
Aku membatu. Bibirku kelu seolah kena serangan struk mendadak. Mataku berkedip beberapa kali untuk memastikan apakah penglihatanku tidak salah. Aku memutuskan untuk berdiri, menatap seorang cowok yanh saat ini berdiri di hadapanku, hanya beberapa jarak pemisah di antara aku dan dia. Mimpi apa aku semalam? Bisa bertemu dengan orang tampan sepertinya. Menyadari itu aku reflek menyunggingkan senyum kecil.
Christina menyeretku untuk segera pergi dari ruang musik. Aku berusaha menjelaskan namun dia menyuruhku untuk diam sebentar. Dia membawaku untuk duduk di koridor. Aku menurut saja.
__ADS_1
***
"Tentu saja ada."
__ADS_1
***
"Gimana, Ospek di indo? Ada aneh-aneh ga?" tanyaku pada seseorang di seberang sana. Aku berbaring di single bad di kamarku lalu memijat pelipis yang terasa sakit.
__ADS_1
"Ehmm, iya gue tahu. Eh udah dulu, ya. Udah malem. Kapan-kapan kita ngobrol lagi yak. Bye."
Ucapan Tina membuat ku menoleh ke arahnya, Aku mengerutkan kening. “Memangnya apa yang terjadi? Aku belum bertemu dengannya sejak tadi pagi, dia pergi duluan, kan.”
__ADS_1