan sekarang baru dibales kaya gini aja lo udah ngerasa terdzolimi. Gak usah minta pembelaan sama gw karena gw gak akan bela kalian meskipun salah satu diantara kalian pernah dekat sama gw! Ini semua rencana kita bukan kerjaan Zara dan Fano aja. Jadi kalo lo macem sama mereka, gw gak akan biarin lo keluar dari sini dengan mudah." Fathan menuding keduanya dengan tatapan tajam.


"Ngomong apasih lo Fathan. Jangan nuduh orang sembarangan lo. Punya bukti apa kalo kita yang bakar villa kalian. Gw bisa tuntut kalian balik ya," bantah Maira.


"Tadi dia sempat ngaku sebelum dia sadar kalo dia lagi dikerjain sama gw dan Fano. Tapi gw gak sempat ngerekam karena gw dateng ke dalam gudang gak bawa hp," ucap Zara yang sedang terduduk lemas di temani oleh Fano.


"Iya benel tadi nenek gelandong ngaku sama kita ya kak Zala. Dasal nenek gelandong tukang boong bialin aja nanti hidungnya panjang telus mulutnya monyong," ucap Fano menatap Fahira dan Maira jengkel.


Maira menyungingkan senyumnya saat mengetahui kalau pengakuannya tidak sempat direkam oleh Zara dan Fano hingga membuatnya bernafas lega.


"Terserah kalian mau bilang apa. Kalau pun benar gw yang lakuin toh kalian gak punya bukti apa-apa kan. Kalian gak akan menang lawan gw!" ucap Maira dengan sombongnya.


Semua memasang wajah kesalnya dan merutuki kebodohan masing-masing karena bisa-bisanya mereka melupakan suatu hal yang sangat penting. Tetapi hal tersebut tidak berlaku dengan Farhan, berbeda dengan yang lainnya Farhan justru nampak lebih santai dan tenang.


Farhan tersenyum mengingat kejadian 1 jam yang lalu sebelum Fahira dibawa ke gudang oleh mereka. Ia sengaja memasang beberapa alat perekam suara di sekitar gudang untuk menjaga-jaga karena sampai saat ini ia belum melihat ada orang yang memasang alat perekam disekitar gudang.


Zara menatap Farhan dengan bergedik kesal karena Fathan tersenyum sambil menatap ke arahnya hingga membuatnya jengkel.


"Kegeeran kamu," saut Farhan melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia meletakkan alat perekam suara.


"Gak usah melas gitu lah mukanya. Nih gw sempat naro perekam suara ini di gudang pas kalian sibuk di villa mereka. Buat kalian khususnya anda. Kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebaikan." Farhan menuding wajah Maira kemudian ia memutar balik tubuhnya berjalan kembali ke tempat semula.


"Sekarang kalian amanin aja dua perempuan ini abis itu kita jeblosin mereka ke penjara. Kali ini saya pastikan kalian tidak akan lolos dari hukuman. Jujur aku kecewa sama kamu Hira, aku gak nyangka bisa ngelakuin hal sejahat dan sekriminal ini," ucap Farhan.


***


Setelah selesai mengurus Fahira dan Maira kini semuanya terlihat sedang bersantai-santai dan berniat merayakan keberhasilan rencana mereka dengan mengadakan pesta makan-makan di samping villa sambil menunggu polisi datang menjemput Fahira dan Maira.


"Gimana kalo kita rayain semua ini dengan makan-makan pasti kalian semua capek banget deh, apalagi Zara pasti badannya sakit semua," saran Aisyah.


"Gw sih setuju aja tapi yang mau masak siapa, lo? Gak mungkin ya kita pesan gofood di pedalaman Bandung begini nyari sinyal buat nelpon aja susah banget apa lagi pesan gofood," ucap Reyhan.


"Iya tau kak Rey, maksud aku kita semua yang masak tapi khusus Zara dia gak usah masak karena kan dia lagi sakit," saut Aisyah.


"Nah setuju banget gw. Ternyata sakit ada hikmahnya juga ya Haha. Makasih lo Ais," ucap Zara dengan semangat.


"Boleh tuh gw setuju, lagian bahan-bahan masakan ada di dapur semua. Pas banget kulkas villa lagi penuh banget, kalian semua gimana setuju apa engga?" ucap Raina.


Semua menganggukkan kepalanya dengan semangat. Urusan mengenai makanan mana mungkin mereka tolak apalagi hawa Bandung sangat dingin dan membuat perut mereka selalu merasakan kelaparan.


Mereka mulai berbagi tugas untuk menyiapkan segala macam keperluan dan bahan-bahan yang akan digunakan oleh mereka untuk acara makan-makan.


Fahira dan Maira yang sengaja diikat dan dibiarkan di sudut ruangan menatap jengkel ke arah Raina dan yang lainnya saat mendengar kalau mereka akan mengadakan pesta makan-makan atas keberhasilan mereka mengerjai dan menangkap dirinya.


