
Fano berlarian menuju dapur mencari keberadaan Wina berniat
meminta uang pada Wina.
“Mama Wina, Pano mau jalan-jalan sama kak Lala dan kak Leno boleh ya boleh. Mama Wina bagi duit dong masa Pano udah ganteng kaya pangelan gini gak punya duit,” ucap Fano menadahkan tangannya sambil tersenyum.
“Minta sama kak Reno aja nanti bilang disuruh sama Mama Wina,” ucap Wina.
Fano menganggukan kepalanya berlarian menghampiri Reno
dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya hingga meniban tubuh Reno yang sedang duduk
di karpet sambil melihat hasil karya Fano.
“Fano sekarang berat banget ya, Fano makan apaan sih,” canda Reno.
“Iya dong Pano kan abis makan golengan tadi di sekolah Pano,” saut Fano dengan percaya diri.
Sedangkan yang lainnya masih setia melihat hasil karya Fano
sesekali meledek Lala hingga membuat Lala jengkel.
“Udah siap belum? Yuk kita berangkat,” ucap Lala beranjak dari duduknya.
Fano melirik kertas hasil karyanya yang berada di atas
karpet lalu mengambilnya dan menyodorkan kertas tersebut pada Lala.
“Ini bawa kalya Pano susah nih
gambalnya halus punya keahlian plopesional,” oceh Fano.
Fathan tak hentinya mengoceh membuat Farhan jengkel sedari
tadi Farhan hanya terdiam dan menahan dirinya untuk tidak meladeni saudara kembarnya yang sedang mabuk kasmaran.
“Fath berisik banget sih, bisa diam gak 1 jam aja gapapa deh
gw pusing dengernya, lo kalo mau lompat dari pesawat yaudah sono dah gapapa, lo
ada disini bikin pusing doang,” omel Farhan.
Fathan menatap Farhan garang ia menoyor kepala Farhan
lumayan sedikit keras hingga membuat Farhan meringis kesakitan.
“Lo pengen gw mati muda? Kurang ajar banget lo jadi adik,”
tegas Fathan.
“Bukan begitu maksud gw. Tadikan lo sendiri yang mau lompat
dari pesawat biar cepat sampai terus ketemu sama pacar tersayang lo itu yaudah gw
persilahkan demi kesehatan kuping gw,” ucap Farhan.
“Bodoamat! Kapan sampenya sih ini lama banget gw yakin pasti
sekarang Raina lagi sama si Aldo, si Lala lama banget lagi respon chat dari gw,”
gerutu Fathan.
“Kemungkinan nanti malam kali kita baru sampai, udahlah gak
usah mikir yang macam-macam nikmatin aja penerbangan ini sebelum lo shock pas
nyampe di Indonesia si Raina udah sama cowo lain setidaknya lo udah bahagia,”
ucap Farhan.
Fano, Lala, dan Reno kini sedang berunding menentukan tujuan
mereka di teras rumah hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kesalah satu
pasar yang banyak sekali pedagang kaki limanya dan memutuskan menggunakan
sepeda motor.
Sedangkan Reno menghela nafas pasrahnya dengan terpaksa ia
mengikuti kemauan mereka.
“Aku mau nyari kado buat teman aku tapi kenapa kita ke
pasar,” tanya Reno sambil berjalan menuju sepeda motornya.
“Jangan meremehkan pasar kak Ren, di pasar itu semuanya ada
dan bisa ditawar kalo kita ke mall harganya bisa tiga kali lipat padahal
barangnya sama aja itu sih menurut gw gak tau pendapat yang lainnya tentang
pasar gimana,” jelas Lala.
Setelah berdebat cukup lama akhirnya mereka pergi ke pasar
dengan menggunakan sepeda motor.
“Asikkk akhilnya Pano naik motol duduk di depan,” teriak
Fano sambil memencet klakson berkali-kali hingga membuat pengendara di depannya
terkejut bahkan ada yang berteriak jengkel.
“Malah-malah aja bapak kumis nanti kumisnya tinggal setengah
tau lasa,” gumam Fano.
