SENIOR

SENIOR
Fano


__ADS_3

Genta berada tidak jauh dari posisi kontrakan perempuan yang pagi-pagi mengintai rumah Raina.


Genta menatap kontrakan tersebut dengan tatapan kebingungannya, ia bingung bagaimana caranya ia bisa datang tanpa membuat orang tersebut curiga padanya.


"Gw dateng aja kali ya kesana, spik-spik ngajak kenalan gitu. Eh tapi norak banget ya. Gak jadi deh, gw pura-pura jadi apa ya biar gak norak tapi gak bikin dia curiga," gumam Genta.


Fano mengembangkan senyumnya sambil meletakkan tangannya di belakang punggungnya. Dengan sengaja Fano menoel-noel punggung Genta supaya Genta memutar balik tubuhnya menjadi berhadapan dengan dirinya.


"Jadi pak elte aja kak Genta atau enggak jadi tukang agel aja," ucap Fano memasang wajah polosnya yang membuat siapapun ketika melihat wajahnya merasa gemas.


Genta memutar balik tubuhnya kemudian ia menatap Fano heran. Sebelumnya Fano sempat menolak saat dirinya mengajak Fano dengan alasan ingin menonton kartun kesayangannya, tetapi sekarang Fano sudah ada di belakangnya saja.


"Loh Fano kok ada disini. Kesini sama siapa? Bukannya Fano mau nonton kartun kenapa jadi kesini?"Genta menatap Fano dengan tatapan kebingungannya hingga membuat dirinya lupa dengan tujuan awalnya bisa ada disana.


Fano menaik turunkan alisnya sambil tersenyum membanggakan dirinya sendiri.


"Kelenkan Pano Hehe. Pano kesini sama kak Genta lah emangnya sama siapa lagi. Walaupun gak balengan sih. Pano tadi ikutin kak Genta dali belakang. Kelen kan Pano kaya detektip conan sampe gak ketauan sama kak Genta kalo Pano ikutin kak Genta Hehe," ucap Fano dengan percaya diri kemudian terkekeh.


"Oh ... Jadi dari tadi Fano ngikutin aku. Pasti Fano sering main petak umpet ya makanya jago banget ngumpetnya sampe gak ketauan," ucap Genta.


"Enggak. Pano jagonya main bola bekel. Kalo main petak umpet Pano ketidulan telus pas ngumpet jadinya Pano males main petak umpet," saut Fano.


Genta tertawa saat mendengar perkataan Fano, ia tidak menyangka kalau ada anak kecil yang menggemaskan seperti Fano di dunia ini.


"Loh kok bisa, Fano ngumpetnya di atas kasur kali makanya bisa ketiduran," ucap Genta.


Fano menggelengkan kepalanya sambil membayangkan kembali bagaimana dirinya saat bermain petak umpet bersama dengan Reyhan.


"Bukan di atas kasul tapi di bawah kasul. Lantainya dingin banget kak Genta, Pano kaya lagi ada di dalam kulkas," saut Fano.


***


Selesai menyantap nasi uduk Zara membayar pada penjual nasi uduk tersebut. Kemudian ia berjalan kembali menuju meja yang sebelumnya ia tempati untuk mengambil tas keranjang belanjaan yang akan ia gunakan untuk membawa semua belanjaannya.


Belum sempat tangan Zara mengambil tas belanjaannya terlebih dahulu Farhan mengambil keranjang tersebut kemudian membawanya hingga membuat Zara menatap Farhan kebingungan.

__ADS_1


"Itu kan tas buat gw belanja, kenapa dibawa sama dia sih. Bikin repot aja deh, gak tau apa ya kalo gw udah kesiangan," gerutu Zara.


Zara berlarian kecil menyusul Farhan sambil meneriaki Farhan supaya Farhan menghentikan langkah kakinya.


"Pak Farhan. Pak dosen. Dosen ngeselin. Berenti dulu dong, itu tas gw kenapa lo bawa sih. Gw lagi gak mau bercanda dan gak mau ribut. Nanti gw telat ke kampus kalo lo nyari masalah terus sama gw. Plis kali ini aja gak usah nyebelin!" Zara berteriak di jalanan hingga membuat dirinya menjadi sorotan beberapa orang yang ada di sekitarnya.


Farhan menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuhnya. Ia menghela nafas pendeknya.


"Siapa juga yang mau cari gara-gara. Saya ada niat baik mau bantuin kamu belanja di pasar. Pas kamu lagi makan nasi uduk gak sengaja saya liat catatan belanjaan yang banyak banget, pasti kamu bakal telat kalo gak ada yang bantuin," ucap Farhan dengan santai.