"Enak banget mereka party diatas penderitaan gw, awas aja kalian semua ya, tunggu pembalasan gw. Khususnya lo Raina yang udah buat badan gw bau busuk kaya gini, lo bakal terima balesan 10 kali lipat dari apa yang lo lakuin ke gw," ucap Maira.

__ADS_1


Fahira menolehkan kepalanya menatap Maira kesal karena Maira selalu berbicara perihal balas dendamnya padahal kenyataannya mereka sedang terikat dan akn dijebloskan ke penjara.


"Udah deh Maira gak usah mikir kejauhan dulu, lo pikirin aja dulu gimana caranya kita bisa kabur dari sini. Kalo kita masih disini dan dibawa polisi percuma aja dendam lo itu cuma wacana," ucap Fahira.


Fano yang sedang membawa baskom berisi daun selada melirik ke arah mereka kemudian menertawakan mereka dan menjulurkan lidahnya mengejek mereka.


"Pano jadi mules liat dua nenek gelandong jadi pengen kentut lagi, kayanya asik nih kalo Pano kentutin meleka Haha," gumam Fano.


Fano memundurkan langkahnya mendekati Fahira dan Maira, ia berdiri membelakangi Fahira dan Maira yang sedang menatap punggungnya.


Brettt! Bruttt!


"Wahhh pas banget Pano kentut dua kali jadinya kan kebagian satu-satu. Lasain tuh kentut maut Pano," ucap Fano tertawa geli melihat raut wajah Fahira dan Maira.


"Dasar bocah rusuh gak tau diri dan gak tau sopan santun, untung aja gw diiket ya kalo engga udah gw tendang lo," omel Maira.


"Bodoamat wle. Kentut Pano lebih wangi dali pada nenek gelandong. Badan nenek gelandong bau banget hihhh," ucap Fano berlarian sambil tertawa meninggalkan Fahira dan Maira yang sedang berteriak memakinya.


***


Raina mengernyitkan dahinya saat melihat Fano berlarian membawa baskom sambil tertawa geli.


"Fano lama banget sih ngambil daun seladanya. Pasti nyangkut kemana-mana dulu ya," ucap Raina.


"Tadi Pano abis kentut dulu soalnya pelut Pano mules banget dali tadi," saut Fano sambil menyodorkan baskom berisi daun selada pada Raina.


Raina menatap baskom yang ia terima dengan penuh curiga kemudian ia mencium baskom yang berisi daun selada tersebut memastikan tidak ada bau sama sekali.


"Fano kentutin sayurnya ya," tanya Raina.


Fano menggelengkan kepalanya dengan cepat. Saat kentut ia sengaja meletakkan baskom tersebut diatas kepalanya supaya tidak terkontaminasi oleh gas alam yang ia keluarkan.


"Engga suel deh Pano gak kentutin sayulnya. Tadi pas kentut, baskomnya Pano talo di kepala. Cuma yang kena kentut dua nenek gelandong sayul nya engga kok," ucap Fano dengan cepat.


"Fano kentutin mereka, siapa yang ngajarin kaya gitu. Lain kali jangan gitu lagi, gak sopan kentutin orang kaya gitu," tegur Raina.


"Bialin aja meleka kan udah jahat sama kak Laina, kak Zala dan semuanya. Bialin aja meleka lasain kentut Pano bial tau lasa dan gak jahat lagi," ucap Fano.


Fathan tertawa saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Fano dengan Raina. Fano memang anak kecil yang ajaib.


"Biarin aja sayang jangan dimarahin Fanonya kasian tau. Nanti kalo perutnya kembung gara-gara nahan kentut gimana," bela Fathan.


"Tuh dengelin kata pacalnya kak Laina. Nanti kalo Pano jadi balon gara-gara nahan kentut gimana, kak Laina mau tanggung jawab. Gak mau kan pasti," cibir Fano.


Raina menghela nafasnya menatap Fathan jengkel karena Fathan membela Fano yang jelas-jelas yang dilakukan oleh Fano adalah hal yang salah. Mau dikatakan apalagi mereka sudah bersatu melawannya dan Raina pun tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menghela nafas pasrahnya.


"Terserah kalian berdua aja deh," ketus Raina kembali fokus menyusul beberapa sayuran yang akan digunakan sebagai lalapan.


"Gitu aja ngambek dasal nenek-nenek tua, udah celewet tapi ngambek sendili. Kak Patan besok cali pacal balu aja ya," ucap Fano sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Raina dan Fathan.


"Eh bocah kalo ngomong, gw gulung juga nih ya pake daun selada," teriak Raina.


Fathan hanya tertawa melihat Raina yang terlihat kesal pada Fano.


****


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan sarannya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar untuk bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2