Mereka sampai di pasar lalu memarkirkan motor dengan
bersamaan mereka memasuki pasar, tak jarang Fano berteriak heboh saat melihat
banyak sekali pedagang yang menjual hewan-hewan peliharaan seperti hamster,
burung yang di cat warna-warni, kucing, jenis-jenis ikan hias dan masih banyak
lagi.
“Kak Lala, kak Leno kesitu yuk Pano mau liat teman-temannya
Atun,” ajak Fano sambil menarik-narik lengan Reno dan Lala.
Fano bersorak-sorak kegirangan saat melihat banyak sekali
macam kucing sesekali ia mengajak kucing-kucing tersebut berbicara.
“Abang tukang kucing, bulu kucingnya gak ada yang walna bilu?”
tanya Fano.
“Gak ada kucing warna birunya belum lahir,” saut pedagang.
“Bang disini ada kucing cowo yang ganteng kaya chanyeol gak?
Soalnya Pano punya kucing cewe namanya Atun dia masih jomblo kasian Atun bang
gak punya pacar,” tanya Fano.
“Kak Reno siapa yang ngajarin dia kaya begitu sih bisa-bisanya ngomong begitu tua banget gayanya,” bisik Lala
sambil menatap Fano heran.
“Orang tuanya lah masa aku, kalo aku yang jadi orang tuanya
anak aku gak begini,” ucap Reno.
“Kepedean banget lo Kak liat aja ntar anak lo pasti lebih
pecicilan dari Fano, apalagi kalo lo nikahnya sama Anna gak kebayang dah nanti
anak lo jadi badut yang pecicilan,” ucap Lala.
“Gak mungkin yang ada kalo aku nikahnya sama kamu baru tuh
anak aku bakal pecicilan, tukang malak terus sukanya gratisan, tapi tenang aja
ya anakku yang masih dialam sana calon Papamu ini percaya kalau ibumu bukan si
teletabis ini,” ucap Reno sambil menunjuk Lala.
__ADS_1
Penjual kucing terkekeh menyaksikan perdebatan keduanya
awalnya ia mengira Fano merupakan anak dari Lala dan Reno setelah mendengar
perdebatan keduanya ia mengerti jika Fano ini sepupu dari Reno.
“Pano mau kucing ini beliin ya kak Leno,” pinta Fano
menunjukan kucing yang telah ia pilih.
“Uangnya mana?” tanya Reno.
“Kata mama Wina minta aja sama kak Leno,” ucap Fano sambil
menyengir.
“Ini yang mau belanja aku kenapa jadi Fano yang beli duluan,”
gerutu Reno.
Setelah membayar kucing mereka memasuki pasar melihat lihat beberapa
toko yang ada di pasar, lagi-lagi mata Fano berbinar saat melihat tas bermotif
teletabis ia berjalan menghampiri toko tersebut diikuti oleh Reno dan Lala.
Abis deh uang aku kalo jalah sama Fano semuanya dia pinta.
Kedua tangan Fano sudah penuh namun Reno belum menemukan
satu barang pun hingga membuatnya gusar.
“Udahlah kita ke mall aja,” kesal Reno.
“Kenapa ke mall sih yang tadi aja bagus kok gamisnya Lala
mau makan gado-gado itu kalo kita ke mall berarti gak bisa makan gado-gado,”
keluh Lala.
“Masa aku kadoin gamis sih nanti kalo orangnya gak suka
gimana,” protes Reno.
“Pasti suka kalo dia gak suka kasih Mama Lala aja kalo gak
mama Wina pasti mereka senang kalo kak Reno ikhlas kasih ke Lala juga gapapa Lala
terima dengan senang hati, gamis lagi trand banget tau sekarang ini banyak anak
muda yang suka pake gamis. Gamis itu model dan motifnya macem-macem, kak Reno
coba dulu lah kan belum dicoba kali aja dia suka banget sama kado itu,” ucap
Lala menjelaskan panjang lebar.
Reno menganggukan kepala tanda mengerti dengan perkataan
Lala namun ia kembali menunjukan raut wajah kebingungannya.