Zara memicingkan matanya menatap Farhan dengan tatapan herannya. Beberapa kali ia mencoba memukul-mukul telinganya dan menanyakan ulang pada Farhan namun jawabannya tetap sama. Zara yang masih tidak percaya, ia pun menempelkan telapak tangannya di dahi Farhan.


"Tumben banget baik. Ada apa nih, ulangtahun lo ya hari ini makanya baik-baikin gw biar dapet kado dari gw," ucap Zara.


"Sok tau kamu. Saya mau bantuin kamu karena satu alasan aja yaitu saya gak mau kamu telat masuk kampus cuma gara-gara belanja ke pasar. Udah yuk buruan jangan kelamaan sebelum saya berubah pikiran lagi nih," ucap Farhan.


Zara tidak menyahuti perkataan Farhan. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi pada dosennya ini. Lagi-lagi ia mencoba menatap Farhan dengan penuh selidik.


"Iya tau saya ganteng banget, tapi mau sampe kapan kamu liatin saya terus? Ini nih yang bikin kamu telat kebanyakan curiga sama orang lain. Bisa-bisa kamu dimarahin sama orang rumah karena gak bawa apa yang ada di catetan itu," ucap Farhan.


***


Fathan dan Raina sedari tadi asik menertawakan Lala yang diganggu oleh Vico saat mengerjakan tugasnya.


"Kak Reno!!!! Ini Vico pegangin dulu sih. Liat tuh tugas Lala jadi ketempelan ilernya Vico. Kayanya sengaja banget ya biar Lala gak selesai-selesai ngerjain tugasnya," omel Lala.


Lala melirik Fathan dan Raina sinis, ia kesal pada keduanya karena sedari tadi hanya bisa menertawakan dirinya tanpa membantu sedikit pun.


"Diem gak lo berdua! Gw coret nih ya muka kalian berdua jadi gambar kodok polkadot," ketus Lala.


"Kamu punya kakak ipar model beginian betah sayang? Aku sih yakin banget kalo aku gak akan kuat," ucap Fathan.


"Betah-betahin lah. Apapun yang buat Abang aku yang satu ini bahagia aku pun ikut senang dan bahagia," saut Raina.


Fathan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia terdiam sejenak kemudian kembali teringat dengan orang misterius yang diceritakan oleh Genta.

__ADS_1


"Ah iya itu gimana orang misterius yang liatin rumah kamu?" tanya Fathan.


Raina menaikkan kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku gak tau kak. Kita tunggu kabar dari kak Genta aja untuk sementara karena kan aku ada kelas yang bener-bener gak bisa ditinggal," jawab Raina sambil mengambil toples berisi cemilan kemudian membuka toples lalu mengambilnya dan memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.


"Gimana kalo aku ikut cari tau juga, tapi gak sama Genta ya," ucap Fathan.


"Terserah kak Fathan aja. Selagi gak ngerepotin kak Fathan ya gak masalah. Kak Fathan jangan kaya gitu ke kak Genta, biar kaya begitu kan dia tetap temen kak Fathan hehe," ucap Raina.


Mendengar ucapan Raina berhasil membuat Fathan kesal. Fathan bersidekap dada kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Udahlah gak usah dibelain terus si Gentong itu. Nanti yang ada makin nantangin aku dianya. Dia bukan teman aku, cuma kebetulan aja satu sekolah," ucap Fathan dengan nada sebalnya.


"Iya-iya terserah kamu aja," pasrah Raina.


Raina melirik sekitarnya, baru saja ia melihat Cila tetapi ia tidak melihat keberadaan Fano sedari tadi. Padahal dimana pun ada Cila pasti disana ada Fano juga, tetapi sekarang kok terlihat berbeda.


"Cila ... Kok tumben sendirian, Fano nya kemana Cila? Biasanya kan kalian berdua terus kaya sendal swallow meskipun berbeda tapi berduaan terus," sapa Raina.


Cila terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berusaha kembali mengingat kapan terakhir kalinya ia bertemu dengan Fano.


"Cila juga gak tau kak Raina. Terakhir Cila liat Fano Pas Fano nganterin kakak yang tadi belantem sama kak Fathan ke depan pintu. Abis itu gak tau lagi deh, sampe sekarang dia ngilang. Mungkin Fano ketiduran kali di kamarnya, Fano kan suka kaya gitu kak Raina," jelas Cila.


"Oh gitu ya Cila. Oke deh, kalau liat Fano sampein ya ke dia kalo dia dicariin sama aku," ucap Raina tersenyum pada Cila.


"Oke kak Raina. Nanti Cila sampein ke Pano," saut Cila sambil mengacung jari jempolnya.


****


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2