“Tapi perempuan ini jarang banget pake gamis bahkan aku gak
pernah liat dia pake gamis,” ucap Reno.
“Nah justru ini karena dia gak pernah pakai harusnya di
kasih kan gak pernah pakai belum tentu gak suka, siapa tau dia gak punya uang
buat beli gamis hehe,” ucap Lala.
Disela-sela obrolan Lala dan Reno terlihat Fano yang asik
melirik sekitar tiba-tiba matanya membola saat melihat ondel-ondel melintas
tidak jauh dari posisi ia berdiri.
“Huaaa ada ondel-ondel Pano takutttt,” teriak Fano berlarian
secepat mungkin meninggalkan Lala dan Reno ia bersembunyi di belakang penjual
hamster.
sama ondel-ondel nanti Pano kasih tikus deh buat nambahin jualannya di lumah
Pano banyak tikus soalnya ada kecoa juga lagi, kalo abang mau jualan kecoa
nanti Pano ambilin di gudang banyak banget,” bisik Fano.
Reno dan Lala menyusul Fano yang sudah tidak terlihat
sebelumnya Reno sempat melihat Fano memasuki stand penjual hewan peliharaan.
“Fano ngapain disitu, ondel-ondelnya gak ada udah pergi
gangguin orang jualan tuh,” tegur Reno.
“Benelan gak ada?” tanya Fano sambil celingak-celinguk
memastikan keadaan, sedangkan Lala dan Reno hanya menganggukan kepala secara
bersamaan.
Fano menatap penjual hamster ia merasa kini yang bisa
dipercaya hanya penjual hamster karena ia tahu Lala dan Reno suka sekali menjahilinya.
“Abang tukang tikus, benelan ondel-ondelnya udah pelgi ?”
tanya Fano di rspon dengan anggukan kepala.
Perlahan Fano keluar dari persembunyian lalu melihat-lihat
hamster yang sedang bermain di dalam kandangnya.
“Tikusnya kelen ya bisa mutel-mutel tikus di lumah Pano cuma
bisa makan doang,” ucap Fano.
“Itu bukan tikus Fano hewan itu namanya hamsters tapi dia
mirip sama tikus,”
“ Oh iya Raina kalo Fathan pulang lo cuekin aja gak usah
disambut, disapa, ditegur segala macam,” ucap Aldo.
“Kalo gw sih jelas bakal nyapa tapi nyapanya pake bogeman,
gw udah siapin tenaga ekstra buat bikin muka kak Fathan bonyok biar gak
keganjenan lagi,” samung Zara.
“Kalo itu mah terserah lo Zar tapi gw gak ikut-ikutan ya,”
ucap Aldo sambil menyengir.
“Oh iya gw denger-denger hari ini Fathan balik ke Indonesia
lo siap-siap aja ya Raina nanti soal kejutan biar gw sama Aisyah yang urus tapi
gw belom kasih tau Aisyah hp nya gak aktif kayanya lagi pesawat dah dia,” ucap
Aldo.
“Gw gak diajak nih,” ucap Zara.
“Lo bagian bogem membogem aja lah ya Zar,” saut Aldo.
“Yaudahlah atur aja yang penting sukses rencananya,” ucap
Raina.
Lala, Reno dan Fano kini berada di toko gamis tidak sengaja Lala
melihat Mairasedang berada di salah satu toko baju terlihat seperti sedang
menawar harga, awalnya Lala tidak yakin dan merasa salah lihat berulang kali ia
mengucek matanya dan memicingkan mata namun orang tersebut tidak berubah wujud
__ADS_1
tetap sosok Mairalah yang ia lihat dengan langkah pelan ia berjalan mendekati toko
tersebut untuk memastikan.
Ternyata benar Maira
aneh banget seorang Maira yang sombong ada disini udah gitu nawar lagi.
Lala berniat mengampiri Maira namun langkahnya terhenti saat
ada seseorang yang menepuk pundaknya, dengan cepat ia membalikan badan ia
terkejut saat melihat orang yang berad di hadapannya.
“Bayuuu, ini beneran Bayu” heboh Lala sambil mecubit gemas
pipi Bayu jujur saja ia sangat merindukan Bayu sudah beberapa hari ini ia
berusaha mencari sosial media milik Bayu namun ia tidak menemukannya hingga
akhirnya mereka bertemu di pasar betapa senangnya hati Lala hingga membuatnya
heboh mencubit gemas pipi bayu.
“Iyalah emangnya lo kira gw siapa? Sekangen itu lo ya sama
gw haha,” ucap Bayu sambil tertawa memegangi tangan Lala yang terus menerus
mencubit gemas pipinya hingga kini pipinya berwarna merah.
“Iyaa Lala kangen banget, lo kemana aja terus lo juga kenapa
waktu itu gak ngasih kontak yang bisa dihubungin beberapa hari ini gw kaya
stalker banget nyariin sosmed lo doang,” ucap Lala.
Reno dan Fano sempat panik saat melihat Lala tidak ada di
dalam toko gamis mereka keluar dari toko mencari Lala dan akhirnya mereka
melihat Lala yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki, mereka pun menghampiri
Lala.
Fano berjalan sambil berkacak pinggang menatap Lala dan bayu
tajam, ia berdiri di tengah-tengah antara Bayu dan Lala untuk membuat jarak.
“Kak Lala jangan sok cantik mau punya pacal dua, kak Lala
tuh pacalnya kak Leno jangan tebal-tebal pesona ke cowok lain,” tegas Fano.
Lala mengerutkan dahinya lalu tertawa terbahak-bahak ia
berkaak pinggang lalu menatap Fano menantang.
“Emang kak Lala cantik, tanya aja sama kak Bayu,” ucap Lala.
“Bodoamat! Kak Ubay gak boleh jadi pelebut pacal olang ya,
awas aja kalo kak Ubay lebut kak Lala dali kak Leno siap-siap tawulan sama
Pano,” ucap Fano.
Bayu tertawa mendengar perkataan Fano apalagi saat Fano
salah menyebutkan namanya, ia tidak menyangka biasanya bocah kecil hanya tau
makan dan meminta jajan, tetapi ia melihat perbedaan pada bocah yang kini
berada di hadapannya sambil memarahinya.
“Udah marah-marah salah nyebutin nama orang lagi malu gw
sih,” ledek Lala.
“Bialin yang penting Pano ganteng wle,” ledek Fano sambil
menjulurkan lidahnya.
Reno sedari hanya diam mematung menyaksikan perdebatan
mereka tak berniat mengeluarkan sepatahkan pun.
“Ah iya kenalin Bay, ini kak Reno kakaknya sahabat gw dan
ini Fano sepupunya kak Reno,” ucap Lala.
“Oh ... Jadi ini yang lo ceritain waktu itu,” heboh Bayu
sambil menunjuk Reno dengan cepat Lala menutup mulut Bayu dengan telapak
tangannya.
Sementara Reno merasa dirinya menjadi bahan pembicaraan hanya
menaikan sebelah alisnya dan menaikan bahu acuh lalu membalikan badannya
kembali menuju toko gamis meninggalkan mereka.
Fano melirik Reno sekilas lalu menatap Lala dengan tatapan
menyalahkan.
“Hayoo kak Lala lasain kak Lenonya ngambek makanya jangan
ganjen sama kak Ubay siap-siap jadi jomblo ngenes lagi, bye bye,” ucap Fano
melambaikan tangannya berlarian menyusul Reno.
“Kak Leno cembulu ya pasti, emang tuh kak Lala poo lakus
banget maunya punya pacal banyak dasal pleyboi,” umpat Fano.
“Siapa yang cemburu lagian ogah banget cemburu sama dia kaya
gak ada cewe lain aja,” bantah Reno.
“Boong dosa loh kak Leno nanti masuk nelaka Pano gak mau
ikut ya meskipun kita besplen tapi kalo ke sulga Pano ikut,” ucap Fano.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Happy reading guys, jangan lupa like dan komennya untuk
mendukung aku hehe.
Semangat menjalani aktivitas :D
__ADS_1